The Demon

The Demon
Part 3



Happy Reading


.


.


.


Mobil ambulance itu pergi beberapa detik yang lalu. Para murid dan guru masih memperhatikan mobil itu keluar dari lingkungan sekolah.


Dari beberapa murid yang masih berdiri disana, sosok Jihoon dan Jaemin terlihat sangat jelas ditengah-tengah kerumunan. Jihoon menundukkan pandangannya mengamati gelang tali warna hitam ditangannya.


Sebelum ia membawa Sohyun turun dari rooftop, Jihoon menemukan gelang gadis itu terjatuh dan Jihoon memungutnya, memasukkannya ke dalam saku celananya.


"Park Jihoon,"


Sang pemilik nama itu menoleh, kedua alisnya berkerut bingung saat atensinya memperhatikan Woojin yang sedang berdiri didekatnya.


Pemuda itu tidak sendirian, ada Nakyung yang berada dibelakangnya, bersembunyi dibalik punggung lebar milik Woojin.


"Ada apa dengannya?"


Jihoon mengangkat sebelah alisnya, mulutnya terbuka kemudian tetutup kembali.


Mengalihkan atensinya mengamati ambulance yang sudah menghilang dari halaman sekolahnya. Mengerti kemana arah pembicaraan Woojin, Jihoon pun kembali menoleh.


"Kim Sohyun? Aku tidak tahu."


"Kau tidak melakukan hal aneh padanyakan?"


Jihoon tersenyum miring. Tidak biasanya Woojin penasaran dengan seorang murid, terlebih ini murid baru dikelasnya.


"Belum sempat. Kenapa apa kau keberatan?"


"Sangat, Ji. dia hanya murid baru jadi kumohon jangan menargetkan dia sebagai korban selanjutnya. Dia tidak tahu apa-apa Ji."


"Itu terserah diriku Jin. Dia murid baru atau lama itu bukan sebuah penghalang untuk menargetkannya. Kau mengerti Park Woojin."


"Tapi Jiun ... " Suara selembut kapas itu mengalun ditelinga Jihoon. Pemuda bersurai merah itu mengalihkan atensinya pada sosok gadis dibelakang Woojin.


Jihoon memilih untuk diam, agar Nakyung melanjutkan perkataannya.


"Kau tidak boleh jahat pada seseorang." Jihoon tersenyum tipis, apa telinganya tidak salah dengar? Nakyung memintanya untuk tidak jahat pada seseorang, padahal gadis itu telah berbuat jahat padanya.


Gadis itu telah merubah dirinya setelah malam itu. Membuatnya menjadi iblis seperti ini.


Ingatkan Jihoon untuk tidak mengungkit dua tahun silam.


Jihoon menganggukkan kepalanya ogah-ogahan. Ingin mengiyakan tapi hatinya menolak mentah-mentah perkataan Nakyung.


"Jaemin, ayo!" Ucap Jihoon, menggerakkan kepalanya seolah mengisyaratkan sahabatnya itu untuk mengikutinya pergi.


.


.


"Eoh, kau sudah bangun Sohyun-ssi" Ucap Jaehyun ketika kelopak mata itu terbuka memperlihatkan iris coklatnya.


Beberapa kali kelopak mata itu terbuka dan tertutup, mencoba membiaskan pandangannya dengan cahaya putih yang masuk ke pupilnya.


Aroma obat-obat itu seketika masuk keindra penciuman Sohyun. Memijit pelipisnya yang terasa sangat sakit.


"Ini dimana?"


"Rumah sakit, kau pingsan di sekolah. Astaga jika kau sakit seharusnya tidak pergi sekolah Sohyun-ssi."


Sohyun memejamkan matanya beberapa detik, mencoba mengingat kejadian sebelumnya. Merasa dirinya tidak sakit, Sohyun baik-baik saja hari ini.


Di ingat-ingat lagi, dia berada di rooftop saat itu, makan dengan tenang sebelum dua murid datang dan menghirup rokok.


Ahh rokok, asap rokok.


"Kau sudah sadar Kim Sohyun?"


