
Happy reading
Tekan 🌟 sebelum membaca
.
.
-------oOo-------
"Haa~"
Gadis cantik itu merebahkan tubuhmya diranjang pinknya. Menatap langit-langit kamarnya yang diberikan hiasan bintang disana.
Ia suka bintang, bahkan ia bermimpi dapat terbang dan memetik bintang itu.
Baginya bintang itu sesuatu yang indah, meski bersinar dilangit yang gelap, dia tidak sendirian. Ia memiliki banyak teman yang mengiasi langit semakin indah dengan cahaya nya. Dan jangan lupakan bulan yang selalu menemaninya.
Ia ingin menjadi bintang, meski ia harus menjadi indah disaat semua orang terlelap dalam tidurnya, bersinar terang ditempat yang dilangit yang gelap. Itu tidak masalah baginya.
Kruuyuukk krruuyyuk
Terlalu lelap dalam pikirannya, gadis itu tidak sadar akan satu hal. Ia mendudukkan tubuhnya, memegang perutnya yang berbunyi, meminta untuk diisi.
Ia menepuk keningnya sendiri, menyadari satu hal.
Ia lupa membeli bahan makananya.
Buru-buru ia memyambar carding hitam, dan dompetnya. Ia berjalan keluar dari rumahnya, menuruni anak tangga.
"Ohh Sohyun-ssi."
Gadis yang dipanggil namanya itu menoleh. Menatap sosok pria jangkukung mengenakan apron maron itu diluar, tangannya sepertinya sibuk dengan dua bungkusan hitam.
"Ahh anyyeonghaseo Jaehyun-ssi."
Sohyun membalikkan badannya, melangkah mendekati pria berlesung pipi itu.
"Mau kemana malam-malam begini?"
"Membeli makanan diluar. Mau membuang sampah yah?" Tanya Sohyun mengamati dua kantong besar ditangan Jaehyun.
Jaehyun menganggukkan kepalanya. Ia melangkah mendekati tong sampah, Sohyun mengikutinya dan membantu pria berlesung pipi itu membuang sampah.
Jaehyung tersenyum, "terimakasih Sohyun-ah."
Sohyun hanya menganggukkan kepalanya. "Aku pergi dulu yah..." Ucapnya sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan Jaehyun.
.
"Berapa semuanya?" tanya Sohyun pada seorang kasir dihadapannya.
"20.000 won."
Sohyun membuka dompetnya, mengeluarkan beberapa uang. Ia hanya membeli beberapa ramen dan susu, malam ini ia hanya perlu mengisi perutnya dan besok ia akan pergi berbelanja di pasar swalan.
Tsk!
Sohyun menoleh menatap sosok pria berjaket hitam dan bermasker.
Ia menggelengkan kepalanya pelan, kembali menundukkan kepalanya mengamati lembaran uang yang harus diberikan kepada kasir.
"Bayar sekalian."
Sohyun menoleh saat mendengar suara berat itu memerintahnya untuk membayar belanjaannya.
Heol yang benar saja.
Sohyun ingin tahu wajah pria itu, namun tak ada celah baginya untuk melihat wajah misterius itu. Yang dapat Sohyun lihat hanyalah surai merah dan mata coklat pria itu .
Pria bersurai merah itu menoleh, menatap tajam wajah Sohyun.
"Bayar saja dulu, nanti akan kuganti saat diluar."
"Apa aku bisa mempercayaimu tuan?"
"Ssshhtt." pria itu berdecak kesal melihat sosok wanita berkaos putih berlengan pendek dengan rok pink selutut. Ia terlihat menggemaskan dengan rambut yang diikat naik, memperlihatkan leher putih jenjangnya.
Jihoon ingin marah pada gadis mungil itu. Tapi Sohyun terlalu menggemaskan untuk dimarahi oleh iblis sepertinya.
Sohyun membuang mukanya, melihat kasir yang masih melongo menatapnya.
