
happy reading
.
.
.
...
Woojin mendekati Jihoon yang tengah berbaring di rooftop sekolahnya. Kedua tangannya di masukkan kedalam saku celananya.
"Yak!! Bangunlah.." panggil Woojin. Pemuda tan itu berdiri tepat diatas Jihoon, mengahalangi sinar matahari mengenai wajah Jihoon.
Pemuda pipi chubby itu meringis sebal. Sebelah matanya terbuka, memandang wajah menjengkelkan saudara kembarnya.
"Wae?"
"Wajahmu akan gosong jika berjemur jam segini." ucapnya, berdesis pelan merasakan sinar matahari yang menusuk hingga kedalam kulitnya. "Menunggu siapa disini?"
"Sohyun. Ada apa?"
"Kalian sudah berbaikan?"
Mendengar pertanyaan Woojin membuat Jihoon memperbaiki posisinya terduduk. Kelopak matanya sepenuhnya terbuka, memandang lurus kedepan sana.
"Iya."
"Syukurlah. Jangan menjauhinya lagi, kau tahu aku selalu siap untuk mengganti posisimu."
Jihoon tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya dia merasa bebas.
Bebas untuk mencintai seseorang tanpa harus menyakiti siapapun.
.
Jihoon menegekkan kepalanya, kedua bahunya terangkat tidak tahu. "Untuk lebih jelas tanyakan itu padanya. Sekarang Sungwon berada dirumah Jaemin."
Jihoon memperbaiki posisinya tegap. Dia melangkah mendekat, memangkas jarak antara dirinya dan Woojin.
"Apa kau menyukai Kim Sohyun?" tanya Jihoon.
Pupil Woojin melebar, begitu terkejut dengan apa yang baru saja di katakan oleh saudara kembarnya.
Jihoon tersenyum sinis, ia melangkah mundur satu langkah, tangannya di masukkan kedalam saku jaketnya.
"Apa kita harus mengulang kejadian dua tahun yang lalu?" tanya Jihoon dengan senyum sinisnya. "Park Woojin?!"
Beberapa detik kemudian air wajahnya berubah normal. Woojin tersenyum.
"Tidak, aku tidak ingin kehilangan saudaraku lagi. Bagiku ini sudah cukup berada disisinya sebagai seorang sahabat..
..aku memang mencintainya, tapi aku lebih mencintai saudaraku. Kita sudah lama berperang dingin, kenapa kita harus berperang setelah kubu es itu mulai mencair?"
Jihoon diam, Woojin mendekat dan *** lembut bahu Jihoon.
"Kau telah berubah sedikit lebih baik setelah bertemu dengannya."
"Kau mau mati?" tanya Jihoon takut-takut. Demi tuhan, Woojin dihadapannya terlihat sanagt berbeda dari yang dia kenal sebelumnya.
Ia perah mendengar jika seseorang terlihat sangat berbeda dari sebelumnya maka itu tandannya orang itu akan mati. Dan Jihoon tidak ingin hal itu terjadi.
Sebenci-bencinya Jihoon pada Woojin. Dia tidak akan pernah rela jika pemuda itu meninggalkannya. Tidak akan ada lagi seseorang yang akan diajaknya untuk berkelahi.
"Apa yang kau bicarakan?"
"Kau berbicara yang aneh. Tidak perlu menjadi orang yang berbeda, tetaplah menjadi dirimu sendiri. Aku sudah tidak peduli kau masih mencintainya atau tidak..
..hanya satu yang kutahui tentang dirinya. Kim Sohyun tidak akan pernah meninggalkanku."
.
.
"Ji."
"Jihoon?!"
Yang di panggil namanya menoleh. Ia terdiam sesaat memandang wajah datar Woojin yang menatapnya.
"Apa yang kau pikirkan?"
Jihoon menggelengkan kepalanya. "Tidak ada." jawabnya kemudian beranjak dari tempatnya, melangkahkan kaki panjangnya menuju pembatas rooftop.
"Untuk menyelamatkan Sungwon, haruskah aku kembali balapan?" tanya Jihoon, ia meneloh ke samping kirinya, menatap Woojin yanh baru saja mendekatinya.
"Hadiahnya lumayan untuk membayar ganti rugi. Bagaimana menurutmu?"
"Apa tidak ada cara lain?"
Jihoon menggelengkan kepalanya pelan. Ia merasa kalau hanya itulah cara untuk menyelamatkan adiknya.
