The Demon

The Demon
Part 4



Happy reading


.


.


.


Sohyun melangkahkan kakinya bersama seorang gadis yang diketahui adalah teman kelasnya. Ia tertawa bersama, saling membicarakan sesuatu yang mengundang tawa keduanya.


Gadis bersurai hitam panjang lurus itu mendekatkan bibirnya ke telinga Sohyun, membisikkan sesuatu yang mempu membuat Sohyun tercengang.


Sohyun menghentikan langkahnya, kedua alisnya saling bertaut dibawah kerutan halus didahinya.


"Benarkah? Kau ── sudah melakukannya dengan kekasih mu?", gadis itu menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Kami sudah berkencan selama 2 tahun, jadi yah saat perayaan dua tahun kami melakukannya. Tidak ada yang dirugikan juga aku melakukannya dengan kekasihku."


"Heol daebak."


Gadis ber name tag Park Joy. Namanya sangat menggemaskan, seperti orangnya. Gadis itu tinggi semampai, tidak gemuk dan tidak kurus, porsi tubuhnya sangat pas.


Joy terkekeh kecil setelah memberitahukan rahasianya pada Sohyun. Ia tidak takut jika teman kelasnya itu membongkarnya, Joy sangat percaya jika Sohyun akan menjaga rahasianya.


"Lalu bagaimana denganmu, kau bilang sedang berkencan dengan seseorang. Katakan padaku siapa dia?"


"Hm?" Sohyun


"Apa yang sudah kalian lakukan selama berkencan?", Sohyun menggelengkan kepalanya tidak mengerti sifat satu teman barunya itu. Bukankah itu terlalu private untuk di umbar-umbarkan.


"Apa gaya pacaran di Inggris sama dengan Korea?"


"Aku belum tau pasti apakah gaya pacaran di sini dan Inggris berbeda atau tidak. Yang jelas gaya pacaran orang barat terlampau sangat bebas."


"Mwo jinjjayo?"


Sohyun menganggukkan kepalanya pasti.


"Sudah berapa lama kalian berkencan?"


"Umm 5 atau 6 tahun mungkin, aku tidak mengingatnya."


"Heol, kalian berkencan saat umur berapa? Astaga aku tidak bisa membayangkannya. Pasti kalian banyak melakukannya kan.", Sohyun menggelengkan kepalanya. Melakukan seperti yang dipikirkan Joy, sama sekali tidak pernah ia lakukan bersama kekasihnya. Seorang pemuda yang menjadi kekasihnya itu terlampau menjaganya, dia hanya sekedar mencium, memeluk dan memegang tangannya. Tidak pernah lebih dari itu.


"Eiyyy jangan menipuku. Ayo katakan saja." goda Joy sambil menggelitik gadis berpipi chubby itu. Sohyun yang notabane tidak tahan digelitiki, menggeliat seperti cacing. Mencoba untuk menghindari kelitikan dari teman kelasnya itu.


Joy tidak berhenti menggelitik pinggang Sohyun, meski ia tahu mereka berada di suatu tempat yang cukup ramai didatangi siswa siswi saat jam makan siang.


"Hentikan Joy-a. ha ha ha" ucap Sohyun mencoba untuk menghindari. Memukul tangan jail Joy dan memeluk dirinya sudah ia lakukan. Namun dasar keras kepalanya Joy tidak mau berhenti.


Dari arah belakang Sohyun, terdapat beberapa pemuda berjalan sambil membawa nampan berisi menu makan siangnya. Terus berjalan tanpa memperhatikan sekitarnya, dan Sialnya Joy terus menggelitik Sohyun, membuat gadis itu menggeliat seperti cacing kepanasan.


Bruk


Sohyun yang mencoba lari dengan membalikkan badan tanpa tahu jika segombrolan siswa berada dibelakangnya. Sohyun menabrakkan tubuhnya pada siswa berahang tegas, sampai nampan yang dibawa siswa itu jatuh dan jangan lupakan saos yang bertumpahan di baju sekolahnya.


Menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ini benar-benar bencana, Sohyun mengangkat pandangannya melihat siswa dengan papan nama Seo Changbin yang melekat pada seragam di dada kirinya.


