
“Jatuh cinta padamu ternyata salah...”
.
.
.
Sohyun diam seorang diri didalam kamar rawatnya. Ia duduk di bangsal. Kepalanya tertunduk melihat kakinya kanannya di gips tebal.
Ia tersenyum miris memperhatikan keadaanya saat ini.
Tidak ada hal baik selama dia tinggal di Korea Selatan. Kejadian buruk terus menghampirinya.
Mulai Sohyun nyaris mati karena menghirup asap rokok, bahunya yang terkilir, mengetahui fakta tentang meninggalnya Doyoung dan sekarang kakinya yang kembali di gips.
Di masa depan apa lagi yang akan dia hadapi?
Apakah dimasa depan nyawanya mulai diambil?
*Tok, Tok
Sreekk*
Pintu putih itu dibuka lebar. Sohyun menoleh melihat seseorang datang menemuinya.
Senyum lebar itu terukir indah di bibirnya, meski perasaannya sedang terluka, tetapi ia harus tersenyum di hadapan sang ibu.
Ya ibu dan adiknya datang ke korea menemuinya.
Salah satu guru yang datang pada hari itu langsung menghubungi orang tua Sohyun di Inggris. Mengatakan bahwa putrinya masuk rumah sakit.
Padahal Sohyun sudah meminta pihak sekolah untuk tidak menghubungi orang tuanya saat ia mengalami sesuatu yang buruk.
Tetapi, gurunya yang terlalu panik melihat Sohyun terluka pun langsung menghubungi orang tua Sohyun.
Sudah terhitung empat hari Sohyun berada dirumah sakit. Dan mulai hari itu ibu dan adiknya berada di Korea.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya sang ibu sambil meletakkan hasil rongsen pada kaki Sohyun diatas nakas.
“Lumayan, dimana adek?”
“Dirumah. Ahya sejak kemarin ibu mau bertanya siapa anak laki-laki yang tinggal di rumah mu?”
Sohyun diam.
Mau jawab apa dia?
Masa iya dia harus menjawab jika anak laki-laki itu adiknya Jihoon.
“Apa dia masih ada disana?”
Nyonya Kim menggelengkan kepalanya. Ia menarik kursi dan duduk di hadapan Sohyun.
“Tiga hari yang lalu dia pamit pergi, katanya rumahnya sudah diperbaiki. Katanya dia akan menjegukmu bersama kakaknya.”
Sohyun berguman. Matanya memperhatikan arah pandang sang ibu.
Wanita berambut hitam dengan bagian ujung berwarna orange.
“Ada apa?”
“Ayo kita pulang!”
Alis-alis Sohyun saling bertaut bingung.
“Ke apartemen? Apa sudah boleh pulang?”
Nyonya Kim menggelengkan kepala sambil tersenyum manis. “Bukan, ayo kita pulang kerumah. Di Inggris.”
“Mom...” Sohyun menatap nyonya Kim dengan kedua manik nya bergetar menahan tangis.
“Momny sudah mendengar apa yang selama ini terjadi padamu. Baby..” Nyonya Kim menghelus rambut Sohyun. “Mommy tidak bisa membiarkan mu berlama-lama lagi disini. Ayo kita pulang dan membawa abu Doyoung ke Inggris agar kita bisa menemuinya dengan mudah.”
“Mom?!” Panggil Sohyun dengan sura serak menahan tangis. “Biarkan aku lulus disini. Tinggal empat bulan. Kumohon.”
Hening.
Tidak ada pertukaran kata setelah itu.
Nyonya Kim menganggukkan kepalanya perlahan. “Tapi izinkan mommy menemanimu disini sampai kau lulus. Mommy tidak bisa lagi meninggalkan mu sendirian disini.”
•••
“Heol daebak.” seru Sungwon mengamati wajah anak laki-laki di sebelahnya.
Anak laki-laki berwajah imut dan tampan, rambutnya berwarna hitam, matanya indah dan memiliki double eyelid, hidungnya mancung dan pemuda itu memiliki senyum yang lebar dengan ruang mulutnya yamg kosong.