"Jika menurutmu hanya itu cara untuk menyelamatkan Sungwon, aku hanya bisa mendukung.. Tapi, berhati-hatilah." Ucap Woojin. "Aku hanya tidak ingin kau terluka lagi."
"Kalau begitu kita harus bertemu dengan Daniel. Kurasa dia bisa membantu."
•••
Kim Sohyun melangkahkan kakinya menaiki anak tangga yang akan membawanya menuju rooftop.
Pagi tadi sebelum berangkat kesekolah Jihoon menghubungi dirinya dan memintanya untuk naik ke rooftop sambil membawa bekal. Pemuda yang sekarang telah mengganti warna rambutnya itu tidak ingin makan di kantin, katanya makanan di kantin tidak enak, Jihoon lebih suka masakan Sohyun.
"Hwaaaaa..."
Sohyun menguap, kantuknya berada mulai mendatanginya.
Semalam dia terlambat pulang karenan bertemu dengan peliharaan baru, kemudian pagi-pagi sekali dia harus bangun untuk membuatkan sarapan untuk Jihoon dan dirinya.
Rasanya ingin sekali Sohyun menyumpahi pemuda itu karena membuat dirinya kelelahan.
Tap tap tap
"Eh,"
Rasa kantuk yang mendominasi, membuat Sohyun tidak menyadari kehadiran seseorang yang berdiri tepat dihadapannya.
Menegakkan kepalanya guna melihat sosok itu. Mata lelahnya memperhatikan pemuda tampan itu.
"Park Woojin?!"
Pemuda bergingsul itu melangkah lebih dekat, menyamkan posisinya dengan Sohyun.
"Kau habis bertemu dengan Jihoon?" tanya Sohyun dan diangguki oleh Woojin sebagai jawaban.
"Kau mau bertemu dengannya?"
"Iya. Dia meminta dibuatkan bekal tuh."
Woojin diam, manik hitamnya mengamati kotak bekal yang sedang dipeluk Sohyun. Ia tersenyum kemudian.
"Dia pasti menyukainya. Sudah lama Jihoon tidak makan masakan rumah."
"Kenapa?" sebelah alis Sohyun terangkat naik, membuat kerutan halus menghiasi keningnya.
"Diakan sudah lama kabur dari rumah."
"Kabur?"
Woojin menganggukkan kepalanya, di detik kemudian sebelah alisnya terangkat naik.
"Jihoon tidak menceritakannya dengnmu?"
Sohyun diam. Entahlah dia sendiri tidak ingat apa Jihoon sudah pernah bercerita tentang keluarganya.
Hubungannya yang terkesan tiba-tiba dan terpaksa membuat Sohyun tidak mau mencari tahu tentang Jihoon.
Salahkan Park Jihoon yang dimasa lalu memaksa dirinya menjadi kekasihnya sementara Sohyun terus menerus menolak dan mengatakan jika telah memiliki Doyoung.
"Maaf jika kau mendengarnya dariku lebih dulu."
"Tidak apa-apa Park Woojin. Aku malah berterimakasih karena berkatmu aku ingin tahu lebih banyak tentangnya."
"Kalau begitu bertanyalah padanya sendiri. Aku tahu mendengar dari orangnya langsung jauh lebih baik daripada mendengarkan dari orang lain."
Jihoon masih berdiri di dekat pembatas rooftop. Kedua tangannya di letakkan diatas tembok dan meletakkan dagunya di sana.
Terdiam memandangi teman sekolahnya yang terlihat begitu asik mengoper bola. Berlari kesana kemari untuk menggiring dan mengejar benda bulat itu.
Jihoon menghembuskan nafasnya. Melihat teman-temannya bermain bola membuatnya merindukan masa-masa dimana dia aktif berolahraga bersama Woojin.
Percaya tidak percaya, Jihoon dimasa lalu adalah anak laki-laki yang lembut dan menggemaskan. Kata pemberontak begitu jauh dari dirinya dimasa lalu, bahkan aroma bubble pop adalah ciri khasnya dimasa lalu.
Berbanding terbalik dengan sekarang. Aroma tembakau menguar dalam dirinya, pemberontak dan iblis. Balapan dan bermain dengan wanita yang jauh lebih tua darinya untuk mendapatkan uang, dan seseorang pelantran untuk membalaskan dendam.
Semua takut padanya, termasuk anak-anak disekolahnya. Mereka memilih menjauh dan tak ingin mencari masalah dengan Jihoon.
Reputasi Jihoon yang terkenal buruk membuat mereka takut. Pergaulannya yang begitu bebas membuat mereka menjauh.