"Yak!!"


Sohyun melompat mundur saat suara melejit milik Changbin menggema di sekitarnya. "Bodoh, jika mau bermain jangan disini bodoh, lihat apa yang terjadi. Ais." Changbin memperhatikan seragam sekolahmya yang berlumur saos dan nasi, tangannya digerakkan untuk membersihkan sisa-sisa nasi yang masih menempel di bajunya. Sementara Sohyun masih berdiri di hadapan Changbin, merasa bersalah karna telah membuat pakaian pemuda berparas tegas itu jadi kotor seperti itu.


Changbin mendongakan kepalanya, kedua alisnya menukik ketika melihat ekspresi Sohyun. Paras Sohyun terlihat sangat cantik dan manis, pipi chubby nya mengundang siapapun untuk mencubit atau memakannya sekaligus, bibirnya yang mungil dan berwarna cherry itu, ahh Changbin ingin mencicipinya.


Memperhatikan lebih intens, untuk beberapa menit telah berlalu, Changbin baru menyadari wajah baru itu, ini pertama kalinya ia melihat wajah Sohyun. Apa gadis itu murid baru?


"HEI!"


"Uh"


"Kau murid baru?", Sohyun menganggukkan kepalanya. Changbin tersenyum miring, dugaannya benar, Sohyun murid baru dan sudah pasti gadis itu belum tahu siapa dirinya.


"Yak, kau mengotori bajuku. Tidakkah kau melakukan sesuatu." ucapnya. Sohyun terdiam beberapa detik, mencerna apa yang baru saja dikatakan Changbin. tidak lama dai berpikir, Sohyun akhirnya menyadarinya dan menundukkan kepalanya sambil merapalkan permohonan maaf.


Changbin yang melihatnya hanya merotasikan bola matanya malas. Bukan permintamaafaan yang diinginkannya. Tetapi, itu


"Berhenti mengucapkan maaf, aku tidak membutuhkannya. Aku ingin yang lain."


Sohyun berhenti merapalkan permohonan maaf. Mengangkat pandangannya melihat raut wajah Changbin dengan kedua bola matanya bergetar takut. Wajah Changbin terkesan bringas dan tatapannya tajam, seolah tatapannya itu dapat melukai seseorang hanya dengan menatapnya saja.


Pemuda itu kembali tersenyum miring, senyum khas devil.


"Berhubung kau adalah murid baru aku akan terbaik hati. Aku hanya ingin ... Menjilati sepatuku yang terkena noda ini." ucapnya sembari mengangkat sepatu putihnya yang sudah kotor. Sohyun menunduk memperhatikan sepatu kets putih itu. Menelan ludahnya kasar, bagaimana bisa ia menjilati sepatu seseorang. Bahkan menjilati sepatunya sendiri ia tidak mau. Sohyun memilih untuk mencuci tumpukan kaos kaki busuk yang banyak daripada ia harus menjilati sepatu orang : note hanya dua sepasang kaos kaki busuk saja.


Changbin mengangkat sebelah alisnya, matanya mencincing tidak suka melihat Sohyun yang hanya diam mengamati sepatu mahalnya.


"Hei, apa yang kau lakukan. Ayo jilati."


Sohyun masih terdiam, masih enggan untuk menuruti permintaan Changbin.


Sementara Joy yang tidak jauh dari Sohyun, perlahan mendekatkan diri. Berbisik pelan disamping teman kelasnya itu.


"jangan pernah melakukannya Kim Sohyun, tidak perlu se takut itu padanya."


"Wae?" tanya Sohyun sepelan mungkin.


"Karna dia bukan Park Jihoon, sudah jangan dengarkan── yak apa aku memintamu untuk berbisik-bisik?" belum sempat Joy melanjutkan kalimatnya, Changbin sudah memutuskannya. Joy dan Sohyun kembali berjengit kaget mendengar bentakan itu. Menelan ludahnya kasar, saat netranya melihat kilatan api di mata Changbin. Tanda pria itu sudah sangat marah.


