
"Kau akan pergi?" tanya Sohyun, ia terduduk kembali di atas bangsal. Manik coklat mengamati lekat wajah Jihoon.
Jihoon menghembuskan nafas pelan. Dia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan jam 8 malam.
"Tidak apa-apa, aku bisa meminta Jaehyun oppa, untuk menemaniku."
"Heol, pria kafe itu. No!"
Sebelah alis Sohyun terangkat naik, beberapa detik kemudian dia tersenyum evil.
"Wae? Dia hanya menemaniku, ya kalau dia mau bermalam juga tak apa."
"No, Park Sohyun."
"Kim Sohyun."
"Kau kekasihku."
"Siapa bilang? Memangnya aku setuju."
"Yaaaaa!!!"
Sohyun tertawa renyah.
Jihoon yang sedang marah malah terlihat sangat menggemaskan di matanya. Entah mengapa Sohyun mulia terbiasa dengan sifat berubah-ubah Jihoon.
Sohyun sedikit memahami bagaimana pria itu mengekspresikan dirinya dihadapannya. Seharusnya Sohyun merasa beruntung karena dia bisa melihat berbagai macam ekspresi Jihoon. Tidak seperti teman sekolahnya yang melihat ekspresi iblisnya saja.
"Pergilah, aku sudah tidak apa-apa. Lagipula aku hanya ingin tidur."
"Aku tidak akan pergi."
Sohyun menghembuskan nafasnya pelan. Dia terdiam beberapa saat sebelum ia kembali berucap.
"Kau bilang ingin aku membantumu. Maka dari itu pergi dan temui keluargamu." ucap Sohyun dengan kedua alis yang ditekuk tajam dan kedua tangannya di lipat diatas perutnya. Apakah Sohyun serius memasang ekspresi seperti itu saat nada bicaranya terdengar marah?
"Apa kau yakin tidak apa-apa ku tinggal?" Tanya Jihoon, Sohyun menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Mencoba menyakinkan pemuda surai merah itu jika ia tidak masalah di tinggal sendirian di rumah sakit.
"Hum."
Jihoon tersenyum, ia bangkit dari duduknya. Sejujurnya ia tidak ingin meninggalkan Sohyun dirumah sakit sendirian, dan jika bisa jujur dia tidak ingin menghadiri makan malam keluarganya. Namun, Jihoon sudah terlanjur bilang jika di butuh Sohyun untuk mengubahnya.
Ahh sial sekali, kenapa disaat dia baru saja mengatakannya dia harus melakukannya. Bisakah dia menarik kembali kata-katanya?
"Baiklah aku akan pergi, setelah makan malam aku akan kembali. Jangan menungguku oke, istirahatlah." ujar Jihoon. Dia mendekatkan wajahnya, mendaratkan bibir basahnya di kening Sohyun.
Sohyun tersenyum dan memejamkan matanya. Ciuman Jihoon terasa sangat lembut dan tulus, dia seolah dapat merasakan perasaan cinta Jihoon menyatu dengan perasaannya.
;
Yang namanya Park Jihoon itu tidak pernah menuruti permintaan seseorang meski dia yang meminta Sohyun untuk merubah dirinya.
Hei dia tidak semudah itu kembali kerumahnya dan makan malam bersama orang-orang di bencinya.
Di sinilah Jihoon, duduk sendirian di taman bermain dekat rumah sakit. Demi apapun Jihoon tidak akan menginjakkan kakinya kerumah itu, terlebih saat ini keluarga Nakyung ada dirumahnya, ikut makan malam.
Cih, Jihoon muak dengan permainan keluarganya.
Jihoon menegakkan kepalanya, memperhatikan taburan bintang di langit. Dia tersenyum saat teringat langit-langit kamar Sohyun yang penuh dengan bintang. Dia tidak tahu mengapa gadis itu begitu suka dengan bintang.
"Ekhm."
Jihoon meluruskan padangnnya kedepan.
Objek didepannya membuat Jihoon terkejut.
Didepannya kini berdiri seseorang yang beberapa menit lalu menghubunginya
Park Woojin
.
Hampir 10 menit mereka berdua habiskan untuk diam, membiarkan keheningan menguar di sekitarnya.
Woojin menoleh memperhatikan Jihoon yang sedang asik memandangi tanah, seolah tanah lebih menarik daripada dirinya.