Siapa yang ingin berteman dengan Jihoon yang memiliki pergaulan yang begitu bebas dan iblis?
Hanya seseorang yang ingin mencari mati yang mau berteman dengan Jihoon.
"Ji.."
Ujung blazer Jihoon ditarik. Pemuda surai hitam itu menoleh kemudian dia tersenyum tipis.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Sohyun.
Bukannya menjawab Jihoon merubah posisinya, berdiri tepat dibelakang Sohyun dan memberikan back hug, melingkarkan kedua tangannya pada perut Sohyun, dan dagunya di letakkan di bahu Sohyun.
Menghirup dalam-dalam aroma permen karet yang menguar pada tubuh Sohyun.
"Kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa, aku hanya merindukanmu."
Sohyun tersenyum, satu tangannya yang bebas menyentuh lengan Jihoon yang melingkar diperutnya. Menghelusnya cukup lembut.
"Makan dulu, nanti jam makan sianganya habis."
"Sebentar saja begini. Aku masih ingin memelukmu."
Sohyun diam dan memilih untuk memberikan waktu pada Jihoon untuk terus memeluknya. Lagi pula Sohyun juga menginginkan pelukan hangat itu.
Hening
Angin berhembus cukup tenang hari ini.
Helai demi helai surai mereka berterbangan mengikuti arah angin berhembus. Siang hari yang terik tak menjadi hambatan bagi keduanya untuk menikmati waktu romantis seperti ini.
Setelah beberapa hari terpisah. Keduanya mulai menyadari sesuatu yang perasaan masing-masing.
Sohyun yang menyadari jika ia memang mencintai Jihoon. Tidak peduli jika ia memiliki Doyoung, di dalam hatinya hanya ada Jihoon dan menginginkan pemuda itu bersamanya.
Sementara Jihoon, awalnya ia sempat berpikir jika ia hanya akan bermain-main dengan Sohyun. Meminta gadis asing itu sebagai kekasihnya dengan tiba-tiba, mengganggu Sohyun di setiap kesempatan. Jihoon pikir dia hanya ingin bermain. Tapi, semakin lama dan sempat terpisah beberapa hari Jihoon sadar, jika ia tulus mencintai gadis itu.
Jihoon ingin memiliki Sohyun sepenuhnya. Akan dia lakukan apapun untuk memiliki Sohyun, meski harus melenyapkan pacar pertama Sohyun.
Tidak masalah membunuh seseorang. Toh dia pernah melakukannya di masa lalu.
"Jihoon.. Dingin!" Sohyun menoleh. Dan tanpa sengaja bibir mereka bertemu karena jarak yang terlalu begitu dekat.
Iris coklatnya membulat. Cepat-cepat Sohyun menjauhkan wajahnya, membuat ciuman mereka terlepas.
"Hei mesum!!" ujar Sohyun.
Jihoon tertawa renyah. Kedua tangannya melingkar semakin erat diperut Sohyun.
"Kau yang duluan mencium ku." ucapnya masih dengn suara tawa yang terdengar menjengkelkan.
Pipi chubby Sohyun memerah layaknya tomat masak, bahkan merahnya hingga menjalar ke telinganya.
Fakta jika ia yang mencium Jihoon terlebih dahulu; meski tanpa sengaja. Membuat Sohyun begitu malu setengah mati.
Jihoon melirik. tawanya mereda saat matanya melihat semburat merah yang begitu kontras di kulit putih kekasihnya.
"Kau masak apa?"
"Kimbab. Memangnya kau mau apa?"
Pemuda surai hitam itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sohyun. Menghirup aroma khas dari kekasihnya kuat-kuat. Aroma yang di rindukannya, aroma yang membuatnya candu.
"Aku ingin memakanmu!"
"Ji, ingat kita disekolah. Lagian aku tidak ingin hamil di usia muda ya."
Jihoon tertawa, bersama hembusan nafasnya yang hangat menerpa kulit Sohyun. Membuat sang empu kegelian.
"Kau menyuruhku mati, cutie?" tanya Jihoon menjauhkan wajahnya dari leher Sohyun. Menatap dengan pandangan bingung kearah kekasih chubbynya.
"Maksudku jangan bernafas di leherku. Pabo."
"Hei!!"
Sohyun diam, mengacuhkan kekasihnya yang merasa tidak rela di sebut bodoh olehnya.
Manik coklat itu memandang lurus kedepan. Memperhatikan bebeberapa anak laki-laki bermain bola di bawah sana.