“Aku tidak tahu kalau kau ternyata adiknya Sohyun noona.”
Plak
Pemuda tampan itu memukul kepala belangan Sungwon cukup keras.
“YAKHHH!!!”
Sungwon menjerit sakit. Ia melemparkan tatapan mematikan pada pemuda di sebelahnya.
Ternyata pemuda itu memiliki kekuatan yang sama seperti kakaknya.
Pukulannya sangat menyakitkan.
“Aku lebih tua tiga tahun darimu bodoh.”
Sungwon berdecak sebal.
“Kalau begitu aku akan memanggilmu Sunwoo oppa.”
Pemuda yang disebut namanya langsung melayangkan tatapan jijik pada Sungwon.
Apa-apaan itu.
Oppa?
Anak laki-laki?
Oh my god. Yang benar saja.
Meski Sunwoo dibesarkan di luar negeri, tetapi kedua orang tuanya tetap mengajarkan dirinya tentang hal-hal berbau Korea, bahkan ia diwajibkan untuk berbicara bahasa Korea Selatan saat berada dirumah.
“Yak!!! Seharunya kau memanggilku Hyung bukan Oppa, are you crazy?”
Sungwon memutar matanya malas. Mengapa semua orang terus mempermasalahkan hal ini.
Apakah memanggil oppa pada sesama jenis itu salah?
“Apa jadi masalah kalau aku memanggil kalian oppa?” tanya Sungwon. “Aku hanya ingin berbeda dari yang lain, setidaknya jika aku mati kalian akan merindukan panggilanku.”
“Dasar aneh.”
“Oppa saja yang aneh.”
“YAKKHHHHH!!! JIJIK!!!” Sunwoo bangkit dari duduknya, kakinya mundur sedikit menjauh dari Sungwon.
Sunwoo menjauh, meninggalkan Sungwon di depan mini market. Tak hentinya tubuhnya bergetar mengingat bagaimana Sungwon memanggilnya dengan sebutan ‘Oppa’.
Sementara Sungwon tertawa lebih keras. Ia pun bangkit dari duduknya dan berlari mengejar Sunwoo yang mulai jauh darinya.
“Sunwoo oppa, tunggu aku!!!”
“JIJIK BERENGSEK!!!”
;
Sohyun duduk diatas kursi panjang bercat putih. Berada ditengah-tengah taman rumah sakit, dan juga di temani dengan beberapa kupu-kupu berterbangan di sekitarnya.
Sohyun tersenyum kecil. Memandangi satu persatu pasien yang ada disekitarnya.
Mereka terlihat bahagia bersama orang yang dicintai. Dalam keadaan apapun orang terkasih tetap bersamanya.
Ada sedikit rasa iri didalam dirinya. Mengapa orang-orang yang Sohyun cintai selalu meninggalkan dirinya di saat ia membutuhkannya?
Ini bukan pertama kali Jihoon menjauhinya di saat ia membutuhkan pria itu di sampingnya.
Jihoon selalu menjauh. Berlagak seolah Sohyun tidak membutuhkannya sekalipun.
Sohyun menunduk. Hatinya mencelos sakit, dan matanya mulai berair.
Namun segera ia menyeka air mata dipelupuk matanya.
Mengapa ia bisa secengeng ini? Dan mengapa ia harus menangisi iblis seperti Jihoon?
“Kau disini rupanya?”
Sohyun menegakkan kepalanya saat suara berat mendengung di telinganya.
Woojin tersenyum lebar saat mereka bersitatap. Ia pun melangkah semakin dekat dan duduk di sebelah Sohyun.
“Aku mencarimu dimana-mana. Dan ternyata kau disini.” Ucap Woojin memperhatikan Sohyun. “Sedang apa disini?”
“Menghirup udara.”
Sohyun tersenyum getir.
Selalu seperti ini.
Disaat Sohyun membutuhkan Jihoon. Tetapi Woojinlah yang datang menemuinya.