"Kenapa tidak datang?" Tanya Woojin menghentikan keheningan di antara mereka.
"Kau sendiri kenapa datang kesini?" tanya Jihoon masih memperhatikan tanah. sepatunya menepuk-nepuk tanah. Terlihat menggemaskan untuk sosok menyeramkan seperti Jihoon.
"Tadi Sohyun menghubungi ku, dia bertanya apakah kamu sudah sampai." jawaban Woojin berhasil membuat Jihoon menatapnya, mulai penasaran dengan kelanjutan ucapan saudaranya itu. "Aku bilang kau sudah sampai, dan ikut makan malam bersama. Kenapa kau membohonginya?"
Jihoon menghembuskan nafas lega, benar-benar laga. Setidaknya saudaranya itu membantu dirinya.
"Aku hanya tidak ingin bertemu dengan ayah dan keluarga Nakyung." Kau sendiri kenapa kesini?"
"Aku bosan, dan ..." Woojin sengaja menjeda perkataannya, membuat Jihoon menunggu dengan gusar. "Dan jawaban yang sama seperti apa yang kau ucapkan tadi."
Jihoon berdecak sebal, kemudian i tersenyum tipis. "Kau datang sendiri?"
Woojin berdecak kesal mendengar pertanyaan saudaranya itu.
"Tidak, lihat kesana!" tunjuk Woojin, Jihoon mengikuti arah tunjuk saudaranya itu, maniknya perlahan menyipit mencari sosok yang di tunjuk oleh saudaranya.
"Oppa!!!"
Manik coklat itu membelak secara sempurna, anak laki-laki itu berlari kearahnya sembari tersesenyum manis yang dianggap senyum menakutkan oleh Jihoon.
Pemuda surai merah itu menoleh kearah Woojin, meminta penjelasan mengapa bocah itu ikut bersamanya. Woojin yang sadar malah terlihat acuh dan mengendikkan bahunya.
Bruk
Tubuh anak laki-laki berumur sekitaran 15 tahun itu menabrak tubuh Jihoon. Memeluk Jihoon dengan erat, seolah dia sedang menyalurkan kerinduan yang teramat banyak.
"Oppa, i miss you so much."
"Uhh Park Sungwon." Ucap Jihoon sembari melepaskan pelukan adik laki-lakinya itu. Bukannya melepas pelukannya, Sungwon malah semakin mempererat, tidak membiarkan pemuda surai merah itu melepaskannya.
"Biarkan aku memelukmu oppa."
Jihoon menghembuskan nafasnya kasar. See bocah di dekapannya itu gila.
Bukannya memanggil hyung tapi Sungwon memanggil kedua kakaknya dengn Oppa.
Bagaimana Jihoon dan Woojin tidak menyebutnya bocah gila.
"Park.Sung.won!!!" Ucap Jihoon penuh penekanan. Pemuda surai hitam itu tertawa terbahak-bahak saat melihat dua saudaranya masih berpelukan.
Woojin tidak akan membantu Jihoon untuk saat ini. Toh, beberapa jam yang lalu dia mengalami hal yang sama.
Dipeluk erat sampai dia kehilangan oksigen.
•••
Sohyun membaringkan tubuhnya diatas ranjangnya sendiri. Ia memejamkan matanya tiga detik sembari menghembuskan nafasnya pelan.
Hari ini adalah hari yang melelahkan baginya.
Setelah satu minggu berlalu sejak dirinya masuk kerumah sakit. Jihoon semakin menyebalkan.
Kemanapun dia pergi, maka ada Jihoon yang akan mengikutinya. Tidak hanya mengikuti, Jihoon juga memaksa Sohyun untuk ikut bersamanya, kemanapun.
Kecuali toilet.
Bahkan selama satu minggu ini pemuda surai merah itu terus menerus datang kerumah Sohyun. Jihoon akan makan malam bersama Sohyun atau yang lebih parah menginap.
Entah apa yang ada di dalam kepala kecil Jihoon sampai ia harus menginap dirumah Sohyun, sementara dirinya memiliki rumah sendiri.
Sohyun menghembuskan nafasnya untuk kesekian kali. Memikirkan tentang Jihoon membuatnya sakit kepala.
Namun, di antara banyaknya hal menyebalkan tentang Jihoon. Ada sesuatu yang berubah darinya. Yaitu sifat iblis nya.