"Ji?!"
"Wae?" tanya Jihoon malas. dia masih kesal pada Sohyun yang telah menyebut dirinya bodoh.
"Kau suka olahraga apa?"
"Aku?"
Sohyun mneganggukkan kepalanya.
"Aku sukanya berolahraga di malam hari. Kegiatan panas yang bisa mencucurkan begitu banyak keringat. Bahkan aku bisa mendengar suara musik yang mer-"
Plak
Sohyun memukul keras tangan Jihoon yang melingkar di perutnya. Sungguh, Sohyun tidak bisa mendengar lebih jauh perkataan mesum pemuda itu.
"Yak! Kau mau putus hah?" Sohyun menoleh, menatap tajam pemuda surai hitam itu. Jihoon menyengir bodoh sembari menggelengkan kepalanya. "Aku curiga kau sering melakukannya dengan wanita-wanita diluar sana. Ahhh kau juga melakukannyakan bersama ibunya Shin Yechan."
"Tidak!!" Jihoon menggelengkan kepalanya. Sangat kuat, dan jika saja bisa kepalanya akan putus dari tempatnya sangking kuatnya menggeleng.
"Ck, aku punya telinga Park Jihoon. Saat itu aku mendengarnya sangat-sangat jelas sebelum pingsan."
Sohyun melepaskan tangan Jihoon yang melingkar diperutnya. Membalikkan badannya menghadap pemuda itu.
Manik coklat itu menatap lekat wajah Jihoon. Meminta sebuah penjelasan, bagaimanapun Sohyun tidak ingin fantasi liarnya mengganggu kinerja otaknya.
"Berapa banyak wanita yang kau ajak tidur bersama?" Tanya Sohyun. Dagunya di angkat angkuh, kedua tangannya melingkar di atas perutnya.
Jihoon menghembuskan nafasnya mengalah. Lagipula semuanya akan terbongkar sejalannya waktu. iya semuanya ... Tapi nanti
"Dua atau entahlah." jawab Jihoon sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatel.
Rahang Sohyun jatuh. Merasa kaget mendengar ucapan kekasihnya.
Oke tolong tahan Sohyun saat ini. Karena mungkin saja ia akan melempar kotak bekal yang sejak tadi dibawanya ke wajah tam-eh jelek Jihoon.
"PARK JIHOON!!!"
kedua tangan Sohyun mengepal kemudian.
Plak, plak
"Aw!!"
Sohyun memukul tubuh Jihoon dengan tangannya dan pemuda itu meringis sakit. Bagaimanapun pukulan Sohyun tidak main-main.
"Sakit Park Sohyun!!"
"Pabo...paboo... Pabo!!!" ucapnya. "Park bodoh Jihoon!!"
Sohyun marah. ia tidak peduli dengan marganya yang diganti, Sohyun tetap memukul tubuh Jihoon dengan cukup keras.
Ia tak bisa habis fikir bagaimana bisa Jihoon dengan mudah tidur bersama wanita asing. Sangat menjijikkan.
"Bagaimana kalau perempuan itu hamil bodoh?"
"Kenapa kau melakukannya?"
"Kau itu masih kecil, Apa kau bisa bertanggung jawab hah?"
Jihoon meringis kesakitan. Tubuhnya sakit, dan dia sudah tidak tahan lagi.
Jihoon meraih lengan Sohyun. Menghentikan gadis itu memukulinya.
Manik keduanya bertemu. Saling melempar perasaan yang berbeda, yang satu kecewa dan yang satunya entah, tatapannya berubah datar.
Mata Sohyun mulai berair.
Dadanya sakit mendengar kenyataan jika Jihoon sudah meniduri beberapa wanita. Padahal dia sendiri yang meminta Jihoon untuk menjawab pertanyaan khoyolnya.
Sohyun tidak tahu akan sesakit ini mendengar jawaban Jihoon. Sohyun fikir itu tidak masalah selama hanya ada beberapa atau tidak ada yang terjadi setelah mereka tidur.
Semua salah.
Hatinya tetap mencelos sakit. Kenyataan wanita yang dapat tidur bersama Jihoon jauh lebih beruntung daripada dirinya.
"Hei kau kenapa menangis?"
"Pabo, hiks."
Jihoon meghebuskan nafasnya untuk kesekian kalinya. Mengulurkan tangannya menarik tubuh mungil Sohyun, membenamkan wajah itu di dadanya.
Tubuh Sohyun mulai bergetar, air matanya mengalir di pipi chubbynya.