“Serius?” tanya Woojin sedikit menundukkan kepalanya guna melihat wajah Sohyun yang disembunyikan dibalik helaian rambut hitamnya.
Sohyun hanya mengangguk.
“Sohyun-ah.”
“Heum.” Sohyun menengok menatap Woojin dengan ekspresi bingung.
“Kau sudah tahu?”
“Tentang?”
“Aku yang membunuh Kim Doyoung.” Ucap Woojin pelan. Sangat pelan nyaris berbisik.
Sohyun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia terlihat begitu keras menyembunyikan kekecewaannya.
“Aku tahu.”
“Aku minta maaf soal itu. Hari itu aku tidak sadar beberapa hari, sesaat aku sadar aku mendapatkan kabar korban kecelakaan bis memakan korban jiwa.”
“...”
“Saat itu, aku takut dan benci. Aku takut hal itu membuat duniaku langsung hancur dan aku benci pada diriku sendiri yang tak bisa melakukan apapun dan memberikan beban itu kepada Jihoon.”
Woojin merunduk, kedua tangannya saling bertaut sangat erat.
“Mulai dua tahun yang lalu sampai selamanya. Jihoon akan dikenal sebagai seorang pembunuh.” Ucapnya lalu menoleh kearah Sohyun disebelahnya. “Sebuah tindakan kriminal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.”
Sohyun meraih telapak tangan Woojin yang saling menggenggam satu sama lain. Iapun menggenggam tangan itu, dan Sohyun tersenyum.
“...”
“Seandainya dia bisa menarik perhatian Nakyung, seandainya dia tidak keluar malam itu, dan seandainya dia tidak pernah marah.”
“...”
“Seandainya..”
“Tidak apa-apa.” Ucap Sohyun. Dia tersenyum manis menyembunyikan rasa kecewanya.
Kecewa? Tentu saja Sohyun merasa sangat kecewa pada Woojin.
Karena kemarahan pemuda itu, Doyoung-nya meninggal, dan karena pemuda itu Jihoon harus menanggung beban yang berat.
Tetapi, terus-menerus kecewa dan marah tidak akan mengubah semua yang telah terjadi.
Doyoung tetap meninggal, Pria itu tetap tidak akan hidup lagi jika Sohyun tetap marah dan kecewa pada Woojin.
“Kau tidak marah padaku?” tanya Woojin bingung. Sohyun menggelengkna kepalanya sebagai jawaban.
“Tidak. Marah akan membuang tenagaku. Dan aku harus tetap memiliki tenaga yang banyak untuk cepat pulih.”
Woojin tersenyum tipis. “Maafkan aku.”
Sohyun tersenyum lebar.
Memaafkan adalah cara yang ampuh untuk membuat semuanya tidak berubah.
Tidak ada salahnya memaafkan meski kau terluka olehnya. Dunia tidak akan hancur meski kau memaafkannya.
•••
Pelan-pelan Sohyun berjalan di lorong rumah sakit menggunakan tongkatnya.
Dokter telah memberinya kursi roda untuk memudahkan nya kemana-mana. Tetapi Sohyun menolak dan mengatakan ia lebih membutuhkan tongkat daripada kursi roda.
Bagi Sohyun kursi roda terkesan membuatnya seperti pasien yang memiliki luka parah. Padahal kakinya hanya terkilir.
Langkah Sohyun terhenti begitu saja ketika maniknya menangkap siluet tegap berdiri di depan kamar rawatnya.
Seorang pemuda tampan dengan surai hitamnya yang bersembunyi dibalik kupluk hoodie berwarna hitam.
Pemuda itu terlihat seperti patung. Hanya diam dan memandangi dengan tatapan kosong pintu putih dihadapannya.
“Park Jihoon?!” Panggil Sohyun seraya mendekat.
Suara ketika dari tongkatnya menyadarkan pemuda itu. Jihoon menoleh kearah Sohyun dengan wajah terkejut. Mungkin dia pikir Sohyun berada didalam kamar rawatnya.
“Kenapa kau diluar?” tanya Jihoon. Tangannya yang membawa buket bunga langsung di sembunyikan dibelakang tubuhnya.
