The Demon

The Demon
Part 22



....


Malam ini rumah sakit tampak begitu sibuk. Ambulance datang terus menerus di waktu yang sama.


Korban kecelakaan bis yang memakan banyak korban langsung dilarikan kerumah sakit.


Tak lupa dengan tabrakan yang dialami oleh Jihoon.


Dengan langkah terpincang-pincang Jihoon membantu perawat mendorong ranjang korbannya.


Pria itu menjerit kesakitan pada kakinya. Celana jeans abu-abunya penuh dengan darah. Posisi kaki yang ditindih motor besar dengan knalpot panas membuat kainny terbakar hingga kekulitnya.


Jihoon menangis memperhatikan keadaan pria itu. Merasa begitu bodoh dan bersalah.


Seharusnya dia membanting stir kearah berlawanan, sehingga tidak menimbulkan korban lainnya.


Seharusnya hanya Jihoon yang terluka malam ini. Bukan pria itu.


Sebuah tangan menarik bahu Jihoon, pemuda chubby itu berbalik dan memandang tubuh tegap dihadapannya.


"Hyung."


Daniel tersenyum, mencoba menenangkan lelaki itu.


"Kita obati dulu lukamu itu."


"Tapi bagaimana dengnnya? H-"


"Dokter akan melakukan yang terbaik untuknya. Lagian orang tuanya akan datang. Ayo.." ujar Daniel sembari menarik lengan Jihoon menjauh dari ruang operasi.


Daniel membawa Jihoon ke ugd. Meminta beberapa perawat segera memberi pertolongan pertama pada Jihoon.


Melihat cairan merah yang berasal dari kaos Jihoon, perawat itu segera merobek kaosnya menggunakan gunting, melihat seberapa parah luka yang didapatkan oleh Jihoon.


"Lukanya tidak terlalu dalam, tapi ini harus dijahit. Berbaringlah dulu." ujar si perawat, ia bangkit dari duduknya, melangkah memasuki ruangan yang entah apa namanya itu; Jihoon tidak peduli dengan ruangan itu.


Daniel membantu Jihoon berbaring, suara ringisan sakit terdengar begitu jelas di telinga Daniel saat tubuh Jihoon dibaringkan.


"Apa begitu sakit?"


Jihoon menganggukkan kepalanya.


"Sangat.. Hyung apa kau sudah menghubungi keluargaku?" Tanya Jihoon dan diangguki oleh Daniel sebagai jawaban.


"Aku menghubunginya beberapa kali tapi mereka tidak mengangkatnya."


Jihoon menghembuskan nafasnya kasar.


Ia tahu hal ini akan terjadi, dimana ayahnya mengabaikannya.


Jihoon tidak tahu dimana letak kesalahan nya sampai ayahnya begitu mengabaikan keberadaannya.


"Ji.."


Jihoon menoleh saat Daniel memanggil namanya.


"Apa yang terjadi padamu, kenapa kau sampai kecelakaan seperti ini?"


"Aku ada habis bertengkar dengan ayahku hyung. Pria itu... Menjodohkan Nakyung dengan Woojin."


"Hngg? Bukankah ayahmu tau jika kau menyukai Nakyung?"


Jihoon menghembuskan nafasnya melalui hidungnya. Kemudian matanya terpejam. Kepalanya mendadak sakit mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, dan ia mulai enggan untuk membahas perihal itu.


Terlalu sakit untuk diingat.


Tap,tap, tap


Suara langkah kaki itu terdengar cukup nyaring ditelinga Jihoon; mengusik pria surai hitam itu dari tidur ayamnya.


"Ahjussi."


Itu suara Daniel, perlahan Jihoon membuka kelopak matanya. Pupil coklatnya melebar dengan sempurna melihat siluet tegap dengan black suitnya yang masih membungkus rapih tubuhnya.


"Aeboji?!"


sosok pria tua berambut hitam legam dengan nafas tersenggal seperti habis lari maraton; nyatanya tuan Park memang berlari maraton setelah mendapatkan kabar jika putranya kecelakaan, sampai ia melupakan anak dan istrinya yang tertinggal jauh dibelakangnya.


"Aeboji, apa yangㅡ"


"Daniel, dimana Woojin?" tanya tuan Park mengalihkan perhatiannya pada pria berbahu lebar.


Suara Jihoon tercekat di tenggorokannya, rasa sakit yang beberapa jam yang dirasakan kembali berdenyut.


Tetapi, kali ini jauh lebih sakit.


Seperti garam ditaburkan pada lukanya yang menganga lebar.