"Berapa semuanya? Termasuk dengan belanjaannya."
Sang kasir itu meraih soju dan mengscentnya.
"23000 won."
"Ck hanya menambah 3 ribu won saja susahnya." Jihoon mengambil sojunya, berjalan keluar dari mini market.
Sohyun berdecak sebal mengamati pria asing itu. Bukannya berterimaksih malah membual tidak jelas.
.
Sesaat berada diluar, Sohyun segera menghampiri pria berjaket hitam itu. Mengulurkan tangannya meminta uangnya kembali.
Heii ingat, Jihoon mengatakan akan mengembalikan uangnya.
"Mana?"
Jihoon mengangkat wajahnya yang masih tersembunyi dibalik masker hitamnya
"Apanya?"
"Uangku, 3000 won."
"Ck, nanti saja. Aku lupa membawa uangku."
Sohyun memutar matanya malas. Melipat tangannya diatas perutnya.
"Bilang saja uncle tidak punya uang."
Jihoon berdecak kesal, bisa-bisa wanita dihadapannya memanggilnya dengan sebutan paman. Heii umurnya baru saja 18 tahun.
"Aku memiliki uang, hanya saja ketinggalan dirumah."
"Ya ya ya ... Aku sudah mendengar 1000 kali alasan tidak masuk akal itu. Uncle, sebaiknya kau mencari pekerjaan jika kau ingin minum-minum. Jangan menyusahkan orang lain."
Sohyun berjalan meninggalkan Jihoon. Pemuda itu membalikkan badannya mengamati punggung mungil itu menjauh darinya. Ia berdecak kesal melihat kepergiaan wanita itu, sifatnya terlalu ... errr Jihoon tidak suka.
Jikapun mereka bertemu lagi, akan Jihoon pastikan wanita itu menjadi daftar hitam yang harus dia hancurkan.
Tangannya meremat botol sojunya, menolehkan kembali kepalanya untuk mengamati punggung kecil itu semakin menjauh darinya. Jihoon merasa pernah melihat wanita itu sebelumnya tapiii ── ahh power rangers pink.
Jihoon tersenyum kecil melihat sosok itu yang telah menghilang di perbelokan. Jika dipikir-pikir mereka telah bertemu tiga kali dalam sehari dan ...
Aku menemukanmu
Jihoon mulai memikirkannya untuk memberi pelajaran pada wanita itu atau tidak. Jika mereka bertemu lagi.
----oOo----
Suara berisik itu tak akan mempan mengganggu sosok bersurai merah yang tangah tertidur dengan lipatan tangannya diatas meja.
Seberisik apapun suara teman kelasnya itu, tidak menyurutkan keinginan Jihoon untuk tidur hari ini.
Sejujurnya Jihoon mulai muak dengan segala ocehan tidak jelas yang keluar dari mulut teman kelasnya. Tapi, tenanganya terlalu sedikit hanya untuk marah dan menyumpal mulut mereka dengan bola tenis.
Jadi Jihoon memilih membiarkannya dan tenang dalam tidurnya. Toh rasa lelahnya mengalahkan segalanya. Kecuali, sebelum pemuda lainnya datang, mengusik ketenangan sang iblis.
"Kyak Park Jihoon!"
"..?"
"Jihoon!"
"Oh shit- apa?" Jihoon mengangkat kepalanya, mata coklatnya menatap tajam sosok pemuda berwajah anime itu.
Yang ditatap seperti itu menggaruk telengkuknya takut. Ia menarik kursi dan duduk tepat disamping Jihoon.
"Kau dengar kelas kita akan mendapatkan murid baru."
"Kau mau kubunuh Na Jaemin?" Jihoon memperbaiki posisinya, mengepalkan tangannya dengan kuat. Ia marah, sungguh marah. Berita apa ini? Bisa-bisanya pria berwajah tampan yang terkesan cantik itu memberitahukannya sebuah berita yang tidak penting baginya.
