The Demon

The Demon
Part 30




Typo Bertebaran


l


.


.


.


Sesuatu yang terakhir menjadi sesuatu yang sangat lama dan mengkhawatirkan.


Bagaimana tidak, hampir satu jam anak murid kelas tiga mengamati setiap soal yang pada kertas ujian mereka.


Hari ini adalah hari terakhir ujian, dan mereka tampak kesulitan dengan soal-soal itu. Tak mengerti, mereka telah belajar mati-matian; sebagian yang memang ingin lulus. Tetapi tak ada satupun soal yang mereka pahami.


Seperti soal itu memiliki bahasa asing yang sulit untuk di mengerti para murid kelas tiga.


Triiiingggg


"Waktu kalian sudah habis, dari belakang silahkan mengoper kertas ujian kalian kedepan." ucap Seorang wanita berkaca mata.


Helaan panjang terdengar begitu lelah. Beberapa murid butuh waktu lebih untuk menyelesaikan soal-soalnya.


"Yak, Kim Sohyun kau menyelesaikan semuanya?" tanya Joy, Sohyun berbalik dan menganggukkan kepalanya.


"Kau?"


Joy menggelengkan kepalanya, memasang ekspresi tidak senang mengingat apakah ia mengisinya atau tidak.


"Sepertinya aku akan mengulang satu tahun lagi." Ucapnya malas, Joy menengok kearah Woojin, memandang lamat-lamat wajah serius itu. "Park Woojin apa yang sedang kau pikirkan?"


"E-eh. Tidak!" Woojin gelagapan.


"Kau tidak menjawab dengan benar soal-soalmu ya??" goda Joy. Mengulurkan tangannya menggoda Woojin yang masih terdiam, seperti dia sedang memikirkan sesuatu.


"Jin, kamu ada masalah?"


Woojin menoleh menatap Sohyun. Manik hitamnya bergerak gelisah saat pandangannya bertemu dengan Sohyun.


"Tidak," Woojin menggelengkan kepalanya, "setelah ini kita mau kemana?" tanya Woojin mengalihkan atensinya pada Joy di sebelahnya.


"Bagaimana kalau pergi karaoke."


Woojin mengangguk. Setuju dengan usul Joy.


Tetapi, Sohyun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ikut. Aku harus pergi ke suatu tempat."


"Kemana? Jangan bilang hari ini kau langsung berangkat ke Inggris?!"


"Tidak, aku berangkat empat hari lagi."


"Ahh syukurlah. Kupikir kau berangkat hari ini. Aku belum menyiapkan hadiah untukmu."


"Memangnya kau mau kemana setelah ini."


Sohyun diam. Tetapi dia tersenyum seolah senyumnya adalah jawaban dari pertanyaan pria berkulit tan itu.


Dan benar saja, Woojin mengetahui arti senyuman itu dan Woojin tahu apa yang dimaksudkan oleh Sohyun.


;


Sohyun menghirup udara dalam-dalam. Merasakan sejuknya udara yang didapatkan di atas rooftop sekolahnya.


Matanya terpejam beberapa detik dan terbuka mengamati sekitarnya yang begitu indah.


Gedung-gedung tinggi berjejeran, lapangan sepak bola sekolahnya terlihat begitu jelas di bawah sana, dan beberapa temannya menikmati olahraga setalah penak menghadapi ujian.


Suatu hari nanti Sohyun akan merindukan sekolahnya ini, dan juga tempat ini. Rooftop.


Tempat yang memberi banyak kenangan untuk dirinya.


Ceklek


Pintu yang terbuat dari besi itu terbuka lebar. Seseorang dengan surai hitmanya berdiri di bibir pintu dengan ekspresi terkejut.


Sohyun berbalik. Dia tersenyum memandang pemuda itu.


“Hai.” Sapa Sohyun ketika ia melihat Jihoon masih berdiri di sana dengan canggung. “Bisa bicara sebentar saja?”


Jihoon diam. Tidak tahu harus melakukan apa.


;


Keadaan semakin canggung.


Dua mahluk hidup itu hanya bisa saling melirik melalui ekor mata masing-masing.


Tidak ada pembicaraan setelah Jihoon mengiyakan permintaan Sohyun.


Mereka, berdiri didekat pembatas rooftop. Meletakkan tangannya pada pembatas rooftop.


“Ekhemm..” Sohyun berdehem, memecahkan keheningan antara mereka.


“Bagaimana dengan ujianmu? Apa berjalan dengan baik?”


Jihoon mnenegok sebentar, ia mengangguk sebagai jawaban. “Ya, bagaimana denganmu?”


“Baik.”


