
Happy reading
.
.
.
“Jangan bercanda.” Sohyun tersenyum di sela air matanya yang mengalir.
Mata bulatnya memandang Jaehyun berharap pria itu menyangkal ucapan sahabatnya. Tetapi, pria itu mengalihkan wajahnya, menghindari tatapan Sohyun yang terlihat begitu menyakitkan.
“Doyoung masih hidupkan,” ucapnya. Sohyun memperhatikan Jinyoung berharap pada pria tampan itu mengiyakan perkataannya.
Sungguh, ini tidak masuk akal. Bagaimana bisa Jinyoung mengatakan Doyoung telah meninggal sementara ia sama sekali tidak mendapatkan kabar apapun tentang itu.
Tidak ada yng mengabarinya jika Doyoung meninggal.
“Dua tahun yang lalu dia kecelakaan. Kami ingin menghubungi pihak keluarganya tetapi ponselnya hilang.”
Bibir Sohyun melengkung kebawah, air matanya mengalir semakin deras di pipi chubbynya.
Sohyun menggelengkan kepalanya. Masih tidak bisa menerima kenyataan.
Kim Doyoung, kekasihnya. Tidak mungkin meninggal. Sohyun beranjak dari duduknya, tetapi belum beberapa detik dia berdiri kakinya langsung melemas.
Sebelum Sohyun jatuh, Jaehyun dengan sigap meraih lengan Sohyun. Menjaganya agar tidak jatuh kelantai.
“Kau tidak apa-apa?”
Sohyun menatap Jaehyun dengan mata yang merah dan berair. “Tidak kan? Doyoung tidak meninggal?”
“Maafkan aku.”
Bibir Sohyun mengatup rapat, menahan isakannya yang mungkin saja lolos dari mulutnya.
Air matanya mengalir semakin deras. Jawaban Jaehyun telah menjawab semua pertanyaan yang ada di kepala kecilnya.
Dadanya sakit, seperti dicengkram dengan robot, tak diizinkan untuk memberontak meski sedikitpun.
...
Jaehyun membaringkan Sohyun di ranjangnya. Tak lupa ia menarik selimut cukup lembut, menutupi tubuh gadis itu dan menyisahkan kepalanya.
Dia menghembuskan nafasnya, melihat kelopak sakura itu yang membengkak seperti baru saja semut mengigiit, pipi dan hidungnya memerah.
Sakit yang dirasakannya tidak cukup sakit seperti yang dirasakan oleh Sohyun. Gadis itu luar biasa terluka mendapatkan pacarnya telah meninggal dua tahun yang lalu.
Tak ada seorangpun menghubunginya karena alat komunikasi Doyoung hilang saat itu.
Entah kemana ponsel Doyoung menghilang. Benda kecil itu seolah tidak pernah ada sebelumnya.
“Apa yang harus kulakukan agar kalian tidak terluka.”
“Jaehyun-ssi?!”
Jaehyun menoleh, Jihoon berjalan mendekatinya. Maniknya memandang bingung pria yang ketahuan mengamati Sohyun dengan tatapan sedih.
“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Jihoon ia melirik Sohyun memperhatikan kedua mata wanita itu membengkak. “Sohyun kenapa?”
“Bisa kita bicara diluar?”
Jihoon diam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. Mengiyakan ajakan Jaehyun.
;
“Apa yang terjadi?” Jihoon bertanya pada pria disebelahnya setelah pria itu mengajaknya pergi ke taman
Angin malam begitu dingin dirasakan oleh kedua pria tampan ini.
Jaehyun menegak sekaleng sodanya dengan kasar. Setelah minumannya habis Jaehyun meremuk kaleng minumannya.
“Bagaimana hubunganmu dengan ayahmu?”
Jihoon menoleh, menatap bingung pada pria disebelahnya.
Mengapa Jaehyun menjawab pertanyaannya dengan sebuah pertanyaan?
“Kenapa tiba-tiba membahas ayahku? Apa dia mengatakan sesuatu?” tanya balik Jihoon. Jaehyun tersenyum tipis.
“Ya, aku pikir kau sudah tau itu.”
“Ck, menyebalkan.” Ujar Jihoon sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi panjang yang mereka dudukki.
“Lia, apa dia wanita baik-baik?”
“Tidak, dia wanita yang menyebalkan. Dia ingin melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya.”
“Bagaimana kau bisa tahu?”
Jihoon tersenyum tipis, tanpa menoleh memandang Jaehyun ia kmebaki berkata. “Wanita sepertinya sangat mudah di tebak.”