Memangnya ada apa dengan murid baru heh? Sampai Jihoon harus tahu.
"Huhhh dengar dulu, aish kau ini." ucap Jaemin mendorong tangan Jihoon yang tergeletak diatas meja jatuh tepat di paha pemuda itu.
Jihoon melotot seperkian detik, kemudian menetralkan kembali air wajahnya.
"Kali ini aku akan benar-benar membunuhmu jika kau menyampaikan sesuatu yang tidak penting bagiku."
Jaemin memutar matanya malas, ia meletakkan satu tangannya diatas meja dan satunya di sandaran kursi.
Ia benar-benar menghadapakan posisinya pada Jihoon.
"Ada dua murid baru, yang satu di kelas kita dan yang satu di kelas 12-3 dikelas Woojin, dan yang lebih parah kelasmu mendapatkan tamu yang tak diundang ──
seharusnya yang pindah kekelas Woojin berada disini. Kau pasti tidak akan suka dengan kehadirannya, kau sudah bertemu dengannya."
Ada dua murid baru
Tamu yang tak diundang.
Oke cukup Jaemin memainkannya dengan perkataan. Jihoon butuh yang lebih jelas.
Melihat perubahan wajah Jihoon, Jaemin menelan ludahnya kasar. bulu kuduknya berdiri seketika melihat tatapan membunuh dari sosok pria berpipi chubby itu.
.
Gadis cantik melangkahkan kakinya masuk bersama sosok pria bertubuh jangkung dihadapannya. Suasana kelas mendadak sepi ketika seorang yang sebut guru itu masuk bersama dengan gadis asing.
Mereka menatap gadis cantik itu bingung, tidak terkecuali sosok pemuda yang duduk di sudut kelas, berdekatan dengan jendela.
.
"Hari ini kalian kedatangan teman kelas baru, saya harap kalian bisa berteman baik dengannya."
Jihoon dan Jaemin yang terlalu sibuk dengan obrolannya sampai tidak menyadari jika sosok pria bertubuh tegap itu sudah berada didalam kelasnya bersama seorang gadis cantik disebelahnya.
Mata coklat Jihoon menajam saat atensinya menangkap sosok wanita yang tidak ingin ditemuinya. Gadis itu mengarahkan pandangannya kepada Jihoon, ia tersenyum.
"Perkenalkan namaku ──
.
"Ayo kenalkan siapa namamu."
"Annyeonhaseo ── " gadis itu menundukkan kepalanya kecil, setelah itu mengedarkan pandangannya mengamati teman kelasnya yang berantusias mengetahui namanya.
"── Kim Sohyun imnida"
.
Jihoon mengeraskan rahangnya sesaat murid baru itu memperkenalkan namanya. Ia tidak mengerti mengapa gadis berwajah cantik itu bisa masuk kesekolahnya.
Mengepalkan tangannya kuat, sampai buku-buku jarinya memutih karna terlalu kuat diremat. Jihoon mencoba untuk mengendalikan emosinya, menetralkan raut wajah kesalnya.
.
"Kim Sohyun, kau bisa duduk di kursi yang kosong."
"Terimakasih saem." Sohyun melangkahkan kakinya mendekati kursi kosong didekat jendela, tepat dihadapan sosok pemuda yang paling antusias dengan dirinya.
Sohyun duduk disana, meletakkan tasnya. Ketika guru mulai menerangis sesuatu, sebuah colekan di pundaknya sebuah sentuhan dihpundaknya membuat Sohyun mau tidak mau membalikkan badannya, guna melihat siapa yang melakukannya.
"Hai, aku Park Woojin." Sapa Woojin dengan nada sedikit pelan ; tidak ingin mengganggu gurunya yang sedang membicarakan hal yang sama sekali tidak menarik bagi Woojin.
