
Please vote before you read it!
Happy reading ❤
...
Pemuda manis dan imut itu duduk diantara Sohyun dan Jihoon. Tak lupa Dongbi yang berada tepat di pangkuannya.
Berada di dekat Sohyun, Sungwon merasa dejavu. Tatapan itu masih sama, kedua tangannya dilipat diatas perut.
Sungwon menelan ludahnya kasar. Duduk didekat Sohyun membuat ia takut.
"Kau sudah bilang sama Jaemin?" tanya Jihoon. Pandangannya teralihkan memperhatikan tas ransel dan koper berisi penuh pakaiannya, serta beberapa mainan kesukaannya.
Sungwon menganggukkan kepalanya.
"Oppa, tidak bisakah aku tinggal saja di sana? Disini menakutkan." ucapnya sembari mempoutkan bibirnya dan mengerjap-ngejapkan matanya.
Jihoon menggelengkan kepalanya. "Tidak, untuk sementara tinggallah disini. Sohyun akan merawatmu."
"Lagian kenapa kau begitu takut padanya?"
Sungwon melirik Sohyun. Memperhatikan wajah cantik Sohyun. Pipi chubbynya layaknya bakpao membuat Sungwon ingin memakannya.
Ia terdiam. Lama-lama memandangi wajah Sohyun membuat Sungwon lupa akan ketakutannya pada gadis itu.
Pletak
"Aww!!"
Sungwon meringis kesakitan. Segera tangannya langsung menghelus kepala belakangnya yang baru saja dipukul sayang oleh kakaknya.
"Oppa!!" Sungwon merengek sebal. Sementara Jihoon diam dengan tatapan tajam seolah dia sedang mengamati mangsanya.
Jangan bilang Jihoon tidak melihat tatapan adiknya itu kepada Sohyun. Tatapan seolah memuja mahkluk tuhan yang paling indah ini.
"Jangan bermain mata dengan pacarku."
"Tsk, tapi tidak usah memukul kepalaku. Didalam sini terdapat mata pelajaran yang wajib di ingat dan nama-nama mantan pacarku disana. auh menjengkelkan sekali."
Jihoon hendak mengangkat tangannya. Memukul kepala adiknya untuk kedua kalinya. Namun saat pandangannya bertemu dengan manik coklat Sohyun, gadis itu menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
Kwak Kwak
Dongbi melompat dari pangkuan Sungwon. Pupil matanya melebar, telinganya naik, ekornya dinaikkan dan kibaskan.
Kwak Kwak Kwak
"Sepertinya Dongbi senang kau tinggal disini." ujar Jihoon meraih Dongbi dan mengelusnya dengn lembut.
"Dia pasti tahu aku manusia baik."
"Baik mananya yang sampai membuat seseorang masuk ke rumah sakit?" Jihoon mendelik tidak suka. "Aku curiga itu pasti bukan pertama kalimu membuat orang masuk kerumah sakit."
Sungwon diam.
Pupilnya bergerak gelisah.
Ia pun bangkit dari duduknya, mendekati kopernya. "Ahh aku harus beres-beres."
"Oh~ benar? Yak kau sering melakukannya hah?" Jihoon bangun dari duduknya mendekati Sungwon yang berpura-pura menganggap Jihoon tidak ada.
"Noona harus kuletakkan dimana baju-bajuku?" tanya Sungwon kepada Sohyun.
"Letakkan di tempat yang membuatmu nyaman saja."
"Yak, Park Sungwon kau tak menjawab pertanyaan ku huh."
Lagi
Dan lagi, Sungwon mengabaikan Jihoon. Ia menarik kopernya menjauh dari sang kakak. Ahh yang benar dia menjauhi Jihoon dengan alibi menarik kopernya.
Jihoon tak menyerah ia mengikuti adiknya kemanapun. Tak lupa melayangkan pertanyaan yang tidak akan dijawab oleh Sungwon.
Sohyun yang menjadi penonton merasa geli melihat interaksi adik kakak itu. Tak lupa dengan Dongbi yang ikut mengekor.
Tersenyum lebih lebar. Hal kecil seperti ini membuat mereka bertiga bahagia. Seolah lupa dengan beban yang di genggam oleh masing-masing, yang ada hanya keceriaan.
"Aww oppa jangan menggelitiku.ㅋㅋㅋㅋ."
"Makanya jawab Park Sungwon."
Jihoon terus menggelitiki tubuh kecil adiknya yang saat ini berada dibawahnya.
Sementara Sungwon menangis. Bukan menangis seperti itu, dia menangis karena kegelian.