Hening.


Tidak ada pertukaran kata setelah itu.


Sohyun mengigit bibir bawahnya. Terlalu banyak kalimat yang ingin di katakan untuk Jihoon, tetapi Sohyun tidak tahu harus memulai dari mana.


“Ku dengar kau akan kembali ke Inggris?” tanya Jihoon.


Sohyun menoleh dan tersenyum lebar. Sohyun fikir pemuda itu tidak tahu jika ia akan kembali ke Inggris.


“Heum, empat hari lagi aku akan berangkat.”


“Apa kau membawa dia bersamamu?”


“Iya, dia tidak memiliki siapapun selain keluarga ku.” ucap Sohyun, ia pun merentangkan tangannya membuat aliran darahnya menjadi lancar dan menghilangkan semut-semut kecil ditangannya yang hanya dia yang dapat merasakan rasa sakitnya.


“Dia mulai ditinggalkan kedua orang tuanya saat kecil, kemudian di adopsi dengan sepasang suami istri asal Inggris. Tetapi saat dia remaja orang tua angkatnya meninggal karena kecelakaan.”


“Kau tahu banyak tentangnya.”


Sohyun tersenyum. “Aku tahu karena dia memberitahu ku. Dia juga tidak takut kalau aku meninggalkannya karena kisahnya.”


“...”


“Karena orang yang tulus mencintaimu tidak akan meninggalkanmu meski seburuk apapun masa lalu mu dan bagaimana orang-orang menganggap mu buruk.”


Sohyun memperbaiki posisinya menghadap Jihoon. Tangannya di ulur untuk meraih tangan Jihoon untuk di genggaman.


“Jihoon-ah..”


Jihoon diam.


“Masa lalu dan statusmu pembunuh ataupun iblis pun bukanlah sebuah halangan untuk kita bersama.”


“...”


“Aku tidak peduli dengan semuanya, bahkan dengan sudut pandang orang lain. Kita telah bersama, menghabiskan waktu bersama dan aku mengenalmu daripada mereka.”


Jihoon menggelengkan kepalanya. “Kau tidak mengenalkku dengan baik. Bahkan Woojin dan kedua orang tuaku tidak mengenaliku.”


“Jihoon, dengarkan aku.”


“Aku akan bertunangan, beberapa hari lagi aku akan bertunangan dengan Lia.”


Deg,


Genggamannya lepas begitu saja saat Jihoon memberitahunya sesuatu yang menyakitkan. Jihoon dan Lia. Secepat itu?


Sohyun melangkah mundur kebelakang, menggelengkan kepalanya dan menatap dengan tatapan tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya.


“Katakan jika itu hanyalah sebuah kebohongan!” Pinta Sohyun. Jihoon diam beberapa detik sebelum akhirnya dia menggelengkan kepalanya.


Pemuda tampan itu merunduk, menghindari tatapan sendu gadis dihadapannya.  “Maafkan aku.”


“Kau mencintainya?”


Tidak ada jawaban. Jihoon tak ingin memberi kejelasan soal perasaannya terhadap Lia.


Sohyun memperhatikan pemuda itu dengan frustasi. Sohyun ingin tahu jawabannya, dan Jihoon selalu seperti ini.


“Tidak bisakah kau membatalkannya dan ikut bersamaku ke Inggris?”


Jihoon masih diam.


“Maafkan aku.”


Sohyun menyeka air matanya yang perlahan mengalir di pipi chubbynya. Dia menoleh, mengamati lapangan luas dibawahnya, masih ada beberapa murid yang bermain bola disana.


“Aku mengerti. Aku tidak seharusnya memaksa orang yang tidak pernah mencintaiku.” Guman Sohyun pelan, nyaris tak terdengar jika saja Jihoon tidak memiliki telinga yang tajam.


“Sohyun-ah..” Jihoon mengangkat kepalanya.


“Maafkan aku Park Jihoon.”


Sepasang mata indah itu saling bertatap dalam, memancarkan kesedihan yang hanya di mengerti oleh keduanya.


Jihoon mendekat, menarik telengkuk Sohyun dan mencium belah bibir gadis itu. Jihoon mencium Sohyun dengan gerakan lembut dan tenang seperti sedang membujuk untuk larut.


Bibir Jihoon bermain dengan perlahan, mencapai bibir atas dan bawah milik Sohyun bergantian. Selama ini Jihoon merindukan bibir manis milik Sohyun, bahkan ia merindukan setiap sentuhan pada gadis itu, dan sepertinya Sohyun juga merasakan hal yang sama. Matanya yang semula membulat kaget perlahan terpejam, menikmati pagutan yang selama ini ia rindukan.