Jaehyun menolehkan kepalanya ke kanan saat suara pria jangkung itu bertanya kepada Sohyun.


Gadis berseragam SMA itu mengangguk lemah. Pria berjas putih itu tersenyum.


"Apa kau masih merasa sesak di dadamu?"


"Sedikit." Jawab Sohyun sambil menghelus dadanya yang masih terasa sangat mencekik.


"Kau seharusnya berhati-hati dengan lingkungan barumu."


"Tapi dokter jika aku boleh tau Sohyun sakit apa?"


Pria berstatus dokter itu menoleh memperhatikan Jaehyun yang sepertinya penasaran dengan keadaan Sohyun.


"Dia alergi dengan asap. Alerginya ini cukup parah kalau tidak ditangani dengan cepat. Ah ya bukannya disekolah ada larangan merokok, kenapa masih ada saja siswa yang merokok."


"Molla." Sohyun menjawab malas, kembali memejamkan matanya. Ia masih merasa pusing dibagian kepala dan sesak di dadanya. Ia ingin istirahat beberapa menit saja, menghilangkan sedikit sesak di d ada nya dengan cara tidur.


Dokter bermarga Lee itu menggelengkan kepalnya pelan, dan tersenyum kecil.


"Habiskan infusmu itu dulu baru kau bisa pulang. Jaehyun-ssi aku menitipkan Kim Sohyun padamu, tolong jaga dia ya."


Jaehyun menganggukkan kepalanya, tanda ia setuju. Meski dalam pikiranya bertanya-tanya apa hubungan pria berhidung mancung itu dengan Sohyun.


Setelah mendapatkan jawaban yang diinginkan dokter Lee melangkah meninggalkan Sohyun dan Jaehyun. Sebelum ia benar-benar pergi, ia menutup korden putih itu, tidak membiarkan siapapun melihat keadaan Sohyun yang tengah terbaring.


----


"Kau tidak mengajakku masuk ke rumahmu?" Jihoon menoleh ketika mendengar pertanyaan sedikit aneh keluar dari mulut Jaemin. Kedua alisnya saling bertaut bingung.


"Tidak perlu, aku tidak menerima tamu sepertimu."


"Ck, dasar." Jaemin berdecak kesal. "Malam ini Taeyong mengajakku ke billiards, kau mau ikut?"


Jihoon menggeleng cepat, ia tidak ingin kemana-mana malam ini. Hanya istirahat di kasur empuknya, menghilangkan semua beban di kepalanya nya.


"Lain kali saja," Jaemin mengangguk mengerti. Ia memperbaiki posisinya, Jaemin terdiam beberapa detik rumah Jihoon yang berada dilantai atas, dibawahnya terdapat ruangan dan itu pasti juga rumah berbasis studio seperti milik Jihoon.


Jaemin melirik sahabatnya itu yang masih menundukkan kepalanya. Seolah sedang memikirkan sesuatu yang terus mengganjal di kepalanya.


"Ada masalah?"


Jihoon menoleh, menggelengkan kepalanya pelan.


"Bukan masalah besar, ah ya aku penasaran dengan gadis di rooftop itu. Bagaimana keadaannya?"


Jaemin mengendikkan bahunya tidak tahu. Sampai saat ini dia belum mendengar kabar gadis itu, apa dia sudah membaik atau mati?


Dilihat dari kondisi sebelum dibawa ke rumah sakit. Gadis itu sudah hampir kehilangan nyawanya jika saja Jihoon tidak memberikan nafas buatan.


"Koma mungkin." Jawab santai Jaemin yang dihadiahi tatapan tajam Jihoon. Jaemin tertawa canggung, "Ya, maksudku dia nyaris mati saat itu, jika kau lupa."


"Seseorang tidak semudah itu mati Na Jaemin."


"Siapa yang tahu. Ada seseorang yang mati hanya karna tersedak nasi, ada juga yang mati karna tertabrak capung, mungkin."


Jihoon memutar matanya malas, ia tidak mengerti mengapa dia bisa berteman dengan Jaemin yang notabane tidak memiliki otak itu.


Menepuk-nepuk blazer abu-abunya, mencoba membersihkannya dari debu tak terlihat.