Jihoon baru saja merasa bahagia melihat ayahnya datang menemuinya dirumah sakit. Ia pikir dengan seperti ini ayahnya dapat melihat kearahnya.


Namun, layaknya di terbangkan tinggi-tinggi oleh sebuah harapan, namun secara tiba-tiba ia dijatuhkan secara kasar, jauh kedalam inti bumi yang panas.


Ayahnya berhasil membuatnya terluka semakin dalam.


"Oppa?!"


Sungwon berlari mendekati Jihoon, menghambur dalam pelukan sang kakak.


"Awwㅡ lepaskan Park Sungwon, badanku masih sakit."


Tuan Park mengalihkan perhatiannya dan ia tertegun melihat Jihoon berbaring di bangsal dengan lengan yang telah diperban dengan apik oleh perawat.


Ia baru menyadari jika Jihoon berada disana. Terluka akibat kecelakaan.


Menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia terlalu buta untuk melihat Jihoon.


"Orang tua Park Woojin?"


Tuan Park segera membalikkan badannya. "Ya saya." Ucapnya setelah matanya memperhatikan seorang pria tua dengan kacamata bening bertengkar dihidungnya dan juga jas putih yang menjadi identitasnya sebagai dokter.


"Um tentu."


Dokter tua itu melangkah lebih dulu, disusul oleh tuan Park setelah ia berpamitan kepada istrinya.


Meninggalkan sang istri bersama Jihoon diruang ugd.


•••


Malam itu adalah malam terberat untuk Jihoon.


Kedua orang tua korbannya datang. Mereka marah besar, merutuki Jihoon dengan berbagai sempah serapah yang dimilikinya.


Pria yang ditabrak Jihoon. Dengan terpaksa kedua kakinya harus di amputasi, membuat pria muda itu benar-benar menjadi manusia cacat untuk seumur hidupnya.


Jihoon menyesal. Sangat menyesal akan kejadian itu.


Kata maaf tak dapat dengan mudah Jihoon tuturkan kepada keluarga korban dan korbannya. Kesalahannya terlalu besar sehingga ia tidak berani menerima permintamaafan dari mereka.


Tak seharusnya dia membuat orang lain ikut menderita atas penderitaan yang dialaminya malam itu.


Dan, malam itu juga... Bagaikan bom nuklir dijatuhkan tepat di jantung Jihoon.


Membuat jantungnya semakin hancur; menjadi kepingan paling kecil yang pernah diketahuinya, bahkan kepingan itu jauh lebih kecil daripada atom.


Ayahnya, Park Sunho. Memintanya untuk menanggung masalah yang terjadi pada Woojin. Menjadikan dirinya sebagai pelaku penabrakan pada bis yang memakan satu korban meninggal.


Jihoon tidak mengerti; sama sekali tidak mengerti mengapa ayahnya dengan tega membiarkan beban yang cukup berat itu di pikul olehnya sendiri.


Mereka membiarkannya membawa beban yang cukup berat. Sementara mereka sama sekali tidak berniat untuk membantunya, mereka terlalu sibuk mengurusi Woojin yang masih koma semenjak kecelakaan itu.


Bagi mereka, Woojin sangat membutuhkan perhatian mereka.


Masih tidak mengerti dengan jalan pikiran kedua orang tuanya.


Dia juga habis kecelakaan dan memakan korban yang beruntung masih selamat meski kedua kakinya harus di amputasi. Jihoon juga terluka, lengannya robek dan kakinya patah.


Tidakkah kedua orang tuanya sedikit melihat keadaannya.


Jihoon hanya meminta sedikit perhatian dari mereka berdua. Bukan meminta kasus Woojin di serahkan padanya.


Ia juga merasa begitu sulit menerima kenyataan jika Jihoon membuat orang lain terluka.


Jihoon memasuki kamar mayat bersama Daniel. Memberi penghormatan terkahir pada salah satu korban meninggal pada kecelakaan yang dialami oleh Woojin.


Daniel menepuk bahu Jihoon dan meremasnya cukup kuat seolah dia sedang membagi kekuatan pada pemuda itu.


Jihoon menoleh dan tersenyum kecil.


Kain putih itu dibuka, memperlihatkan wajah putih pucat dan bibir membirunya.


Kim Doyoung, korban meninggal dalam tabrakan bis. Ia terlalu banyak mengeluarkan darah, dan meninggal saat perjalan ke rumah sakit.


Jihoon telah menggali informasi tentang pria itu, dan Doyoung sama sekali tidak memiliki keluarga. Membuat Jihoon semakin terluka karena pria itu berpulang tanpa keluarga yang mengantarnya.


