The Demon

The Demon
Part 14



.


.


.


...


"Apa tidak apa-apa aku meninggalkan mu sendirian?" tanya Woojin sambil membaringkan Sohyun di kasurnya.


Sohyun menganggukkan kepalanya. "Iya tidak apa-apa."


Setelah membaringkan Sohyun, Woojin duduk di tepi ranjang, kemudian memperhatikan kamar yang sedikit berantakan itu.


"Dimana Jihoon?" tanya Sohyun.


Woojin mengalihkan perhatiannya, menoleh kearah Sohyun dengan tatapan tidak tahu menahu tentang saudara kembarnya itu.


Pemuda surai merah itu sejak tadi belum menampilkan batang hidungnya, bahkan dia tidak menghubungi sekalipun.


"Aku tidak tahu, mungkin dia ada urusan diluar."


Sohyun mengangguk pelan. Kelopak sakura itu terpejam beberapa detik dan menghembuskan nafas dalam.


Dia diam beberapa detik, memperhatikan jejeran bintang-bintang yang menempel pada langit-langit kamarnya.


Biasanya saat melihat jejeran bintang di langit-langit kamarnya, suasana hatinya sedikit tenang, hal yang mengganggu dirinya seharian ini akan menghilang di saat Sohyun melihat bintang-bintang itu.


Sekarang pikirannya hanya fokus pada Jihoon. Setelah kejadian itu, Jihoon belum memperlihatkan dirinya. apa Jihoon membencinya karena merusak rumahnya?


Sohyun kembali menghembuskan nafas dalamnya. Dimana Jihoon?


"Kau mau sesuatu?" tanya Woojin.


Sohyun menoleh kemudian menggelengkan kepalanya. "Maaf Woojin, aku mau tidur bisakah kau keluar?"


Woojin tersenyum. "Baiklah, jika kau butuh sesuatu hubungi saja aku." ucap Woojin sambil tersenyum. Pria surai hitam itu kemudian beranjak dari tempatnya, sebelum dia pergi, tak lupa Woojin memperbaiki selimut yang menutupi sebagian tubuh Sohyun.


"Aku pergi ya."


Sohyun mengangguk pelan.


Woojin melangkahkan kakinya keluar dari rumah Sohyun, menutup dengan pelan pintu rumah itu.


Setelah kepergian Woojin, Sohyun mendudukkan dirinya di atas ranjangnya dan menyandarkan punggungnya dengan nyaman.


Tangan kiri Sohyun meraih ponsel yng terletak diatas nakas, menekan beberapa angka sebelum mendekatkan benda pipih itu ketelinganya.


Nomor yang anda-


Bib


Sohyun menekan kembali nomor yang di telfonnya beberapa detik yang lalu,


Nomor yang anda tuj-


Bib


Untuk kedua kalinya pemuda itu menolak panggilan Sohyun. Tidak seperti biasanya Jihoon mengabaikan panggilan Sohyun.


•••


Jihoon memasukkan kedua tangannya kedalam saku jaketnya. Manik coklatnya menatap tajam sosok pria yang masih menginjakkan kakinya di anak tangga rumahnya.


"Kau disini?" tanya Woojin, dia mendekat kearah Jihoon yang masih menyandarkan punggungnya di mobil hitamnya.


"Kenapa tidak masuk, Sohyun mencarimu."


"Ada yang ingin kusampaikan padamu." ujar Jihoon. Kedua tangannya melipat di atas perutnya.


"Apa?"


"Sungwon dikeluarkan dari sekolah dan dia membuat anak orang masuk rumah sakit."


"Apa yang terjadi?"


Jihoon mengekkan kepalanya, kedua bahunya terangkat tidak tahu. "Untuk lebih jelas tanyakan itu padanya. Sekarang Sungwon berada dirumah Jaemin."


Jihoon memperbaiki posisinya tegap. Dia melangkah mendekat, memangkas jarak antara dirinya dan Woojin.


"Apa kau menyukai Kim Sohyun?" tanya Jihoon.