"Sudahlah, sebaiknya kau pulang. Aku sudah mengantuk." ucap Jihoon tanpa menatap sahabatnya yang berdiri tepat disampingnya.


"Baiklah."


tanpa menunggu diperintah dua kali, Jaemin berjalan mengelilingi mobil sportnya, membuka pintunya kemudian masuk. Namun sebelum dia masuk, Jaemin berteriak memanggil sahabatnya yang hendak menaiki tangga itu.


"Park Jihoon."


Jihoon membalikkan badannya, menatap datar Jaemin.


"Apa?"


"Istirahatlah yang nyenyak. Karena besok kau akan bertemu dengannya lagi?"


Jihoon menautkan kedua alisnya bingung. siapa yang akan ditemuinya besok?


"Malaikatmu."


Jaemin tersenyum lebar, siapapun yang akan melihatnya akan jatuh dalam pesonanya.


Sementara Jihoon masih diam ditempatnya. Jaemin sudah masuk kedalam sport merahnya, menyalakan mesinnya, dan meninggalkan Jihoon yang masih membatu disana.


.....


Blaammm


Sohyun membuka matanya lebar-lebar. Suara banting itu telah mengganggu tidur nyenyak nya. Memperbaiki posisinya terduduk di ranjangnya dan mengamati sekitarnya.


Sohyun turun dari ranjangnya, mengenakan sandal rumahnya sebelum ia melangkah mendekati mesin pendinginnya.


Brakkk


Pranggg


Sohyun menjatuhkan gelas minumnya setelah ia mendengar suara bantingan untuk kedua kalinya. Ia mengangkat kepalanya, melihat langit-langit kamarnya.


Sumber suaranya berada dilantai atas. Apa yang dilakukan oleh pemilik ruangan atas. Kenapa malam-malam seperti ini membuat kegaduhan yang tidak jelas.


Menarik nafas dalam kemudian dihembuskannya perlahan. Sohyun jongkok, memunguti pecahan gelasnya. Ia Tidak ingin mengambil resiko mengabaikan pecahan kaca itu dan membuatnya suatu saat nanti mengenai pecahannya.


Brakkkk


"Akh"


Terlalu larut dalam memunguti pecahan kaca, sampai tanpa sadar pecahan itu merobek jari telunjuknya. Sohyun meringis sakit, mengangkat kepalanya keatas, menatap geram langit-langitnya yang tidak berdosa.


"Yak chogio, bisakah kau diam? Ini sudah malam. Jangan membuat kegaduhan."


.


Jihoon mengernyitkan keningnya. Suara teriakan itu sangat jelas menggema diruangannya. Jihoon menjatuhkan dosnya dan berhasil membuat suara kegaduhan yang akan didengar di lantai bawah.


"Nyonya atau Tuan, jika kau sedang mengemasi bisakah kau melakukannya besok. Aku ingin istirahat."


"Kau mendengarnya?"


Sohyun terdiam sejenak mendengar suara dari pemilik ruangan dilantai atas.


"Maaf paket ku baru datang malam ini. Jika kau merasa terganggu gunakan earphone saja."


"Apa? Ahjussi, kau sangat keterlaluan. Bagaimana bis-"


"Ahjumma, paket ini penting dan aku harus membukanya jadi diamlah aku tidak ingin berdebat banyak denganmu ahjumma."


Sohyun menghembuskan nafasnya kesal. Apa yang dia dengar? Ahjumma? Bisa-bisanya pria itu memanggilnya ahjumma.


Brakkk


"Kyakkkk"


Jihoon terkekeh pelan mendengar suara jerita kekesalan ahjumma itu. Ia mengendikkan bahunya acuh, toh ia tidak tahu jika di ruangan bawah sudah ada pemiliknya. Dan seharusnya ahjumma itu tau kalau tempat ini tidak memiliki kedap suara, kecuali cafe yang berada lantai dasar.


---oOo---


Jihoon memejamkan matanya rapat-rapat. Membiarkan sinar matahari menerpa kulit putihnya, Jihoon tidak peduli jika nanti kulitnya akan gosong, ia hanya ingin menikmati semilir angin di rooftop.