“Kalian akan bertunangan. Apa kau akan siap bersamanya?”
“Memangnya siapa yang mau bertunangan dengannya?” tanya Jihoon, pemuda bersurai hitam itu menengok kearah Jaehyun. “Aku tidak pernah bilang ingin bertunangan dengan dengannya.”
Matanya memandang lekat wajah Jaehyun. Mencari arti dari tatapan yang Jaehyun berikan padanya.
Seperti sesuatu yang ingin pria itu sampaikan padanya sejak tadi.
“Ada apa? Katakan padaku apa yang terjadi.”
Jaehyun tersenyum tipis.
Mengalihkan pandangannya ke segala arah guna menghindari tatapan Jihoon.
Jaehyun menghirup nafas dalam-dalam sebelum akhirnya membuka mulutnya untuk berbicara. “Kim Doyoung, dia sahabatku.”
“Kimㅡ Doyoung?”
“Pria yang meninggal dua tahun yang lalu.” Jaehyun menoleh menatap tajam kearah Jihoon. Pemuda bersurai hitam legam itu terlihat begitu terkejut mendengar pernyataannya.
Entah apakah pemuda itu akan sanggup mendengar hal-hal mengejutkan lagi setelah ini.
“Jelaskan, aku tidak mengerti!”
“Terlalu panjang untuk dijelaskan. Aku baru tahu kalau kau berada dalam kejadian saat itu.”
Sebelah alis Jihoon mencingcing naik. Sorot matanya menajam seperti pisau yang baru saja diasah. Menyentuhnya sedikit akan membuat tanganmu terluka.
“Apa yang membuatmu mencari tahu tentang diriku. Kau bukan orang yang suka mencampuri urusan lain kan?”
“Aku memang orang seperti itu,” Jaehyun tersenyum miris, ia merunduk mengamati kedua tangan Jihoon yang mengepal begitu kuat hingga buku-buki jarinya memutih. “Tetapi, seseorang memintaku mencari tahu tentang Doyoung. Dan tanpa sengaja aku menemukan fakta tentang kematiannya.”
“Siapa? Siapa yang menyuruhmu mencari tahu tentang Kim Doyoung?”
Jaehyun diam. Menoleh memandang lekat wajah Jihoon.
Hatinya mencelos sakit melihat betapa sakitnya tatapan Jihoon saat ini.
Ia telah membuka luka baru untuk Jihoon, dan juga Sohyun.
Seharusnya ia tetap menjaga rahasia ini. Membiarkan Jihoon dan Sohyun tetap bersama tanpa mengetahui hal buruk yang terjadi dimasa lalu.
Tetapi, semua sudah berakhir.
“Kekasihnya, Kim Sohyun.”
Bagai tersambar petir di siang bolong. Jihoon menganga tidak percaya, segera dia bangkit dari duduknya, semakin mengepalkan kedua tangannya.
Tiba-tiba jantungnya berdebar sakit. Udara mulai sulit untuk di hirup.
Mata galaksi itu berair dan memerah. Dia ingin menangis, tetapi mengapa begitu sulit?
“Apa dia Kim Sohyun yang ku kenal?” tanya Jihoon. Ia berharap pria yang masih duduk di kursi mneyangkal pertanyaannya, mengatakan jika bukan Sohyun yang ia kenal selama ini.
Jaehyun menatap Jihoon. Tatapannya seolah berbicara, mengatakan jika Sohyun yang saat ini mereka maksud adalah Sohyun yang berada di dekatnya.
“Ya.”
Runtuhlah Jihoon saat ini. Air matanya mengalir di pipinya.
Rasa sakit yang beberapa saat dirasakannya kembali mencabik-cabik hatinya.
Meremuknya hingga tak bisa di sembuhkan lagi.
•••
Sohyun terbangun dari tidurnya saat jam telah menunjukkan pukul 10 pagi.
Ditengah malam tadi Sohyun kembali menangis saat ia membuka kembali isi pesan dari Doyoung dua tahun yang lalu.
Tak pernah terfikirkan olehnya jika Doyoung telah meninggal saat itu. Pikirnya selama ini Doyung sibuk dengan studinya atau berkencan dengan wanita lain.
Mengapa ia terlalu bodoh dan tak bisa memperkirakan hal buruk terjadi pada Doyoung?
Kekasih macam apa kau Kim Sohyun?
Sohyun beranjak dari tempat tidurnya. Di langkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Hari ini ia ingin pergi ke suatu tempat. Persetan dengan perasaannya yang semakin sakit menerima kenyataan bahwa Doyoung telah meninggal.