Changbin sudah tidak tahan lagi, ia sudah memberi Sohyun waktu untuk menyiapkan diri tapi gadis itu malah berbisik dan samar-samar Changbin mendengar nama Jihoon. Ck bisanya mereka membahas Jihoon saat ini, terlebih mereka membandingkan dirinya dengan Jihoon. Ck, asal mereka tahu saja, dia lebih iblis daripada Jihoon.


"Baiklah kalau kau tidak mau menjilati sepatuku, maka aku akan menggantinya." Changbin menggerakkan kepalanya, memberi intruksi pada dua pemuda yang ada dibelakangnya itu, menarik Sohyun keluar dari kantin.


Sohyun menjerit ketika kedua pemuda yang tidak dikenalnya membawa tubuhnya pergi entah kemana, sementara Changbin tersenyum penuh kemenangan selihat punggung sempit dihadapannya yang sedang diapit dengan kedua teman berengseknya.


Sohyun digeret paksa, melewati lorong sekolah. Tak berhenti sepasang mata menatap Sohyun dan pemuda berwajah sangar itu, saling berbisik dan membicarakan apa yang akan terjadi pada Sohyun.


Siswa-siswi di sepanjang lorong, bukanlah orang bodoh. Ia tahu siapa Changbin, meski kepopuleran Changbin masih dibawah Jihoon, tapi mereka tahu kalau pemuda itu sama jahatnya dengan Jihoon.


"Yak, lepaskan aku!"


"Jalanlah yang tenang, jangan sampai aku menyuruh kedua temanku membawamu dengan kasar."


Sohyun tidak tinggal diam, dia berontak. Menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri agar memudahkan dirinya untuk melepaskan diri. Menghelakan nafasnya pelan, ia lelah, tenaga kedua pemuda itu tidak ada tandingannya dengan tenaganya.


Menghentikan langkahnya tiba-tiba, kedua pemuda yang menariknya ikut berhenti kemudian menatapnya bingung.  Sementara Changbin melangkah mendekat, memperhatikan Sohyun yang tiba-tiba diam.


"Ada apa?"


"Tali sepatuku lepas."


Changbin menundukkan kepalanya, kedua alisnya bertaut saat netra coklatnya melihat sepatu kets milik Sohyun baik-baik saja. Ia mengangkat wajahnya, dan sebelum itu sesuatu yang keras menghantam kepalanya.


Bugh


"Akh──" jerit Changbin menyentuh matanya yang begitu terasa nyeri. Sial sekali, Sohyun menyeruduknya dengan kepala kerasnya.


**Bugh


Bugh**


*Tap


Tap


Tap


Tap*


Sohyun berlari dengan kencang, tidak peduli bagaimana nasib kedua pemuda tadi saat ia menendang kesejatiannya. Masa bodoh jika milik mereka tidak berfungsi lagi, yang jelas Sohyun harus menjauh dari Changbin dan kedua teman-temannya.


"Yak, Kim Sohyun! Mau pergi kemana kau hah?"


Sohyun memutar kepalanya kebelakang, melihat lantai bawah yang masih sepi namun suara melejit milik Changbin menggema. Jantung Sohyun berpacu lebih cepat, pemuda itu tidak membiarkannya pergi begitu saja. Melanjutkan larinya, menjauh sejauh mungkin dari Changbin. Dan Sohyun berharap bisa bertemu dengan seseorang yang dapat menghentikan Changbin.


•••


Ckmhh..


Jihoon menghentikan ciumannya, memperbaiki posisinya keluar dari zona sofa. Melangkahkan kakinya dengan lebar agar ia bisa berdiri tepat dihadapan Sohyun, kemudian menarik Sohyun berdiri dihadapannya, mengsejajarkan posisi mereka.


Beberapa detik kemudian, Jihoon mendaratkan pagutannya. Tak ada niatan untuknya untuk membiarkan bibir merah Sohyun mengering tanpa salivanya. Bibir kenyalnya kembali melumat bibir gadis itu, memperdalamnya dengan sangat lembut hingga Sohyun tak berdaya. Dia membalas ciuman si tampan, tidak terburu dan mencoba mengimbangi pagutan Jihoon. Seolah mereka memiliki waktu selamanya ; sebelum beberapa detik kemudian seseorang menghancurkannya.