Jika di sekolah Jihoon membawa hawa iblis di sekitarnya, dan membuat teman-temannya takut meski hanya untuk menatapnya, kali ini tidak lagi atau lebih tepat tidak separah dahulu.
Sohyun berusaha mungkin membuat ehem kekasihnya itu tersenyum. meski awalnya sulit karena Jihoon tidak ingin mengekpresikan dirinya di depan publik. Dia hanya ingin mengekpresikan dirinya di hadapan Sohyun.
Dug, dug
Sohyun berdesis tidak suka. Ia bangun dari acara berbaringnya, menegakkan kepalanya melihat langit-langit kamarnya.
Selama seminggu ini rumah Jihoon yang berada di lantai atas terus mengeluarkan suara yang aneh dan menggnggunya.
Dia beranjak dari ranjangnya, melangkahkan kaki pendeknya keluar dari kamarnya.
Saat Sohyun ingin naik kelantai atas. Manik coklatnya tanap sengaja melihat kebawah. Sohyun berseru melihat pemuda tampan dengan lesung pipit berdiri di bawah sana dengan seseorang dengan pakaian serba hitamnya.
Manik coklat itu menyincing di kala Jaehyun memberikan sebuah amplop ke sosok yang tidak diketahui identitasnya.
"Oppa?!" Panggil Sohyun.
Jaehyun menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum ia menegakkan kepalanya melihat Sohyun yang sedang tersenyum kepadanya.
Pria tampan itu membalas senyuman Sohyun, beberapa detik ia mengalihkan atensinya pada sosok di hadapannya. Memberikan gestur agar sosok itu segera pergi.
Setelah sosok itu pergi, Jaehyun menegakkan kepalanya dan tersenyum kearah Sohyun. Ahhh tampannya.
"Apa yang kau lakukan di sana Sohyun-nie?"
"Mau ke kamar Jihoon."
Sebelah alis Jaehyun terangkat naik bingung. "Apa dia berbuat ulah lagi?"
"Kurasa, setiap hari kamarnya terus mengeluarkan suara berisik."
"Tapi aku belum melihat Jihoon kembali?"
"Nah itu, aku juga tidak melihatnya."
"Lalu?"
"Aku hanya ingin mengeceknya, siapa tahu bertemu dengan hantu penghuni kamar Park Jihoon."
Jaehyun tertawa renyah dibawah sana. Kemudian dia menganggukkan kepalanya perlahan, tanda ia setuju.
"Baiklah, setelah itu datanglah ke kafe dan ceritakan pertemunmu dengan penghuni kamar Jihoon."
"Baiklah."
;
"Kau tidak pulang?" tanya Jaemin sembari meletakkan wine di atas meja. Jihoon menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Jaemin menarik kursi dan duduk tepat dihadapan pemuda surai merah itu.
Mereka berdua kini berada di sebuah klub yang hampir setiap hari mereka kunjungi dulu. Namun sekarang hanya seminggu sekali, semenjak Jihoon berkenalan dengan Sohyun.
Jaemin tidak merasa keberatan dengan perubahan sifat sahabatnya itu. Malah dia senang, melihat sisi Jihoon yang dia kenal beberapa tahun yang lalu sebelum tragedi itu terjadi.
Sebuah tragedi yang membuat saudara kembar itu bertengkar.
Jihoon menghembuskan nafasnya pelan. Ia menggeser gelas wine di hadapannya sedikit menjauh. Keinginan untuk mabuk-mabukan sepertinya menghilang bersama angin.
"Ada apa?" tanya Jaemin memperhatikan tindakan Jihoon pada gelas wine di hadapannya.
"Aku tidak mood untuk mabuk."
Jaemin mengangguk mengerti. "Lalu kau mau minum yang lain?"
"Entahlah, aku hanya ingin tidur."
"Kalau begitu pulanglah, kenapa kau harus datang kesini jika kau ingin tidur?" Ucap Jaemin. Jihoon memutar bola matanya dengan malas, sahabatnya itu sepertinya belum tahu apa yang terjadi dirumahnya.
Ahh apa Jihoon yang lupa memberitahukan sesuatu pada Jaemin?
Pemuda tampan dan cantik itu menunggu jawaban dari Jihoon, yang membuatnya penasaran setengah mati.
Selama beberapa hari ini Jihoon selalu malas pulang ke rumahya. Dia akan pulang jika jam makan malam atau hampir jam 12 malam.
