
happy reading
...
Bel pelajaran terakhir telah berbunyi, membuat pada siswa-siswi bergegas pulang dari kegiatan mereka yang cukup melelahkan.
Sohyun kali ini tidak menunggu Jihoon menghampiri kelasnya, mereka telah berjanji untuk bertemu di parkiran. Ia dengan cepat membereskan buku-buku miliknya dan segera meninggalkan kelas.
Tak ingin membuat Jihoon menunggu terlalu lama di parkiran.
Sesampai di parkiran, langkah kaki pendeknya terpaksa harus berhenti.
Maniknya menangkap siluet yang tidak asing lagi untuknya sedang berbincang-bincang dengan wanita dewasa yang terlihat begitu cantik dan elegant dengan penampilannya.
Wanita itu tertawa lebar, tangannya meraih lengan Jihoon untuk di rangkul.
Di rangkul? Heol daebak.
Rasanya Sohyun ingin mengumpati wanita ular itu.
Sohyun menggerakkan giginya, kedua tangannya mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih. Jika saja ini adalah sebuah webtoon mungkin api besar tergambar begitu jelas di belakang tubuhnya.
"Heol?!" So Hyun kembali berseru saat melihat Jihoon tertawa bersama wanita itu dan tak berniat melepaskan rangkulan wanita cantik itu.
Mengibas-ngibaskan wajahnya menggunakan telapak tangannya. Tiba-tiba Sohyun merasa gerah pada tubuhnya. Apa karena cuaca panas? Jelas bukan itu.
Sohyun tahu dan ia pernah merasakan ini sebelumnya ketika bersama Doyoung. Hal seperti ini tentu sangat ia mengerti.
Ia cemburu.
Sohyun terus memperhatikan Jihoon yang tersenyum kepada wanita cantik dihadapannya.
"Kau butuh air?" tanya seorang pemuda tiba-tiba berdiri di sebelah Sonyun.
Gadis berpipi chubby itu menoleh, matanya yang bulat memandang tajam kearah Woojin. Alis-alisnya saling bertaut ketika senyum miring terukir begitu jelas di bibir pemuda itu.
"Kau tersenyum?" tanya Sohyun, Woojin menoleh. Sedikit menundukkan kepalanya guna melihat wajah menggemaskan gadis itu dalam mode cemburu.
"Kau ini kenapa? Sedang datang bulan? Kenapa suasana hatimu sangat buruk? Kau sangat menyeramkan tau."
"Park Woojin menjengkelkan." ujar Sohyun dengan nada kesal. Tapi, terdengar sangat menggemaskan di telinga Woojin sampai pemuda berambut hitam itu tak bisa menyembunyikan senyumnya.
Woojin mengalihkan perhatiannya, memandang lurus kedepan dimana Jihoon dan Lia masih mengobrol.
"Dia siapa?" tanya Woojin, menoleh sebentar ke Sohyun sebelum kembali menengok kearah Jihoon dan Lia.
"Tidak tahu, aku tidak mengenalnya."
"Cantik."
Sohyun mendengus sebal. Mendongakan kepalanya dan menatap tajam Woojin.
"Ya dia cantik, bahkan menggunakan pakaian kurang bahanpun tetap cantik."
"..."
"Apaan itu, memakai rok mini berwarna hitam ketat, menonjolkan bagian pantatnya dan kaos berlengan pendek berpadukan jaket kulit senada dengan roknya. Rambutnya bahkan di ikat."
"Heum, dia bentuk nyata dari tipe ideal Jihoon." Bisik Woojin, tersenyum bodoh setelahnya melihat manik Sohyun seperti ingin melompat dari tempatnya.
Woojin menganggukkan kepalanya. "Kau tidak ingat, sebelum bertemu denganmu Jihoon selalu bertemu dengan wanita-wanita cantik seksi di bar, kemudian mereka menari danㅡ
"Yakhhh, kau mau mati?"
Woojin diam.
Tatapan tajam Sohyun membuat Woojin bungkam seribu kata. Gadis itu menghadap kearahnya, kedua tangannya di letakkan pada kedua pinggangnya.
Menundukkan kepalanya saat indra pendengarannya mendengarkan suara ketukan di tanah.
Sepatu berwarna putih itu di ketuk-ketukan, meninbulkan suara yang hanya dapat di dengar oleh Woojin. Karena jarak mereka sangat dekat.
Woojin tertawa. Sedikit keras hingga membuat Sohyun mengubah ekspresinya beberapa detik.
"Apa yang kau tertawai?"
"Kau menggemaskan."
"Aigo. Kau gila."