"Hei dengarkan aku. Perempuan yang tidur bersamaku hanya dirimu. Aku tidak bisa menghitung berapa banyak nanti aku tidur bersamamu." ucap Jihoon. Ia mendorong tubuh Sohyun sedikit menjauh dari pelukannya, jemarinya menyentuh dagu Sohyun, menuntun gadis itu menatap matanya.
Jihoon menghapus air mata Sohyun. Mengecup setiap jejak air mata di wajahnya. Ia tersenyum saat melihat sisa-sisa cairan itu di pelupuk mata Sohyun.
"Kalaupun aku tidur dengan wanita lain, itu hanya sebatas tidur saja. Dia berada di sebelahku tanpa melakukan apapun. Dia tidur terlebih dahulu karena pengaruh alkohol."
Hidung Sohyun berkerut, menarik ingusnya yang nyaris keluar.
"Kalau dia tidak berada pada pengaruh alkohol kalian pasti melakukannya,hiks."
Senyum Jihoon semakin merkah. Ia mendekat dan mengecup bibir Sohyun. Tanpa ada lumatan dan tuntutan, hanya ingin menyalurkan isi hatinya. Betapa ia mencinta. Betapa ia menginginkan Sohyun yang menjadi terakhir untuknya.
Jihoon memberi sedikit jarak. Menyatukan dahinya dengan dahi Sohyun, menatap mata sedih kekasihnya dari jarak sedekat ini.
"Aku tidak akan melakukannya. Dan, aku hanya ingin melakukannya bersamamu. Karena aku ingin memilikimu selamanya."
Kelopak sakura itu terpejam tiga detik, bersamaan tertutupnya kelopak mata, air matanya jatuh dari pelupuk matanya.
Hatinya terasa damai. Tidak sesakit tadi.
Beberapa detik yang lalu Sohyun membayangkan betapa menjinjikkannya Jihoon, menyentuh tubuh wanita lain hanya untuk menumpahkan hasratnya sebagai pria. Sebenarnya tidak ada yang salah, itu umum di lakukan oleh seseorang yang telah mengalami pubertas. Jika Sohyun adalah Jihoon, mungkin dia akan melakukannya juga.
Kedua tangan Sohyun melingkar di leher Jihoon, meletakkan dagunya di bahu pemuda berbahu lebar itu.
"Maafkan aku yang sudah memarahimu."
"Tidak apa-apa."
"Aku takut, jika suatu saat wanita yang menemanimu tidur datang dan membawamu pergi dariku."
Jihoon tersenyum, ia mengeratkan pelukannya. "Apa kau sangat mencintaiku sampai kau takut kehilanganku?" tanya Jihoon tepat di telinga Sohyun.
Tak berpikir lebih lama, karena Sohyun yakin itulah jawabannya.
"Mungkin. Aku tidak tahu. Perasaan ini tidak pernah kurasakan pada dia."
"Dia?"
Sebelah alis Jihoon terangkat naik bingung.
Ia sebenarnya tidak bodoh. Jihoon mengerti siapa yang dimaksud Sohyun.
Tetapi, saat Sohyun menyebut pria itu dia. Entah mengapa ada keinginan yang begitu besar untuk mengetahui nama pria itu.
Jihoon ingin tahu siapa nama dan bagaiman wujud pria itu.
Melepaskan pelukannya dan memberi sedikit jarak antara mereka tanpa melepaskan pelukannya.
"Pria itu siapa?"
Sohyun diam. Di detik kedua ia langsung menggelengkan kepalanya.
"Lupakan saja. Aku bahkan sudah tidak ingin menganggapnya sebagai kekasihku." ucap Sohyun mengadahkan kepalanya menatap Jihoon yang sedikit lebih tinggi darinya. "Bukankah aku terlihat seperti seorang istri yang ditinggal bertahun-tahun oleh suaminya, tanpa ada kabar sekalipun. Terlihat seperti kami sudah berpisah sejak dia pergi tanpa kabar."
Jihoon tertawa, melupakan dirinya yang ingin mengetahui nama pria itu. Mungkin Jihoon bisa meminta tolong pada Jaemin untuk mencari tahu nama pria pertama itu.
---o0o---
Kwak Kwak kwak
Anjing kecil itu berputar-putar di depan pintu, ekor kecilnya berkibas kesana-kemari. Begitu antusias mendengar suara tombol kunci di tekan beberapa detik yang lalu.