Padahal jika di ingat-ingat, rumah Jihoon berdekatan dengan rumah Sohyun yang notabane adalah kekasihnya.
Saat di sekolah Jihoon selalu menempel pada Sohyun. Dan di saat pulang sekolah seolah menjauh.
Jaemin penasaran, jika hubungan Jihoon dan Sohyun hanyalah sebuah drama yang di renacakan oleh pemuda surai merah itu.
Toh kalau di pikir-pikir di sekolahnya terdapat salah satu siswa yang menjadi cinta pertama Park Jihoon.
Jihoon menegakkan kepalanya. Ia tersenyum smirk melihat wajah Jaemin yang terlihat bingung dengan presepsinya sendiri.
"Memikirkan apa?"
Air wajah Jaemin berubah seketika saat suara berat Jihoon mengintrupsinya.
"Sebenarnya bagaimana hubungamu dengan Sohyun? Apa kalian beneran berkencan?" Tanya Jaemin.
Jihoon mengangguk untuk kedua kalinya sebagai jawaban.
"Tapi, kenapa begitu aneh? Kau terus menempel seperti perangko saat kalian berada di sekolah. Kemudian terlepas saat jam sekolah berakhir. Apa kau sengaja mendekati Sohyun untuk memanasi Nakyung?"
Tuk
Jihoon menjentikkan jarinya tepat di dahi mulus yang tak di lindungi sehelai rambut Jaemin.
"Bicaramu asal sekali."
Jaemin mengusap-usap dahinya yang terasa terbakar setelah mendapatkan jentikan sayang dari sahabat berengseknya.
"Untuk apa aku membuat Nakyung cemburu. Aku hanya malas pulang karena Sungwon tinggal dirumahku."
"Park Sungwon? Adikmu itu pulang?" tanya Jaemin dengan kedua bola matanya yang melebar tidak percaya.
Heol, anak laki-laki yang memanggil kakak-kakaknya dengan sebutan oppa itu sudah pulang Ke korea? Gila.
Jihoon menganggukkan kepalanya. menopang dagunya dengan satu sikut yang menahan diatas meja menatap Jaemin dengan senyum putus asa.
"Kenapa dia pulang? bukankah dia sudah bahagia tinggal di kanada?"
Jihoon mengendikkan kedua bahunya tidak tahu. "Entahlah, aku belum menanyakan hal itu padanya."
Hening
Jaemin terdiam setelah mendengar jawaban dari mulut Jihoon. Dia sudah tidak tahu lagi harus menanyakan hal apa lagi. Keberadaan Sungwon sungguh akan mengganggu ketenangan Jihoon.
Park Sungwon yang ceria tidak akan cocok dengan Park Jihoon yang raja diantara iblis.
Drrrt drrrtt
Suara getaran benda pipih di atas meja itu menghentikan keheningan diantara keduanya. Jihoon memperhatikan ponselnya yang terus bergetar.
Ia menghembuskan nafasnya berat. Satu tangannya yang bebas menggeser ponselnya sedikit menjauh darinya.
Tidak ada sekali niatannya untuk menjawab panggilan dari ..
Adiknya
Park Sungwon.
Jaemin memperhatikan benda pipih itu terus bergetar dan berkedip, meminta untuk segera di terima panggilannya.
Mengangkat pandangannya, melihat Jihoon yang memang tidak ingin mengangkat panggilan dari Sungwon.
"Jawab saja, siapa tahu penting."
Jihoon hanya menoleh dan berdesis kesal. "Biarkan saja. Nanti juga berhenti sendiri."
Namun nyatanya panggilan Sungwon tidak berhenti selama tiga menit berlangsung. Entah sudah berapa kali Sungwon mencoba untuk menghubungi kakaknya itu, dan tidak jera meski di abaikan oleh Jihoon.
Jaemin merasa jengah mendengar suara getaran ponsel Jihoon. Ia pun tanpa memint persetujuan menggeser ikon hijau dan meng loudspeaker, panggilan dari adiknya.
Jihoon melotot menatap Jaemin, namun sahabatnya itu terlihat acuh dan memilih memperhatikan layar ponsel Jihoon yang sedang menyambungkan panggilan.
"*Oppa tolong aku!!"
"Yaaaakkk kau mau lari kemana?"
"Imo aku bukan pencuri*!"
Bib