Sohyun mengangguk pelan, ia tersenyum "Ki-"
"Kalian berdua bisa berkenalan setelah ini. Park Woojin, fokuslah." ucap saem Lee yang menyadari kedua muridnya yang tidak memperhatkkannya.
Woojin tersenyum canggung, begitu pula dengan Sohyun.
"Baiklah, sekarang kalian kerjakan tugas kalian." titahnya sebelum meninggalkan para muridnya yang mengeluh kesal karna diberikan tugas yang banyak.
.
.
Kriiiiingggg
Bel istirahat akhirnya membunyikan suaranya. Beberapa murid langsung berhamburan keluar. Berbeda dengan Sohyun yang masih memperhatikan diluar jendela, memperhatikan beberapa orang yang sedang bermain futsal di lapangan outdor itu.
Woojin bangun dari duduknya, menepuk pelan pundak Sohyun. Wanita itu berjengit menolehnya.
Pemuda itu tersenyum lebar, memperlihatkan gigi ginsulnya yang menggemaskan.
"Kau tidak ke kantin?"
Sohyun menggelengkan krpalanya pelan. "Aku bawa bekal, lain kali saja."
"Oh kalau begitu aku kekantin dulu oke, kalau ada apa-apa kau bisa menghubungi ku." Sohyun menganggukkan kepalanya semangat. Pemuda berkulit tan itu tersenyum sebelum akhirnya membalikkan badannya dan meninggalkan Sohyun didalam kelas sendirian.
Sohyun menghelakan nafasnya pelan, beruntung ia memiliki ketua kelas seperti Woojin. Pemuda itu easy going bahkan berhasil membuat Sohyun nyaman di hari pertama sekolahnya.
Apa jadinya jika Sohyun tidak bertemu dengan Woojin? Mati bosanlah Sohyun dihari pertamanya, mana dia sosok yang pemalu.
.
.
"Jihoon."
Pemuda bersurai merah itu mengangkat wajahnya dari lipatan tangannya. Matanya terbuka dengan malas melihat sosok wanita cantik berdiri dekatnya, Jihoon berdecak kesal kemudian menyembunyikan lagi wajahnya dilipatan tangannya diatas meja.
"Ini sudah jam makan siang Jihoon, ayo kita makan."
"Aku tidak mau Nakyung, pergilah sendirian sana."
"Aku tidak akan pergi sebelum kau ikut bersamaku ke kantin." Ucap Nakyung menyentuh lengan Jihoon, namun segera mungkin pria bersurai merah itu menepisnya. Mengangkat kembali pandangannya menatap tajam sosok di sampingnya.
Melihat wajah cantik itu tidak membuat seorang Park Jihoon berdebar, yang ada sesuatu didalam hatinya mencelos sakit. seolah hatinya diremat dengan kuat.
"Lee Nakyung."
Gadis itu menoleh kebelakang, setelah namanya dipanggil. Ia tersenyum lebar, berlari kecil menghampiri pemuda bergingsul itu.
Bruk
Nakyung menabrakan tubuhnya pada tubuh tegap Woojin, memeluk sosok bersurai hitam itu dengan erat.
"Park Woojin, aku merindukanmu."
Woojin terkekeh, tangannya terangkat menghelus pundak Nakyung dengan lembut.
"Kita sudah bertemu beberapa hari yang lalu, apa masih merindukanku?"
Nakyung mengangkat wajahnya, ia mengangguk cepat kemudian tersenyum lebar. Woojin gemas, ditarik hidung bengir itu, membuat sang empu menjerit kesakitan.
"Ujinie sakit."
Sementara pemuda bersurai merah itu merotasikan matanya malas, bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
Pengap, rasanya Jihoon kesulitan untuk bernapas ketika mata coklatnya melihat kemesraan Nakyung dan Woojin.
Tepat disebelah Nakyung, Jihoon berhenti melangkah. Ia menunduk melihat tangannya yang dicekal Nakyung.
"Mau kemana?"
"Cari udara segar."
