
---o0o---
Sesaat bel istirahat berbunyi. Sohyun langsung memasukkan buku-bukunya kedalam laci kemudian bangkit dari duduknya, berbegagas untuk menjauh dari meja belajarnya.
Woojin dan Joy memperhatikan gadis itu yang terlihat sangat berbeda dari biasanya. Yahh meski mereka sering melihat kelakuan aneh dari Sohyun semenjak ia berpacaran dengan Jihoon.
Harus mereka ingat jika perubahan sifat Sohyun itu di pengaruhi oleh Jihoon selaku sang pacar.
Membuka lokernya, mengeluarkan bekal yang dibuatnya tadi pagi.
"Kau membawa bekal?" tanya Joy. Sohyun berbalik, tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya yang kecil.
"Makan siang bersama Jihoon lagi?" kali ini Woojin bertanya.
Jawabannya masih sama. Sohyun menganggukkan kepalanya cepat. Gadis itu sama sekali tidak berniat mengelurkan suara indahnya.
Sohyun melambaikan tangannya sebelum ia berlari keluar dari kelasnya. Tidak ada suara cempreng yang terdengar hari ini, hanya ada gerakan isyarat.
Joy merotasikan matanya malas. Ini bukan hal yang baru untuknya, ia selalu melihat itu. Tetapi melihat untuk berulang-ulang kali membuatnya kesal. Sahabatnya mengabaikannya hanya karena PARK JIHOON.
"Aku akan membunuhnya!"
"Siapa?" tanya Woojin.
"Tentu saja saudara kembarmu. Aku tidak suka Sohyun menjauhiku karena saudaramu itu."
Woojin terkekeh, "Apa kau akan sanggup melihatnya seperti mayat hidup jika membunuh Jihoon?" ucapnya saraya bangkit dari duduknya. "Lagi pula aku tidak yakin kau bisa membunuh Jihoon, mungkin saja sebaliknya."
"Mwo?! Kau mendoakanku dibunuh Jihoon?"
"Tidak, aku hanya memprediksinya. Kau harusnya ingat siapa sainganmu." Ucap pemuda itu, melangkahkan kakinya jalan keluar kelas. Joy menyusulnya di belakang.
"Jadi alasan untukmu mundur mendekati Sohyun karena kau sadar siapa sainganmu?"
Woojin menoleh, gadis cantik yang memiliki senyum sesegar buah kiwi itu. Dia tersenyum kecil.
"Aku mengalah bukan karena sifatnya seperti iblis, tapi karena dia saudaraku. Aku tidak ingin membuatnya terluka untuk kedua kalinya."
Joy ber-oh-ria, meski sebenarnya dia tidak mengerti. Siapa yang terluka? Dan juga luka kedua kalinya, Joy tidak tahu.
"Mengalah bukan berarti aku benar-benar melepaskannya. Aku akan menunggu mereka tidak saling mencintai lagi. Jika Jihoon tidak bisa membahagiakannya. Aku bisa menggantikan posisi itu."
"Meski membutuhkan waktu yang lama?"
Woojin menganggukkan kepalanya. Mengantri dengan rapih, percakapannya yang santai dengan Joy tanpa sadar membawa mereka ke kantin. Mengambil nampan dan menuangkan nasi secukupnya.
"Bagaimana jika hatimu berubah ketika mereka tidak saling mencintai?"
Woojin terdiam.
Tangannya yang hendak mengambil telur goreng berhenti di udara. Beberapa detik kemudian ia tersenyum dan melanjutkan aktifitasnya.
"Itu berarti aku telah menemukan soulmate ku. Aku yakin selain diriku pasti masih banyak diluar sana yang dapat membahagiakan Sohyun."
"Wow... yak?! Berkencalan denganku kalau begitu. Pria sebaik dirimu tidak boleh disia-siakan olehku."
TUUK
Woojin berdesir sebal dan melayangkan spatula ke kepala Joy. Membiarkan rasa sakit di kepalanya gadis itu.
"Awww, appo!"
"Dalam daftar wanita yang harus ku hindari kau ada di posisi ke dua."
"Yak, memangnya aku virus? Lalu siapa posisi pertama?"
"Tanpa memberitahu kau juga pasti sudah tahu." Woojin berbalik., maniknya menyapu sekitarnya, mencari tempat kosong yang bisa di isi olehnya bersama Joy.
"Apakah Nakyung?"
Pemuda itu diam.
