The Demon

The Demon
Part 9



happy reading


-----oOo-----


"Yakkk!"


"Apa?"


Sohyun menatap sosok pemuda bersurai merah itu melengseng masuk kedalam rumahnya setelah pintunya terbuka dengan lebar. Sohyun mengepalkan tangannya dengan kuat, ingin sekali ia memukul kepala bagian belakang Jihoon dengan keras, menggeser otak pemuda itu kedepan.


Menghela nafas pelan, ia segera masuk kedalam rumahnya. Melepas sepatunya kemudian meletakkannya dirak sepatu. Sementara Jihoon sudah berbaring di atas ranjangnya, pemuda itu terlihat begitu santai di rumahnya, seolah rumahnya itu adalah tempat tinggalnya.


"Yaa, Park Jihoon. Apa kau sadar ini bukanlah rumahmu?" Sohyun mengangkat tangannya, menunjuk lantai atas yang lebih tepatnya tempat tinggal pemuda surai merah itu.


Jihoon menutup matanya rapat-rapat, mulai mengatur nafasnya setenang mungkin. Ia tahu gadis itu akan mengoceh tidak jelas.


Telinganya sudah jengah mendengar berbagai celoteh dari kekasihnya itu.


Hari ini bukankah dia harus menghukum kekasih barunya itu yang telah membuatnya menunggu hampir 30 menit di parkiran. Tapi entah kenapa tenanganya sudah terkuras mendengar suara Sohyun yang merasa tidak adil karena dirinya tiba-tiba masuk kedalam rumah Sohyun.


Bruk


Jihoon membuka satu matanya melihat Sohyun. Gadis itu membuang tasnya ke lantai kemudian berbalik menuju kulkasnya. Sohyun menghela nafas panjang untuk kesekian kalinya, ia sudah lelah dengan sikap Jihoon yang aneh.


Tidak orangnya, tidak sikapnya. Semuanya aneh.


"Aku ingin makan sesuatu."


Sohyun menolehkan kepalanya. Ia menegak air dinginnya sembari memberi tatapan bingung pada Jihoon yang tengah terduduk di ranjangnya.


"Buatkan aku ramen."


"Buat saja sendiri."


"Aku tidak tahu."


"Selama ini kau makan apa jika kau tidak bisa?"


"Aku membeli makanan siap saji, atau menyeduhnya di supermarket didepan sana."


Sohyun diam, Pandangannya segera diahlihkan pada botol bening di tangannya. Ia terdiam untuk beberapa saat memikirkan ucapan Jihoon barusan.


Sohyun memang kesal pada Jihoon yang tiba-tiba masuk kedalam kamarnya dan berbaring disana seolah tempat itu adalah tempat tidurnya. Tapi mendengar pemuda itu hanya makan makanan siap saja membuatnya sedikit merasa kasihan padanya.


"Kau merasa kasihan?"


Sohyun menoleh, mata coklatnya membulat. Bagaimana bisa pemuda itu mengetahuinya?


Jihoon tertawa kecil. Kembali membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Manik hitamnya mengamati langit-langit kamar Sohyun yang penuh dengan bintang-bintang.


"Kau tahu apa yang menyedihkan didunia ini, cutie?"


"Apa?"


"Bulan."


"..."


"Dia sendiri, tanpa cahaya dan hanya ada disaat langit gelap." Jihoon memejamkan matanya tiga detik kemudian membukanya perlahan, memperlihatkan manik indahnya. "Dia kesepian."


"Dia masih memiliki bintang disekitarnya." kata Sohyun. ia mendekati Jihoon yang masih berbaring di ranjangnya. Ketika dirinya berada dihadapan Jihoon, kedua tangannya langsung melipat di perutnya.


"Apa kau lupa, setiap malam ada bintang yang menemani bulan?"


Jihoon menghela nafas. Dia bangun dari acara berbaring nya, sedikit mengangkat pandangannya melihat sosok imut berdiri dihadapannya.


"Jika kau lupa, terkadang bintang tidak muncul di malam hari. Dia meninggalkan bulan di gelap gulita."