Hari ini dia sangat mengantuk, malam itu ia pergi ke bliar bersmaa Jaemin dan Taeyong. Beberapa jam di billiards ia pergi ke arena balapan liar.


Bukan sekedar menonton, ia ikut dalam turnamen itu. Bermain satu atau sampai tiga putaran sekaligus. Jihoon? Dia sama sekali tidak lelah saat balapan, ia melakukan itu sekedar melepaskan semua penak yang terjadi padanya beberapa hari yang lalu.


Nakyung.


Salah satu sumber masalahnya.


Gadis itu terus mendekatinya, dan memperlihatkan kemesraannya bersama Woojin. Seolah dengan sengaja ia memperlihatkan kepadanya.


"Haaa"


Jihoon menghela nafasnya untuk kesekian kalinya. Membuka matanya yang langsung menyipit karna biasa cahaya yang tiba-tiba masuk keretinanya.


Menggerakkan tangannya merogoh saku celananya. Mencari sesuatu yang masih tersimpan di sana.


Gelang hitam. Jihoon ingat betul siapa pemilik gelang itu, ini sudah dua hari berlalu dan Jihoon belum sempat mengembalikannya atau sekedar bertemu dengan malaikatnya.


"Aku satu sekolah dengannya, kenapa susah sekali bertemu."


Blammm


Jihoon terbangun dan menengokkan kebelakang kepalanya kaget. Pupilnya melebar, bibirnya terbuka saat atensinya mendapakan seorang gadis dengan nafas tak beraturan berdiri di bibir pintu.


Matanya menyapu sekitarnya, beberapa detik ia berlari kearah Jihoon ─ lebih tepatnya kebelakang sofa yang ditempati Jihoon berbaring.


Jihoon hanya terdiam menyaksikan gadis itu bersembunyi dibelakangnya.


Beberapa detik kemudian, sosok lain datang dari pintu rooftop. Jihoon menolehkan kepalanya, menatap bingung pemuda berpawakan tampan itu.


Pemuda itu terdiam, air wajahnya seketika berubah takut saat netra hitamnya menangkap tubuh Jihoon disana, sedang mengamatinya dengan pandangan yang sulit diartikan.


Gluk


Menelan ludahnya dengan susah paya. Disana sosok iblis dengan tatapan yang sulit diartikan. Sial seharusnya ia tidak ketempat ini untuk mengejar siswi yang membuat bajunya sekotor ini.


"Ada apa Changbin?"


Pemuda itu terdiam, tanpa ia sadari kakinya melangkah mundur saat Jihoon bangun dari duduknya. Ia menggelengkan kepalanya kaku.


Sementara gadis itu menggigit bibirnya dalamnya, kedua tangannya meremat kuat ujung rok sekolahnya. Takut-takut jika sosok bersurai merah itu memberitahukan posisinya pada Changbin.


"Ti,tidak."


"Kau mencari seseorang?"


Changbin terdiam beberapa saat, sadar jika ia ketempat ini untuk mencari gadis itu. Tapi, melihat Jihoon yang berada di sana, membuat Changbin seketika takut.


Hei, siapa yang tidak takut pada Jihoon? Iblis yang sanggup mendorongmu ke api neraka. Hidupmu tidak akan tenang selama kau menjadi targetnya. Dan Changbin tidak ingin mencari masalah bersama Park iblis Jihoon.


"Ti,tidak aku ma,mau ke toilet. Sepertinya aku salah. Maaf." ucapnya kemudian menunduk.


Persetan dengan harga dirinya jatuh didepan Jihoon. lebih baik seperti ini daripada ia menjadi targetnya. Changbin masih ingat betul bagaimana tersiksanya korban terakhir.


Changbin tidak ingin berakhir seperti itu juga.


"A,aku pergi." Ucapnya kemudian melangkah terburu-buru menuruni tangga. Meninggalkan Jihoon yang terus menyunggingkan senyum smirknya. Dan sialnya ia terlihat semakin tampan.