Nakyung menggelengkan kepalanya, bibirnya mengerucut imut kedepan. "Kau tidak boleh pergi kemana-mana, ayo kita makan bersama di kantin. Aku sudah lama mengharapkan ini lagi, kita makan bersama seperti saat kecil."
"Aku tidak nafsu makan, kalian saja yang makan."
"Jiunnn." Nakyung memanggil dengan nada seimut mungkin dan puppy eyes andalannya.
Jihoon terdiam, sungguh puppy eyes Nakyung seketika menghancurkan pertahanannya. Pandangan yang selama ini membuatnya menjadi lemah pada Nakyung. Pandangan yang membuatnya menuruti perkataan Nakyung, seolah puppy eyes Nakyung adalah mantra.
Tapi, untuk sekali saja Jihoon ingin menghindari puppy eyes itu. Dia tidak ingin ikut mereka dan berakhir dia seperti patung.
Siapapun tolong Jihoon sekarang.
"Yak Park Jihoon."
Demi kerang ajaib, Jihoon sangat bersyukur Jaemin datang pada waktu yang sangat tepat. Jihoon melihat sahabatnya berlari kecil kearahnya, nafasnya memburu, keringatnya berkecucuran diwajahnya.
"Ada apa?"
Jaemin menyentuh pundak Jihoon, beberapa kali menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Ia butuh pasokan udara sebelum memberitahukan informasi penting pada Jihoon.
"Mehhh──merehh─merekahhhh─ohshit─cepatlahh naik keatap."
Jihoon menaikkan sebelah alisnya, perkataan putus-putus dan helaan nafas Jaemin membuat fokus Jihoon berkurang. Bahkan satu kata saja tidak ada yang ditangkap pria bersurai merah itu.
"Aisss ayoo!"
Tanpa menunggu lama lagi, Jaemin menarik lengan Jihoon, membawa pemuda bersurai merah itu meninggalkan Woojin dan Nakyung.
.
Blammmm
Jaemin menendang pintu atap, hingga pintu tak berdosa itu terbuka dengan lebar. Jihoon yang berjalan dibelakangnya tampak santai, mengamati sekitarnya yang tidak terjadi apa-apa.
Ia mengeryit bingung, dan Jaemin menyadari itu. Jaemin membalikkan badannya kemudian tertawa lebar.
"Santai dude, kau harus berterimakasih padaku karna telah menolongmu dari Lee Nakyung." Ucapnya kemudian melempar bungkusan rokok. Jihoon menerimanya dengan mulus, ia tersenyum tipis.
Otak sahabat berengseknya itu ternyata bisa berguna juga. Jihoon menyalakan pelatuknya, membakar ujung rokoknya. Menyesap dalam-dalam asapnya kemudian di hembuskannya keatas.
Jaemin mendudukkannya di atas sofa coklat panjang. Menyilangkan kakinya dengan angkuh, dipandangi satu temannya yang berjalan menuju pembatas rooftop dengan sebatang rokok di bibirnya.
"Aku tidak menyangka jika Nakyung kembali lagi. Mendekatimu seolah dua tahun yang lalu tidak pernah terjadi."
Jihoon memandang lurus, sudut bibirnya terangkat naik membentuk senyum miring. Tangannya bergerak mendekatkan rokoknya ke bibirnya dan menyesap asap tembakaunya.
"Dia seperti mengenakan topeng. Benar-benar tidak tahu malu." Ujar Jaemin lagi, menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, kepalanya di dongakan untuk melihat kepulan asap rokoknya yang berterbangan di udara.
"Ah ya Jihoon, apa Woojin membalas perasaan Nakyung?"
Jihoon menyesap rokoknya dalam-dalam kemudian menghembuskannya saat ia berbalik. Dia menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak tah─uhhuuk" ucapan Jihoon terputus ketika telinganya mendengar suara seseorang berbatuk.
