
.
.
.
Bukan bunga ataupun hal lain yang diinginkan Sohyun.
Ia hanya ingin Jihoon disisinya, selamanya.
Sohyun tidak peduli dengan apa yang telah terjadi dua tahun yang lalu. Sohyun pun tidak peduli jika masa pemuda itu begitu sangat kelam hingga membuatnya menjadi pribadi yang berbeda.
Cukup Doyoung yang meninggalkannya untuk selamanya. Sohyun tidak ingin Jihoon melakukan hal yang sama padanya.
Mengapa kisah cintanya harus berjalan serumit ini. Dua orang yang dicintainya meninggalkannya dengan cara yang kejam.
Doyoung meninggal akibat kecelakaan dua tahun yang lalu. Pergi tanpa pamit dan meninggalkan penyesalan yang cukup mendalam untuk Sohyun.
Menyesal karena Sohyun tak bisa menjadi kekasih yang baik untuk Doyoung, bahkan setelah mengetahui Doyoung telah meninggal, Sohyun tetap mencintai Jihoon, bukan Doyoung.
Sementara Jihoon meninggalkannya demi bersama wanita lain. Seorang wanita yang jauh lebih tua darinya.
Sohyun tidak mengerti. Jika Jihoon memang merasa kasihan kepadanya, mengapa Jihoon harus membuatnya jatuh cinta dengan caranya yang aneh?
Sohyun meraih tongkatnya dan turun dari bangsalnya. Ia percaya Jihoon belum jauh dari kawasan rumah sakit.
Dengan langkah yang tertatih, Sohyun menyelusuri lorong rumah sakit, hingga masuk kedalam lift seorang diri.
Sohyun tidak peduli dengan teriakan para suster yang memintanya untuk berhenti. Sohyun ingin bertemu Jihoon dan menyelesaikan kesalahpahaman antara mereka berdua.
•••
Jihoon masih berada di taman dekat rumah sakit. Duduk di kursi dengan tatapan lurus kedepan.
Matanya bengkak, pipinya basah karena air matanya.
Kakinya terlalu lemas untuk melangkah semakin jauh. Bahkan tangannya pun seperti mati rasa sehingga ketika diangkat untuk menghentikan taksipun tak sanggup ia lakukan.
Jihoon diam. Memikirkan kembali kalimat demi kalimat yang dia dengar beberapa saat yang lalu.
Sohyun mencintainya, tetapi Jihoon menyakitinya dengan cara yang sama.
Ditambah dengan satu hal yang membuatnya menjadi parah. Jihoon telah menerima Lia sebagai tunagannya.
Tentu bukan keputusan yang mudah di ambil oleh Jihoon. Perjodohannya dengan Lia telah menyangkut harga diri ayah dan ibunya.
Kali ini perjodohannya jauh berbeda dengan perjodohan Nakyung dan Woojin. Mereka dijodohkan untuk mempererat dua perusahaan besar.
Tetapi,
Perjodohan Jihoon bersama Lia kali ini karena wanita itu yang meminta dan mengancam ayah Jihoon menggunakan data korupsi yang ia dapatkan beberapa waktu yang lalu.
Rasanya tidak adil, mengapa hal buruk terus terjadi padanya. Mengapa takdir tidak bisa membiarkannya bahagia dan tenang bersama orang yang dicintainya.
“Ji?!”
Seorang wanita menyentuh bahu Jihoon, membuat pemuda bersurai hitam itu menoleh. Wanita itu duduk tepat disebelah Jihoon, maniknya menatap lamat-lamat wajah Jihoon.
“Kau kenapa? kau menangis?” tanya Lia.
Jihoon menggelengkan kepalanya.
“Aku hanya merasa tidak enak badan.”
Lia diam. Memperhatikan sekitarnya.
Lia baru sadar jika Jihoon berada di taman dekat rumah sakit. “Apa kau baik-baik saja?
“Aku putus dengan Sohyun.”