Pupil Woojin melebar, begitu terkejut dengan apa yang baru saja di katakan oleh saudara kembarnya.


Jihoon tersenyum sinis, ia melangkah mundur satu langkah, tangannya di masukkan kedalam saku jaketnya.


"Apa kita harus mengulang kejadian dua tahun yang lalu?" tanya Jihoon dengan senyum sinisnya. "Park Woojin?"


---oOo---


Sohyun mengerjapkan matanya beberapa kali saat pantulan sinar matahari menembus dari jendela kamarnya.


Dia menoleh kanan kiri dengan mata yang sedikit terbuka.


Jam sudah menunjukkan pukul 09.30, hampir seharian Sohyun tertidur dengan nyenyak. Tidak seperti biasanya.


Kamarnya tetap sama. Dan tak ada sosok yang biasanya menunggu dirinya bangun.


Sohyun turun dari kasurnya secara perlahan. Bahu kanannya masih sakit, dan ini sangat mengganggu aktivitasnya.


Semua kegiatannya memerlukan tangan kanannya, dimulai dari menulis, mencuci rambut, mandi, memasak dan memakai baju.


Namun karena tangannya terluka, dan sialnya tepat di tangan kanan, membuat aktivitasnya berantakan.


Sohyun menangis dalam diam, mengapa di saat seperti ini dia malah merindukan Jihoon.


Dan kenapa di saat seperti ini pemuda itu belum menunjukkan batang hidungnya. Membuat Sohyun semakin merindukan sosok surai merah itu.


*Tok


Tok


Tok


Ceklek*


"Sohyunnie"


Sohyun segera menghapus jejak air mata di pipi chubbynya dan menegakkan tubuhnya.


Tubuh Sohyun menegang saat iris coklatnya melihat Jaehyun masuk kedalam rumahnya dengan paper bag putih berlambang nama toko di depannya.


"Kau sudah bangun" ucap Jaehyun mendekat. Sohyun hanya menganggukkan kepalanya dan duduk di sofa ruang tamunya.


"Ini dari Woojin," lanjutnya sambil meletakkan paper bag di atas meja. "Katanya kau tidak perlu khawtair, dia akan memintakan izin."


Sohyun menghembuskan nafasnya. Manik coklatnya memperhatikan dengan datar paper bag dihadapannya.


Kenapa di saat seperti ini Woojin malah memperhatikan dirinya. Dimana seseorang yang memiliki status sebagai kekasihnya.


Apa Jihoon akan menjadi seperti Kim Doyoung? Yang hilang entah kemana di saat dia membutuhkannya?


"Uhh kamarmu berantakan sekali Kim Sohyun. Mau aku bersihkan atau meminta bibi di cafe untuk membersihkannya?" tanya Jaehyun sembari memperhatikan sekitarnya.


Sebenarnya kamar Sohyun tidak terlalu berantakan. Hanya ada beberapa buku yang tercecer dan piring-piring yang belum di cucinya. Tapi jika membiarkan begitu saja akan merepotkan Sohyun yang kini tengah terluka.


"Oppa."


"Ya ada apa Sohyun." Jaehyun menoleh. Sohyun menepuk sofa di sampingnya dengan tangan kirinya.


Jaehyun  mengangkat sebelah alisnya sebelum akhirnya dia mengerti dan duduk di sebelah kanan Sohyun.


"Kenapa?"


"Apa oppa sudah tahu dimana Doyoung?"


Jaehyun terlihat berpikir. "Ah itu, belum."


Sohyun menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Doyoung menghilang, Jihoon juga menghilang.


Apa seperti ini kisah cintanya?


Mengapa mereka menghilang di saat Sohyun begitu membutuhkan kehadirannya.


"Hei ada apa?" Jaehyun bingung saat dirinya melihat Sohyun mulai menangis  dalam diam. Butiran kristal  itu dengan lancang jatuh di pelupuk matanya, dan membentuk sebuah aliran sungain kecil di pipinya.


Dada Sohyun begitu sakit, seperti ribuan pisau ditancapkan tepat di dadanya dan merombak dengan kasar.


