
Semua atensiku terahlihkan pada 'dia' yang berjalan membawa sekumpulan aura hitam disekitarnya
Aku hanya diam disini, menatapnya yang semakin mendekat ke arahku.
Satu dua langkah mungkin ... Sebelum menabrakku, dia menghentikan langkahnya.
Menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan.
Aku tidak mengerti, mengapa ia harus menghentikan langkahnya tepat dihadapanku, menatapku dengan pandangan datar seperti itu.
Dia diam
Tapi tidak dengan aura menyeramkan disekelilingnya
Aku takut...
Aku ingin lari menjauh darinya
Tapi kakiku seolah terpaku disana. Berdiri seperti orang bodoh dihadapan semua siswa.
Satu langkah dia mendekat
Lagi
Dan lagi
Kurasakan hembusan nafanya menerpa leherku. Semua bulu kuduku berdiri, rasanya sangat menegangkan dan meyeramkan.
Seolah beberapa iblis menghampiriku.
Aku merasakan jantungku berhenti berdetak.
Kudengar suara berat itu mengalun di telingaku.
Aku menoleh menatapnya takut, dia menoleh dan memperlihatkan smirknya.
Pandangan kami bertemu, hanya berberapa detik. sebelum ia mengulang kembali perkataannya.
"Aku menemukanmu." -unknown
•••
Title : The Demon
A Story written By : Shihan
Casting by :
Maroo Entertainment
E&T Entertainment
Teaser : Youtube ➡ Rabbit Fam Jh
Happpy reading ...
-------oOo-------
Krrriinngggg
Suara bel itu terdengar cukup nyaring di sekolah elit yang beberapa jam tadi hening.
Para siswa dan siswi memasukkan buku, pulpen ataupun benda-benda yang berceceran diatas meja masuk kedalam tas. Setelah itu melangkahkan kakinya keluar kelas.
Pemuda tampan bersurai merah itu masih duduk dikursinya, menyembunyikan wajahnya di balik lipatan tangan diatas meja. Ia masih enggan sekedar bangun hanya untuk membereskan alat-alat belajarnya ─ ralat ─ bahkan ia tidak mengeluarkan sama sekali alat belajarnya.
"Park Jihoon!"
"..."
"Jihoon-ah."
"..."
"Jihoonie."
"...?!"
"Yak Jihoonie bangun."
"Sekali lagi kau memanggilku seperti itu akan kupastikan kau tidak bisa menghirup udara segar besok pagi!"
Suara berat sedikit serak itu terdengar dibalik lipatan tangannya. Tanpa mengangkat kepalanya memperhatikan sosok pemuda lain memanggilnya, ia sudah tahu lebih dulu siapa yang telah mengganggu ketenangannya.
Pria bersurai hitam itu menarik sudut bibirnya, tersenyum kecil pada sosok pria bersurai merah itu.
"Cepat bangun dan ikut aku,"
"Tidak perlu memperdulikanku sialan, pulanglah. Ayah dan ibu hanya ingin melihatmu."
Jihoon ─pria bersurai merah ─ mengangkat kepalanya menatap sinis pemuda berkulit tan di sampingnya. Ia berdiri dari duduknya menarik kasar ranselnya.
Ia melangkah menjauh, tidak memperhatikan sosok yang sejak tadi mengganggu ketenangannya.
"Pulanglah jam 7, jangan terlambat, tidak ada aroma rokok dan alkohol. Hari ini kakek ulang tahun, dan kita mengadakan acara keluarga dirumah"
Jihoon menghentikan langkahnya. Jika kalian pikir dia akan membalikkan badannya kalian salah. Ia bahkan enggan untuk menatap pria bersurai hitam itu.
Ia tersenyum remeh. Masih bertahan pada posisinya membelakangi saudaranya.
"Keluarga? aku bukan termasuk keluargamu Park Woojin." Ucapnya sebelum ia melangkah meninggalkan kelasnya.
Woojin memperhatikan punggung lebar itu menjauh dan menghilang diperbelokan.
Pria itu, Jihoon. Seharusnya Woojin menarik tubuh Jihoon untuk ikut dengannya pulang bersama. Memintanya seperti tadi tidak akan berbuah manis.
1000%, Woojin yakin saudara brengseknya itu tidak akan hadir di acara ulang tahun kakeknya.
.
.
"Hei Park Jihoon."