“Benarkah?” tanya Lia. Jihoon menengok menghadap Lia, ia tersenyum miring melihat reaksi yng diperlihatkan Lia kepadanya.
Tidak ada yang aneh. Wanita itu terlihat sangat bahagia mendengar kabar baik; hanya untuk Lia. Wanita cantik itu mencoba sekuat mungkin menyembunyikan senyum bahagianya.
Bukan namanya Park Jihoon jika ia tidak tahu arti dari raut wajah Lia saat ini.
Ingin sekali Jihoon mendorong wanita itu ke tengah jalanan saat ini.
Jika bukan karena ancaman yang wanita itu berikan Jihoon tidak akan sudih berada di dekat Lia untuk waktu yang cukup lama.
“Tersenyumlah jika kau mau!” Jihoon membuang pandangannya lurus kedepan.
Lia tersenyum tipis. Ia mengikuti arah pandang Jihoon kedepan dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
“Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang? Kau menerima perjodohan ini?”
Jihoon diam beberapa detik sebelum akhirnya membuka mulut untuk bersuara. “Tidak.” jawabnya sambil menggelengkan kepalanya.
Lia sontak kaget. Ia menoleh menatap Jihoon.
“Aku mungkin bisa mengatakan tidak. Tetapi kau jauh lebih tahu bagaimana ayahku akan memperjuangkan perjodohan gila karena dirimu.”
“Ck.” Lia berdecak. Dia memperbaiki posisinya, memangkas jarak antara dirinya dengan Jihoon, wajahnya semakin dekat hingga beberapa centi lagi bibirnya menyentuh bibir Jihoon.
Manik indahnya memperhatikan bibir Jihoon didepan bibirnya. Ia tersenyum sinis.
“Aku akan memperjuangkanmu.”
“Apa kau ingin bertahan dengan orang yang tidak pernah mencintaimu?”
“Jika pria itu adalah dirimu mengapa aku harus menyerah.”
“Kau gila.”
Lia menggelengkan kepalanya kecil. Ia mendekat dan mengecup belah bibir Jihoon.
Hanya kecupan singkat. Tak ada lumatan dan tuntutan ingin lebih.
“Lebih gila mana aku atau kau?” ucap Lia. “Kau meninggalkannya sementara dia meminta mu untuk tetap tinggal.”
Jihoon membulat.
Langkah kakinya terhenti di tengah jalan. Meski ia kesulitan berjalan menggunakan tongkat, akhirnya dia disana berhenti, mengumpulkan tenaganya untuk kembali melangkah atauㅡ
Menyerah.
Karena Sohyun melihat Jihoon disana tengah berciuman dengan seorang wanita.
Sohyun yakin wanita itu adalah Lia.
Tunangan Jihoon.
•••
Semua kembali seperti sedia kala.
Seperti dunia Jihoon yang kembali ke sedih kala.
Jihoon yang iblis. Dia telah kembali.
Lelaki itu hanya menghabiskan waktunya di kelas dan diatas rooftop. Sesekali menyesap rokoknya ketika pikirannya mulai kacau. Ataupun dia akan pergi ke bar untuk minuman alkohol yang selalu dipesannya.
Bermain dengan wanita adalah salah satu kewajibannya. Meski dia akan bertunangan dengan Lia. Jihoon tidak berhenti bermain dengan wanita di bar, sesekali ia bahkan mengajak mainannya untuk tidur bersama.
Jika Jihoon kembali pada dirinya yang sebenarnya, berbeda dengan Sohyun. Ia tetap menjadi Sohyun yang pertama kali menginjakkan kakinya di Seoul.
Ia mencoba untuk berteman dengan takdir. Membiarkan dirinya mengalir diatas daun yang bergerak diatas air bening, kemana tujuan air itu mengalir Sohyun hanya ingin mengikutinya.
Mengeluh dan menangis tidak akan membuat semuanya kembali normal. Itu yang selalu Sohyun tekankan dalam hidupnya.