Tangan Sohyun yang bebas perlahan naik dan melingkar dileher Jihoon. Sesekali telapak tangannya meremas rambut belakang pemuda itu, menikmati sensasi yang begitu memabukkannya.


Semilir angin membuat keduanya mengeratkan pelukannya. Jihoon menuntun tubuh Sohyun dalam pelukannya untuk melangkah mundur perlahan hingga bertemu dengan sofa, tanpa melepas barang sedetikpun ciuman antara keduanya.


Sohyun mendesah ketika tubuhnya terjatuh diatas sofa dengan kaki menggantung di tepi sofa. Jihoon merunduk, menahan tubuhnya dengan sebelah tangan, semenatra tatapannya jatuh pada Sohyun dibawahnya.


Hening kembali.


Mereka berdua bersitatap.


Sesaat saling bertatap mata, Jihoon membuk mulut untuk bersuara. “Aku bukan pria yang baik, aku iblis dan kau tahu itu.” ucapnya dengan suara yang berat.


“Aku tahu.”


“Tapi mengapa? Kenapa kau masih mau bersamaku.”


Sohyun mengulurkan tangannya, mengusap pipi Jihoon dengan lembut. “Karena aku mencintaimu.”


Jihoon memejamkan matanya, “Kenapa kau baru mengatakan hal itu sekarang?” Tanyanya dengan suara bergetar menahan isak tangisnya.


“Jika aku menjawabnya kau akan meninggalkan calon tunanganmu? Apa kau mau pergi bersamaku meninggalkan semuanya?”


Jihoon diam. Perlahan ia menjauh, mendudukkan dirinya disofa. Mengusap wajahnya dengan kasar, terdengar sangat jelas Jihoon menghela nafas berat.


Sementara Sohyun memperbaiki posisi duduk tepat disebelah Jihoon. Dia menengok, menatap wajah putus asa itu dengan lamat.


“Apa begitu susah meninggalkan Lia?” Tanya Sohyun. Jihoon tidak menjawab, membuat Sohyun semakin  sakit. “Kalau begitu maafkan aku yang tidak dapat hadir di acara pertunangan kalian nanti.” Sohyun bangkit dari duduknya, memperbaiki tatanan rambut dan seragam sekolahnya yang sidikit berantakan.


Sohyun berjalan menjauh, meninggalkan Jihoon yang masih termenung di sofanya. Sakit dan terluka. Ini adalah akhir dari perpisahan mereka berdua, tak ada yang dapat di perbaiki lagi.


;


“Bagaimana?” Tanya Joy mendekati Sohyun yang baru saja menginjakkan kakinya di lantai dasar.


Sohyun diam. Tidak menjawab.


Pikiran dan hatinya terlalu kacau untuk menjawab sebuah pertanyaan yang akan membuatnya semakin terluka.


Joy tersenyum sedih, ia menarik tubuh Sohyun untuk dipeluk, membiarkan sahabatnya menangis dalam pelukannya. Dan benar saja, tak lama setelah itu Sohyun menangis sangat keras.


“Tidak apa-apa aku ada disini.”


“Hiks, sakit Joy-a.” Isak Sohyun semakin menjadi, kukunya meremas dengan kuat seragam sekolah Joy.


Hatinya bagaikan kaca yang hancur dan pecahannya dibiarkan begitu saja hingga melukai organ yang lainnya.


Sohyun benar-benar kehilangan Jihoon. Tidak ada harapan untuknya kembali bersama lelaki yang amat dicintainya.


Jihoon, memilih wanita lain.


.


“Ujinie.”


Pemuda yang di panggil nmanua itu berbalik dengan cepat ke sumber suara. Woojin mengerutkan keningnya ketika menemukan sosok cantik sedang tersenyum kecil dan melangkah kearahnya.


“Ada apa?” Tanya Woojin saat Nakyung berdiri dihadapannya.


“Kau mau pulang?” Tanya Nakyung dan diangguku oleh Woojin sebagai jawaban.


“Ada beberapa pekerjaan yang harus ku selesaikan.” Woojin berbalik melanjutkan langkah kakinya menunju mobil sedan yang terparkir di parkiran sekolah.


“Kudengar Sohyun akan pergi ke Inggris di hari pertunangan Jihoon dan Lia.”


Woojin mengangguk untuk kedua kalinya.


“Cinta saja tidak akan cukup melawan takdir. Jika Jihoon ditakdirkan hidup bersama Lia, maka cinta Sohyun dan Jihoon tidak akan kuat melawan takdir itu.”


“Apa kau yakin Jihoon di takdirkan untuk bersama Lia?”