"Noona tolong jauhkan mahkluk astral ini!!"
Kwak Kwak kwak
•••
Hari menjelang malam.
Jihoon disini, di sebuah apartement berukuran sedang bersama Jaemin. Manik coklatnya memperhatikan setiap sudut ruangannya. Tampak berantakan, ciri khas rumah seorang bujangan.
"Ini, minumlah." pria surai coklat itu meletakkan dua kaleng colla di atas meja. Sejujurnya ia ingin memberikan soju tapi umur anak laki-laki di hadapannya belum legal.
"Gomawo Daniel hyung." ucap Jaemin, iapun menyambar colla diatas meja, membuka lalu menegaknya. Rasa harusnya terlalu mendominasinya.
Jihoon diam. Tatapannya hanya tertuju pada pria yang sedang mengenakan sleeveles shirt berwarna hitam, yang memperlihatkan lengan putihnya yang berotot.
"Hyung aku-"
"Aku sudah dengar dari Woojin. Apa kau yakin ingin ikut balapan lagi?" tanya Daniel, membungkukkan sedikit tubuhnya dengan kedua lengan sikut diletakkan diatas pahanya.
"Apa traumamu sudah hilang?"
Jihoon diam. Mata coklatnya bergerak ragu.
Trauma ya? Dia ragu jika traumanya itu sudah menghilang dengan sejalannya waktu.
"Aku bisa mengatasinya, hyung. Bisa kau membantuku."
Daniel menggelengkan kepalanya. Terlalu berisiko untuk Jihoon yang harus ikut balapan liar selama traumanya masih bersemayang dalam tubuhnya.
"Aku tidak tahu Ji, kau belum sembuh. Aku takut jika masa lalumu terulang kembali. Aku takut kau menyalahkan dirimu sendiri."
"Kau masih menyalahkan dirimu atas tabrakan itu? Bukannya korbannya selamat." ucap Jaemin, meletakkan kaleng collanya di atas meja.
"Dia bahkan sudah mempunyai anak. Kenapa kau harus mengurung dirimu seperti ini sementara dia sudah hidup bahagia."
Jihoon menoleh. Menatap tajam kearah Jaemin.
Jaemin tiba-tiba terdiam, tatapan tajam seolah membunuh itu membuatnya ketakutan. Tidak tahu saja ucapannya tadi telah menyalakan api dimata Jihoon.
"Dia pasti akan sangat bahagia jika kedua kakinya masih utuh."
Jaemin tertegun, Daniel menghembuskan nafasnya kasar. Diantara mereka yang mengetahui masa lalu Jihoon, hanya Daniel yang paling mengerti pemuda itu.
Selama ini Jihoon berkeja apapun meski hal itu akan merusak reputasinya hanya untuk membantu seorang pria yang telah ia buat lumpuh seumur hidupnya.
Dia bahkan rela menjadi alat untuk membalaskan dendam seseorang hanya untuk sepundi uang yang akan diberikan pada korbannya.
Jika kau melihat Jihoon sebagai iblis, maka kau telah melakukan dosa besar. Jihoon adalah seorang manusia berhati malaikat.
Perlakuannya yang buruk itu semata-mata hanya untuk menghidupi seseorang. Membungkus rapih sifat malaikatnya agar tak seorangpun tahu dan menyalahgunakan kebaikannya.
Park Jihoon itu baik, hanya saja masa lalunya yang membuatnya menjadi iblis seperti ini.
Kecelakaan, ayahnya dan Nakyung.
•••
"Noona?!"
Sohyun menolehkan kepalanya. Menghentikan aktifitasnya bermain dengan Dongbi.
Menatap pemuda imut itu dan bertanya dengan raut wajahnya 'ada apa?'
"Boleh aku bertanya?"
"Apa?"
"Kenapa kau bisa jatuh cinta dengan Jihoon oppa? Kenapa bukan Woojin oppa saja."
Alis-alis Sohyun menukik bingung. Kemudian di detik berikutnya Sohyun mulai mengerti maksud ucapan Sungwon.
"Memangnya kenapa?" Sohyun menjawab pertanyaan Sungwon dengan pertanyaan. Menurutnya akan lebih baik dia mendengar penjelasan pemuda itu sebelum ia memberikan alasan kenapa dia memilih Jihoon ketimbang Woojin.
"Hanya saja, diantara mereka hanya Woojin oppa baik-baik saja meski dua tahun yang lalu telah terjadi."
Dua tahun yang lalu, entah mengapa Sohyun merasa ada yang serius saat itu.