Sohyun mencoba untuk bahagia dan melupakan apa yang terjadi dalam hidupnya. Dia tidak sendirian, ada Joy, Woojin dan ibunya yang tetap bersamanya. Membantunya untuk bangkit dalam terkepurukannya saat ini.
Joy dan Woojin tidak pernah berhenti membuat Sohyun melupakan kesedihannya. Ada begitu banyak cara yang mereka lakukan sampai Sohyun tidak tahu darimana mereka mendapatkan cara-cara itu.
Satu musim telah berlalu. Diawal bulan murid kelas tiga di sibukkan dengan belajar dan menghadapi ujian nasional.
Disaat seperti ini perpustakaan lah tempat yang paling ramai dikunjungi oleh murid kelas tiga. 24 jam tempat itu tidak pernah kosong dari murid-murid yang ingin belajar.
Tak terkecuali Sohyun.
Ia selalu mendatangi tempat itu selama seminggu ini dan belajar di kursi paling sudut berdekatan dengan jendela. Bagi Sohyun tempat itu sangat nyaman untuk belajar dan tidur.
Disaat ia mulai lelah belajar maka tidur adalah pilihan yang dia ambil. Untuk apa memaksa otak untuk belajar jika tubuhmu meronta untuk istirahat.
Seperti yang Sohyun lakukan saat ini. Dia tertidur dengan kedua tangan dilipat menjadi bantalan. Wajahnya terlihat bersinar akibat pancaran sinar matahari yang menembus kaca jendela.
Sunyi.
Menjadi salah satu tempat yang membuat Sohyun tertidur nyenyak. Tidak ada kebisingan yang ia dapatkan saat berada di sekolah ataupun saat perjalan pulang.
Perpustakaan sangat hening.
Bayangan hitam tiba-tiba muncul, memblokir cahaya matahari mengenai wajah Sohyun. Sohyun bergerak dalam tidurnya, alis-alisnya yang bertaut karena tidak nyaman dengan sinar matahari perlahan menghilang.
Setelah memblokir cahaya matahari, orang itu meletakkan susu strawberry diatas meja, dekat dengan tumpukan buku-buku tebal itu.
Tidak ada tindakan setelah itu. Orang itu tetap diam di sana sambil memblokir cahaya menggunakan tangannya.
Angin bertiup, menggerakkan korden putih yang sejak tadi diam.
Bersamaan bergeraknya korden itu, Sohyun membuka kelopak matanya. Mengerjapkan matanya membiaskan cahaya yang masuk kedalam retinanya.
Sohyun menguap. Ia memperbaiki posisinya terduduk.
Waktu tidurnya sepertinya sudah cukup. Dia harus kembali belajar dan setelah itu pulang.
“Astaga aku harus mencuci wajahku.” Sohyun beranjak dari duduknya. Tetapi, sebelum ia melangkah Sohyun melihat susu strawberry diletakkan diatas mejanya.
Dia tersenyum manis.
;
“Darimana kau?” tanya Woojin saat melihat saudara kembarnya berjalan menaiki tangga.
Jihoon berhenti melangkah, ia menunduk melihat Woojin di bawahnya. “Dari rumah Daniel Hyung.”
Woojin mengangguk pelan.
“Sudah mendengar sesuatu?” tanya Woojin. Kakinya dilangkahkan menuju sofa panjang berwarna navy itu.
Jihoon berbalik. Niat awal ingin masuk kedalam kamarnya harus ia urungkan saat mendengar pertanyaan penasaran dari saudaranya.
“Apa?” Jihoon berjalan mendekati Woojin.
“Tentang tanggal pertunangan mu dengan Lia.”
“Hah~”
Jihoon membuang tubuhnya di sofa panjang. Matanya terpejam tiga detik kemudian terbuka dan Jihoon menoleh kearah Woojin disebelahnya.
