
...
Dua tahun kemudian
Sohyun duduk di tangga apartemennya.
Memeluk kedua lututnya, melindungi dirinya dari udara dingin yang cukup mencekik saat malam hari.
Memejamkan matanya saat obrolan berat bersama Sungwon kembali berputar di kepala kecilnya.
Sungwon telah menjelaskan semua apa yang terjadi pada Jihoon dan Woojin dua tahun yang lalu.
Dan semua poin utama dalam masalah terdapat pada tuan Park dan Nakyung.
Mereka berdua sangat egois.
30 menit yang lalu
"Jadi yang malam itu apa?" So Hyun diam sejenak, memikirkan saat dimana ia mendengar Jihoon begitu menyesal telah membunuh seseorang.
"Malam itu kenapa?"
"Aku mendengar jika dia menyesal karena membunuh."
"Membunuh?" ulang Sungwon dengan satu alisnya terangkat naik. "Jihoon oppa tidak pernah membunuh siapapun."
"Tapㅡ"
"Ahhhh itu" Sungwon memekik saat ia mulai mengerti kemana arah pembicaraannya "Itu anak anjing. Jihoon oppa pernah tidak sengaja menabrak anak anjing ketika ia kembali naik motor pasca kecelakaan."
"Anak anjing?"
Sungwon menganggukkan kepalamu cepat. "Dia bahkan sampai menangis tiga hari karena merasa bersalah pada induk anjing karena membuat satu anaknya mati."
Sungwon meraih dongbi dari pangkuan Sohyun. "Dia menangis karena mengingat salah satu korbannya yang harus menderita. Orang tuanya pasti sangat terpukul melihat putranya harus kehilangan kedua kakinya."
'Huff'
Sohyun menghembuskan nafasnya pelan.
Dia telah banyak menuduh Jihoon yang tidak-tidak. Bahkan sudah menuduh pemuda itu telah membunuh manusia, Dan ternyata diluar dugaannya.
Lucu sekali dirinya ini.
Ada begitu banyak yang Sohyun tidak ketahui tentang Jihoon.
Sohyun mulai merasa bersalah pada Jihoon. Mereka telah berkencan, tetapi ia masih memikirkan hal buruk yang tidak pernah dilakukan pemuda itu sebelumnya.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?"
Sohyun mengangkat pandangannya. manik coklatnya langsung bertemu dengan manik coklat tajam milik Jihoon.
Ia tersenyum dan segera bangkit dari duduknya. "Menunggumu. Apa itu?" Tanya Sohyun saat melihat kotak kecil di pelukan Jihoon.
"Barang-barangku yang tertinggal dirumah Jaemin."
99% Jihoon jujur dan 1% Jihoon berbohong. Itu memang barang-barangnya, tapi semua itu berasal dari rumah Daniel bukan dari rumah Jaemin seperti yang dikatakannya.
"Apa itu penting?"
Jihoon sedikit menunduk, memperhatikan barang-barang yang terdapat dalam dos coklat.
"Tidak terlalu penting. Kau tidak menjawab pertanyaan ku." jawab Jihoon menengakkan kepalanya.
Alis-alis Sohyun terangkat naik. Memangnya ada pertanyaan pemuda itu yang tidak dijawabnya; Jihoon hanya bertanya satu kali dan sudah ia jawab sebelumnya.
"Apa?"
"Kenapa menungguku?"
Itu pertanyaan baru. Sohyun yakin, Jihoon tidak mempertanyakan hal itu sebelumnya.
"Hanya saja aku ingin."
"Cuma itu saja?"
Sohyun menganggukkan kepalanya. apa dia butuh alasan yang spesifik untuk menunggu pacarnya pulang?
Pacar?? pipi Sohyun tiba-tiba merona seperti kepiting yang direbus lama.
Sohyun menundukkan kepalanya, menyembunyikan rona merah dari penglihatan Jihoon. Sohyun tidak ingin pemuda itu mengejeknya habis-habisan.
"Kenapa? Kau sakit?" tanya Jihoon.
Katakan saja malam ini Jihoon tidak peka. Bahkan warna merah pada kedua pipi chubby pacarnya ia pun tidak sadar.
Sohyun **** bibirnya sebal. Tak seharusnya ia menyembunyikan rona merahnya jika pemuda itu tidak mengerti; membuat dirinya semakin memalukan.
"Malam ini kau tidur dimana?"
"Tentu saja di apartemenmu."
"Kenapa harus di apartemen ku?"
Jihoon menghembuskan nafasnya pelan. "Memangnya aku bisa tenang membiarkan mu tinggal bersama Sungwon."
"Dia masih kecil, apa yang dia tahu."
"Anak kecil bagaimana maksudmu? Dia tumbuh besar di luar negeri. Ada banyak hal yang dia ketahui saat tinggal Negera yang bebas."
"Dia masih kecil!"
"Anak kelas satu menengah akhir, kau masih berpikir dia masih kecil?" Tanya Jihoon, sedikit meninggikan kalimatnya. Sohyun terkekeh, bukannya takut mendengar suara Jihoon sedikit berubah, Sohyun merasa itu lucu.