Sohyun terdiam. Ucapan Jihoon membuatnya tidak dapat berkata-kata lagi. Benar kata Jihoon, bintang tak selamanya menemani bulan disetiap malam. Terkadang bintang menghilang dan meninggalkan bulan sendirian.


Jihoon tersenyum kecil. Ia berdiri dari duduknya, tak lupa meraih tas ranselnya yang di letakkan diatas ranjang Sohyun.


"Menurutmu apa pantas bulan memiliki satu bintang untuk menemaninya di setiap kegelapan?"


Jihoon bertanya setelah memasangkan tas ranselnya di punggungnya.


Sohyun terdiam mengamati manik coklat itu lamat-lamat. Bibirnya terasa membeku, beberapa kalimat yang sejak tadi ingin diutarakan harus tertahan di tenggorokannya. Sohyun


Pemuda surai merah itu tersenyum smirk. Dia mendekatkan wajahnya kemudian mengecup pipi kekasihnya itu sekilas.


"Aku akan kembali lagi saat jam makan malam." ucapnya sebelum ia melangkah keluar dari rumah Sohyun.


Manik coklat Sohyun mengamati punggung lebar milik Jihoon yang perlahan menjauh darinya. Tepat pemuda itu memasang sepatunya, manik coklat Jihoon terangkat melihat Sohyun. Ia tersenyum kecil.


"Park Jihoon." panggil Sohyun.


"Ya."


"Aku memiliki kekasih. Namanya-"


"I love you." Jihoon tersenyum kecil. Dia membalikkan badannya, membuka pintu rumah Sohyun kemudian menghilangkan dibalik pintu, meninggalkan Sohyun dengan kebingungannya.


;


"Apa yang terjadi?" tanya Jaemin saat Jihoon masuk kedalam mobilnya. Pemuda surai merah itu meletakkan tasnya di jok belakang kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang empuk itu.


Memejamkan matanya. Jihoon benar-benar mengabaikan pertanyaan sahabatnya itu dan memilih untuk berbaring.


Jaemin menghela nafas pelan. Pemuda surai hitam itu menyalakan mesin mobilnya dan membawanya pergi dari depan caffe milik Jaehyun.


Sepanjang perjalanan, keduanya dilingkupi oleh keheningan yang mencekik. Ah tidak, hanya Jaemin yang merasa tercekik dengan keheningan. Sementara Jihoon mungkin pemuda itu benar-benar tertidur.


Jaemin menoleh sedetik guna melihat keadaan sahabatnya itu. Entah mengapa Jihoon yang berada di sampingnya itu jauh berbeda dengan Jihoon yang kemarin. Padahal selama disekolah tadi Jihoon terlihat baik-baik sebelum ia memberitahukan jika incarannya Kim Sohyun memiliki kekasih.


Tunggu, tidak mungkin Jihoon seperti ini karena hal itu bukan.


"Ji."


"Hm."


"Tidak seperti biasanya. Kau ada masalah?"


"Tidak juga." jawab Jihoon masih menutup matanya rapat-rapat.


"Apa kau seperti ini karena gadis itu?"


"Siapa?"


"Kim Sohyun."


Kelopak sakura itu terbuka perlahan, memperlihatkan manik coklatnya yang seindah galaksi.


Memejamkan matanya perlahan. Kilasan beberapa menit yang lalu terlintas di kepalanya. Jihoon ingat kejadian sebelum ia meraih tasnya di atas ranjang Sohyun.


Manik coklatnya itu mendapati frame coklat yang tertata rapih di meja belajar Sohyun. Sebuah picture yang membuat Jihoon tersenyum miris. Sebuah gambar yang memperlihatkan Sohyun terlihat begitu bahagia saat pemuda tampan itu mencium pipinya.


Itu photo Sohyun bersama kekasihnya ; jelas bukan Jihoon.


Jihoon melirik sahabatnya yang terlihat fokus dengan jalanan dihadapannya. Ia tahu jika saat ini Jaemin sangat penasaran tentang dirinya. Ia tersenyum kecil kemudian menolehkan pandangannya ke depan.