Pemuda bersurai merah yang hendak mengenakan helmnya itu menoleh.
Pemuda tampan nyaris cantik itu tersenyum lebar, berlari kecil mendekati Jihoon yang masih di area parkir sekolahnya.
"Ada apa?"
"Setelah ini kau mau kemana?"
"Apa itu penting?"
Pemuda tampan itu menganggukkan kepalanya cepat. Ia tersenyum.
"Iya, cepat katakan kau mau kemana setelah ini."
"Pulang." Jawab singkat Jihoon. Kedua tangannya terangkat hendak mengenakan helmnya sebelum tangan putih mulus itu menghentikannya.
Jihoon menoleh, menatap nyalang pemuda disampingnya.
"Jawab yang benar Park Jihoon."
"Oh shitㅡ aku dalam mode benar-benar malas melademu Na Jaemin. Lepaskan tanganmu atau kau tidak akan menghirup udara segar besok."
Jaemin melepasakan tangannya dari tangan Jihoon kasar. Ia berdesis kesal melihat salah satu ──errr teman yang menjerumus sahabat itu bertindak acuh padanya.
Jihoon memutar matanya malas. Meletakkan dengan malas helmnya diatas tangki bensin motornya.
"Memangnya ada apa? Jika ini bukan hal yang serius maka kau benar-banar akan menjadi mayat besok. Beritahu ibumu malam ini jika perlu agar dia tidak terkejut ketika melihat putranya tergeletak diatas rooftop besok pagi."
Jaemin menoleh. Mulutnya dan matanya terbuka lebar setelah mendengar kalimat panjang sahabatnya.
Errr benar-benar gila. Pria itu hanya akan mengucapkan kalimat panjang hanya ketika dia benar-benar ingin merencanakan pembunuhannya pada dirinya.
"Apa aku harus menulis di guinness world records. Kalimatmu itu panjang sekali Park Jihoon."
"Oh shiit kau benar-benar ingin kubunuh Na Jaemin."
Pemuda tampan nyaris cantik itu terkekeh geli. Jihoon menarik sudut bibirnya, ia tersenyum kecil dan Jaemin tidak menyadarinya.
"Ada apa sebenarnya?"
"Aku ingin mengajakmu kebandara. Ibuku memintaku untuk menjemput sepupuku yang baru kembali dari Inggris."
"Kau memiliki sepupu?"
"Eiyyy tentu saja. Mau yah, menjemputnya seorang diri akan membuat suasana semakin awkward."
"Dia sepupumu kenapa kau canggung dengannya. Dasar."
"Ini pertemuan kami setelah 11 tahun tidak bertemu lagi. Semenjak dia pindah ke Inggris kami tidak pernah saling menghubungi lagi."
Jihoon terdiam.
Sementara Jaemin terus berbicara perihal sepupunya yang baru saja tiba dari inggris.
Jihoon sebenarnya malas diajak pergi kebandara oleh Jaemin, terlebih ini menjemput seseorang. Ia terlalu lelah untuk melakukannya. Ia telah membuat jadwalnya sendiri setelah ini, kembali kerumah tidur beberapa jam kemudian pergi lagi.
Ia hanya ingin istirahat sebelum melakukan kegiatan yang akan menguras tenaganya malam nanti.
Tapi Jaemin, sepertinya sangat membutuhkan bantuannya itu.
"Mau ya.. Uhmm."
Jaemin mendekat, menggelayutkan tangannya di tangan Jihoon. Wajahnya dibuat imut-imut, matanya berkedip-kedip. Err sangat menjijikkan dimata Jihoon.
"Menjauh dariku bodoh!" Jihoon mendorong kepala Jaemin dengan jari telunjuknya. Menatap jijik sahabatnya itu.
"Kalau begitu temani aku. Oke."
"Memangnya sepupu mu itu wanita atau pria?"
---
Drrrrdd drrrrrdd
Gadis cantik bersurai hitam itu merogoh tas selempang pinknya, mengeluarkan benda persegi dari dalam sana. Ia tersenyum, menggeser ikon hijau dan mendekatkannya ditelinganya.
"Huh mom."
"Apa kau sudah sampai sayang?"
Gadis itu menganggukkan kepalanya, mata bulatnya mengamati sekitarnya yang tampak ramai.
"Aku baru saja sampai. Mom kurasa aku akan betah tinggal di Korea."
