
happy reading
.
.
.
....
Sohyun meletakkan nasi diatas meja, memberikannya pada Jihoon yang telah duduk dengan tenang di kursinya.
Pemuda itu tampak tenang meski beberapa menit yang lalu penuh dengan aura hitam.
Sohyun menegak salivanya dengan susah payah. Dia heran dengan perubahan sikap Jihoon yang dapat dihitung dengan hitungan detik saja.
Menggelengkan kepalanya pelan. Itu bukan urusannya mengapa Jihoon tampak tenang. Bukankah itu lebih baik daripada beberapa menit yang lalu.
"Makanlah, aku akan keluar sebentar."
Jihoon hanya menunduk, satu tangannya menyentuh sendok di samping mangkuk nasinya. Dia diam beberapa saat, sebelum akhirnya membuka mulut untuk bersuara.
"Temani aku makan."
Sohyun mengangkat sebalah alisnya bingung.
"Selama ini aku makan seorang diri. Setidaknya malam ini aku tidak sendirian."
Jihoon menegakkan kepalanya, melihat iris coklat dalam Sohyun. Pemuda surai merah itu menagap Sohyun penuh harap, saat ini Jihoon ingin ditemani meski tanpa percakapan apapun.
"Baiklah."
Sohyun menarik kursi tepat dihadapkan Jihoon. Memangku dagunya dengan satu tangannya. Jihoon tersenyum manis.
Deg, deg
Iris indah itu membulat sempurna. Jihoon tersenyum dan itu membuat jantung Sohyun berdebar tidak karuan.
Sekali lagi Sohyun bukanlah orang bodoh. Dia tahu maksud dari bedaran jantungnya. Sohyun menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menepis semua perasaan aneh itu.
"Besok kau berangkat naik apa?"
"Bis."
Jihoon menegakkan kepalanya. Satu alis tebalnya terangkat naik. Manik coklatnya menatap lekat wajah Sohyun, menuntut gadis itu memperjelas ucapannya.
"Aku harus menggunakan bis jika kesekolah."
"Kenapa tidak naik taksi. Lagipula jarak rumah ini dan halte sedikit jauh."
Sohyun menggelengkan kepalanya. Di tersenyum tipis.
"Naik taksi akan menguras keuanganku. Disini aku harus berhemat. Menghabiskan beberapa menit ke halte kurasa tidak membuatku terlambat."
Jihoon diam. Dia tersenyum dan menyuapi nasi kedalam mulutnya. Sembari mengunyah Jihoon berkata,
"Mulai besok kau berangkat dan pulang sekolah bersamaku. Aku tidak menerima penolakan."
Sohyun diam, dia terlihat bingung mendengar permintaan Jihoon.
"Eh? Kenapa aku harus pergi bersamamu?"
"Kau kan kekasihku."
Sohyun memutar matanya malas. Kalimat itu membuatnya sangat jengah, tidak bisakah Jihoon berhenti menyebut dirinya sebagai kekasihnya. Heol Sohyun bahkan sudah memiliki kekasih.
Apa perlu Sohyun memberitahu Jihoon untuk kesekian kali jika dia memiliki kekasih?
Menghela nafas pelannya, Sohyun memperhatikan Jihoon yang kembali menikmati makan malamnya. Pemuda surai merah itu terlihat lahap menyantap hidangan sederhana yang dibuatnya.
Sohyun tersenyum. Jihoon menegakkan kepalanya, kedua alisnya saling bertaut, membuat kerutan halus disekitar dahinya.
"Apa aku begitu tampan sampai kau menatap ku seperti itu?"
"H-hah?" Sohyun gelagapan. manik coklatnya bergerak ke sembarang arah, menghindari manik coklat mematikan milik Jihoon.
Pemuda itu tersenyum, ia menunduk dan melanjutkan makannya.
"Kau lucu." gumannya pelan sambil mengunyah.
Sohyun melirik, semburat merah menghiasi pipi chubbynya. dia tersenyum malu-malu mendengar pujian Jihoon.
•••
"Woojin-ah" panggil Sohyun saat ia melihat punggung seseorang yang di yakini milik teman kelasnya itu.
Woojin menoleh kebelakang, matanya menyipit perlahan. Beberapa detik kemudian dia tersenyum lebar.