"Kita sudah kenal berapa lama?"


"Eh-?" Jaemin menoleh dengan raut bingungnya. Beberapa detik memperhatikan Jihoon, Jaemin membuang pandangannya lurus kedepan. "Enam atau tujuh tahun. Aku tidak ingat dengan jelas, saat itu kau menolongku dari anak-anak nakal. kemudian kita bertemu lagi karena ayahmu adalah sahabat ayahku."


Jihoon tersenyum tipis.


"Jika di ibaratkan aku adalah bulan, lalu kau apa?"


"Matahari mungkin?"


"Bodoh, jauh sekali."


"Kau bodoh. Dengarkan dulu, kau tahu kenapa bulan memiliki cahaya di malam hari?"


"Karena dia memilikinya."


"Ck  makanya kalau pergi sekolah jangan hanya tidur saja."


"Kayak kau tidak saja." Jihoon berdecak kesal mendengarnya. Jaemin seolah tidak bercermin pada dirinya sendiri. Apa perlu Jihoon memberikan cermin besar saat ulang tahunnya nanti.


"Tapi tidak sesering kamu. Dengar, Bulan memiliki cahaya berkat pantulan dari matahari dan sedikit dari bumi. Bulan sama sekali tidak memiliki cahaya."


"Lalu apa hubunganya."


"Matahari akan selalu memberikan cahayanya untuk bulan, tidak hanya gelap tapi juga disaat terang. Setidaknya matahari tidak akan meninggalkan bulan sendirian."


"Aku akan tetap seperti matahari yang selalu bersamamu, meski jauh. Kau orang yang berarti untukku."


Jihoon menolehkan pandangannya menatap Jaemin yang masih fokus pada jalanan dihadapannya meski mulutnya terus merapalkan kalimat setelah itu, Jihoon sudah tidak tahu apa lagi yang dikatakan Jaemin.


Beruntung dia memiliki sahabat nakal yang setidaknya peduli dengannya ketimbang teman baik namun tidak memperdulikannya.


Jaemin menoleh sedetik, dia tersenyum menatap Jihoon.


"Bagaimana kata-kataku? Apa aku sudah terlihat keren?"


"Tidak, kau menjijikkan."


"Aish. Yaaa, untuk apa kau menanyakan soal bulan? kau ingin tinggal dibulan?"


Jihoon menggelengkan kepalanya. Ia terdiam beberapa saat sebelum membuka mulut untuk bersuara.


"Apa tidak apa-apa jika bulan meminta satu bintang bersamanya di malam hari?"


"Hmm."


"Membunuh ribuan bintang hanya untuk mendapatkan satu bintang apa tidak apa-apa?"


"Kau ini bicara apa sih?"


"Aku ingin membunuh kekasih Kim Sohyun."


:


:


"Whoaaaa kau serius?"


Jaehyun menganggukkan kepalanya. Ia tersenyum hingga memperlihatkan lesung pipitnya.


"Bulan depan akan ada acara tahunan di kampus, dan fakultas kesenian berpartisipasi dalam acara tahunan ini." Jaehyun menyesap coffe latte miliknya perlahan, menikmati sensasi hangat yang mengalir di tenggorokannya.


"Kau bisa datang, karena acara dibuka untuk umum. Para siswa SHS bisa datang."


Sohyun senang bukan main. Ini peluang baginya untuk bertemu dengan sang kekasih dan membuat sebuah kejutan. Astaga, Sohyun benar-benar sudah tidak sabar menanti minggu depan. dimana ia akan menemui kekasihnya setelah beberapa tahun tidak saling berkomunikasi.


"Gomawo oppa."


Jaehyun menganggukkan kepalanya. Dia meletakkan cangkir porselen nya diatas meja dan memfokuskan matanya menatap raut wajah bahagia Sohyun.