Mata coklatnya bergerak mengamati sekitarnya, mencari sosok yang dengan lancang memotong ucapannya.
"Uhhuk─ uhuukk"
Jaemin bangun dari duduknya, buru-buru menjatuhkan rokoknya dan menginjaknya. Ia melangkah mendekati sahabatnya dengan tatapan bingung.
"Ya, siapa kau?"
"Uhuk─Uhukk─brakk"
Jihoon dan Jaemin menoleh kearah kanannya, disana sofa tidak terpakai mereka melihat seorang gadis jatuh kelantai dengan nasi berceceran disekitarnya.
Mereka ─ Jihoon dan Jaemin─ melangkah mendekati gadis itu, saat di dekatnya Jihoon langsung berlutut, mengangkat tubuh gadis dan memangku kepalanya di pahanya.
Wajahnya memucat, bibirnya membiru. Dengan cepat Jihoon mendekatkan telinganya di dada gadis itu, mendengarkan detak jantung gadis bername tag Kim Sohyun, detak jantungnya melemah.
"Ada apa? Apa dia keracunan?"
Jihoon mengelengkan kepalanya bingung, ia tidak tahu apa yang terjadi pada Sohyun, wajahnya semakin memucat seperti mayat.
Saat diperhatikan lebih, Jihoon merasa pernah melihat gadis itu. ahhh power ranger pink.
"Ya beri dia nafas buatan, lihat bibirnya membiru."
Jihoon mendongakan kepalanya. "Kau gila."
"Hei kau mau menjadi pembunuh, sudah berikan dia nafas buatan. Cepat!!" ucap Jaemin tidak sabaran, mendorong kepala Jihoon untuk mendekat ke wajah Sohyun.
Jika saja kepala Sohyun tidak berada dipaha Jihoon, maka kaki Jihoon sudah menampar wajah Jaemin. Bisa-bisanya pemuda itu memerintahkan hal itu kepadanya.
"Palli"
Jihoon mengeraskan rahangnya. Sungguh, ia tidak ingin memberi nafas buatan pada power ranger pink itu. Tapi ketika ia berpikir untuk kedua kalinya, gadis itu sepertinya sangat butuh.
Menggerakkan tangannya, menekan kedua pipi chubby itu agar mulut Sohyun terbuka. Jihoon mendekatkan wajahnya, menghirup udara sebanyak mungkin sebelum akhirnya bibir kenyalnya menyentuh permukaan bibir dingin Sohyun.
Sementara Jaemin yang melihatnya, membuka mulutnya lebar-lebar dan matanya membulat nyaris keluar dari tempatnya. Jaemin tidak pernah bisa mempercayai apa yang baru saja terjadi di hadapannya.
Sahabatnya itu memberi bantuan pada teman sekolahnya? Heol yang benar saja? Ini pertama kalinya ia melihat sosok iblis menolong seseorang.
Hampir 15 detik Jihoon memberikan nafas buatan pada Sohyun, sampai akhirnya untuk detik ke 16, Sohyun kembali berbatuk.
Kelopak matanya terbuka, memperlihatkan iris coklat yang sayu itu.
Jihoon terdiam, pandangannya terkunci memperhatikan wajah lemah dibawahnya. Bibir itu masih membiru, tapi tidak seburuk tadi, muutnya terbuka seolah ia sedang bernafas menggunakan mulutnya.
Entah apa yang dipikirkan oleh Jihoon, namun mata coklatnya tidak bisa berahli dari bibir Sohyun. bibir mungil yang membiru itu sangat menarik perhatiannya.
Jantungnya berdebar ketika mengingat adegan beberapa detik yang lalu. Sesuatu yang dingin menjalar di dadanya, Jihoon tidak mengerti mengapa jantungnya terasa sangat dingin.
Dan Jihoon tidak menyadari jika sesuatu yang aneh tengah menggelitiki perutnya.
To Be Continue
See you next chapter 😍