Kaki panjangnya dilangkahkan mendekati Sohyun yang masih di parkiran bersama Jihoon.
"Selamat pagi Sohyun." sapa Woojin, manik hitamnya melirik Jihoon yang sedang memandangnya tidak suka. Woojin tersenyum smirk kearah Jihoon.
"Kau baru datang? Naik apa?"
"Mobil, kau datang bersama Jihoon."
Sohyun menganggukkan kepalanya. "Dia tentangga di tempat tinggal ku."
Woojin kembali melirik Jihoon. Dan sialnya Jihoon memberikan senyum kemenangan.
"Mau masuk ke kelas bersama Sohyun-ah."
"Tidak perlu." ujar Jihoon dingin.
Baru saja Sohyun ingin berucap, pemuda berambut merah itu sudah mendahuluinya. Sohyun menatap tidak suka pada Jihoon, sementara pemuda itu mencoba mengabaikan tatapan Sohyun. Dan kembali bersuara.
"Dia bisa pergi bersamaku, lagi pula dia kekasihku untuk apa dia pergi bersamamu?"
Sohyun memutar bola matanya malas. dia benar-benar sudah muak mendengar kata-kata itu.
Ingin rasanya Sohyun cepat-cepat bertemu dengan Doyoung agar pemuda berambut merah itu berhenti menyebut dirinya sebagai kekasihnya.
"Ayo."
Mata Sohyun melebar, ia menundukkan kepalanya melihat jemarinya di genggam erat oleh Jihoon.
Tak ingin berlama-lama Sohyun bertemu dengan Woojin, Jihoon membawanya pergi dari tempat itu.
Woojin memutar kepalanya melihat kepergian dua orang tersebut. Dia meringis tidak suka ketika tangan Jihoon dengan lancang menarik kepala Sohyun untuk di sandarankan di pundaknya.
Sohyun agak kesusahan berjalan dengan posisi yang dibuat oleh Jihoon, namun ia enggan memberontak terlalu lelah untuknya memarahi pemuda rambut merah itu.
"Jam makan siang naiklah keatap."
"Aku tidak mau."
"Kenapa?"
"Aku tidak ingin menghirup asap rokok mu, kau ingin membunuhku?"
"Apa kau harus alergi dengan asap?"
Sohyun menatap tidak suka pada pemuda di sampingnya, sementara Jihoon mencoba mengabaikan tatapan kekasihnya itu.
"Lalu bagaimana denganmu, apa harus kau merokok di usia mu yang muda seperti ini?"
"Jadi aku harus merokok di usiaku sudah tua?" tanya Jihoon, Sohyun menjauhkan kepalanya dari bahu Jihoon. Sekali lagi Sohyun memberikan tatapan tidak suka pada pemuda surai merah itu.
"Kau bisa merokok, tapi berkencanlah dengan wanita lain." Ujar Sohyun sambil melipat kedua tangannya diatas perutnya. Dagunya di angkat naik membuat dirinya terkesan sombong.
Pemuda surai merah itu mengusak helaian surai Sohyun dengan gemas.
"Datanglah keatap. Kita bicarakan hal itu disana." Titah Jihoon. Dia tersenyum manis sebelum ia melengseng pergi meninggalkan Sohyun dan menghilang di pereblokan masuk ke kelasnya.
Sohyun melongo. Ada apa dengan pemuda merah itu, aneh sekali.
Gadis mungil itu menggelengkan kepalanya menyerah. Mencari tahu sikap Jihoon yang berubah-ubah membuat kepalanya menjadi pusing. Sohyun berbalik dan masuk kedalam kelasnya.
Kedua sudut bibir Sohyun terangkat dikala iris coklatnya melihat Joy duduk di sebelah bangkunya.
"Joy-a."
Pemilik nama menoleh, dia tersenyum sembari melepaskan eraphone yang terpasang ditelingnaya.
"Kau sudah datang?"
Sohyun mengangguk, jemari panjangnya menarik kursinya dan segera menempelkan bokongnya pada kursi kayunya.
"Hmm."
"Lebih cepat 20 menit, kau datang dengan siapa?" Tanya Joy sembari melihat jarum pada jam kelasnya.