"Yakh, bagaimana bisa kau langsung mempercayai apa yang kukatan tentang Jihoon. Hampir semuanya tidak benar, asal kau tahu itu."
plak
Sohyun mendengus kasar. Memukul kepala bagian belakang Woojin cukup keras hingga kepala pemuda itu terdorong kedepan.
"Kau mau mati?"
"Aya!!"
"Kau benar-benar menjengkelkan Park Woojin."
Woojin diam.
Maniknya memandang lekat Sohyun.
Ini pertama kalinya melihat sisi yang berbeda dari gadis berpipi chubby itu. Tidak seperti hari-hari yang lalu, dimana ia hanya menunjukkan sisi yang sama. Terlihat baik, lugu, polos dan tutur katanya yang baik.
Sohyun yang ada di hadapannya sangat berbeda. Seperti jiwa malaikatnya terkikis secara perlahan dalam dirinya, berganti dengan jiwa iblis milik saudaranya.
Apa jiwa mereka sekarang telah bertukar?
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
Layaknya meerkat mereka hanya menoleh dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Jihoon mendekati merekaㅡ Sohyun dan Woojin. Tetapi dia tidak sendiri, ada seorang wanita cantik yang berdiri di sebelah Jihoon.
Wanita itu tidak merangkul Jihoon lagi. Tetapi, Sohyun masih dirundung cemburu sehingga melihat wanita tersenyum membuat Sohyun membuka lebar-lebar mulut wanita itu hingga robek.
Sohyun tidak suka wanita itu terlihat sok manis dihadapannya.
"Sohyun?!"
Sohyun mengalihkan perhatiannya dari Lia, maniknya memandang lekat Jihoon yang hanya memanggil namanya. Tidak seperti biasanya.
Dadanya sakit sekarang.
Seolah di remas begitu kuat dan tak dibiarkan memberontak.
Kenapa Jihoon hanya memanggil namanya? Biasanya memanggilnya dengan sebutan sayang.
Cutie, contohnya.
"Mwo?" Sohyun menjawabnya dengan nada ketus seraya meraih selempang tas ranselnya.
"Kau tidak menjawab pertanyaan ku tadi."
"Woojin bisa menjawabnya, kenapa bertanya denganku."
Sebelah alis Jihoon menukik bingung.
Mata itu menatapnya sinis dan suaranya berdesir kesal.
"Siapa?" tanya Woojin memandang Lia.
Jihoon menghembuskan nafanya pelan. "Dia Lia, kenalan ku saat bekerja di Bar."
"Hai, Choi Lia." wanita bermata sipit itu mengulurkan tangannya dan tersenyum lebar hingga matanya semakin tenggelam di lipatan matanya.
Woojin membalas jabatan tangan Lia, menyebut namanya dan juga hubungannya bersama Jihoon.
Ketika jabatan tangan Woojin dan Lia terlepas. Wanita cantik itu mengarahkan tangannya kearah Sohyun.
Sohyun diam. Maniknya memperhatikan kulit tangan Lia yang terlihat begitu putih dan mulus. Jari-jarinya begitu lentik dan jangan lupa kukunya yang diberi hiasan.
Lia menaikkan alisnya, seperti menantang.
Drrrtt drrrt
Bunyi dari benda pipih itu membuat Sohyun memilih untuk meraih handphonenya daripada membalas uluran tangan Lia.
Sohyun diam beberapa saat ketika matanya memandang layar handphonenya. Ada sedikit keraguan ketika pandangannya bertemu denga mata Jihoon.
"Maaf aku harus mengangkatnya dulu." ucapnya sebelum melangkah menjauh.
"Yeobseoyo?!" sapa Sohyun pada sosok yang mmenghubunginya.
"Heum oppa?!"
"Oppa?!" ulang Jihoon, alisnya menukik tajam. Jarinya segera mengorek telinganya, dan berharap apa yang di dengarnya tadi hanya salah.
"Apa baru saja aku mendengar dia memanggil seseorang dengan sebutan oppa?" tanya Jihoon pada Woojin.
"Dia memang menyebutnya. Ada apa?"
"Kenapa dia tidak memanggilku dengan sebutan itu juga?"
"Yak? Kau pikir umurmu dengannya jauh berapa tahun? kalian mungkin hanya berbeda bulan dan hari."
"Tapi aku kan pacarnya."
Woojin menggelengkan kepalanya, maniknya melirik Lia yang masih menatapnya dengan tatapan yang sulit ditebak.
"Kalian ada urusan?" tanya Woojin pada Jihoon.
Jihoon menganggukkan kepalanya.
"Heum, aku harus mengantarnya ke suatu tempat."
"Hanya berdua?"
Jihoon kembali menganggukkan kepalanya.
Woojin mengangkat sebelah alisnya, maniknya mencingcing mengamati wajah Lia lamat-lamat. Berusaha mencari tahu maksud dari semua ini.