Sohyun meraih dos kecil di pelukan Jihoon, kemudian meletakkannya samping kakinya. "Kau lucu, aku serius mengatakannya." ucapnya sambil menarik kepala Jihoon bersandar di dadanya.
Sohyun yang berdiri pada dua anak tangga, membuatnya sedikit lebih tinggi dari pada Jihoon.
"Ada apa denganmu?" tanya Jihoon bingung.
"Maaf." ujar Sohyun.
Jihoon diam beberapa detik. "Untuk?"
"Semuanya.." Sohyun menjauhkan sedikit jaraknya, memberi ruang baginya untuk melihat raut wajah bingung Jihoon.
Ia tersenyum tipis, kemudian melangkahkan kakinya menuruni satu anak tangga.
Menyamakan tinggi badannya dengan Jihoon.
"Kau membuatku takut."
"Benarkah?" tanya Sohyun, Jihoon menganggukkan kepalanya.
"Kau ingin meninggalkanku?"
"Siapa yang bilang?"
"Tidak ada, hanya saja hari ini kau berbeda. Apa kau mendengar sesuatu yang buruk atau Sungwon menceritakan masalaluku?"
Sohyun hanya tersenyum, Jihoon mengernyitkan dahinya.
Ia merotasikan matanya malas, dugaannya benar jika Sungwon pasti sudah menceritakan masa lalunya pada Sohyun.
"Anak itu!!" Jihoon geram.
Tidak seharusnya Sohyun mengetahui rahasianya dari orang lain. Jihoon bisa memberitahukan kepada Sohyun jika gadis itu ingin tahu tentang dirinya.
"Aku yang memintanya menceritkannya."
"Kenapa kau tidak bertanya padaku saja. Kau akan salah paham jika mendengarnya dari orang lain."
Sohyun tersenyum dan menundukkan kepalanya. Tangannya terulur meraih jemari Jihoon untuk di genggam.
"Aku tidak akan salah paham jika salah satu keluargamu yang menceritakannya. Lagian aku tidak berani bertanya padamu."
Sebelah alis Jihoon terangkat naik. "Kenapa?"
"Aku takut kau semakin merasa bersalah. Aku tidak ingin kau kembali menyalahkan dirimu atas apa yang tidak kau lakukan pada korban di bis."
"..."
"Kau tidak membunuhnya." Sohyun tersenyum. "Pria itu meninggal dalam perjalanan."
Jihoon tertegun.
Jihoon memandang lamat-lamat mata sakura yang menatapnya sayu.
Manik coklatnya bergerak, mencari sebuah kepastian di mata sakura itu.
Sohyun tulus mengatakannya. Sangat tulus dan Jihoon merasakan ketulusan itu.
Jihoon merunduk. Jantungnya bergerak begitu cepat, memompa darahnya ke seluruh tubuhnya dengan cepat.
Dan juga, bukan dirinya yang mengakibatkan kecelakaan tersebut.
Jihoon menangis.
Sohyun mendekat dan memeluk tubuh Jihoon. Telapak tangannya lalu menepuk punggung Jihoon, mencoba menenangkan pemuda itu dari tangisnya.
Gadis itu ikut terenyuh. Sohyun tahu betul perasaan Jihoon selama ini.
Dia terluka dan tidak ada seorangpun yang mengobati luka dihatinya.
Membiarkan luka itu semakin menganga dan dipenuhi oleh debu-debu halus.
"Kau sudah melakukan yang terbaik." ucap Sohyun.
Jihoon melingkarkan tangannya dipinggan Sohyun, memeluk gadis itu begitu erat. Seolah Jihoon tidak akan pernah membiarkan Sohyun untuk meninggalkannya.
"Aku mencintaimu."
"Aku tahu itu."
;
Jaehyun berdiri tidak jauh dari Sohyun dan Jihoon.
Ia sudah ada disana sejak Jihoon pulang. Dan Jaehyun mendengar apa yang mereka bicarakan.
Jaehyun tersenyum tipis. Kedua anak muda itu saling mencintai satu sama lain, perasaannya terlalu besar dan mereka sadar jika mereka tidak bisa berpisah.
Mereka saling membutuhkan.
Drrrtt drrt
Segera Jaehyun mengeluarkan ponselnya di saku celanya.
Alis-alisnya saling bertaut ketika melihat nama pemanggil di layar ponselnya.
Park Sunho is calling
Pria tua itu menghubunginya?
Tapi untuk apa?
Jaehyun memutar badannya dan menggeser ikon hijau untuk menerima panggilan dari orang tua si kembar Park.
"Halo."
"Halo Jung Jaehyun-ssi, maaf menghubungi mu tengah malam seperti ini."
"Tidak apa-apa tuan. ada apa?"
"Apa Jihoon masih tinggal di tempatmu?"
Jaehyun memutar kepalanya sekedar mengecek apa yang kini dilakukan Sohyun dan Jihoon.