"Ahh itu..." Sohyun bingung. Tidak mungkin dia mengatakan pada Joy jika ia berangkat bersama Jihoon kan, sementara Joy menentang keras Sohyun bergaul dengan iblis itu.
"Sohyun." panggil Joy, mencoba menyadarkan Sohyun dari lamunannya.
Sohyun masih diam dengan iris coklat yang sedang bergerak dengan gelisah.
"Joy-a Sohyun-ie."
Sohyun dan Joy menoleh kearah sumber suara. Woojin tersenyum lebar melihat kedua teman kelasnya langsung merespon panggilannya.
Pemuda gigi ginsul itu mendekat, tak lupa meletakkan tasnya diatas meja belajar nya.
"Kenapa diam-diam saja?" tanya Woojin sambil menarik kursinya dan duduk.
"Aku hanya bertanya pada Sohyun dia berangkat sekolah naik apa." Jawab Joy, gadis cantik itu memberikan tatapan curiga pada temannya itu.
Ia menaruh kecurigaannya pada Sohyun, selama beberapa hari sekolah disini Sohyun datang paling lambat jam 7.20. see, hari ini temannya itu bisa datang jam 7 tepat.
Bis tidak akan mengubah jadwalnya lebih cepat kan?
Woojin memperhatikan kedua manusia cantik dihadapannya. sudut bibirnya terangkat naik. Sembari menunduk Woojin tersenyum.
Yang dilihatnya itu sangat lucu. Joy yang curiga seperti sedang menginterogasi kekasihnya yang ketahuan berselingkuh, sementara Sohyun terlihat seperti kekasih Joy yang berselingkuh itu.
Woojin tahu jika Joy sangat tidak menyukai Jihoon. Mendengar sahabatnya berangkat bersama dengan Jihoon, aakn membuat Joy naik pitan.
"Dia berangkat bersamaku, kebetulan aku melihatnya di halte jadi aku menawarkan tumpangan untuknya."
Joy menoleh, mendelik kearah Woojin. Dengan sorotan yang sama, Joy berusaha mencari satu kebohongan dari manik gelap itu.
Sementara Sohyun menatap tidak percaya dengan Woojin. Kenapa pemuda itu harus berbohong dan melibatkan dirinya dalam urusan ini.
"Lalu bagaimana dengan Nakyung? Bukankah dia selalu menempel denganmu?"
"Dia memiliki supir pribadi. Yaaaa! Joy, kenapa kau selalu menyangkut pautkan Nakyung padaku?"
"Dia kan tunanganmu!"
"Siapa yang bilang?"
Air wajah Woojin berubah marah. Tonjolan urat di dahinya terlihat dengan jelas, matanya memerah dan melotot.
Joy yang sejak tadi terlihat santai, kini terlihat ketakutan melihat Woojin yang nampak marah kepadanya. Bahkan dengan perlahan jemari Joy menggenggam jari Sohyun, meminta pertolongan jika Woojin melakukan hal berbahaya padanya.
"Yaaa! Kenapa aku semarah ini uhh, menakutkan sekali." Ucap Joy pelan.
Woojin memejamkan mata tiga detik, setelah itu mengalihkannya pada diluar jendela. Dia menghirup nafanya dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan.
"Mulai sekarang berhenti menyebut Nakyung tunangan ku. Dia hanya teman kecilku."
"O,oke." ucap Joy gelagapan. Sohyun memperhatikan Woojin dan Joy secara bergantian.
Sohyun tidak mengerti mengapa pemuda surai hitam gelap itu bisa semarah Ini. Hal ini pertama kali bagi Sohyun melihat Woojin marah.
Beberapa terakhir dia melihat Woojin selalu ceria. Jikapun dia marah, Woojin selalu menahannya.
Sohyun mengalihkan atensinya kearah pintu kelasnya. Pupil coklatnya melebar saat ia mendapati gadis cantik berdiri di sana, memperhatikan mereka bertiga.
Nakyung diam, sorot matanya menajam ketika matanya dan mata Sohyun bertemu. Terlihat dengan jelas jika sorot mata Nakyung menatap Sohyun seolah ingin menerkam habis-habis gadis itu.
;
:
"Kau sudah mendengarnya?"
"Apa?"