Brak


"Omona!"


Jaemin menutup matanya dengan kedua telapak tangan yang sela-sela jarinya terbuka dengan lebar, memberinya sedikit telah untuk melihat pagutan panas antara Jihoon dan murid baru.


Tunggu,


Murid baru.


Ckmhhh..


Arrggh, temannya itu datang pada waktu yang tidak tepat.


Sohyun membuka kedua matanya perlahan, memperlihatkan bola mata coklat madu miliknya. Mulutnya terbuka sedikit, dadanya bergerak naik turun, seolah sedang memompa udara masuk kedalam dadanya.


Mengangkat pandangannya, melihat sosok pemuda tampan yang telah meciumnya. Ketika mata mereka bertemu, Sohyun merasa dunia berhenti begerak dan ia terjatuh pada sepasang manik coklat milik Jihoon. Membuatnya pada pusaran perasaan yang aneh, ada rasa dingin dan hangat didalam dadanya. Matanya bergerak turun, pada bibir merah dan bengkak milik Jihoon. Itu ulahnya dan Sohyun yakin jika bibirnya juga seperti Jihoon.


Astaga, mengapa mereka bisa seintim tadi. Tidak saling mengenal, bagaimana bisa Sohyun membiarkan seseorang menciumnya selain kekasihnya.


"Park Jihoon."


Jihoon dan Sohyun menoleh kearah samping mereka dimana Jaemin masih berdiri disana mengamati mereka. Jihoon terdiam, namun tidak dengan tatapan tajamnya yang tentu saja diberikan pada Jaemin yang telah mengganggu waktu berduanya dengan Sohyun. Berbeda dengan Jihoon, Sohyun malah merasa sangat malu dan kesal, bahkan pipinya sudah memerah padam, perpaduaan antara malu dan marah. Malu karna ada orang lain yang melihatnya dan marah karna Jihoon menciumnya.


Melangkahkan kakinya pergi meninggalkan tempat itu. Sohyun terus berjalan dengan kepala yang ditundukkan. Ia sudah tidak berani mengangkat kepalanya untuk melihat Jihoon atau Jaemin lagi, rasanya sangat malu.


Selepas kepergian Sohyun, Jaemin mendekat kemudian melemparkan satu bungkus kepada Jihoon. "Oh shit, kau menciumnya."


"Kau menggangguku." ucap Jihoon malas, melangkahkan kakinya mengitari sofa dan kembali duduk dengan nyaman.


"Hei, kenapa kau menciumnya?"


Jihoon yang tadi sibuk membuka bungkusan rokoknya tiba-tiba terdiam. Kenapa dia mencium gadis itu? Entah kenapa pertanyaan itu tidak terdaftar di kepalanya, memangnya Jihoon punya alasan untuk mencium seseorang? Dan apakah itu harus Jaemin pertanyakan setelah mengganggu aktifitasnya bersama Sohyun.


"Apa aku harus memiliki alasannya?"


Jaemin menganggukkan kepalanya cepat, ia mendekat dan duduk tepat disamping Jihoon.


"Ini aneh Park Jihoon kau tidak akan mencium seseorang jika itu bukan termasuk pekerjaanmu. Kau akan menciumnya jika kau dibayar. Aku rasa tadi, murid baru itu tidak membayarmu."


"Murid baru?"


Untuk kedua kalinya Jaemin menganggukkan kepalanya, "iya, dia murid baru yang pernah kubicarakan saat itu. Kedatangannya bersamaan dengan Nakyung dan dia berada satu kelas dengan Woojin."


Jihoon terdiam, pikirannya melayang kemana-mana. Mulai dari pertemuan tidak terduganya dengan Sohyun di bandara, disekitar rumahnya, mini mart dan sekarang mereka satu sekolah. Entah mengapa mereka terus bertemu secara kebetulan seperti ini, seolah mereka ditakdirkan untuk bertemu.


Menghela nafas beratnya, Jihoon memijit pangkal hidungnya yang terasa sakit karena memikirkan pertemuan dirinya dan Sohyun. Jika sekali lagi ia bertemu dengan Sohyun secara kebetulan, Jihoon pastikan jika Sohyun adalah


Miliknya ... Milik the demon.