.
.
.
Jihoon tersenyum setelah wanita itu keluar dari sebuah rumah kecil. Wanita itu memperlihatkan sebuah kotak kecil di bungkus dengan kain berwarna hijau.
"Sudah mendapatkannya?" tanya Jihoon sambil memasukkan tangannya kedalam saku celana-nya.
"Tentu, bibi itu baik. Dia tidak banyak bicara dan langsung memberikan apa yang kuinginkan."
"Mungkin dia sudah diberi tahu kalau kau akan datang." Ucap Jihoon.
Lia tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja. Ayahmu yang menghubunginya." lanjutnya sambil merangkul lengan Jihoon.
Pemuda itu menghentikan langkahnya. Menghadapkan tubuhnya kearah Lia dan memadang lekat wajah itu.
Ayahnya? Tunggu apa maksudnya?
"Kau mengenal ayahku." tanya Jihoon dan di anggukki oleh Lia.
"Kau belum di beritahu olehnya?"
Sebelah alis Jihoon terangkat naik. Apa lagi ini.
Hal apa yang ayahnya harus ceritakan padanya?
"Kita dijodohkan."
Glukkk
Jihoon menelan ludahnya kasar.
Tunggu.
Apa yang di dengarnya tadi?
Di jodohkan?
Bersama siapa?
"Mereka sudah merencanakan pertemuan. Eumm kalau tidak salah, lusa kedua orang tua kita akan bertemu danㅡ
"Siapa yang ingin di jodohkan denganmu? Aku?" tanya Jihoon dengan nada kesal.
Tangannya segera menyingkirkan tangan Lia lengannya secara kasar. Manik coklatnya memandang tajam wanita dengan wajah kecil nan cantik itu, seperti dia melihat Lia adalah seekor kelinci yang siap di santap nya.
"Kau tidak suka?"
Jihoon mendengus sebal. Pertanyaan apa itu.
Jelas sekali jawabannya adalah tidak. Mengapa Lia harus mempertanyakan pertanyaan yang jawabannya sangat jelas di depan matanya.
Jihoon melipat kedua tangannya di atas perut. Sorot matanya masih menatap dengan tajam.
"Apa harus aku menjawabnya? Kau menerima perjodohan ini?"
"Ya, aku menerimanya."
Gila.
Satu kata di kepala Jihoon sesaat mendengar jawaban tanpa takut Lia. Wanita itu yakin dengan jawabannya.
"Karena aku menyukaimu."
"Tapi aku tidak."
"No problem. Aku bisa membuatmu mencintaiku."
"Mustahil. Aku mencintai orang lain."
"Apa dia mencintaimu?"
Jihoon membuka mulutnya kemudian menutupnya rapat.
Sohyun mencintainya?
Iㅡ
*Ya, dan mungkin
Tidak*.
Jawaban Sohyun selalu membuatnya bingung. Dia hanya terus menjawab aku juga, tidak pernah sekalipun dia menjawab aku mencintaimu.
Kini Jihoon resah. Dan takut.
Bagaimana jika Sohyun tidak mencintainya? Apakah dia hanya mencintai seorang diri?
Lalu,
Ah, pria pertama. Pria itu bukankah masih menjadi kekasih Sohyun.
Jihoon menenguk ludahnya untuk kesekian kali. Mata coklatnya bergerak resah.
;
"Tskz tidak menjawab panggilanku." Sohyun meletakkan ponselnya di atas meja secara kasar.
Entah sudah ada kali Sohyun menghubungi Jihoon. Tetapi pemuda itu masih mengabaikannya.
Sohyun diam. Manik coklatnya menyorot tajam ponsel tak berdosanya. Seandainya ini adalah komik mungkin sudah ada perempatan di keningnya dengan uap yang mengepul dari kepalanya.
Sekali lagi membayangkan bagaimana mesranya wanita asing itu merangkul lengan Jihoon, kemudian tersenyum begitu cantik sampai Sohyun tidak percaya diri lagi.
Wanita itu cantik, sangat cantik. Berbanding terbalik dengannya. Apalagi di sandingkan dengan Jihoon yang tampan.
Sohyun menghenbuskan nafasnya. Dipikir-pikir untuk kesekian kali, ia merasa dirinya buruk rupa.
"Ada apa? Kau sejak tadi terus memperhatikan ponselmu." tanya seorang pria rambut berwarna hitam. Sohyun menegakkan kepalanya dan memandang lamat wajah tampan di sebelahnya.
Pria itu tampan, matanya bulat dan hidungnya mancung. Pria itu sedang menikmati jus jeruknya, tanpa memperdulikan Sohyun yang sedang mengamati wajah tampan nya.