"Park Jihoon dan murid baru itu berkencan."
"Tentu saja, semua murid membicarakannya beberapa hari ini."
Si pemuda surai hitam legam itu melangkahkan kakinya mendekat pada pembatas rooftop. Mengeluarkan sebatang rokok dan pelatuknya.
"Aku yakin Jihoon sudah menyentuh tubuh murid baru itu."
Si pemuda surai hitam satunya yang menggukan turtleneck ditubuhnya terkikik mendengarnya. dia mengeluarkan tembakaunya dan ikut merokok bersama temannya.
"Yaaa, kau ada photo murid baru itu?"
"Tidak, tapi besok aku akan mencoba mengambil photonya saat dia mengganti bajunya. Kelas Woojin kan besok olahraga."
"Ck dasar kau." ucap pemuda surai hitam sambil menghirup dalam-dalam tembakau miliknya. "Aku akan membayar lebih jika kau berhasil mendapatkan photo bugil kekasih Park Jihoon."
"Serius?"
Pemuda surai hitam itu mengangguk cepat. Ia tersenyum evil di sela-sela dirinya menghirup tembakaunya.
Prannggggg
Kedua tubuh pemuda itu langsung berbalik saat suara nyaring itu menggema di atap sekolah.
Seputung rokok itu jatuh di lantai begitu saja. Si pemilik putung itu mengepalkan tangannya kuat-kuat saat manik hitamnya menangkap presepsi pemuda dengan surai merahnya yang mencolok duduk di sandaran sofa yang terlihat tua.
Jihoon tersenyum evil memperhatikan kedua pemuda yang sejak tadi asik membicarakan dirinya dan Sohyun. Ciihh gaya bicara mereka menjijikkan sekali di telinganya.
"Yaaaa Choi Soo Bin, kau serius akan mengambil gambar Sohyun besok?"
"Eh?" si pemuda yang menggunakan turtleneck kebingungan menjawab pertanyaan Jihoon. Soo Bin sedikit memundukarkan langkhnya dan bersedikit bersembunyi di pundak satu temannya itu.
Jihoon tertawa. Ia beranjak dari duduknya, satu tangannya di masukkan kedalam saku celananya.
"Kau berani bayar berapa Shin Yechan?"
"Apa yang kau bicarakan?"
"Tentu saja bayaran yang akan kau berikan pada Soo Bin setelah berhasil mendapatkan photo bugil kekasihku."
Yechan diam beberapa detik sebelum akhirnya ia tersenyum sinis.
"Park Jihoon, jujurlah padaku kau membeli tubuh Sohyun kan? Seperti yang kau lakukan pada wanita-wanita murahan di club."
"Yaaa Yechan berhentilah." bisik Soo Bin. Jujur saja ia sudah takut terlebih dulu. Saat tahu Jihoon mendengar perkataannya membuatnya ketakutan.
Soo Bin tahu betul siapa yang ada dihadapannya ini. Satu orang yang menakutkan di sekolahnya.
Yechan menoleh melihat ketakutan salah satu temannya itu. Soo Bin terlihat sangat berbeda, beberapa detik yang lalu ia membicarakan Jihoon seperti dia tidak takut dengan sosok pemuda itu. Dan setelah bertemu dengannya dia seperti rusa yang sedang bertemu dengan singa.
Yechan tidak tahu mengapa semuanya takut pada Jihoon. Pemuda surai merah itu terlihat sama seperti murid yang lainnya, hanya saja Jihoon memiliki masa lalu yang buruk membuat semua teman sekolahnya takut dengan Jihoon.
Heii apa yang mengerikan jika pemuda itu menabrak seseorang? Menurut Yechan, Jihoon tidak lebih dari berandalan brengsek.
"Yaaa Shin Yechan, berhentilah mengoceh sebelum aku melakukan sesuatu yang membuat hidupmu berubah." ucap Jihoon dengan nada seraknya.
Yechan menghembuskan nafas dan tidak menghiraukan perkataan pemuda surai merah itu. Ia tersenyum sinis lagi sambil melihat lapangan bola di bawah sana.
"Memangnya kau siapa yang bisa membuat hidupku berubah?"
Jihoon mendekat, memangkas jarak dirinya dengan Yechan. Jihoon menunduk sebentar melihat putung rokok yang masih menyala.