Mulut Jaehyun terbuka dan tertutup. Ia ingin mengatakan sesuatu namun raut wajah bahagia Sohyun membuatnya mengurungkan niatnya. Sohyun terlihat sangat bahagia dan dia tidak ingin melunturkan kebahagiaan Sohyun dengan pertanyaannya itu.


;


Woojin melangkahkan kaki panjangnya mendekati meja makan keluarga besarnya. Disana ayah dan ibunya sudah menunggu dirinya, dan ada satu sosok pria berumur 70 tahunan. Woojin tersenyum ceria melihat sosok pria 70an itu duduk di pusat kursi makan.


"Haraboji." Sapa Woojin, pria 70an itu menoleh dan tersenyum kearah Woojin. Cucu tercintanya setelah Jihoon.


"Aku tidak tahu jika kakek datang." kata Woojin sambil menarik kursi bersebrangan dengan sang ayah. Manik hitamnya melirik sang ayah yang begitu santai menyuapi makan malamnya masuk kedalam mulutnya. Woojin tersenyum tipis. "Haraboji akan bermalam?"


Kakek menganggukkan kepalanya pelan, satu tangannya bergerak menyuapi nasi kedalam mulutnya.


"Iya, Jihoon berjanji akan datang kemari." ucap kakek disela kunyahannya.


"Ji-jihoon?"


Kakek kembali menganggukkan kepalanya.


Woojin melirik ayahnya, meminta penjelasan. Namun yang dilirik terlihat acuh.


*Tap


Tap


Tap*


Jihoon melangkahkan kakinya dengan berat hati mendekati meja makan keluarganya. Sesekali terdengar Jihoon menghela nafasnya, sungguh berat rasanya ia harus duduk di diantara keluarganya dan menghabiskan beberapa menit bersama.


Baginya tempat itu seperti hal yang menakutkan baginya. Terakhir dia duduk disana beberapa tahun yang lalu saat ayahnya mengumumkan perjodohan Woojin dan Nakyung. Sebuah pemberitahuan yang membuat hidup Jihoon jadi hancur seperti ini.


"Jihoon!" panggil kakek, tanganya bergerak memberi isyarat kepada cucu kesayangannya itu untuk mendekat.


Jihoon tersenyum terpaksa. Di langkahkan kakinya semakin mendekat, saat berada disamping Woojin, Jihoon segera menarik kursinya dan duduk dengan tenang.


"Akhirnya kau datang."


Sekali lagi Jihoon terpaksa. Menyembunyikan raut kekesalannya karena berada ditempat yang tidak disukainya. Jihoon mengalihkan pandangannya menatap si kepala keluarga. Pria itu masih sama, dengan wajah datarnya memandang dirinya.


Tidak ada senyum khas seorang ayah menyambut sang putra yang kembali dari penjelajahan luarnya. Tidak ada lagi pelukan hangat yang diberikan kepadanya.


Ayahnya tetap dingin setelah beberapa tahun telah berlalu.


Jihoon menunduk dan tersenyum sinis. Apa yang diharapkan oleh kepala keluarga itu, pria itu hanya mencintai Woojin, bukan Jihoon.


"Malam ini kau akan bermalam kan?" tanya kakek, memecahkan keheningan di meja makan itu.


Jihoon menoleh, ia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku akan harua kembali kerumahku."


"Bukankah ini juga rumahmu, lagian apa yang kau cari di luar Jihoon?"


"Dunia luar adalah pilihannya, tidak perlu mencari tahu lebih jauh ayah. Dia hanya mencintai kehidupan luarnya."


Kakek berdecak kesal mendengar penuturan putra semata wayabgnya itu. Bagaimana bisa seorang ayah mengucapkan kalimat seperti itu untuk putranya sendiri.


Pria 70-an itu mengangkat sendok nya kemudian memukul tepat di kepala putranya.


"Yaaa, apa ayah pernah mengajarkan mu berbicara seperti itu pada putramu sendiri. Lihat, putramu ini berada diluar selama beberapa tahun, dan ketika ia berada tepat di hadapanmu kau melayangkan kalimat yang menyakitkan. Bukannya menyambutnya dengan baik malah mengatainya. Kau ini putraku atau tidak?"