;


;


Duk


"Bodoh"


Duk


"Dasar bodoh"


Duk


"Uhhh Kim Sohyun kau memang bodoh." ucap Sohyun dengan nada kesal, mengepalkan kedua tangannya dihadapannya.


"Bodohhh," kembali membenturkan kepalanya di mejanya, beruntung kelasnya sangat sepi jadi tidak masalah bagi Sohyun untuk merutuki kebodohannya telah berciuman dengan pemuda asing.


"Yak Kim Sohyun bagaimana kau bisa berciuman dengannya, astaga kau melukai hati kekasih mu bodoh." ucap Sohyun, memarahi kebodohannya.


"Arrgghh, aku ingin pindah sekolah saja."


Sohyun berteriak, kakinya dihentak-hentakkan di lantai menimbulkan suara ketukan. Kembali membenturkan kepalanya diatas meja, tidak peduli jika tiba-tiba dia amnesia, toh itu yang dia inginkan saat ini. Sohyun ingin melupakan tindakan bodohnya beberapa menit yang lalu.


.


.


Melangkahkan kakinya panjangnya melewati lorong setiap kelas, tangannya terlihat sibuk dengan sekumpul buku-buku murid yang baru didapatkannya diruang guru beberapa menit yang lalu.


Pemuda itu melangkah dengan tenang sebelumnya, tidak ada rasa takut sama sekali dengan koridor sekolahnya yang sunyi disaat jam istirahat seperti ini. Kebanyakan murid-murid pergi ke kantin atau ke halaman belakang yang sangat sejuk, rumput hijau di taman belakang dan beberapa pohon rindang yang membuat tempatnya sangat nyaman untuk bersantai.


Duk


"Bodoh"


Duk


"Dasar bodoh."


Kaki panjangnya yang sejak tadi membawa tubuhnya itu tiba-tiba berhenti melangkah. Suara aneh itu tiba-tiba terdengar sepanjang koridor, Woojin membalikkan badannya mengamati sekitarnya. Tak ada seorangpun disana, hanya ada dirinya yang berada di koridor itu.


"Uhhh kim Sohyun kau memang bodoh."


Duk


Woojin menoleh kearah jendela yang memperlihatkan suasana kelas yang koson-terdapat satu siswi yang sedang merutuki kebodohannya.


"Bodohh"


Menggelengkan kepalanya, ia tidak mengerti mengapa satu teman kelasnya itu terus-terusan menyebut dirinya bodoh dan membenturkan kepalanya di meja. Woojin melangkahkan kaki panjangnya masuk kedalam kelasnya, menghampiri Sohyun yang masih betah menempelkan dahinya pada meja kayunya.


"Kim Sohyun."


Kepala itu terangkat, mendonga untuk melihat siapa yang telah memanggilnya. Sohyun memperbaiki posisi duduknya ketika atensinya mendapati Woojin berdiri dihadapannya.


"Eoh"


"Sedang apa kau disini?"


"Aku?"


Woojin menganggukkan kepalanya, satu tangannya menarik satu kursi didepan Sohyun kemudian duduk. Meletakkan kumpulan buku yang dibawanya sejak tadi.


"Kau tidak ke halaman belakang?"


"Untuk apa?" tanya Sohyun dengan memiringkan kepalanya sedikit, terlihat seperti kucing yang sedang menatap bingung majikannya. Woojin terkekeh melihat tingkah menggemaskan teman kelasnya itu.


"Aku lupa kalau kau murid baru. Lain kali kesanalah saat jam istirahat."


"Jika ketua kelasku ini yang mengajakku kesana."


Woojin terkekeh, mengangkat tangannya mengusak rambut Sohyun.


"Hentikan ketua kelas," Ucap Sohyun, dan Woojin menghentikan kegiatannya. Sohyun terdiam beberapa detik, manik coklatnya melihat kumpulan buku tulis para murid. "Buku apa ini?"


"Oh, ini ... Buku tugas, Jung saem memintaku untuk mengantarkan ke kelas 3-2"


"3-2?"


"Uhm, kau mau ikut mengantar buku-buku ini daripada kau disini dan melukai kepalamu?"