“Kau mau menjenguk?” bukannya menjawab pertanyaan pemuda tampan itu, Sohyun malah melemparkan pertanyaan.
Dan siapa yang menyangka pertanyaannya langsung diangguki oleh Jihoon.
Sohyun tersenyum kecil. “Kenapa tidak masuk dan tetap berdiri disini jika ingin menjenguk?” tanyanya sambil membuka pintu kamar rawatnya.
Sohyun sedikit kesulitan membuka pintu karena dua benda yang di jepit diketiaknya menganggu sedikit aktivitasnya.
Sementara Jihoon sejak tadi mengamati ingin sekali membantu Sohyun, menyentuh bahu Sohyun dan membuka pintu tersebut. Tetapi, tangannya hanya diam di udara. Tidak tahu harus menyentuhnya atau tidak.
Terlalu canggung baginya.
Saat pintu berhasil terbuka. Sohyun langsung masuk terlebih dahulu, kemudian di susul Jihoon dibelakangnya.
Sohyun duduk dengan hati-hati di atas bangsalnya. Meletakkan kedua tongkatnya di samping bangsal.
“Apa yang kau sembunyikan sejak tadi?” tanya Sohyun sesaat meletakkan tongkatnya.
Jihoon tertegun. Tangannya yang masih bersembunyi perlahan meremas buket bunganya.
Sohyun mengulurkan tangannya, seolah meminta benda yang sejak tadi di sembunyikan Jihoon. “Kau membelinya untukku kan?” tanya Sohyun.
Jihoon tidak menjawab. Ia menelan ludahnya kasar. Mengapa tib-tiba dia secanggung ini dihadapan Sohyun?
“Apa aku salah? Ah, untuk tunanganmu ya?”
*Deg
Sakit*.
Sohyun menusuknya tepat dihati.
“Aku mendengarnya semua. Apa dia wanita yang pernah kutemui?” tanya Sohyun, tatapan sendunya tak pernah putus memandang Jihoon.
“Ya.”
“Sudah berapa lama kalian bertunangan?” tanya Sohyun.
“Maafkan aku.”
Sohyun tersenyum. Matanya berkaca-kaca dan hatinya mencelos sakit.
Ingin sekali Sohyun berteriak dan memaki Jihoon. Tetapi, sekali lagi dia harus ingat bahwa semua akan percuma.
Semua telah terjadi.
Sohyun mengalihkan perhatiannya. Ia membuka laci meja di samping ranjangnya dan mengeluarkan smartphone milik Doyoung.
“Ini.” Sohyun memberikannya pada Jihoon. “Aku tidak sengaja membuka dos milikmu dan menemukan itu disana.”
Jihoon mengulurkan tangannya, mengambil benda itu dari tangan Sohyun.
“Bisakah aku bertanya?”
“Apa?”
“Apa kau mengencaniku karena kau merasa kasihan padaku?”
Jihoon diam. Tidak menjawab.
Pertanyaan Sohyun terlalu mengejutkannya. Seperti bom dilemparkan tepat kearahnya dan tanpa persiapan sehingga Jihoon tak bisa menghindar.
Apa yang harus dijawab oleh Jihoon?
Otaknya tiba-tiba berhenti berkerja setelah mendapatkan pertanyaan iru. Mulutnya seolah membeku, untuk menggerakkannya terasa begitu sulit untuk Jihoon.
“Aku mengerti.” Ucap Sohyun seraya merunduk.
Air matanya jatuh di pipinya. Ia menangis, untuk kesekian kalinya. Tak ada yanh bisa ia lakukan selain menangis. Marah ataupun memukul Jihoon tidak akan mengubah apapun yang telah terjadi. Menangis adalah satu-satunya cara untuk meluapkan kekesalan yang saat ini dirasakan.
Meski terlihat menyedihkan tetapi cara inilah yang dipilih Sohyun untuk membuat perasaannya nyaman.
“Aku ingin kita putus.” Menegakkan kepalanya melihat wajah Jihoon.