Mematung,
Seorang gadis cantik dengan wajah yang kecil berdiri sepuluh langkah darinya. Memandang Woojin dengan pandangan yang sulit diartikan.
Joy berbalik, pandangannya langsung bersiobrok dengan Nakyung. Memandang horror gadis itu. Baru beberapa detik ia membicarakannya, gadis itu sudah berada sepuluh langkah darinya.
Sangat horror.
---o0o---
"Sore nanti aku akan bertemu dengan seseorang?"
"Siapa?" tanya Sohyun sembari menyuapkan gimbab untuk Jihoon.
"Dia seseorang yang berarti untukku."
"Apa dia seorang pria atau wanita?"
Jihoon tersenyum, tangannya terangkat kemudian mengacak-acaknya dengan gemas, "Pria, dia sudah ku anggap sebagai saudaraku sendiri."
"Oke, bisakah aku bertemunya nanti?"
Jihoon menggelengkan kepalanya cepat.
Menolak, sungguh dia tidak ingin memperkenalkan Sohyun dengan Daniel. Akan berbahaya jika pacaranya itu bertemu dengan beruang berwajah imut seperti kucing. Bisa-bisa Sohyun akan di goda mati-matian, kemudian Sohyun terpesona dengan pesona maskulin dari pria itu... Danㅡ
Oke berhenti Park Jihoon untuk memikirkan hal yang buruk. Sohyun tidak mungkin jatuh cinta dengan beruang kutub itu, kecuali Danielㅡ
Oh shittt
"Hei apa yang kau pikirkan?" tanya Sohyun menepuk pundak pemuda bersurai hitam itu.
Jihoon melongo kebingungan. Memikirkan hal buruk membuatnya lupa segalaya termasuk Sohyun di sebelahnya.
Gadis itu memandangnya dengan tatapan bingung, namun mulutnya sibuk mengunyah gimbab buatannya. Sadar atau tidak jika saat ini Sohyun sangat menggemaskan.
Kedua pipinya mengembung penuh dengan gimbab, manik beningnya menatapnya dengan ekspresi bingung dan penuh tanya, dan jangan lupan rona merah yang menghiasi pipi chubbynya yang minta di makan.
"Nanti malam mau jalan-jalan di sungai Han? Kita bisa mengajak Sungwon dan Dongbi."
"Aku ingin sekali, tetapi besok ada ulangan. Aku harus berlajar."
"Memboloslah sekali-kali."
"Heol daebak." Sohyun berseru tidak menyangka. "Yak, kau... whoa, ayo putus." Menggelengkan kepalanya. Masih tidak menyangka dengan usulan pemuda itu.
Sohyun tahu, dan mengenal siapa yang di ajak berpacaran. Seorang iblis yang hobi bolos dan melakukan hal buruk pada wanita di bar— tentu saja hal itu dilakukan hanya dengan dibayar, tapi itu dulu. Jihoon mulai menjauhi membalaskan dendam orang-orang.
Tetapi untuk membolos, Jihoon tidak bisa menjauhinya. Dalam seminggu, mungkin ada tiga kali Jihoon bolos, itupun dia akan membawa Sohyun bersamanya. Alasan membawa Sohyun karena dia malas untuk bolos sendirian.
Sohyun tidak mengerti, dari semua sifat buruknya, hanya membolos yang tidak bisa Jihoon hindari. Kata bolos seolah melekat pada nadinya, yang kalau di putuskan akan membunuh Jihoon saat itu juga.
"Kau serius?"
"Eoh, yak! Tidak bisakah kau berhenti membolos, kau bisa berhenti merokok hanya dengan permen karet, kemudian berhenti membalaskan dendam orang-orang karena kau memikirkanku, Tapi, kenapa kau tidak bisa berhenti membolos?"
"Karena saat membolos, aku bersamamu. Aku tidak bisa menjauhi sesuatu yang membuatku dekat pacarku."
Oh Shiit, mulutmu Park Jihoon.
Pipi Sohyun merah semerahnya, bahkan kedua telinganya ikut memerah.
Tangannya terangkat dan memukul pipi Jihoon dengan pukulan sayang. Menjauhkan pandangan mematikan pacarnya itu darinya, Sohyun tidak ingin Jihoon melihat rona merahnya, meski sebenarnya percuma saja karena Jihoon terlanjur melihat rona merah itu.
Sohyun memukul belakang kepala Jihoon dengan sayang. "Berhenti menggoda atau kita benar-benar putus."