"Eoh?", Woojin tersenyum lebar memperlihatkan gingsulnya.


Pemuda berkulit tan itu bangun dari duduknya, mengambil separuh dari kumpulan buku-buku itu kemudian memberikannya kepada Sohyun.


"Kajja."


Woojin melangkahkan kaki panjangnya meninggalkan Sohyun yang masih belum memahami situasinya. Manik coklat milik Sohyun senantiasa memandangi tumpukan buku dihadapannya, tidak ada niatan untuknya mengambilnya dan mengikuti Woojin yang kini berada di pintu kelas.


Pemuda itu membalikkan badannya, ia tertawa pelan. Kemudian memanggil Sohyun.


"Murid baru, ayo."


Sohyun menoleh, sebelah alisnya terangkat ketika netranya melihat gerakan tangan Woojin yang tengah menunjuk tumpukan buku dihadapannya.


"Ayo."


Sohyun tersenyum, tangannya bergerak untuk mengambil tumpukan buku itu kemudian bangun dari duduknya dan melangkah mendekati Woojin yang senantiasa menunggunya di pintu masuk.


Mereka berdua melangkah, berjalan menuju lorong sekolahnya, melewati beberapa kelas untuk menuju kelas 3-2. Sepanjang perjalanan Sohyun  tertawa karena tingkah lucu Woojin, Sohyun tidak percaya jika pemuda berkulit tan itu bisa mengeluarkan candaan yang membuat Sohyun tidak dapat berhenti tertawa.


Disaat mereka tengah asik tertawa, ada sepasang mata yang melihatnya dengan tidak suka. Menggeretakkan giginya, mencoba untuk menahan emosinya ketika melihat orang yang dicintainya tertawa dengan orang lain. Nakyung tidak suka, melihat Woojin tertawa bersama orang lain.


"Ujinie."


Woojin dan Sohyun menghentikan langkahnya ketika seseorang memanggil salah satu dari mereka. Woojin tersenyum ketika atensinya mendapati wajah cemberut gadis cantik yang tengah melangkah mendekatinya.


"Ujinie aku tadi mencarimu kemana-mana dan ternyata kau disini bersama orang lain." ucap Nakyung dengan nada semenggemaskan mungkin. Sohyun menakutkan kedua alisnya tidak percaya dengan gaya bicara gadis itu kepada Woojin, dan Sohyun merasa mual mendengarnya.


"Oh, aku tadi dari ruang guru dan Jung saem memintaku untuk membawakan buku... Ahhh ke kelasmu. " ucap Woojin ketika ia menyadari ia telah berada didepan kelas 3-2, lebih tepatnya kelas Nakyung dan saudaranya ; Jihoon.


Nakyung melirik Sohyun dengan tatapan tidak sukanya. Diamati dari atas sampai bawah, gadis yang tidak ia ketahui namanya itu terlihat cantik dan menggemaskan. Pipinya chubby, matanya bulat, tubuhnya mungil. Tapi, tetaplah dirinya yang lebih cantik dari Sohyun.


Sementara Sohyun yang ditatap hanya diam, ia tidak mempermasalahkan bagaimana cara pandang Nakyung kepadanya. Manik coklat Sohyun, bergerak mengamati wajah cantik Nakyung. Yah Sohyun akui gadis dihadapannya itu cantik dan manis. Ia terlihat manja, mungkin anak tunggal ; hanya satu kali melihat penampilan dan gaya bicara Nakyung, semua setuju jika Lee Nakyung adalah gadis yang manja.


Woojin memperhatikan kedua siswi cantik itu yang saling memandangi satu sama lain. Yang satu memandangi tidak suka dan satunya terlihat biasa-biasa saja. Woojin menggelengkan kepalanya ketika melihat Nakyung memberikan tatapan tidak sukanya ada Sohyun, hal ini seharusnya tidak boleh dilakukan pada Nakyung, Sohyun adalah teman kelasnya dan Nakyung tidak boleh cemburu pada Sohyun, karena Nakyung bukanlah seseorang yang spesial bagi Woojin. Dia hanyalah seorang sahabat kecilnya.


**Tbc


see you next chapter**