"Ayah!"


"Ayah sudahlah." wanita cantik itu menyodorkan air minum kepada kakek, berusaha menenangkan pria yang disegani oleh keluarga itu. Kakek menghela nafasnya pelan, tangannya segera meraih gelas bening kemudian meneguk airnya dengan rakus.


Woojin dan Jihoon yang sebagai penonton hanya bisa diam. Kejadian ini biasa terjadi, disaat ayahnya di marahi oleh kakek karena kehadiran Jihoon. Ya, berkat kehadiran Jihoon kakeknya itu akan marah-marah da menyalahkan putranya itu.


Hanya kakek satu-satunya keluarga yang melindungi Jihoon hingga saat ini.


;


:


"Kau penuh dengan kejutan Park Jihoon." kata Woojin mendekati Jihoon yang sedang berdiri di teras, memandangi gelapnya malam hari.


Jihoon menoleh beberapa detik, kemudian mengalihkan pandangannya menatap cahaya yang keluar dari lampu-lampu kota.


"Apa kau benar menjadi kekasih Sohyun?"


"Memangnya aku harus mengulangnya lagi?"


Woojin menghela nafas pelan.


"Lalu bagaimana dengan Nakyung? Kupikir kau mencintainya?"


Jihoon tersenyum smirk. Dia menolehkan kepalanya menatap Woojin.


"Siapa yang mencintainya? Aku hanya mencintai Kim Sohyun." katanya, sorot mata Jihoon seolah meledak Woojin yang terkejut mendengarnya.


Dia mendekat, memangkas jaraknya. Jihoon mendekatkan bibirnya ditelinga Woojin, membisikkan sesuatu yang membuat manik hitam itu bergerak melirik Jihoon.


"Lee Nakyung bukan lagi urusanku. Itu sudah takdirmu mengurusi gadis manja itu." Jihoon melirik saudaranya, ia tersenyum meledek. "Kudengar kalian kembali di jodohkan. Bukankah itu menyenangkan?"


Woojin mengepalkan tangannya, hingga buku-buku jaringan memutih. Ingin sekali Woojin melayangkan satu pukulan di wajah tampan saudaranya itu.


Jika saja sosok pria berumur 70an tidak mendekati mereka berdua. Jihoon menjauhkan wajahnya dari telinga Woojin saat telinganya mendengar suara ketukan tongkat sang kakek.


Memasang senyum palsunya, Jihoon mendekat dam membantu sang kakek untuk duduk di kursi besi bercat putih.


"Kenapa kakek keluar? Ini sudah malam."


"Kakek mendengar suara kalian berdua. Apa yang kalian bicarakan sampai berbisik-bisik seperti tadi."


Woojin mendekati sang kakek, ia tersenyum seperti Jihoon. Menyembunyikan semuanya dengan baik.


"Hanya hal sekolah saja haraboji."


Pria berumur 70an itu menepuk kursi samping kanannya, memberi isyarat pada kedua cucunya untuk duduk "Sini kalian duduk, ada yang ingin kakek tanyakan pada kalian."


Jihoon dan Woojin saling melempar pandang sebelum akhirnya memutuskan untuk duduk di kursi kosong. Jihoon duduk disamping kakek dan Woojin disamping kiri.


"Jihoon."


"Ne."


"Bagaimana tempat tinggalmu yang baru? Apa fasilitasnya memuaskan?"


Jihoon menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Meski kenyataannya ia sedikit kurang puas dengan rumah barunya karena tidak memiliki kedap suara yang membuatnya terus berdebat dengan tetangga barunya.


"Aku suka rumah baruku."


"Lain kali kakek akan berkunjung kesana."


Jihoon tersenyum. Kakek menolehkan kepalanya melihat satu cucunya yang sedang menunduk, mengamati lamat-lamat jari tangannya.


"Apa ada yang menarik di jarimu Park Woojin?"


Woojin mengangkat kepalanya, tampak terkejut mendengar suara kakeknya yang ditujukan untuknya.