.
Sohyun berdiri didepan guci berisi abu dengan photo pria yang tengah tersenyum lebar di sebelahnya.
Beberapa buket bunga terletak di sebelahnya. Siapa yang memberikan bunga itu pada Doyoung, Sohyun tidak tahu.
Tiba-tiba Sohyun menangis melihat senyum lebar pria itu.
Senyum yang selama ini dirindukan, kini hanya dapat ia lihat melalui jepretan kamera. Tidak ada senyum hangat dan manis yang akan menyambutnya. Tak ada ada lagi seseorang yang akan mendengarnya mengeluh tentang pelajaran, dan tidak ada lagi seseorang yang akan memeluknya saat dia lelah.
“Hiks, oppa.” Jemari Sohyun menyentuh kaca yang melindungi guci abu Doyoung. Kepalanya menyandar dan air matanya deras mengalir.
Ini sakit.
Satu tangannya yang bebas *** dadanya.
Mengapa harus Doyoung? Mengapa harus pria baik itu yang meninggal dalam kecelakaan.
Sohyun meraung keras. Tak peduli jika seseorang mendengar tangisnya yang pecah.
“Oppa.”
Bukan perpisahan seperti ini yang diinginkan Sohyun.
Akan lebih baik jika Doyoung tetap hidup dan membenci dirinya karena berselingkuh dibelakangnya.
“hiks.. Mianhe, oppa-hiks.”
Sohyun merosot kelantai. Kaki-kakinya melemas, tak sanggup untuk berdiri terlalu lama. Sohyun menyentuh dadanya yang sakit.
Ribuan kupu-kupu berterbangan di perut dan dadanya, membuatnya sesak untuk bernafas.
Sementara seseorang berdiri di balik pintu mencoba untuk menahan tangisnya. Membekap mulutnya sendiri sehingga tak ada suara isakan yang keluar dan menganggu Sohyun di dalam sana.
Dalam diam, air mata itu mengalir di pipi chubby nya.
Ikut merasakan sakit yang luar biasa dihatinya.
Sesakit inikah mengetahui kekasih mu adalah seseorang yang telah kau renggut kebahagiaannya?
;
“Istirahatlah. Aku akan datang lagi membawakan makan malam untukmu.” Jaehyun menyentuh kepala Sohyun. Senyum lebarnya terus terukir indah di bibirnya.
Sohyun diam. Tak menjawab.
Dia berbalik dan melangkahkan kakinya menaiki tangga ke apartemennya.
Sekitar empat anak tangga, Sohyun berbalik. Memandang wajah Jaehyun dibawahnya.
“Jihoon, um jika dia datang bisakah oppa mengusirnya?”
Alis-alis Jaehyun terangkat naik. “Kau tidak mau bertemu dengannya?”
“Aku ingin sendiri.” Jawab Sohyun. Jaehyun tersenyum dan mengangguk.
Kali ini Sohyun menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya dia berbalik dan melanjutkan jalannya menuju apartemennya.
Jaehyun menghembuskan nafas beratnya setelah melihat Sohyun masuk kedalam apartemennya dengan selamat.
Dia berbalik dan memutuskan untuk kembali ke kafe miliknya. Ada beberapa orang yang akan mewancarainya setelah ini.
Kringgg..
Lonceng yang terdapat di pintu kafe berbunyi tanda seseorang membukanya. Sepasang mata yang berada di dalam segera menoleh kearah pengunjung.
Termasuk pria bersurai hitam yang tengah duduk di ujung ruangan.
Jaehyun memandang lekat mata yang saat ini terlihat membengkak, seperti mata Sohyun.
Tak diragukan lagi, Jihoon habis menangis.
Jaehyun mendekat, menarik kursi tepat disebelah pria dengan pundaknya yang begitu lebar.
“Apa dia baik-baik saja?” tanya Jihoon tanpa memutuskan tatapannya.
“Ya, biarkan dia beristirahat terlebih dahulu.”
Jihoon diam.
“Apa dia sudah tahu jika Doyoung meninggal bukan karena Jihoon?” tanya seorang pria berbahu lebar itu.
Jaehyun menengok kearahnya. Maniknya memperhatikan lamat-lamat pria disebelahnya. Tidak pernah Jaehyun lihat pria itu sebelumnya, dan ada hubungan apa dia dengan Jihoon?
Begitu banyak pertanyaan di kepala Jaehyun saat melihat pria disebelahnya. Kehadirannya saja sudah mengundang kepenasarannya.