Mereka berdua sedang tertawa, Sohyun bahkan sampai menghapus air mata pria itu dengan telapak tangannya.
"Ya mungkin. Aku tidak yakin karena aku jarang dirumah."
"Ah begitu."
"Iya. Memangnya ada apa anda menanyakan keberadaan Jihoon?"
"Begini, aku ingin memperkenalkan Jihoon dengan putri rekan kerjaku. Kudengar wanita itu menyukai Jihoon."
Jaehyun terkejut.
Pria macam apa yang sedang berbicara dengan Jaehyun saat ini. Pria tua itu tidak memperhatikan keadaan putranya selama ini, kemudian secara tiba-tiba hadir dan mengatakan ingin mengenalkan Jihoon pada putri rekan kerjanya.
Lucu sekali kau tuan Park Sunho.
Ia membalikkan tubuhnya menghadap Jihoon dan Sohyun. Mereka berdua masih ada disana, duduk di tangga saling bergenggam.
Jihoon dan Sohyun terlihat sangat bahagia malam ini.
Tidak, tidak lagi. Jaehyun tidak ingin melihat Sohyun menangis. Adik kecilnya tidak boleh terluka lagi.
Dan Jihoon, cukup pemuda itu menderita karena keegoisan ayahnya. Tidak lagi.
Jihoon dan Sohyun, mereka tidak boleh berpisah.
.
"Ayo masuk, diluar semakin dingin."
"Kau serius ingin tidur dirumahku?"
Jihoon menganggukkan kepalanya. "Heum, aku tidak akan membiarkan Sungwon mendekatimu saat kau tertidur."
"Aku yakin 100% Sungwon tidak akan melakukannya, dan 1000% aku yakin kau yang melakukannya. Kau dengan otak mesummu itu tidak dapat dipisahkan."
"Memangnya apa yang aku lakukan?"
Sohyun diam sejenak, tampak berpikir.
"Menciumku saat tidur mungkin."
Jihoon tersenyum lebar, tangannya terulur kebelakang leher Sohyun. Dan mendekat.
Chu~
Sohyun membelalakkan matanya saat bibir manis dan lembut itu mengecup singkat bibirnya.
"Aku lebih suka menciummu saat sadar ketimbang menciummu saat tertidur."
Terkutuklah mulut Jihoon yang mengucapkan kalimat mesum yang membuat kedua pipi Sohyun memerah karena malu.
Sudah Sohyun bilang jika Jihoon dengan otak mesumnya tidak dapat dipisahkan.
"Oh! Kau tersipu?" tanya Jihoon menyentuh kedua pipi Chubby Sohyun.
Manik coklatnya memandang lamat-lamat rona merah disekitar pipi Sohyun.
"Oh! Aku baru ingat kau seperti ini tadi."
"Yakkk!!" Sohyun segera menepis tangan Jihoon dari pipinya. Ia bangkit dari duduknya dan mengipasi pipinya yang semakin memerah dan panas, Sohyun juga merasakan kedua telinganya ikut memanas.
Jihoon terkekeh, ia bangkit dari duduknya, menyamakan tingginya dengan Sohyun.
"Masuklah, aku akan tidur dirumah Jaemin." ucapnya kemudian memutar kepalanya mengamati pintu apartemen Sohyun. "Aku percaya dia tidak akan melakukan apapun. Jika dia masih memiliki kebiasaannya kau bisa aman."
"Kebiasaannya?"
Jihoon menganggukkan kepalanya.
"Dia tidur seperti orang mati. Kau memasang bom di sebelahnya pun dia tidak akan bangun."
"Benarkah?" tanya Sohyun dan diangguki oleh Jihoon sebagai jawaban.
"Kalau kebiasaannya belum menghilang mungkin kau bisa mencobanya sebentar."
"Akan kulakukan."
Jihoon tersenyum, ia mendekat memangkas jarak antara dirinya dan Sohyun. Kedua tangannya melingkar di pinggan Sohyun dan dagunya di sandarkan di bahu gadis itu.
"Terimakasih."
"Eoh?"
"Dan, aku mencintaimu."
Sohyun tersenyum seraya tersipu malu. Kedua tangannya terulur membalas pelukan Jihoon.
"Jangan tinggalkanku. Hanya kau yang kumiliki."
"Tidak akan." ucap Sohyun sambil menghelus punggung lebar pemuda itu.
Jihoon merasa matanya memerah dan panas. Ia tahu, sebentar lagi ia akan menangis untuk kedua kalinya.
Ia tidak mengerti mengapa perasaannya sedikit gelisah malam ini. Seperti ada sesuatu yang mengganjal.
"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku." bisik Jihoon, ia merunduk dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sohyun.
Air matanya berhasil keluar dari pelupu matanya. Mengalir di pipinya dan membasahi bahu Sohyun.
"Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu."
Sohyun yakin dia telah menjanjikan sesuatu pada Jihoon, dan ia tidak akan mengingkarinya.
Karena janji ada untuk ditepati, bukan untuk diingkari.