"Apa aku harus memperkenalkan diriku secara formal Shin Yechan?" tanya Jihoon sembari menginjak putung rokok milik Yechan hingga tak berbentuk.
Manik hitam Yechan bergerak melirik wajah Jihoon yang begitu dekat dengan dirinya. Sebelah alisnya terangkat naik melihat senyum smirk menghiasi bibir merah Jihoon.
Jihoon memajukan wajahnya, dan berhenti tepat di telinga kiri Yechan.
"Berhenti bermain-main denganku atau aku memberitahu kan kepada murid-murid jika tubuh ibumu sangat nikmat."
Yechan mengeraskan rahangnya. Kedua telapak tangannya mengepal dengan keras hingga buku-buku jarinya memutih.
Jihoon tersenyum menang, dia telah berhasil membuat pemuda dengan struktur wajah tampan itu naik pitan.
"Jangan pernah menyentuh Sohyun-ku atau aku akan menyebar video ibumu yang sedang bersetubuh dengan temanku." Ucapnya sekali lagi, di melangkah mundur sejauh. Jihoon tersenyum sebelum ia membalikkan badannya dan berlalu pergi.
"Brengsek!!"
Yechan berlari menggapai Jihoon. Tangan kekar Yechan menarik bahu lebar Jihoon dan membalikkannya dengan paksa.
Bugh
;
Jaehyun oppa
[Pulang sekolah singgahlah dulu di kafe. Ada yang ingin kuberitahu padamu.]
Apa oppa akan mentraktirku pudding?
Jaehyun oppa
[Jika kau datang aku akan mentraktirmu.]
Call 😉
Sohyun menghembuskan nafasnya setelah membalas pesan dari Jaehyun. Ini sudah beberapa hari dia tidak bertemu dengan Jaehyun yang wajahnya bak pangeran di buku dongeng.
Ia terkikik kecil saat membayangkan jika saja Jaehyun adalah Jihoon. Mungkin saja ia bisa menerimanya sebagai kekasihnya sebelum dirinya bertemu dengan Doyoung.
*Tap
Tap
Tap
Tap*
"Akh!!"
Sohyun terjatuh di lantai saat seseorang dengan tidak sopannya menabrak tubuhnya. Ia meringis sakit melihat lututnya tergores anak tangga.
"Maaf, apa kau tidak apa-apa?"
Sohyun menggelengkan kepalanya pelan. Dia menegakkan kepalanya melihat sosok pemuda surai hitam dengan turlek hitam di lehernya.
"Aku minta maaf telah menabrakmu. Tapi biarkan aku pergi?" Ucap Soo Bin terburu-buru.
Sohyun mengerutkan kening. "Ada apa memangnya?"
"Jihoon dan Yechan──
Jantung Sohyun berdebar tidak karun dikala ia mendengar nama Jihoon di sebut oleh pemuda asing dihadapannya.
Entah mengapa perasaannya menjadi tidak enak mendengarnya. Sesuatu tiba-tiba menggebu didalam hatinya, membuatnya sesak dan ingin segera tahu apa yang terjadi.
──Mereka berkelahi."
Ohh shit berita buruk.
;
Setelah mendengar kabar buruk itu Sohyun segera berlari naik keatas rooftop. Mencegah sesuatu yang buruk akan terjadi pada kekasihnya itu.
Kekasih? Sejak kapan Sohyun. mengakui Jihoon sebagai pacarnya? Oh shitt tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu.
*Brakk
Bugh
Bugh*
Sohyun menutup mulutnya rapat-rapat saat manik coklatnya melihat kearah Jihoon yang sedang berbaring diatas lantai dengan sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar.
Pemuda surai merah itu tersenyum sinis. Yechan menarik kerah baju seragam Jihoon, matanya memerah dan melotot tajam.
Keadaan Yechan sama tidak baiknya dengan Jihoon. Rambut acak-acakan, dasinya yang terpasang rapih itu terhat berantakan. Jangan lupakan sudut sebelah alisnya robek.
"Berani kau menyentuh ibuku maka aku akan membunuhmu."