"Eoh, a-anio." jawab Woojin gelagapan. Kakek tersenyum tulus, satu tangannya menyentuh pundak Woojin dan meremasnya seolah menyalurkan energi.


"Apa kau baik-baik saja menghadapi ayahmu?"


"Eh?"


Kakek menggelengkan kepalanya. Ia meluruskan pandangannya kedepan, menarik nafas dalam-dalam kemudian dihembuskannya.


"Bukankah mereka sangat indah, bulan, bintang dan keindahan kota dimalam hari."


Jihoon dan Woojin bersamaan menolehkan kepalanya kesamping. Melihat pemandangan luar biasa malam hari.


"..."


"Jika dipikir, malam hari bukankah sangat indah ketimbang siang hari yang hanya ditemani sinar matahari?" tanya kakek kepada kedua cucunya. Ia tersenyum ramah saat melihat wajah bingung sang cucu.


Wajah ngeblank cucunya itu mengingatkan keduanya saat kecil dahulu. Ketika wajah imut dan tampan kebingungan saat ia menceritakan dongeng-dongeng kecil.


Ia menghela nafas pelan, mengingat wajah kecil cucunya membuat ia merindukan hari itu. Dimana kedua cucunya masih akrab seperti saudara sesungguhnya.


"Dimalam hari kita dapat bersantai sejenak dan menikmati pemandangan yang indah ini. Bintang, bulan dan lampu-lampu kota. di siang hari kita hanya sibuk bekerja dan bersekolah bukan?"


Woojin menganggukkan kepalanya. Kakek menoleh dan menatap dirinya yang antusias dengan ucapan. pria itu tersenyum.


"Aku harap kalian dapat menikmati pemandangan yang indah ini setiap malam. Jangan pikirkan yang tidak seharusnya kalian pikirkan diusia kalian yang masih muda. Nikmati saja apa yang terjadi."


"..."


"Jika kalian merasa lelah, bicaralah pada kakek. Kakek akan membantu kalian."


Woojin tersenyum. Beruntung ia masih memiliki kakek. Seseorang yang akan mendengarkan keluh kesahnya, dan seseorang yang berada di sisinya.


Selama ini, Woojin merasa sendirian didunia. Ia tidak bisa mengungkapkan apa yang ingin di katakan nya, semuanya terpendam dan berakhir hanya dia yang tahu.


Lama mereka bertiga diam, menikmati semilir angin malam yang berhembus dan keindahan kota Seoul dimalam hari.


Woojin menundukkan kepalanya,melihat arloji hitamnya. Jam sudah menunjukkan pukul 9, sudah terlalu lama mereka berdiam diri disini, membiarkan angin merambas masuk kedalam tubuh.


"Haraboji, sebaiknya kita masuk. Ini sudah terlalu dingin untukmu."


Kakek menoleh dan tersenyum.


"Woojinie, bisa buatkan kakek coklat susu panas?"


"Eh."


Woojin terkejut mendengarnya, ia mengalihkan pandangannya menatap Jihoon meminta bantuannya. Namun yang ditatap hanya mengalihkan pandangannya kearah ponselnya.


Beberapa detik terdiam, Woojin menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Baiklah, aku akan membuatkannnya."


"Gomawo."


Woojin berdiri dari duduknya dan melangkahkan kaki panjangnya meninggalkan teras. Membiarkan Jihoon dan kakeknya waktu untuk berdua.


Beberapa detik ketidakhadiran Woojin disekitar mereka berdua. Kakek menoleh memperhatikan satu cucu bandelnya itu.


"Kau tidak berniat kembali kerumah ini?"


Jihoon mengangkat kepalanya. Satu alisnya terangkat naik, air wajahnya berubah bingung. Sama sekali tidak mengerti dengan ucapan tetuah itu.


Butuh waktu beberapa detik bagi Jihoon untuk memahaminya. Saat sudah mengerti, Jihoon tersenyum kecil.


"Tidak ada alasanku untuk kembali haraboji. Kehadiranku sudah tidak diperlukan dikeluarga ini."