Dengan gerakan inisiatif Jaehyun meraih bahu Sohyun dan menyandarkan kepala kecil itu di dadanya. Jaehyun tidak tahu kenapa gadis kecil itu tiba-tiba menangis, namun melihat Sohyun menangis seperti ini membuat dadanya sakit.


Jaehyun tidak suka melihat Sohyun yang telah dianggap sebagai adiknya itu terluka seorang diri.


"Tidak apa-apa, oppa akan mencari Doyoung secepatnya, kau bersabarlah."


"hiks, aku membencinya oppa. Bisakah aku berharap mereka mati saja."


Jaehyun diam, ia menepuk pelan punggung Sohyun. Memenangkan gadis kecilnya yang masih menangis.



"Ahhh tidak serunya." Joy berguman malas menghampiri meja. dia memperhatikan sebelah bangkunya yang masih kosong.


Ketidakhadiran Sohyun membuat Joy begitu malas melakukan apapun.


Woojin memperhatikan Joy yang sejak tadi menggerutu tidak jelas. Selalu mengatakan tidak seru.


Ini baru satu hari Sohyun absen dan Joy menjadi sangat gila.


"Tidak bisakah kau berhenti Park Joy."


Joy mendelik tidak suka kepada Woojin, namun pemuda itu tidak menanggapi tatapan Joy dan kembali bercerita.


"Kalau kau merindukannya kenapa tidak hubungi dia saja. Inikan sudah dunia digital." ucap Woojin, manik hitamnya masih serius mengamati lembaran cacatan.


Sebenarnya Woojin bukanlah orang yang suka menulis catatan sebanyak ini. Woojin adalah bukan tipikal seseorang akan menulis banyak catatan dihari itu juga. Dia biasanya akan meminjam catatan temannya.


"Ujinnie."


Woojin yang dipanggil pun menolehkan kepalanya. sebelah alisnya terangkat naik ketika ia melihat Nakyung berjalan mendekatinya dengan senyum lebarnya.


"Ada apa?" tanya Woojin datar.


Nakyung masih tersenyum menatap Woojin. "Ini sudah jam istirahat, Ujin tidak kekantin?"


"Tidak, aku harus menyelesaikan ini dulu." jawab Woojin sambil menunjuk catatan di di mejanya.


Nakyung memperhatikan yang ditunjuk oleh pemuda berkulit tan itu. "Sebanyak ini? ini tidak akan selesai sampai jam istirahat selesai."


"Sepertinya begitu."


"Mau aku belikan cemilan? Tunggu di sini ya." ucap Nakyung dengan cepat, sebelum Nakyung berbalik dan meninggalkan kelas Woojin, sebuah tangan menahan Nakyung, membuat gadis manja itu menoleh ke samping kanannya.


"Ada apa?"


"Aku titip sesuatu. Belikan burger dengan keju mozzarella oke. Uangnya nanti ku ganti." Ucap Joy dengan cengiran bodohnya.


Mata Nakyung mendelik tidak suka. Dia segera menepis tangan Joy yang masih melingkar di lengan nya.


"Beli saja sendiri. Memangnya kau siapa sampai memintaku membelikanmu sesuatu." Ucap Nakyung sinis kemudian melangkah keluar dari kelas Woojin dengan angkuhnya.


Woojin tertawa kecil melihatnya. "Kenapa kau meminta bantuannya bodoh."


"Ck, aku hanya menggodanya saja. Lagi pula aku tidak lapar."


"Bodoh." guman Woojin pelan, sangat pelan sehingga Joy tidak mendengarnya.


"Ah ya ngomong-ngomong di mana Jihoon?"


Pergerakan tangan Woojin yang menulis catatan tiba-tiba terhenti. Manik hitamnya menatap tajam kearah Joy yang melihatnya tidak tahu apa-apa.


"Kenapa menanyakan Jihoon?"


"Ah itu, aku hanya penasaran saja apa dia sedang menemani Sohyun dirumahnya."