“Aku tahu. Setelah ujian.”
“Apa yang kau lakukan saat itu? Kau tidak mungkin melanjutkannya kan?”
“Ji. Kalau kau tidak ingin pertunangan ini ceritalah dengan ayah atau ibu.”
Jihoon menggeleng pelan, lalu menghela nafas pendek. “Tidak ada gunanya. Ayah akan tetap pada pendiriannya karena ini masalah perusahaan kesayangannya.”
Woojin diam. Maniknya memperhatikan Jihoon lamat-lamat.
Lelaki di sebelahnya terlihat kacau. Bahkan sangat kacau dari yang Woojin lihat saat Jihoon mabuk.
“Bisa aku bertanya?”
“Tentu.”
“Apa kau akan membiarkan Sohyun menemukan orang lain?”
“Apa kau berniat menempati posisi itu?”
“Ya...” jawab Woojin yang sontak mendapatkan tatapan tajam dari Jihoon. “Tapi, Sohyun tidak pernah mengizinkan ku untuk masuk kedalam hatinya. Dia mencintaimu dan menunggumu.”
“...”
“Selama ini aku bisa saja melihatnya tersenyum dan tertawa sangat lebar. Tetapi, aku tahu dia melakukan itu menutupi kesedihannya.”
“...”
“Empat bulan dia melakukan hal yang membuatnya terluka dua kali lipat apa yang terjadi dalam hidupnya.”
Jihoon diam.
Ia mengalihkan perhatiannya pada tv yang menyala.
“Jika kau mencintainya maka kejarlah dia, buat dia kembali padamu.”
“Aku tidak ingin.”
Jihoon menengok. Memandang Woojin dengan pandangan datarnya.
“Aku akan menyakitinya jika membuatnya kembali bersamaku.”
;
Guk guk guk
Ekor panjang dari anjing berwarna coklat itu mengibas-ngibas keatas. Sohyun tertawa renyah melihat tingkah menggemaskan Dongbi saat tahu ia baru pulang.
Sohyun jongkok, mensejajarkan tingginya dengan anaknya.
“Kau menunggu eomma? Uhh manisnya,” Sohyun mengecup kening Dongbi lembut sebelum ia bangkit dan berjalan masuk kedalam flatnya.
Sohyun melepaskan sepatunya dan meletakkannya dirak sepatu.
“Aku pulang.”
“Apa noona membawa pesanan ku?” tanya anak laki-laki yang sedang menikmati tontonanya.
Sohyun memutar matanya malas. Bukannya disambut hangat dia malah di ingatkan janji yang ia buat.
Sohyun mleempar paper bag coklat tepat diatas wajah Sunwoo, Sohyun tidak peduli benda itu akan menyakiti wajah adiknya, hari ini dia terlalu lelah.
“Dimana mommy?”
“Dia keluar untuk mengurus tiket pulang.”
Ah..
Sohyun ingat. Setelah ujian dia akan kembali ke Inggris.
“Kapan ujian mu selesai?”
“Besok.”
“Ah begitu, jadi noona tidak ikut acara kelulusan?”
“Tentu saja tidak. Bagaimana aku bisa ikut kalau aku langsung dilarikan ke Inggris.” jawab Sohyun, ia berjalan menuju kamarnya, membuka satu persatu seragam sekolahnya. Telanjang di depan adiknya tidak masalah, karena Sohyun tahu adiknya memiliki sifat yang menyimpang.
Tentu saja sifat adiknya hanya dia yang tahu. Kedua orang tuanya tidak tahu jika Sunwoo adalah seorang Gay.
“Ah sayang sekali. Berdoa saja mommy tidak mendapatkan tiket dalam waktu yang cepat.”
“Ck, itu mau mu karena ingin bertemu dengan Sungwon kan.”
Sunwoo berhenti menonton. Dia berbalik dan menyaksikan Sohyun mengenakam t-shirt polos berwarna putihnya.