Sosok wanita paruh baya diseberang sana terkekeh mendengar penuturan putri sulungnya.
"Jadi kau tidak akan kembali ke Inggris lagi? Huhh dasar kau."
Gadis itu tersenyum. Menghentikan langkahnya sejenak, menaikkan hoodie pink berkarakter itu.
"Mom tidak perlu khawatir, aku akan pulang saat libur nanti."
"Baiklah, ahya bagaimana dengan tempat tinggalmu sayang? Kau yakin tidak akan tinggal dirumah bibimu?"
Untuk kedua kalinya ia menganggukkan kepalanya.
"Tidak mom, jarak rumah bibi jauh dari sekolah baruku. Lagi pula bibi mempunyai anak laki-laki. Aku malu."
Terdengar tawa renyah diseberang sana. Gadis itu ikut tersenyum, dan melanjutkan jalannya. Jangan lupakan satu tangannya yang bebas menarik koper pinknya.
"Kenapa harus malu, dia sepupumu. Kalian dari kecil sudah sangat dekat, sampai mandi bersama."
"Mom."
"Oke oke i'm sorry darling. Terus kau akan tinggal dimana sayang?"
"Aku sudah memberitahumu mom, jika aku akan tinggal di apartemen berbasis studio yang dekat dengan sekolahku."
"Bukankah itu sangat sempit sayang? Tempat tinggal berbasis studio itu sangat sempit."
"Aku hanya tinggal seorang diri Mom, aku tidak memerlukan tempat tinggal yang sangat luas."
Terdengar helaan nafas panjang disana.
"Nanti kirimkan alamatmu oke, mommy, daddy, dan adikmu akan mengusahakan mengunjungimu musim panas nanti. "
"Really?"
"Iya sayang,"
"Azzaa... aku akan mengirimkan alamatnya setelah aku sampai."
"Baiklah, kalau begitu sudah yah sayang. Mommy harus menyiapkan keperluaan adikmu ini."
"Oke, sampaikan salamku pada Daddy and my little brother."
"Oke, hubungi mommy lagi jika kau sudah sampai."
Gadis itu menganggukkan kepalanya.
"love you too sweety."
Bib
Gadis cantik itu meletakkan kembali ponselnya di tas selempangnya setelah panggilannya berakhir beberapa detik yang lalu.
Ia menghirup nafas dalam, menikmati udara korea yang sangat dirindukannya.
Setelah 11 tahun meninggalkan korea selatan akhirnya ia bisa kembali ke tempat ini, melanjutkan studinya di negera kelahirannya.
Ahh betapa menyenangkannya bisa kembali ketanah kelahiran.
Gadis itu melangkah, menarik kopernya. Ia melangkahkan kaki ringannya menuju pintu keluar. ia sudah tidak sabar sampai di tempat tinggal barunya, dan menemui seseorang yang membuatnya kembali ke seoul.
.
Jihoon menyenderkan punggungnya di dinding mobil sedan hitam. Sementara Jaemin sudah menghilang beberapa menit yang lalu untuk mencari sepupunya yang baru tiba di korea.
Jihoon memutuskan untuk menunggu di mobil saja, ia tidak ingin menghabiskan waktunya mencari seseorang yang tidak dikenalinya itu. Ia hanya ingin istirahat.
Ia menolehkan kepalanya kanan dan kirinya, mengamati setiap gerak gerik manusia yang beralulalang di sekitarnya. Hingga pandangannya berhenti, pada sosok wanita bersweter pink, celana jeans sepanjang diatas lutut berwarna putih, separu kets pink dan jangan lupakan koper nyentrik berwarna pink nya. Jika saja kulitnya pink, rambut hitamnya berada didalam hoodie dan celananya berwarna pink juga maka dia akan menjadi Power Rangers.
Wanita terlihat cukup jelas diantara ratusan orang-orang di sekitarnya. Pakaiannya yang yang serba pink itu membuatnya terlihat berbeda. Anggap saja dia sebuah kupu-kupu pink yang posisinya diantara kupu-kupu putih. Nyentrik bukan?
Jihoon ingin berhenti memandangi wanita nyentrik itu, tapi matanya seolah terpaku melihat tingkah imutnya ketika mendapatkan taksi. Ia seperti seorang yang baru melihat taksi saja.