"Tidak."


Sebelah alis Joy terangkat naik, dia bingung dengan jawaban singkat Woojin barusan.


Joy menatap lekat Woojin, meminta pemuda itu memberi penjelasan.


"Dia punya sesuatu yang harus di selesaikan."


;


;


Sohyun memperbaiki posisi tidurnya menyamping. Kedua alisnya saling bertaut membentuk kerutan halus diatas alisnya.


"huh?"


Tangannya terulur menggenggam erat lengan yang terletak di sebelahnya, menggenggam dengan erat lengan kekar yang membuatnya nyaman. Netra coklat itu terbuka perlahan, melihat seorang yang sedang duduk di tapi ranjang sambil tersenyum kearahnya.


"Hiks" Isakan itu berhasil keluar dari mulutnya, bahkan cairan yang tertapung di pelupuk matanya jatuh di ekor matanya.


"Kenapa kau datang?" tanya Sohyun dengan nada serak khas bangun tidur.


"Maafkan aku yang baru datang. Aku tidak bermaksud."


"Aku membencimu.."


Jihoon tersenyum, tangannya bergerak menggenggam jari-jari Sohyun kemudian menghelusnya.


"saatnya mandi, mau ku bantu?" tanya Jihoon.


Sohyun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Jihoon membantu Sohyun bangun dari tidurnya, satu tangannya menyelip ke belakang tubuh Sohyun dan satu tangannya menarik lengan kiri Sohyun.


"Gendong." ujar Sohyun saat dirinya berhasil terduduk di atas ranjang.


"Tapi bahumu?"


Sohyun memajukan bibirnya dengan imut, dan menatap Jihoon dengan puppy eyesnya.


Cup


Pipi Sohyun memerah seperti layaknya kepiting rebus. Dia menunduk, terlalu malu untuk melihat wajah Jihoon saat ini.


"Ayo, kau harus sikat gigi dan keramas. aku akan membantumu." Ucap Jihoon.


Kedua mata Sohyun melebar sebelum akhirnya ia merasa tubuhnya yang terangkat dari tempatnya duduk. Dimana ia berpindah ke dalam gendongan Jihoon.


Gadis itu melingkarkan kedua tangannya pada leher Jihoon untuk menjaga keseimbangan. Pemuda surai hitam itu mengangkatnya seakan ia sangat ringan dan Jihoon tidak terlihat kesulitan bahkan saat ia mulai melangkah membawa Sohyun menjauh dari kamar.


.


"Perihhh"


Jihoon hanya tertawa saat mata Sohyun tanpa sengaja terkena busa sampo. Jihoon pun menyiramnya pelan dan ibu jarinya bergerak dengan halus menghapus sisa busa di ekor mata Sohyun.


"Kau ganti warna rambut?" tanya Sohyun sambil menunjuk rambut Jihoon yang kini di cat berwarna hitam arang yang semakin menambah kadar ketampanannya.


Jihoon menganggukkan kepalanya, dan tersenyum.


Jantung Sohyun berpacu dua kali lipat dari sebelumnya, bahkan perutnya terasa penuh dengan ribuan kupu-kupu yang berterbangan dan menggelitikinya.


Sohyun seperti jatuh cinta untuk ke sekian kalinya pada Jihoon.


"Kemarin kau dari mana saja? Kenapa tidak datang menjengukku?" tanya Sohyun.


"Aku menemani Sungwon."


Sohyun menganggukkan kepalanya. "Tentang adikmu, aku minta maaf." ujarnya sembari memperbaiki dirinya terduduk setalah rambutnya di lilitkan dengan handuk. "Aku tidak tahu kalau dia adikmu dan tentang rumahmu."


Jihoon menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Tidak apa-apa. Oh ya sekarang saat ganti baju. Kau mau ganti baju sendiri atau ku bantu." ucap Jihoon dengan tatapan mesumnya.


Kedua alis Jihoon naik turun, menggoda Sohyun agar di menerima usul kedua.