Jihoon membalikkan badannya, mengamati sofa yang tampak kosong, namun sebenarnya ada seseorang yang bersembunyi dibelakangnya.


"Keluarlah."


Gadis itu hanya diam. Belum berani untuk menunjukkan dirinya, ia takut jika Changbin belum pergi, dan ia takut jika pemuda bersurai merah itu bekerja sama dengan Changbin.


Jihoon memutar matanya malas. Melangkahkan kaki panjangnya mendekati sofa itu. menopang dagunya dengan satu tangannya, Jihoon dapat melihat dari atas pemilik surai hitam itu yang tengah menunduk.


"Changbin sudah pergi."


Satu tangan Jihoon yang bebas terulur kebawah, menyentuh pundak gadis itu. Tubuh itu menegang saat jari telunjuk Jihoon menyentuhnya beberapa detik.


Jihoon mengangkat sebelah alisnya, "Hei, aku serius Changbin sudah tidak ada."


Mengatup bibirnya rapat-rapat. matanya bergerak kesana kemari, perlahan kepalanya diangkatnya.


Mendonga menatap pemuda bersurai merah yang berada di atasnya. Kedua tangannya dilipat di dashboard sofa, mata coklatnya menatap tajam dirinya.


Deg, deg, deg


Jihoon membatu. Mata mereka saling bertemu, menyelami lautan galaxy itu, iris coklat dibawahnya jauh lebih indah dari yang pernah dia lihat sebelumnya. Iris coklat yang bergetar ketakutan, tapi masih terlihat seindah galaxy. Untuk kedua kalinya Jihoon terpesona dengan iris coklat itu.


Mengalihkan beberapa detik untuk melihat name tag putih yang menempel pada seragam sekolahnya ; Kim Sohyun , gadis power rangersnya.


Jihoon mengamati wajah itu, mulai dari matanya yang indah dengan double eyes nya, iris coklat yang berbinar itu, melihatnya seolah Jhoon sedang meyelaminya didalam, hidungnya yang mungil nan mancung. Dan terakhir dibibir peach alami itu.


Bibir peach itu, entah mengapa saat iris coklat Jihoon melihatnya, bayangan saat ia memberikan nafas buatan pada Sohyun berputar jelas di ingatannya.


Gila, rasanya sangat gila. Jihoon rasanya ingin mencicipinya sekali lagi. Bukan untuk memberikan nafas buatan lagi, tetapi melumatnya, menikmati rasa manis dari bibir Sohyun.


Jihoon mengulurkan tangannya, menyentuh pipi chubby itu, dan dirinya menunduk semakin dalam, mendekatkan wajahnya. Semakin dekat, Jihoon semakin memangkas jarak antara mereka, tidak peduli pada posisinya yang sekarang semakin menunduk kebawah guna mendekatkan wajahnya.


Chu~


Kedua benda kenyal itu akhirnya bertemu, menempel beberapa detik. Sebelum Jihoon menggerakkan bibirnya, menyesap, melumat dan mengigit bibir peach Sohyun.


Sementara Sohyun yang dicium hanya diam, membiarkan bibirnya dijamah oleh Jihoon. Pikirannya kosong, membuatnya tidak dapat berpikir dengan jelas.


Kedua tangan Jihoon bergerak kearah telengkuk Sohyun, mendorong kepala Sohyun semakin dekat dan memperdalam cumbuannya. Pikiran Jihoon kalang kabut, bibir Sohyun terasa manis, dan Jihoon tidak ingin berhenti untuk menikmati benda tak bertulang itu.


Tangan Sohyun *** ujung roknya dengan kuat. Bibir kenyal itu melumat bibirnya lembut, namun dalam hisapan dalam. Kelopak mata Sohyun menutup rapat, memperlihatkan barisan tebal dari bulu mata yang panjang membayangi pipi chubby nya.


Jihoon benar-benar good kisser, Sohyun terbuai dengan ciuman itu. Tidak peduli yang menciumnya adalah orang asing, pemuda bersurai merah itu telah membuatnya terlena.


Membuat Sohyun untuk beberapa menit saja melupakan ...


Kekasihnya...


**To Be Continue


See you next chapter**