Pria tampan itu mengulurkan tangannya. Ia tersenyum tipis hingga gigi kelincinya menyembul malu-malu di balik bibirnya.
“Kang Daniel. Aku rasa kau penasaran denganku.” Ucap Daniel sambil memainkan alisnya seolah memberi isyarat untuk Jaehyun membalas uluran tangannya.
Jaehyun terperangah. Buru-buru dia membalas jabatan tangan Daniel. Jaehyun tersenyum sembari memperkenalkan dirinya pada Daniel.
“Jung Jaehyun.”
Daniel mengangguk. Ia sudah kenal pria disebelahnya ini. Jihoon selalu cerita padanya. Mengatakan ia memiliki seorang tetangga yang terus mengantar bekal yang dibuat oleh ibunya.
“Jadi, kau belum menjawab pertanyaan ku!”
“Jika bukan Jihoon yang membunuh Doyoung lalu siapa? Apa sebuah motor begitu saja melaju dan menabrakkan dirinya?”
“Akuㅡ”
“Hei dude, bukan Jihoon yang membunuh Doyoung.” Potong Daniel geram. Ia bangkit dari duduknya, dan tangannya menarik kerah baju Jaehyun.
Daniel tidak suka pada seseorang yang menuduh Jihoon seolah dia adalah tersangka atas meninggalknya Doyoung.
“Daniel oppa, hentikan. Kau membuat kita malu!” Sungwon menarik lengan Daniel, mencoba memisahkan Daniel dari Jaehyun.
Sangat berbahaya jika Daniel yang dipenuhi oleh amarah berlama-lama menatap Jaehyun.
“Jung Jaehyun-ssi, bukan Jihoon yang membunuh Doyoung.” Sura berat yang berada di sekitar mereka, membuat Jaehyun menoleh kearahnya.
Woojin menyirup jus jeruk yang dipesannya beberapa saat yang lalu. Setelah minumannya habis separuh, ia membuka mulut untuk berbicara.
“Aku. Aku yang telah membunuh Doyoung.” ucapnya dengan suara yang rendah.
Daniel dengan kasar melepas genggamannya pada kerah baju Jaehyun. Membiarkan pria itu sepenuhnya memandang kearah Woojin.
“Aku yang seharunya di salahkan. Jadi berhentilah menyalahkan Jihoon.”
“Ta,tapi bagaimana bisa?” tanya Jaehyun tidak percaya. Di pandangi saudara kembali di hadapannya secara bergantian, mencari kebohongan diwajah mereka.
“Aku akan menyelesaikan masalah ini sendiri.”
“Bagaimana kau akan melakukannya? Jika Sohyun mengetahuinya dia akan membenci mu.” Ucap Daniel.
Jihoon diam.
Maniknya memandang lekt kearah empat pria di sekitarnya.
Kemudian hening.
Tak ada suara setelah itu.
Bahkan Daniel, Jaehyun, Sungwon dan Woojin pun enggan untuk memberikan reaksi setelah melihat Jihoon hanya diam.
“Biarkan aku yang menyelesaikannya. Apapun yang terjadi aku akan menerimanya.”
;
Sohyun terbangun lagi.
Seperti kemarin. Saat tengah malam dia terbangun dan menangis mengingat beberapa momen yang dia lalui bersama Doyoung.
Mereka berdua; Doyoung dan Sohyun. Berkencan tidak lama. Hampir sebagian hidupnya dilakukan bersama Doyoung.
Kim Doyoung, dia adalah pria pertama yang keluarga Sohyun temui saat pindah ke Inggris. Anak muda dengan senyum yang manis itu menyambut keluarga Sohyun sebagai tetangga barunya. Pria itu tanpa malu mendekati Sohyun dan menjaganya seperti seorang kakak.
Hingga waktu terus berlalu, Doyoung yang sejak awal menyimpan sebuah perasaan kepada Sohyun. Dengan berani dia menyatakan perasaannya. Meski dia tahu, dia hanyalah anak yatim piatu dan ia tak memiliki apapun yang bisa membahagiakan Sohyun suatu saat.
Dan lagi, mereka masih terlalu muda.
Sohyun yang nyaman dengan kehadiran Doyoung pun dengan senang hati menerima pria itu. Hingga mereka berkencan sampai enam tahun lamanya karena Doyoung kembali ke korea untuk melanjutkan sekolahnya.