"Mesum. Aku akan mengganti baju sendiri." ucap Sohyun beranjak dari tempatnya dan mendorong Jihoon keluar dari kamar mandi.


Jihoon terkekeh, kepalanya berputar melihat Sohyun yang berusaha mendorong tubuhnya dengan satu tangannya. "Kau serius? Bahumu kan masih sakit, aku bisa mengangkat bajumu dan memasangk-."


"Mesum"


Blammmmmm


Kli


Sohyun menutup pintunya dan mengunci dari dalam.


"Baiklah, kalau begitu aku akan memasak." teriak Jihoon dari luar.


Prangggg


Sohyun membuka matanya lebar-lebar saat suara nyaring itu mengganggu tidur ayamnya.


Gadis itu terduduk di atas ranjang dengan kedua kakinya berayun-ayun di atas lantai. Netra coklanya bergerak melihat jam dinding yang ada di pojok ruangan.


"Sudah jam tujuh malam ya." Sohyun bergumam pelan setelah melihat angka yang ditunjuk oleh jarum jam.


Ternyata dia kembali tertidur setelah meminum obat dan bermimpi jika Jihoon datang menemaninya.


Brakkk 


Sohyun memiringkan kepalanya setelah mendengar suara ribut di dapurnya. Ia akhirnya bangkit, membuat selimut yang semua menutupinya kini melorot. Sohyun menggunakan sandal rumahnya sebelum ia melangkahkan kakinya mendekat ke dapur.


Jarak kamar dan dapur tidak terlalu jauh untuk ukuran apartemen kecil miliknya itu. Langkah kaki Sohyun terhenti saat melihat punggung lebar yang membelakanginya itu.


Pria itu terlihat begitu fokus membuat sesuatu.


Air mata itu kembali lolos. Rupanya dia tidak bermimpi, Jihoon datang dan menemani dirinya.


Tanpa basa basi lagi Sohyun segera melangkahkan kakinya kearah pemuda surai hitam itu lalu memeluknya dari belakang, menyandarkan kepala kecilnya di punggung sang kekasih, membuat pemuda surai hitam itu terserentak kaget.


"saranghae." Guman Sohyun pelan.


Satu kalimat yang tidak pernah diucapkannya, satu kalimat yang kehadirannya selalu di tolak.


Sohyun mencintai Jihoon, dan itu adalah faktanya. Ia jauh lebih membutuhkan Jihoon ketimbang Doyoung untuk berada di sisinya. Bahkan Sohyun sudah tidak peduli lagi dengan keberadaan Doyoung, entah pria itu menjalin hubungan dengan wanita lain atau mati.


Sohyun sudah tidak peduli.


Yang dibutuhkannya saat ini adalah Jihoon. Pemuda dengan sikap iblisnya yang mampu membuka hati Sohyun dengan tingkah menyebalkannya.


"Sohyun."


Pemuda surai hitam arang itu berbalik menghadap Sohyun, Sohyun melepaskan pelukannya dan wajahnya langsung mengadah keatas guna melihat wajah-


"Woojin" kedua alis Sohyun saling bertaut dikala netra coklatnya memandangi wajah Woojin.


Kakinya terasa lemah, bahkan untuk menopang tubuhnya tidak sanggup. Tangan Sohyun langsung berpegangan langsung dengan meja pantry, meremas dengan kuat pinggiran meja.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sohyun bingung.


Dimana Jihoonnya. Kenapa tubuh yang dipeluknya berubah menjadi Woojin.


"A,aku"


"Dimana Jihoon?"


Woojin terdiam, netra hitamnya menatap lekat wajah gadis kecil yang tampak kebingungan dengan kehadirannya.


Tatapan Sohyun terasa begitu menyakiti jantungnya. tidak pernah Woojin rasakan rasa sakit seperti ini sebelumnya. Manik coklat yang selalu dilihatnya memancarkan keceriaan dan kelembutan.


Kini, untuk pertama kali Woojin melihat Sohyun menatapnya dengan tatapan seolah menolak kehadirannya.


Rasanya sakit dan menusuk ulu hatinya.


•••