"Apa kau masih berpikir seperti itu?"


"..."


"Kau tidak pernah melihat sisi yang lainnya. Ya, ayahmu mengabaikan mu, tapi bagaimana dengan Woojin? Ketidakhadiranmu di sini membuat Woojin menanggung semua bebannya seorang diri. Beban yang seharusnya tidak ia pikul, dia harus memikulnya, menggantikan posisimu."


"..."


"Woojin tidak menerima banyak cinta seperti yang kau bayangkan. Dia hanya menerima banyak beban. Kau tahu ayahmu-" ucapnya terpotong sejenak. Kembali memikirkan sifat putranya yang keterlaluan. "Kakek tidak tahu dia menuruni sifat siapa, kakek dan nenek tidak memiliki sifat sepertinya."


"Mungkin kakek buyut atau nenek buyut."


Kakek menggelengkan kepalanya tidak tahu. Ia sudah lupa bagaimana sifat kedua orang tuanya itu.


"Jihoonie."


"..."


"Kakek berharap kau tidak membenci Woojin. Bagaimana pun itu bukan keinginannya bertunangan dengan Nakyung. Kakek tidak ingin melihat kalian saling membenci. Kau bisa kan Park Jihoon?"


Jihoon diam. Dia masih belum yakin dapat menuruti permintaan sang kakek. Bagaimanapun, Jihoon terlanjur membenci Woojin, dan sampai saat ini ia belum memaafkan saudaranya itu, meski hal ini terjadi karena perbuatan sang ayah.


;


Sohyun melirik jam dindingnya yang menunjukkan jam 10 malam. dan tanda-tanda kehadiran Jihoon masih belum terlihat dihadapannya.


Pemuda itu mengatakan akan kembali saat jam makan malam, dan ini sudah lewat dari jam makan malam namun Jihoon belum muncul juga.


Sohyun bahkan sudah menghabiskan waktunya memasak makanan rumah untuk Jihoon pastinya.


Tapi tunggu.


Kenapa dia harus memasakkan makanan untuk Jihoon? Dan kenapa dia harus menunggu pemuda itu?


Sohyun berdecak kesal, ia melangkah mendekati meja makannya, meraih satu persatu makan yang berada diatas meja. Kaki mungil nya mendekati tempat sampah hendak membuang semua masakannya.


Bukannya dia tidak ingin memakan sendiri makanannya itu. Tapi dia terlanjur kesal dan kenyang melihat begitu banyak makanan yang disediakannya itu.


Nasi putih itu nyaris saja jatuh ke tong sampah jika saja suara bel pintu rumahnya di tidak ditekan secara tiba-tiba. Sohyun mengangkat pandangannya dan secara reflek meletakkan mangkuk nasi diatas meja dapur.


Kaki mungilnya melangkah mendekati pintu rumahnya. Sohyun membuka pintu rumahnya, dan terkejut melihat kehadiran Jihoon didepan pintu rumahnya.


Jihoon tersenyum melihat kekasihnya mungilnya itu. Dia pikir Sohyun tidak akan membuka pintu rumahnya jika di lihat jam sudah menunjukkan 10 malam.


"Kau belum tidur."


"Aku sedang belajar." elak Sohyun. Pemuda surai merah itu melengseng masuk kedalam rumah, melepas sepatunya dan memakai sandal rumah sebelum melangkah semakin jauh kedalam rumah.


"Meja belajarmu rapih." Jihoon membalikkan badannya, meminta penjelasan atas kebohongan yang terbongkar itu.


Sohyun mengigit bibir bawahnya. Ah sial, seharusnya ia membuka bukunya tadi sebelum membuka pimtu kamarnya.


Jihoon tersenyum jahil, memasang wajah yang terlihat menyebalkan bagi Sohyun. Kaki panjangnya di langkahkan mendekat meja makan, Jihoon melepas tasnya dan meletakkannya di samping kanannya.


"Kau yang memasak?"


"Hm." guman Sohyun, ia melangkah mendekat, meraih satu persatu makanan yang dihidangkan diatas meja, membuat pemuda surai merah melongo bingung.