Dia tersenyum lebar saat tanpa sengaja melihat payudara Sohyun yang dilindungi dengan bra berwarna senada dengan kaosnya. Sunwoo tersenyum bukan karena bisa melihat payudara kakaknya, itu hal biasa yang dia lakukan selama hidupnya, tetapi kalimat yang baru saja dikatakan Sohyun lah yang membuat Sunwoo tersenyum lebar.
“Dia menggemaskan.”
“Ck, dia anak laki-laki normal. Jangan menggodanya.”
“Siapa yang menggoda siapa? Dia bahkan lebih dulu menggodaku dengan memanggil oppa.”
Sohyun menggelengkan kepalanya. Kaki pendeknya di langkahkan mendekati Sunwoo, “Itu ciri khasnya. Jangan dimasukkan kedalam hati. Aku tidak setuju kau merusak pikirannya.”
Sunwoo merajuk. Mempout bibirnya sangat menggemaskan. Ia ingin Sungwon tetapi kakaknya ini melarangnya.
Jika Sohyun sudah melarang dirinya, yang bisa Sunwoo lakukan hanya menuruti perkataan sang kakak.
Sunwoo tidak ingin Sohyun marah padanya atau menjauhinya. Dimana lagi dia akan bercerita tentang kesukaannya.
“Bagaimana kabar Jack?”
“Dia akan menikah dengan selingkuhanny. Noona tahu, dia pernah mengatakan jika ia adalah Gay, tetapi dia bisa menghamili seorang wanita.”
“Benarkah?” tanya Sohyun, Sunwoo mengangguk. “Lalu apa yang terjadi antara kalian? Kau dan Jack putus?”
“Tentu saja. Siapa yang mau berkelahi dengan saingan yang memiliki buah besar didadanya.” ujar Sunwoo sambil menyentuh dadanya yang datar.
Sohyun tertawa. Tertawa lebih keras seperti dia menyembunyikan rasa sakitnya.
Guk, guk
Dongbi menyela. Ia berlari senang kearah Sohyun dan mengelus kaki ibunya dengan lembut.
Guk,
“Dia tahu kalau ibunya sedang terluka.” Ujar Sunwoo melirik Dongbi, perlahan anjing besar itu naik kepangkuan Sohyun, tak hentinya Dongbi bermanja dengan Sohyun. Ekornya dikibas kanan dan kiri, kepalanya mendusel di dada Sohyun.
“Noona.”
Sohyun menoleh. Ia memberikan tatapan ‘Apa?’ pada Sunwoo disebelahnya.
“Apa kau tidak mau bertemu dengan Jihoon hyung untuk berbaikan?”
Sohyun diam. Senyumnya meluntur setelah mendengar pertanyaan adiknya.
Sejak hari itu, Sohyun mulai menghindari Jihoon. Saat mereka berdua berpapasan di sekolah, diantara mereka memilih untuk saling mengabaikan dan membuang tatapan ke segala arah.
Bukan Sohyun ingin menghindari Jihoon. Tetapi pria itu telah memberi peringatan tidak langsung padanya untuk tidak mendeka, membuat Sohyun langsung menyerah dan mundur secara perlahan untuk tidak berharap lebih pada mantan kekasihnya.
Sohyun pun sadar. Dia bukanlah wanita yang dicintai Jihon seperti beberapa waktu yang lalu. Sekarang ada Lia, wanita yang akan menghabiskan sisa waktunya untuk Jihoon.
“Tidak. Apa yang harus diperbaiki dengan hubungan yang sejak awal sudah hancur?”
“Kalian masih mencintai kan?”
Sohyun menggelengkan kepalanya. “Tidak.”
“Jangan berbohong.”
“Tidak untuknya...” Sohyun bangkit dari duduknya sambil menurunkan Dongbi dari pangkuannya. “Sudahlah, mengapa harus membahas ini. Aku ingin keluar kau ingin menitip?”