"Jihoonie"
Jihoon menoleh saat panggilan menjijikkan itu ditujukan padanya. Mengalihkan atensinya pada Jaemin yang berlari kearahnya.
Jihoon memutar matanya malas, kemudian memperhatikan sosok dibelakang Jaemin. Ia tersenyum kepada Jihoon, dan sayanganya Jihoon hanya diam tak menanggapi sapaan sosok itu.
Jaemin memperhatikan Jihoon, ia tersenyum dan memperbaiki posisinya.
"Kenalkan dia sepupu yang kumaksud."
"Hei kenalkan namaku Lee Taeyong." pria berwajah anime itu tersenyum. Mengulurkan tangannya, bersalaman dengan Jihoon.
Jihoon terdiam, memperhatikan kulit putih pria dihadapannyan.
Jaemin melirik Jihoon yang tidak berhenti memperhatikan uluran tangan sepupunya. Jaemin menyenggol pelan Jihoon, menyadarkan sahabat iblisnya itu membalas uluran tangan sepupunya.
"Park Jihoon." Jihoon membalas uluran tangan pria itu, menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman yang menurut Jihoon biasa saja.
.
Pria bersurai merah itu keluar dari dalam mobil sedang milik Jaemin, ia menunduk sedikit kedalam mobil, saat suara dari dalam mobil memanggilnya.
"Jihoonie"
"Wae?" tanya Jihoon dengan nada beratnya. Jaemin terkekeh mendengar suara khas kesal sang iblis.
"Tidak, kau yakin tinggal ditempat ini?"
Jihoon mengangguk. "Memangnya ada apa?"
Jaemin menggelengkan kepalanya. ia tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang rapih.
"Tidak apa-apa, hanya saja ini terlalu -"
"Park Jihoon kau mau ikut denganku malam nanti?" timpal Taeyong. Jihoon melirik pria berwajah anime itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ada suatu tempat yang ingin kukunjungi."
Jihoon masih bertahan dengan ekspresinya. Taeyong tersenyum, "Kalau kau tidak mau ya tidak apa-apa, aku tidak memaksa."
"Baiklah, jemput saja aku disini."
Taeyong menganggukkan kepalanya. Jihoon melirik Jaemin yang duduk di kursi kemudi.
"Pulanglah dan datang lagi nanti." Jihoon menegakkan badannya.
"Baiklah, kami pulang dulu." teriak Jaemin dari mobil, Jihoon mengangguk pelan kemudian mobil itu berjalan perlahan meninggalkan Jihoon.
Beberapa detik mobil sedan mahal itu melaju menjauh darinya. Jihoon berniat membalikkan badannya, melanglahkan kakinya menaiki tangga untuk memasuki rumahnya. Namun saat Jihoon menoleh, sesuatu serba pink itu menarik perhatiannya.
Sweter pink, koper pink, tas selempang pink, dan sepatu pink. Jihoon mengernyitkan keningnya, wanita yang dilihatnya di bandara itu ada disini juga.
"Ahhh uncle itu. Seharusnya dia menurunkan ku di tempat tujuan. Kalau begini bagaimana aku tahu dimana tempat tinggalku." Guman wanita itu memperhatikan jejeran bangunan di sekitarnya.
Jihoon masih diam memperhatikan wanita itu yang terlihat kesulitan. meski wanita itu terlihat kesulitan, tidak sama sekali terniat pemuda bersurai merah itu menghampiri wanita serba pink itu untuk membantunya.
Heol.
Wanita pink itu jongkok, memeluk lutunya sendiri. Sayup-sayup Jihoon mendengar suara isakan tangis wanita itu, pemuda bersurai merah itu mengangkat alisnya bingung. Bagaimana bisa wanita itu menangis di tengah jalan, bagaimana jika ada sebuah mobil datang dan menabraknya.
Jihoon ingin menghampiri wanita pink itu, ingin rasanya ia memarhinya. Namun dewi Fortuna sepertinya berpihak pada wanita pink itu. Seorang pria bertubuh tegap itu memanggil Jihoon dari arah belakang.
"Park Jihoon."
Jihoon menolehkan wajahnya, melihat sosok pria yang memanggil namanya.
Pria itu tersenyum, memperlihatkan dimple yang sangat indah di kedua pipinya.
"Apa?" tanya Jihoon datar, satu tangannya dimasukkan ke saku celana sekolahnya.
"Ibumu datang dan menitipkan ini."