"Apa yang mau kau lakukan?"


"Memanaskannya, memangnya kau mau makan makanan dingin?" jawab Sohyun dengan nada secuek mungkin. Beda di mulut beda di hati. Mulutnya bisa saja mengatakan hal yang acuh, namun tidak dengan hatinya yang terus berdebar tidak karuan.


Semenjak Jihoon datang, Sohyun tidak bisa menahan debaran yang terus terjadi di dadanya, mencuak lebih cepat seperti habis lari maroton.


Sohyun menyalakan kompornya, mulai memanaskan sup tahu yang dimasaknya tadi.


Jihoon tersenyum. Perasannya terasa nyaman melihat punggung mungil yang sedang membelakanginya itu.


Pemuda surai merah itu bangun dari duduknya, melangkah mendekati Sohyun yang tengah memasang apron coklatnya.


"Sini biar aku bantu." katanya, mengambil ahli tangan Sohyun yang sibuk mengikat tali apron di belakang tubuhnya.


Sohyun membeku. Jantungnya kembali berdebar cepat.


Ia pernah merasakan hal ini sebelumnya. Sohyun yakin perasaannya berdebar karena hal itu.


Menggelengkan kepalanya pelan. Membuang pikiran semua tentamg dirinya yang telah jatuh cinta. Sohyun tidak mungkin jatuh cinta kepada Jihoon dengan mudah.


Ia masih memiliki kekasih. Kim Doyoung. Tolong ingatkan Sohyun tentang kekasihnya itu.


"Kau pasti sudah dengar." Ucap Jihoon dengan nada beratnya yang terdengar seksi.


Sohyun hanya diam. Menjadi pendengar yang baik.


"Teman kelasmu itu pasti memberitahu mu jika aku adalah iblis, dan orang yang harus kau hindari." kedua tangan Jihoon terangkat menyentuh pundak Sohyun. Pundak mungil itu menegang saat tangannya merematnya pelan. "Berita itu menyesat lebih cepat dari yang kuduga. Tapi itu tidak apa-apa, aku suka ketika mereka menjauhiku."


Sohyun menolehkan kepalanya kesamping. Ekor matanya menatap Jihoon disampingnya yang sedang tersenyum.


Kedua tangan Jihoon yang tadinya mencengkram pundak Sohyun perlahan turun dan melingkar diperut gadis itu, dagunya disandarkan dibahu Sohyun.


"Aku tidak ingin mereka mendekatiku karena aku adalah anak dari anggota dewan sekolah."


"..."


"Tapi kau berbeda, aku ingin kau berada di dekatku. Aku ingin  kau menjadi milikku sepenuhnya."


"Ini salah." ucap Sohyun, tangannya mencoba melepaskan tangan Jihoon yang melingkar diperutnya. Namun semakin Sohyun mencoba, pelukan pemuda surai merah itu semakin erat.


"Aku mempunyai kekasih."


"I love you."


"Park Jihoon."


Sohyun memberikan tatapan tidak suka dan jengkel saat mendengarnya.


"Kau kekasih ku Kim Sohyun."


"Aku milik orang lain."


"Putuskan pria itu atau aku melakukan hal buruk padanya."


Sohyun melotot mendengar ucapan Jihoon, tapi Jihoon melayangkan tatapan tajam. Seolah tatapannya ia serius dengan perkataannya.


Menelan ludahnya dengan kasar. Apa ini sifat asli Jihoon? Sifat mengerikan yang pernah Joy katakan padanya.


Jihoon itu berbahaya, mungkin saja saat ini kau melihatnya tidak berbahaya, tapi beberapa hari kemudian kau bisa melihatnya.


Perkataan Joy  kembali menggema ditelinganya. Seharusnya ia menuruti permintaan Joy yang harus menjauhi Jihoon. Jika sudah begini apa yang harus dilakukannya?


Lari?


Kemana? Tempat bersandarnya hingga saat ini belum menampakkan dirinya.


To Be Continue