Jihoon hanya meringis lalu kembali makan tanpa peduli ancaman kekasihnya itu.
;
"Siang nanti aku akan menemuinya sendiri."
"Apa kau tidak keberatan?" tanya seorang pria bertubuh tegap berdiri dari duduknya, meletakkan berkas kuning diatas meja kerjanya. Kaki panjangnya di langkahkah mendekati wanita berwajah cantik dengan polesan make up tipis di wajahnya.
"Tentu, lagi pula sore nanti aku tidak ada perkerjaan lain."
Sunho tersenyum lebar, "Aku bersyukur kalian sudah mengenal satu sama lain." Ucapnya dan wanita itu tersenyum malu-malu. "Dimana kalian bertemu?"
"Eum... di bar, saat itu Jihoon bekerja di sana sebagai bartender."
"Sungguh?" Sunho duduk di sofa kulit sintetisnya, memandang Lia dengan pandangan tidak percaya bahwa Jihoon pernah bekerja sebagai seorang bartender.
Perlu di ingat sekali lagi, Park Sunho adalah salah satu seorang ayah yang tidak memperhatikan kegiatan anak-anaknya. Fokusnya hanya pada pekerjaan. Ia mengharapkan yang terbaik dari anak-anaknya tanpa harus memperhatikan kegiatannya, kemudian menjadi murka saat salah satu putranya melakukan kesalahan, melimpahkah semua kesalahan itu pada putranya sendiri.
Jika seperti ini, apakah Sunho pantas di sebut sebagai ayah?
Jawabannya tentu tidak. Dia tidak pantas.
"Apa anda tidak tahu?" tanya Lia.
Sunho menggelengkan kepalanya seraya tersenyum bodoh dan tidak merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan selama ini.
"Tidak, lain kali aku akan memperhatikannya."
Anggap saja apa yang diucapkan Sunho adalah angin lalu, yang hanya dapat dirasakan saat itu juga kemudian menghilang sejalannya waktu.
Percayalah, hampir setiap kali Sunho mengatakan hal itu. Maka setiap kali dia mengingkari ucapannya sendiri.
Ingat, dia bukanlah ayah yang baik untuk anak-anak dan seorang suami yang baik untuk istrinya sendiri.
"Aku harap anda melakukannya. Cobalah untuk memperhatikan Park Jihoon."
Tersenyum tipis dan menganggukki kepalanya. "Tentu."
Bulshit Park Sunho.
.
Sohyun duduk sendirian di taman belakang, tepat dibawah pohon rindang. Tempat yang begitu sejuk dan tenang. Ada beberapa murid yang sedang menikmati jam istirahatnya disini, tapi tidak mengurangi ketenangan yang ada. Sebagian dari mereka memilih untuk membaca buku atau mengobrol dengan nada sedikit pelan.
Ingatkah kalian tempat pertama yang dikunjungi Sohyun bersama Woojin, dimana Jihoon tiba-tiba datang dan mengakui dirinya sebagai kekasih Sohyun,
Sohyun tertawa pelan mengingat kejadian hari ini. Begitu khonyol dan tiba-tiba.
Tidak menyangka waktu terlalu cepat berlalu, ada begitu banyak kejadian yang ia lalui. Bertemu dengan Jihoon, berlari seperti di kejar hantu dan berakhir berciuman dengan pemuda asing; di saat yang tidak tepat dia telah memiliki Doyoung sebagai kekasihnya. Kemudian ia jatuh cinta dengan Jihoon, berkencan secara serius dengan seorang pemuda yang memiliki reputasi buruk di sekolahnya sendiri.
Ah, tentang Doyoung. Sepertinya Sohyun harus bertemu dengan pria itu dan menyelesaikan masalah mereka lagi, agar tidak ada lagi kesalahpaham yang terjadi di masa depan, dan tidak ada lagi hati yang terluka setelah ini.
Semuanya harus jelas.
"Ini minumlah."
Jihoon mendekat dan memberikan minuman soda pada Sohyun. Gadis itu memperbaiki posisinya, merapikan rok sekolanya.
"Makasih." ucapnya sambil tersenyum cerah. Secerah matanya memandang Jihoon.
Pemuda bersurai hitam itu duduk di sebelah Sohyun dan meneguk rakus sodanya.
"Sepulang sekolah ayo belikan Dongbi makanan. Aku lihat stok makannya hampir habis."