"Ini..." ucap seorang wanita berjas putih, memberikn kantong berlabel pada Jihoon. "Itu barang-barang korban. Mungkin itu dapat membantumu menemukan kenalannya."


"Terimakasih noona." ucap Daniel. Wanita itu menoleh memandang Daniel dan menganggukkan kepalanya.


"Park Jihoon-ssi." panggil wanita itu. Membuat pemilik nama mengalihkan perhatiannya dari benda tipis berwarna hitam.


"Ini bukan kesalahanmu. Kau tidak berhak menanggung beban ini, kau terlalu muda untuk menanggungnya sendirian."


Jihoon  tersenyum tipis, ia merunduk merasakan matanya memanas siap untuk meledak; memelehkan cairan bening di matanya.


"Aku tidak mengerti mengapa ayah dan ibumu begitu kejam padamu yang masih kecil. Seharusnya mereka tidak memberikan masalah ini kepadamu."


"Mereka bukan orang tuaku, noona." ucap Jihoon.


Wanita itu melipat kedua tangannya di atas perut. Sebelah alisnya terangkat naik, dan manik hitamnya langsung menatap tajam Daniel, meminta penjelasan pada pria berbahu lebar itu. Namun sayang, Daniel hanya memberikan reaksi dengan mengangkat kedua bahunya; ia juga tidak mengerti apa yang baru saja di ucapkan Jihoon.


Jihoon menenggakan kepalanya. Manik coklanya memandangi bergantian wajah Daniel dan wanita cantik itu. Ia tersenyum kecil mengamati perubahan ekspresi pada kedua orang itu.


"Tidak perlu sebingung itu. Aku telah menganggap mereka mati saat aku kecelakaan..." ucapnya dengan nada tenang, "Mereka juga telah menganggap ku mati." lanjutnya diiringi dengan senyum tipis.


Daniel diam.


Jihoon bisa saja menyembunyikan raut wajah kesedihannya di depan banyak orang; mengatakan pada siapapun jika ia baik-baik saja. Tetapi, tidak dengan Daniel.


Pria berbahu lebar itu tidak bisa dibohongi. Meski Jihoon mencoba sekuat tenaga, pria itu tetap tahu apa yang dirasakan Jihoon.


Tangan kekar Daniel terulur merangkul bahu Jihoon, menepuknya pelan dan membuat sang empu menoleh kearahnya.


"Park Jihoon putra dari pengusaha Park Sunho telah mati, saat ini yang berada di sini adalah Park Jihoon adik dari brandalan Kang Daniel..." ucapnya. Tangannya bergerak naik mengacak rambut Jihoon. "Sekarang kita adalah keluarga. Kang Seulgi, Kang Daniel dan Park Jihoon."


"Aku setuju... menambah adik sepertimu aku tidak masalah." ucap Seulgi diiringi dengan senyum beruangnya.


'Hiks'


Cairan bening itu turun dari pelupuk mata indahnya, menciptakan sungai kecil yang terus mengalir tanpa henti di pipi chubby nya.


Jihoon menangis bukan karena dia bersedih, tetapi dia bahagia.


Bertemu dengan orang-orang seperti Daniel dan Seulgi adalah keberuntungan baginya. Disaat keluarga utamanya meninggalkannya, ia malah bertemu dengan orang-orang yang senantiasa menyambutnya sebagai keluarga.


"Heii jangan menangis." Seulgi berjalan memutari ranjang mayat, mendekati Jihoon dan menarik anak laki-laki belasan tahun itu kepelukannya. "Anak laki-laki tidak boleh menangis Ji."


Hidung Jihoon berkerut, menarik cairan yang hendak keluar melalui hidungnya. Jihoon melepaskan pelukan Seulgi dan menghapus air matanya dengan punggung tangannya.


Ia tersenyum tipis saat matanya mengamati keluarga barunya. Ada sedikit kelegaan dalam dirinya saat ia tahu ada seseorang yang ingin berbagi beban dengannya, seseorang yang senantiasa menyambut kehadirannya.


Jihoon merunduk, matanya kembali fokus mengamati benda tipis yang sedikit hancur pada layarnya.


Ponsel milik Doyoung rusak parah, butuh beberapa kali perbaikan untuk menormalkan kembali fungsi smartphone itu.


Jihoon melirik Doyoung melalui ekor matanya. Beberapa detik kemudian menghembuskan nafasnya dengan kasar. Jihoon berjanji dalam hati jika ia akan menemui kenalan Doyoung dan segera meminta maaf atas apa yang terjadi padanya hari itu.