Ceklek
Kwak Kwak
"Dongbi-ya.. Kau merindukan ayah?" sapa Jihoon. Ia menunduk meraih anjing beras golden retriever berjenis kelamin laki-laki dan menggendongnya masuk kedalam. Disusul dengan Sohyun yang baru masuk kedalam rumahnya. Tidak ada sambutan seperti yang dirasakan Jihoon.
Wajahnya ditekuk malas. Kedua tangannya sibuk mengangkat barang belanjaan yang tadi di belinya saat pulang sekolah.
"Lepas sepatumu tuan Park!!" Sohyun berujar kesal.
Jihoon tak mengidahkan ucapan Sohyun. Ia sibuk bermain dengan anak anjing yang diberi nama Dongbi. Tidak ada arti yang spesial di nama itu, hanya saja Jihoon suka dan diberikan pada anak anjing yang kehadirannya hampir ditolak.
Sohyun menggelengkan kepalanya tidak mengerti. Kemarin, Sohyun ingat betul jika Jihoon meminta dirinya untuk tidak merawat anak anjing bahkan dia sampai cemburu melihat Dongbi di gendongannya.
Dan lihat, siapa yang terlihat begitu antusias bermain dengan seekor anak anjing. Bermain dengan riang seperti ia sedang bermain dengan anaknya sendiri.
"Kau mau makan apa malam ini?"
"Aku tidak makan. Jangan memasak terlalu banyak."
"Uh, memangnya kenapa? Kau mau pergi?" Tanya Sohyun.
Jihoon menghentikan aktifitasnya dan melihat punggung kecil Sohyun yang berada di dapur.
"Aku dan Woojin akan makan malam diluar."
"Ahh bersama ayah dan ibumu juga, ya?"
"Tidak, hanya kami berdua."
"Begitu ya." ucap Sohyun. Setelah meletakkan semua barang belanjaan di dapur, Sohyun melangkahkan kakinya menuju tempat tidurnya, mendekati Jihoon yang kembali bermain dengan Dongbi.
"Cutie."
"Hum."
"Tentang Sungwon.." Jihoon berhenti sejenak, netra coklat memandang lamat-lamat wajah Sohyun. "Bolehkah dia tinggal dua hari disini?"
"Kenapa?"
"Ibunya Jaemin akan datang malam ini. Dan aku tidak bisa membiarkan Sungwon tetap tinggal di sana sementara ibunya akan datang. Hanya dua hari heum."
Sebelah alis Sohyun terangkat naik. Terlihat bingung dengan ucapan Jihoon.
"Kenapa tidak bersama Woojin saja? Sama orangtuamu kan." ucap Sohyun, Jihoon menggelengkan kepalanya.
"Tidak bisa, mereka belum tahu kalau Sungwon sudah pulang. Aku dan Woojin harus menyelesaikan masalahnya dulu sebelum membawa anak itu kembali kerumah."
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku kenapa?" tanya Jihoon bingung.
Sohyun tersenyum, ia menunduk dan mengulurkan tangannya meraih jemari Jihoon untuk digenggamnya.
"Setelah masalah itu selesai, apa kau juga akan kembali pda keluargamu? Bagaimanapun kalian harus berdamai. Jangan terlalu membenci ayahmu."
Jihoon diam. Apa yang diucapkan Sohyun membuatnya berfikir.
Setelah masalah adiknya selesai, Jihoon tidak tahu harus tinggal dimana. Selama ini dia hanya tinggal di club dan sesekali tinggal dirumah Sohyun.
Berdamai dengan ayahnya sama sekali tidak ada dalam pikiran Jihoon hingga saat ini. Kebencian yang teramat besar membuat kalimat damai itu terkubur bersama masa lalunya. Bahkan untuk memaafkan pria tua bangka itu sama sekali tidak terpikirkan olehnya.
"Ji, membencinya tidak akan merubah apapun. Masa lalumu tetap terjadi. Kau hanya berusaha untuk memaafkannya dan memperbaiki masa depanmu."
Kwak
Sohyun tersenyum melirik Dongbi. Sepertinya anjing kecil itu mengerti ucapannya dan memahami keadaan.
"Aku tidak tahu cutie. Selama ini aku belum memikirkan untuk memaafkannya." Jihoon menatap manik coklat itu.
"Tidak apa-apa. Pelan-pelan saja memikirkannya."
Sohyun tersenyum. Jihoon menganggukkan kepalanya, mencoba untuk menyanggupi meski dia sendiri tidak tahu apa dia bisa memaafkan ayahnya.
Tok,tok,tok