"Ahh benar, untung kau mengingatkanku."
Jihoon mencubit hidung Sohyun. "Dasar pelupa."
"Ihh" Sohyun menggerutu, menepis tangan Jihoon dari hidungnya. "Sakit bodoh."
Jihoon tertawa, mengusap sayang rambut Sohyun lalu membaringkan kepalanya di paha Sohyun. Pemuda bersurai hitam ini bertindak terlalu agresif. Meski mereka saat ini berada di sekolah, tepat dihadapan banyak siswa siswi, Jihoon selalu memperlihatkan kemesraannya bersama Sohyun. Ia tidak merasa terganggu ataupun merasa malu.
Untuk model brandalan seperti Jihoon, hanya dengan melayangkan tatapan tajamnya yang membunuh mampu membuat beberapa mata yang memperhatikannya kembali fokus pada kegiatan awalnya dan menghindari tatapan Jihoon dengan perasaan takut.
Takut jika pandangan mereka bertemu maka akan membawa sebuah malapetaka untuknya.
"Sohyun?"
"Heum."
"Aku bahagia bisa bertemu denganmu saat itu."
Perkataan tiba-tiba dari bibir Jihoon sontak membuat Sohyun menundukkan kepalanya. Memandang pemuda itu penasaran dan menuntut penjelasan lebih pada Jihoon.
"Saat di rooftop?" tanya Sohyun. Jihoon menggelengkan kepalanya cepat, membuat poninya ikut bergerak mengikuti gerak kepalanya. "Lalu?"
"Di bandara, aku melihatmu mengenakan pakaiaan serba pink. Yakhh—" seru Jihoon, "Apa kau tidak sadar hari itu kau terlihat seperti power rangers pink." Jihoon menyisir rambutnya yang berantakan dengan jarinya.
"Sungguh?" tanya Sohyun penasaran. Matanya membulat imut dan bibirnya membentuk o kecil yang terkesan menggoda Jihoon untuk menyentuhnya.
Jihoon terkekeh, "Aku serius." sambil mengangkat dua jemarinya membentuk peace sign. "Aku berpikir saat itu kalau kau adalah manusia aneh yang menggunakan pakaiaan serba pink." lanjutnya.
Sohyun memutar matanya malas, "Manusia aneh yang kau maksud ini tidak lebih parah dari pada manusia yang sedang berbaring di pahaku. Apa kau tidak pernah bercermin?"
"Aku selalu bercermin dan melihat wajahku sangat tampan."
"Auhh menjijikkan."
"Pffft.." Jihoon tertawa kerasa, bahkan lebih keras dari sebelumnya.
Sohyun menghembuskan nafasnya kasar. Dia kesal, tetapi Jihoon menertawainya dengan alasan yang tidak di ketahuinya.
"Aku mencintaimu."
Jihoon meraih tangan Sohyun, menggenggam tangan gadis itu erat, seperti dia tidak akan membiarkan genggamannya lepas. Mendekatkan punggung tangan Sohyun dan mengecupnya begitu lembut.
Sohyun melihat senyuman tampan itu dan tatapan yang menatapnya penuh cinta.
Satu alasan yang Sohyun ketahui mengapa ia bisa jatuh cinta pada Jihoon,
Itu karena pemuda itu adalah Park Jihoon.
Seorang anak laki-laki yang datang secara tiba-tiba kemudian mendeklarasikan dirinya sebagai kekasihnya. Seorang anak laki-laki yang membuat dirinya tidak pernah takut untuk menghadapinya, meski semua murid di sekolahnya menyeganinya, mengatakan jika pemuda itu telah membunuh seseorang. Dan juga seorang anak laki-laki yang memperlakukannya cukup baik, meski Jihoon pernah membuatnya menangis.
Mereka telah lama bersama, tidak ada keraguan lagi untuknya.
Ia mencintai pemuda bersurai hitam itu. Sangat mencintainya.
Bahkan Sohyun berpikir jika ia tidak bisa hidup tanpa Park Jihoon.
"*Aku juga—
—aku mencintaimu, Park Jihoon*."
Tetapi, Sohyun belum cukup berani mengungkapkannya. Simpanlah kalimat itu untuk sementara waktu. Sebelum ia mengucapkan kalimat yang kuat itu, Sohyun harus menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu.
Bertemu dengan Doyoung...
Semoga tuhan, membantunya kali ini untuk bertemu dengan Doyoung.