Jihoon terdiam, mata coklatnya menatap datar bungkusan kain yang ditenteng oleh pria berdimple dalam itu. Jihoon mengangkat pandangannya, menatap pria dihadapannya yang masih menyunggingkan senyum mautnya.
"Buang saja, aku tidak membutuhkannya."
"Park Jihoon kau tidak boleh seperti itu. Ini pemberian ibumu."
"Aku bilang buang saja, kau punya telinga tidak sih." Ucap Jihoon yang suaranya dinaikkan satu oktaf. Pria bersurai hitam itu terdiam, menurunkan tangannya yang sejak tadi terangkat untuk memberikan bingkisan ibu Jihoon.
Jihoon membuang nafas kasar, diangkatnya tasnya ke atas pundaknya. Moodnya kembali hancur, dan salahkan bingkisan sialan itu. Bingkisan yang membuatnya kembali bad mood.
Jihoon melangkahkan kakinya, meninggalkan tempat itu. Tidak, ia bukannya masuk ke rumahnya tapi dia pergi menjauh entah kemana asal pikirannya kembali jernih.
---
Suara alunan musik DJ menggema diseluruh ruangan bar, semua orang yang sengaja berdatangan ke tempat ini sangat menikmati alunan musik tersebut karena memang sudah khasnya gedung bar dipenuhi dengan suara musik seperti itu.
Beberapa manusia menari dengan gerakan abstrak, menggoyangkan tangan, pinggul dan kaki mengikuti ketukan musik yang dimainkan.
Berbeda dengan seorang pria bersurai merah, ia duduk di sofa merah marun, sesekali mengirup tambakaunya yang terasa nikmat. Mata nyalangnya memperhatikan sekitarnya yang tampak memuakkan.
Disana, dilantai sanda seorang wanita berpakaiaan kurang bahan menari bersama beberapa pria asing, membiarkan tubuhnya disentuh begitu saja dengan tangan laknat itu.
Jihoon menautkan kedua alisnya, saat adegan tidak terduga dilihatnya secara langsung. Wanita itu menarik kerah baju pria kemeja putih itu, melumat bibir tebal milik pria itu. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu pria kemeja putih itu melingkarkan tangan laknatnya di pinggan wanita cantik itu, menariknya semakin dekat dalam pelukannya.
"Cih, dasar jalang." jihoon mematikan rokoknya diatas asbak hitam. Tangannya bergerak meraih gelas wine dan meneguknya terburu.
Ia meletakkanya dengan kasar setelah menghabiskan wine merah miliknya. Bangun dari duduknya dan melangkah mendekati wanita itu.
Beberapa orang yang menyadari kehadiran Jihoon langsung terdiam, mengamati kemana tujuan anak sekolah itu.
Ahh apa aku tidak memberitahu kalian jika Park Jihoon ini masih mengenakan seragam sekolahmya lengkap?
Bahkan tas ranselnya masih melekat di punggung nya itu. Percayalah ia masih terlihat sama seperti saat disekolah.
Jihoon menarik wanita cantik itu, melepas secara paksa ciuman mereka.wanita cantik itu membuka mulut hendak marah, namun sebelum itu terjadi Jihoon meraup bibir mungil wanita itu, melumatnya dan mengigitnya, seolah bibir itu menjadi candunya.
Tidak ada rontaan, wanita itu memejamkan matanya, menikmati sentuhan pria itu dibibirnya. Membuka mulutnya membiarkan lidah pria yang tidak dikenali itu masuk dan bertarung dengan lidahnya.
Sebagaian orang yang menyaksikan adegan itu langsung mengeluarkan ponselnya, merekamnya adegan yang langka seperti itu.
Jihoon melepaskan tautannya, menatap remeh wanita dihadapannya. Kembali mendekat, kali ini ia mendekatkan bibirnya di telinga wanita cantik itu.
"Berapa hargamu jalang?"
Wanita cantik itu membuka matanya, melirik pria bersurai merah itu dengan pandangan tidak suka.
Apa maksudnya dengan harga? Dan jalang?
Mendorong tubuh Jihoon menjauh darinya.
Pria itu menyeringai devil, membersihkan bibirnya yang terdapat noda saliva disana. Ia melirik pria kemeja putih, tersenyum remeh dan dibalas dengan pria itu.