Bukan hanya dirinya yang mengalami kejadian kurang mengenakan dua tahun yang lalu.
Tetapi,
Jihoon dan Woojin mengalaminya.
Sohyun ingin tahu apa yang terjadi pada Jihoon dan Woojin dua tahun yang lalu.
Kenangan pahit apa yang membuat salah satu diantaranya berubah menjadi iblis.
"Park Sungwon?!"
Sungwon yang mendengarkan panggilan Sohyun mengangkat kepalanya. Berhenti sejenak bermain dengan Dongbi. "Wae?"
"Bisakah kau ceritakan apa yang terjadi pada Jihoon dua tahun yang lalu."
Sungwon mengangkat sebelah alisnya, dan tersenyum tipis. "Bukankah lebih baik noona mendengarnya langsung dari Jihoon oppa?"
"..."
"Mendengarkan dari orangnya langsung akan jauh lebih baik daripada mendengar dari orang lain."
"Jika aku bertanya pada Jihoon, apa kau yakin dia akan menjawabnya? Menceritakan masa lalu yang kelam tidak semua membalikkan telapak tangan, Park Sungwon." Sohyun berdesis sebal di akhir kalimatnya. Demi apapun dia tidak mengerti mengapa pemuda yang terkesan kekanak-kanakan dapat berubah menjadi dewasa. Seperti kakaknya saja.
Sungwon memperbaiki posisinya duduk diatas karpet bulu dan menyandarkan punggungnya di kaki-kaki ranjang milik Sohyun.
"Dua tahun yang lalu Jihoon oppa mengalami kecelakaan. Hal itu terjadi karena ayah menjodohkan Woojin oppa dengan Lee Nakyung." Sungwon menoleh, mengadahkan pandangannya kearah Sohyun yang sedikit lebih tinggi darinya. Ia tersenyum masam.
"Apa kau tahu? Jihoon oppa, Woojin oppa dan Nakyung tumbuh besar bersama. Mereka selalu bersama sejak kecil, dan Jihoon oppa selalu ada disamping Nakyung."
Sohyun diam, ia memilih menjadi pendengar yang baik.
"Jihoon oppa yang mencintai Nakyung diam-diam selama beberapa tahun harus menelan kepahitan jika Nakyung mencintai Woojin oppa dan menerima kabar jika mereka di Jodohkan.."
"..malam yang dingin itu, Jihoon oppa keluar dari rumah setelah bertengkar dengan appa. Berbekal jaket untuk melindungi tubuhnya dari suhu dingin Jihoon oppa membelah kota seoul. Sampai akhirnya dia menabrak seseorang mahasiswa tingkat akhir dan membuat orang ditabraknya harus kehilangan kakinya."
Sungwon menarik nafas dalam kemudian menghebuskannya pelan.
"Dimalam yang sama.." Sungwon menjeda ucapannya sekedar melihat reaksi Sohyun. Dan reaksinya seperti kebanyakan orang yg mendengar kisah itu.
Terkejut.
Dan tidak menyangka.
"Dimalam yang sama, Woojin oppa juga mengalami kecelakaan. Apa yang noona lakukan saat kedua putramu mengalami kejadian yang sama, di hari dan waktu yang sama?"
"Menyelamatkan keduanya!?"
Sungwon tersenyum masam dan mengangguk. Ia sejutu, seharusnya mereka sama-sama di selamatkan. Tapi..
"Ayah tidak menyelamatkan Jihoon oppa, dia hanya menyelamatkan Woojin.. Dan membuang semua kesalahan yang terjadi pada Jihoon oppa."
"Heh? Apa maksudnya Park Sungwon?!"
Pemuda itu diam. Pandangannya lurus kedepan. Kejadian yang menyakitkan itu kembali berputar dikepala kecilnya, mengingat bagaimana marahnya Jihoon disaat semua kesalahan yang Woojin lakukan diberikan kepadanya, dan orang tuanya seolah tak ingin mengulurkan tangannya sekedar memeluk Jihoon oppa yang sedang terluka.
Malam itu Jihoon benar-benar terpukul atas apa yang terjadi padanya. Dan tidak ada yang melindunginya atau memeluk dirinya sekedar memberikan semangat.
"Sohyun noona!?"
"Y-ya?"
"Bisa aku minta tolong padamu?" Sungwon memperbaiki posisinya menghadap Sohyun, menatap gadis itu penuh harap. "Tolong berjanjilah apapun yang terjadi jangan pernah tinggalkan dia... Jihoon oppa bisa saja terlihat tegar dan brengsek. Tapi percayalah dia orang yang baik dan lemah."