“Kenapa tiba-tiba? Besok kau akan pergi kenapa baru sekarang memberitahuku?” Sohyun menangis begitu keras dihadapan Doyoung. Bibirnya melengkung kebawah, hidung bengirnya memerah dan berair. Sesekali hidungnya berkerut menyedot cairan yang keluar dari hidungnya.
Doyoung tersenyum lebar, tangannya menarik kepala Sohyun dan dibenamkan di dadanya.
Membiarkan air mata dan ingus menempel di bajunya. Toh, baju itu akan di simpan baik-baik dan dipakainya jika ia merindukan aroma kekasihnya yang sangat menggemaskan ini.
“Maafkan aku, kemarin-kemarin aku terlalu sibuk mengurusi visa dan beasiswa.”
“Bodoh.”
Doyoung terkekeh.
“Aku mau ikut, tidak mau tahu aku aku harus ikut bersamamu. Bagaimana aku bisa hidup tanpa dirimu disisiku?”
Sohyun menegakkan kepalanya. Mata puppynya memandang Doyoung, berkedip-kedip lucu dan irisnya melebar.
Ah sangat menggemaskan.
Chu~
Doyoung mengecup kening Sohyun cukup lama.
Chu~
Chu~
Setelah itu kecupannya jatuh pada kelopak mata yangt elah membengkak itu
Chu~
Dan kini berakhir pada raum merah. Doyoung menempelkan bibirnya dengan bibir Sohyun.
Bibir Doyoung yang tipis bermain dengan perlahan, mencapai bibir atas dan bawah milik Sohyun bergantian. Tidak ada yang bisa menolak manis bibir pria itu, dan Sohyun adalah seseorang tidak akan bisa menolaknya.
“Tunggu aku!” ucap Doyoung ketika ciuman mereka berakhir. “Aku akan kembali dan kita akan menikah.”
“Euhㅡ” Sohyun membulatkan matanya. Kata yang ingin di ucapkan terpaksa diputus kembali oleh Doyoung, karena sesuatu yang lembut kembali menempel di bibirnya.
“Bertahanlah beberapa tahun tanpa diriku disisimu.”
“Tapi-”
Untuk kesekian kalinya, Doyoung memutuskan kalimat Sohyun dengan bibirnya.
“Percayalah padaku.”
Sohyun terdiam beberapa saat. Maniknya bergerak gelisah memandangi wajah Doyoung.
Dia tersenyum. Lebar.
Sohyun menganggukkan kepalanya dan memeluk tubuh Doyoung sangat erat.
Erat sampai ia tidak ingin melepaskannya.
Sohyun bangkit dari tempat tidurnya. Dilanglahkan kaki pendeknya menuju mesin pendingin.
Menangis terlalu banyak juga tidak baik untuk kondisinya saat ini
DUK
Sohyun meringis. Kakinya tidak sengaja menabrak dos berisikan barang-barang milik JIhoon.
Sedikit membungkukkan badannya untuk memindahkan dos cokelat itu.
Tetapi,
Sesuatu yang berada didalam menarik perhatiannya.
Sohyun berjongkok. Membuka lebar dos tersebut kemudian mengeluarkan benda tipis yang membuatnya penasaran.
Sohyun memperhatikan benda itu lekat sambil berpikir dimana ia pernah melihat benda tersebut.
Menekan cukup lama tombol samping kanan smartphone yang mati total itu. Sohyun cukup berharap jika ponsel itu menyala agar rasa penasarannya tidak bertambah.
Dan..
Menyala.
Drrrt
Drrrt
Seseorang didepan pintu kamar Sohyun memperhatikan smartphonenya.
Sebuah pesan dari seseorang muncul.
Jihoon membuka isi pesannya.
Ia tersenyum tipis, ternyata ia mendapatkan balasan pesan dari seseorang.
Kau dimana?
Lia
Dikantor.
Ada apa?
Senyum itu.
Senyum yang selalu mengihiasi wajah tampannya sebelum bertemu dengan Sohyun. Kini kembali terlihat.
Bahkan sorot matanya telah berbeda.
Tidak ada lagi kelembutan dan penuh kasih sayang.
Aku ingin bertemu denganmu.
Bolehkah?
Noona tentukan saja dimana tempatnya.
Tentu,
Bagaimana kita bertemu di hotel. aku akan mengirimkan alamatnya.
Baiklah.
Sebelum Jihoon memasukkan smartphone miliknya ke dalam saku celananya.
Jihoon memandang lurus dan kosong pintu dihadapannya. Tidak ada yang tahu apa yang sedang ia pikirkan.