"Aku akan membayarmu lebih jika kau mau menjadi maidnya. Bahkan hutang-hutang ayahmu akan lunas asal kau menjadi maid pria itu."
"Apa?"
"Whoaa kenapa kaget seperti itu jalang." pria kemeja putih itu mendekat, mengangkat tangannya dan meletakkannya di pundak Jihoon.
"Bukankah itu keinginanmu menarik perhatianku sejak tadi."
Jihoon membungkukkan sedikit punggungnya, mendekatkan wajahnya dihadapan wanita jalang itu.
"Kau harus membayar mahal atas apa yang kau lakukan pada temanku." bisiknya pelan, nyaris tidak tersengar karna alunan musik dj masih menggema diruangan itu.
Wanita itu mengangkat satu alisnya, menatap Jihoon dan pria berkemeja putih secara bergantian.
"Sialan."
Jihoon tertawa pelan, memperbaiki posisinya. Ia menoleh menatap pria disampingnya.
"Kau bisa menyelesaikannya kan? Aku harus pergi dari sini."
"baiklah, serahkan dia padaku."
Jihoon mengangguk sebelum ia melangkah meninggalkan tempat itu. Dengan sengaja Jihoon menabrakan pundaknya dengan pundak wanita itu.
Saat berada di luar bar, seorang pemuda berkaca mata nerd memberikan amplop coklat kepada Jihoon. Jihoon menerimanya dengan senang hati, membuka amplop itu, melihat beberapa lembar dollar yang didapatkannya.
"Gomawo."
Jihoon menoleh, menatap datar sosok pemuda bodoh disampingnya.
"Tidak masalah." Jihoon memasukkan amplop isi uangnya itu kedalam tasnya.
"Lain kali berkencanlah dengan wanita seumurmu atau selevelmu." ucapnya. "Kau kutu buku, seharusnya kau mencari yang kutu buku juga."
pemuda itu menundukkan kepalanya. Jelas saja ia menunduk, pria dihadapannya itu teman sekolahnya. Dan seseorang yang disegani di sekolah.
Tidak ada yang berani menatap matanya, dan tidak ada yang berani berdekatan dengannya meski 1 menit.
"atau kau sekalian tidak perlu berkencan. Perbaiki penampilanmu itu dulu,"
"..."
"Cuihh"
Jihoon membuang ludahnya ke samping. tangannya terangkat menghapus jejak salivanya.
"Err bahkan aku menyentuh bibir menjijikkan itu."
Pemuda nerd itu mengangkat wajahnya melihat Jihoon yang terlihat kesal menghapus jejak bibir wanita itu dibibirnya.
"seharusnya kau membayarku lebih."
"Maafkan aku, aku akan membayar kurangnya disekolah."
"Ahhh tidak perlu. Aku sudah tidak menginginkannya." Ucapnya sebelum melangkah meninggalkan bar.
Pemuda nerd itu mengamati punggung Jihoon yang perlahan menjauh darinya.
Ia ingin bersuara lagi, menayakan sesuatu yang mengganjal dihatinya. Pemuda itu ingin tahu satu hal tentang Jihoon.
"PARK JIHOON!" teriaknya memanggil Jihoon dengan lantang.
Jihoon menghentikan langkahnya, membalikkan badannya menatap datar sosok pemuda nerd di depan pintu masuk club.
"APA?" teriak Jihoon takkalah kalah dari pemuda nerd itu.
"Kau bilang aku harus mencari yang selevel dengan ku. Lalu bagaimana denganmu?"
"Apanya?"
"Apa kau juga mengencani iblis sepertimu?"
Jihoon tertawa, iblis? Bahkan sebutan itu tidak terkejut ataupun marah. Jihoon bukanlah orang bodoh, ia tahu semua teman kelasnya menyebut dirinya sang iblis. Dan ia tidak masalah, toh dia memang iblis.
"Tentu. tapi bukan iblis."
"Apa maksudmu?"
"Bukankah iblis berpasangan dengan malaikat?"
"Tapi-"
"Iblis butuh malaikat untuk mengubahnya. Kau tahukan maksudku Huang Renjun."
Jihoon menyeringai, ia membalikkan badannya dan melanjutkan jalannya.
Sementara Renjun hanya diam, memikirkan kembali perkataan Jihoon.
Iblis membutuhkan malaikat untuk mengubahnya.
"Ahh aku harap kau segera menemukan malaikatmu."
To be continue