Sohyun menghembuskan nafasnya. Mengapa begitu banyak pria tampan di Korea. Membuatnya semakin tergoda untuk memujanya.
Pria itu melirik Sohyun melalui ekor matanya. "Apa ada sesuatu di wajahku?"
"Eh!" Sohyun tersentak kaget. Kepalanya di gelengkan kaku dan tersenyum canggung pada pria bersurai coklat itu. "Tidak."
"ㅋㅋㅋ imut."
Bluss
Pipi Sohyun merona merah. Selain tampan pria itu juga jago membuat pipinya memerah.
"Jangan menggodanya Park Jinyoung. kau selalu saja seperti ini dengan anak perempuan."
Jaehyun datang dengan jus jeruk pesanan Sohyun. Setelah meletakkan jus jeruk diatas meja, Jaehyun mendudukkan bokongnya di kursi tepat dihadapan Sohyun dan Park Jinyoung.
"Apa aku harus menggoda anak laki-laki dan membuatku dipandang gila oleh publik?" tanya Jinyoung.
Jaehyun terkekeh. Ini lucu.
Sangat.
"Jika kau berani, aku tidak masalah soal itu." ucap Jaehyun.
Jinyoung yang mendengar soal itu hanya mendengus sebal dan membuang pandangannya kearah dinding pembatas yang tepat berada di depan cafe milik Jaehyun.
Beberapa kendaraan beralulalang di hadapannya.
"Kalian satu kampus?"
"Iya, tapi dia satu kelas dengan Doyoung."
"Benarkah?" tanya Sohyun menoleh kearah Jinyoung.
Jinyoung yang merasa diamati mengalihkan pandangannya menatap bingung manik berbinar dari gadis cantik di sebelahnya.
Jinyoung mengangguk pelan. "I,ya. Tapi sayangnya pria itu hanya akrab dengan Jaehyun."
"Wah Daebak."
"Jadi Jaehyun yang di maksud Doyoung oppa itu kamu?" tanya Sohyun sambil menyirup jus jeruknya.
Jaehyun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum tipis sampai membuat kedua lesung pipinya keluar.
"Dunia sangat kecil. Aku tidak percaya."
"Aku juga. Sama sekali tidak menyangka kalau wanita yang selalu di cerita oleh Doyoung adalah dirimu."
"Kalian bagaimana bisa dekat?"
Jaehyun terdiam beberapa saat, seperti dia memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Sohyun.
"Hanya kejadian kecil. Kemudian kami berteman begitu saja."
"Doyoung oppa sangat humble." ucap Sohyun antusias dan Jaehyun dapat merasakan hal itu.
Semangat Sohyun semakin bertingkat saat ia membicarakan soal kepribadian Doyoung, membanggakan salah satu kekasihnya itu dan menceritakan hal-hal yang mereka lakukan saat di inggris dulu.
Manik coktlatnya berbinar. Ada sebuah kilatan cinta di sana. Jaehyun melihat dengan jelas masih ada cinta dihati Sohyun untuk Doyoung.
Jaehyun tersenyum. Namun, hatinya sedikit gelisah.
Ia takut dan tidak berani melihat wajah penuh semangat itu membicarakan Doyoung menghilang Ketika mereka memberitahu kalau Doyoung telah meninggal.
Menyatukan kedua telapak tangannya dan *** cukup kuat seolah dia mengalirkan kegugupannya di sana. Jaehyun ingin melepaskan kegugupannya itu, tetapi rasa takutnya terlalu mendominasi dirinya. Menekan dirinya untuk tidak bertindak lebih jauh yang akan membuat Sohyun terluka.
"Ngomong-ngomong oppa tau dimana Doyoung?"
Jaehyun menegakkan kepalanya. matanya bergerak gelisah, ditatap Jinyoung yang sepertinya terkejut mendengar pertanyaan Sohyun.
"Kau tidak tahu?" Tanya Jinyoung menoleh kearah Sohyun.
Jaehyun menggelengkan kepalanya. Tidak, bukan sekarang.
Rahasia itu masih harus di sembunyikan.
"Doyoung sudah meninggal."
Park Jinyoung yang tidak mengerti apa yang terjadi, mengatakan dengan tenang soal Doyoung.
Dan Jaehyun. Ia merasa jantungnya berhenti berdetak. Ketakutannya akhirnya terjadi.
Air wajah yang sejak tadi begitu menggebu-gebu, kini terlihat terkejut dengan mata yang memerah dan berair.
Senyumnya luntur dalam hitungan detik.
Dua puluh detik kemudian air matanya mengalir. Mulut Sohyun terbuka ingin berbicara, tetapi suara yang dimilikinya seolah tersangkut di tenggorokannya.