Sunwoo diam, kemudian dia menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku mau bertemu Sungwon.” ucapnya.
Sunwoo bangkit dari duduknya, tak lupa ia meraih jaket yang di letakkan di sandaran sofa.
“Ingat, apa yang baru saja kukatan.”
“Iya aku tahu.”
.
Sohyun berjalan di atas trotoar. Menikmati es cream yang dibelinya.
Jalan raya di sebelah kanannya begitu ramai dengan beberapa kendaraan roda empat melaju dengan kecepatan sedang, kemudian di sebelah kirinya toko-toko terlihat begitu indah dengan cahaya lampu. Beberapa pengunjung terlihat begitu antusias saat masuk kedalam dan berbelanja.
Ah ya apakah aku sudah memberitahu jika Sohyun telah pindah rumah?
Tidak, maafkan aku.
Setelah pulang dari rumah sakit, Sohyun langsung dibawah kerumah yang baru, tepat berada di tengah kota, tempatnya cukup staratagis, dekat dengan toko-toko yang memudahkan Sohyun untuk berbelanja.
Jarak rumahnya bahkan sangat dekat dengan sekolahnya, hanya membutuhkan delapan menit jika berjalan kaki. ㅋㅋㅋㅋ
Sohyun senang dengan tempat barunya. Ia bisa leluasa berbelanja. Melihat keramaian kota Seoul dimalam hari. Tetapi, ada sedihnya juga, di tempat barunya ini jauh dari rumah lamanya. Sohyun tidak bisa lagi dengan leluasa ke kafe milik Jaehyun. Menikmati minuman favoritenya secara gratis.
Langkahnya terhenti begitu saja saat Sohyun melihat mesin jepit boneka. Senyum yang sejak tadi menghiasi wajah indahnya, perlahan meluntur.
Sesuatu dalam ingatannya kembali berputar. Mengingatkan Sohyun pada kenangan indahnya pada seseorang.
Sohyun menggelengkan kepalanya perlahan. Kemudian melangkahkan kakinya untuk menjauhi benda itu. Sohyun pergi dengan ingatan yang terus berputar pada hari itu.
;
Jihoon berhenti berjalan. Sebuah benda kecil yang terdapat di depan toko menarik perhatiannya saat ini.
Mesin jepit boneka.
Jihoon memperbaiki tudung hoodie berwarna hitamnya. Dia diam beberapa saat mengingat kenangannya bersama Sohyun.
Ya, kenangan bersama mantan kekasihnya.
Jihoon masih ingat betul saat itu. Malam saat mereka berdua habis membeli makanan untuk Dongbi, ditengah jalan mereka melihat benda itu, dan Sohyun merengek ingin salah satu boneka yang ada didalam.
Hampir setengah jam mereka habiskan untuk mendapatkan boneka kecil didalam sana. Tetapi, Jihoon tidak mendapatkannya dan akhirnya mereka menyerah. Kembali kerumah dengan perasaan kesal pada mesin jepit itu.
Jihoon menghembuskan nafasnya panjang. Ia melangkah mendekat, memasukkan selembar uang dan memainkan mesin penjepit itu sekali lagi.
Bukan hal mudah memainkan benda itu. Butuh kesabaran yang besar dan ketepatan untuk menjepit boneka imut didalam.
Jihoon menunduk. Air matanya mengalir tanpa permisi.
Perasaannya tiba-tiba kacau.
Hatinya sakit melihat jepitan itu berhasil mengangkat boneka rilakkuma.
Suara isaknya mulai terdengar. Jihoon menutup wajahnya dengan tepalak tangannya. Sakit dihatinya tidak tertahankan.
Boneka rilakkulama itulah yang di inginkan Sohyun saat mereka masih berkencan dan sekarang Jihoon mendapatkannya. Tapi untuk apa jika Sohyun tidak bersamanya?
Mengapa ia harus memenangkan permainan itu di saat mereka telah berpisah?