Pemuda itu memasang wajah datarnya. Tidak ada yang tahu apa yang sekarang Jihoon rasakan.
Bahkan setelah Sohyun mengatakan ingin putus padanya. Jihoon tetap terlihat datar, seolah dia telah mempersiapkan dirinya mendengar pernyataan itu, atau dia memang sudah tahu dan ingin mereka berakhir.
“Heum, jika itu mau mu.” Ucap Jihoon.
Sohyun meremas ujung piayama-nya. Sakit dihatinya bukan main.
Setelah mengetahui Doyoung meninggal, Ia dikejutkan dengan Jihoon yang memiliki tunangan.
Mengapa orang yang dicintainya selalu meninggalkannya? Apakah Sohyun tidak berhak dicintai?
Jihoon berdehem, mengeluarkan buket bunga yang ia sembunyikan sejak tadi. Meletakkan dengan lembut buket bunga itu diatas nakas.
“Itu untukmu,” ucap Jihoon. Setelah meletakkan buket bunga mawar yang memiliki lima belas tangkai.
Sohyun tersenyum getir. Lima belas tangkai bunga mawar, sepertinya Jihoon benar-benar mempersiapkan dirinya untuk hal ini.
“Bisakah aku bertanya satu hal?”
Sohyun diam, membiarkan Jihoon melanjutkan kalimatnya.
“Pernahkah kau mencintaiku?” tanya Jihoon.
;
langkahnya lunglai. Air matanya terus berkecucuran di pipinya. Mengalir sangat deras seperti air terjun.
Hatinya sakit.
Mencelos meratapi kisah cintanya yang berakhir tidak bahagia.
Ini salahnya. Tentu salahnya.
Sejak awal dia bersalah.
Jihoon menutup wajahnya dengan satu tangannya.
Jawaban Sohyun dirumah sakit sangat menusuk hatinya. Bahkan dia tidak dapat mempercayai apa yang diucapkan Sohyun.
“*Pernahkah kau mencintaiku?”
“Apa jawabanku dapat mengubah semuanya?”
Jihoon diam.
“Jika aku menjawab iya, apakah rasa sakit dan penderitaan ini akan berakhir?”
“...”
“Apakah kau akan tetap menjadi Jihoon yang kukenal saat aku menjawab iya?”
“Aku tidak yakin.” jawab Jihoon menunduk.
“Park Jihoon, aku ingin kau bersamaku. Dan kita melupakan semua yang terjadi.”
“...”
“Bisakah kita bersama seolah kejadian ini tidak pernah terjadi antara kita berdua?”
“Kau tahu aku jahat Kim Sohyun, dan aku memiliki Lia sebagai...” Ucapan Jihoon tiba-tiba terhenti saat dia tahu kalimatnya mulai terdengar menyakitkan untuk Sohyun.
“Aku mencintaimu. Park Jihoon. Bahkan setelah aku tahu Doyoung meninggal, aku tetap mencintaimu, dan saat aku mengetahui kau bertunangan dengan Lia aku tetap mencintaimu.”
“...”
“Apa kau tidak bisa meninggalkan Lia untuk tetap bersamaku, hiks*?”
Dunia Jihoon hancur untuk kesekian kalinya. Ia telah kehilangan orang yang sangat dicintai untuk menerima orang yang tidak dicintainya.
Sohyun mencintainya dan itu fakta. Selama ini Jihoon hanya memikirkan fantasi nya jika Sohyun tidak pernah mencintainya dan hanya mencintai Kim Doyoung.
Jihoon meraung lebih keras. Memukul dadanya yang sakit.
Terlalu banyak kupu-kupu yang berterbangan dan membuat ia kesulitan bernafas.
Tidak peduli ia menjadi tontonan orang-orang yang berlalulalang disekitarnya. Jihoon sudah tidak sanggup dengan rasa sakit yang diterimanya malam ini.
“Jatuh cinta padamu ternyata salah... Tidak seharusnya aku mencintaimu hari itu. Park Jihoon.”