"Ck, aku hanya mengikuti hukum Hammurabi. Mata dibalas mata, darah di balas darah"
"Brengsek"
Bugh
"Ahya aku belum menyentuh tubuh kekasihmu itu, apa aku harus menyentuhnya juga?" ujar Yechan melirik gadis yg berdiri di ambang pintu. Yechan yakin jika dialah kekasih Jihoon. "Aku ingin memasukinya seperti kau memasuki kehangatan ibuku."
Bugh
Jihoon melayangkan pukulannya tepat di wajah tampan Yechan. Memukulnya sangat keras sehingga tubuh besar Yechan terbaring di lantai. Kali ini gantian Jihoon duduk diatas perut Yechan dengan satu tangan mencekik leher Yechan.
"Apa kau ingin seorang adik huh? Aku bisa membuatnya tumbuh di rahim ibumu, setelah itu aku akan menjadi ayahmu. Kau menginginkannya huh?"
"Uh-uhk ba,bajingan."
"Dari awal aku sudah memperingatimu. Kau tahu seseorang yang terlalu keras kepala akan berakhir mengenaskan."
Yechan tersenyum sinis.
"La,lakukanlah dengan begitu aku bisa memiliki kekasihmu. wah sangat menarik sekali, kekasihku adalah mantan kekasih ayah tiriku"
Jihoon mengeraskan rahangnya, terdengar bunyi gertakan. Satu tangannya yang tadi mencekik leher Yechan perlahan turun menarik dasi yang masih menggantung di leher Yechan. Dan satu tangannya yang bebas terangkat naik, jemarinya sudah mengepal kuat, siap untuk menghancurkan wajah Yechan.
"Uhuk-uhuk!"
Brak
Jihoon menolehkan kepalanya kesamping. Iris coklatnya membulat melihat Sohyun berbaring di atas lantai dengan tangan *** kuat kerah bajunya sendiri.
Pemuda surai merah itu segera bangkit dari tempatnya, berlari dengan cepat menghampiri Sohyun.
Saat berada di dekat kekasihnya. Jihoon segera memangku kepala Sohyun, dan menepuk-nepuk pipi chubby milik Sohyun.
"Cutie, hey wake up!"
"Cutie!"
"...Sohyunie."
Gadis itu masih memejamkan matanya dengan rapat. Bibirnya membiru dan wajahnya memucat.
Seperti dejavu, penampilan Sohyun saat ini seperti beberapa waktu yang lalu, ketika Sohyun menghirup asap rokok.
Jihoon mengalihkan sekitarnya, seingatnya ia sudah mematikan rokok yang dihisap oleh Yechan.
Kilasan beberapa menit yang lalu terlintas di kepala Jihoon. Soobin ikut merokok saat itu, bahkan sampai dirinya menginjak putung rokok milik Yechan, rokok milik Soobin masih menyala. setelah itu pemuda turtleneck itu berlari pergi ketika dia dan Yechan saling memukul.
Saat itulah, Soobin melempar putung rokoknya yang menyala.
Sebuah putung rokok didekat pintu rooftop. Bahkan jaraknya begitu dekt dengan Sohyun.
Sialan.
Jihoon mengerang marah. Segera ia menyelipkan tangannya di bawah lutut dan leher Sohyun, mengangkat tubuh mungil itu menjauh dari rooftop.
Sohyun harus selamat. Bagaimana pun caranya. Pikir Jihoon
Jihoon menuruni tangga dengan cepat. Gendongannya di pererat agar Sohyun tidak jatuh.
"Jihoon!"
Kaki Jihoon tepat menyentuh lantai dasar. Ia menoleh kearah sampingnya dan mendapati Woojin dna beberapa siswa mendekatinya.
"Kenapa dia?" Tanya Woojin panik. Wajah Sohyun terlalu pucat dan bibirnya membiru. Gadis itu terlihat seperti mayat saja.
"Siapkan mobilmu, kita harus kerumah sakit"
"Tapi kenapa dia."
Jihoon geram, saudaranya iru terlalu penasaran. Tidak tahukah jika Sohyun di ambang kematian.
"Cepat Park Woojin, kau tidak ingin hal itu terjadi lagikan!!!"
Woojin diam. Jantung seolah berhenti berdetak.
Kejadian dulu, mengapa Jihoon mengungkitnya lagi.
To Be Continue