Langkah Woojin berhenti tepat di depan mobilnya. Dia berbalik, memandang lamat wanita cantik itu.


Nakyung tersenyum. Tidak  lebih tepatnya dia menyeringai.


“Apa maksudmu?”


“Orang-orang sangat bodoh ya, jika seseorang yang saling mencintai berpisah bukan berarti mereka tidak di takdirka bersama.” Nakyung melepaskan tas ranselnya, membuka tasnya dan mengeluarkan benda kecil dengan gantungan panda yang imut. “Mereka jelas di takdirkan untuk bersama, hanya saja bagaimana caranya mereka memperjuangkannya.”


Nakyung tersenyum menatap Woojin. “Jika mereka tidak ditakdirkan bersama untuk apa Tuhan mempertemukan keduanya?” Tangan mulusnya terulur kearah Woojin, memberikan flashdisk kepada lelaki berkulit tan itu. “Kau bisa menggagalkan acara pertunangan itu untuk selamanya dengan benda kecil ini.”


Woojin menautkan alis-alinya bingung. Flashdisk itu masih ditangan Nakyung, dan Woojin hanya melihatnya dengan tatapan bingung.


Apa maksud wanita itu? Mengapa Nakyung memberikan benda itu kepadanya?


Berbagai macam pertanyaan mengelilingi kepalanya, sampai Woojin tidak tahu sejak kapan flashdisk itu berada di tangannya.


“Hanya ini yang bisa kubantu.”


“Tapi, kenapa? Kenapa kau melakukan semua ini? Gagalnya pertunangan Jihoon dan Lia tidak akan berdampak apapun padamu?”


Nakyung tersenyum dan menunduk sebentar, melihat tali sepatunya yang lepas.


Nakyung menghentikan langkahnya turun saat mendengar suara tangis dari lantai bawah.


Dengan penasaran Nakyung menunduk, melihat kebawah siapa yang begitu berani menangis sangat keras di sekolah. Sungguh tak tahu diri, pikir Nakyung.


Tetapi, gadis itu terbelalak melihat Sohyun menangis dalam pelukan Joy.


“Tidak apa-apa aku ada disini.”


“Hiks, sakit Joy-a.” Isak Sohyun semakin menjadi, kukunya meremas dengan kuat seragam sekolah Joy.


Dan juga,


Nakyung melihat Jihoon di tangga yang sama dengannya berdiri mematung melihat Sohyun yang sedang menangis.


Jihoon diam bak patung dengan air mata yang ikut mengalir.


“Aigo, jika saling mencintai mengapa harus berpisah?” tanya Nakyung. “Ck, ck, ck,” lanjutnya sambil menggelengkan kepalanya.


Jihoon langsung menoleh kebelakang. Matanya membulat terkejut saat melihat Nakyung berdiri di sana. Cepat-cepat Jihoon menghapus air matanya dan membuang tatapannya ke segala arah.


“Apa yang kau lakukan di situ?” tanya Jihoon.


“Apalagi kalau bukan melihat kalian. Jiun... Apa kau serius menginginkan pertunangan itu?”


Jihoon diam. Tidak menjawab.


Ia hanya menghembuskan nafas panjang, kemudian mendonga melihat Nakyung.


“Jika ku jawab apakah pertunangan ini akan berakhir?”


“Ya. Jawaban dan tindakanmu lah yang akan mengakhiri pertunangan khonyol ini. Jika kau hanya mengatakan tanpa melakukan sesuatu untuk mengakhirinya,” Nakyung menjeda kalimatnya. Maniknya memandang lamat wajah tampan dibawahnya. “Semua akan percuma.”


“Lalu apa yang harus kulakukan? Selama ini aku mencoba mencari cara untuk mengakhirinya, dan aku tidak menemukannya.”


“Apa kau menyerah begitu saja?”


Jihoon tak membuka suara. Hening menjelma dengan cepat bersama hembusan nafas kasar dari lelaki bersurai hitam itu.


“Hanya saja, Jihoon adalah sahabatku.” Jawab Nakyung sembari tersenyum. “Gunakan saja, jika kau butuh bantuan lagi hubungi saja aku. Aku tahu apa yang kau inginkan saat kau menelfon.”


;


Jihoon terdiam di kursi depan mini mart. Kedua matanya menatap lekat orang-orang beralulalang di sekitarnya. Diam-diam Jihoon tersenyum tipis melihat anak perempuan menggunakan pakaian berwarna pink. Pakaian yang mengingatkan dirinya pada seseorang.


Pemuda itu menyandarkan punggungnya dengan nyaman, menyisir rambutnya kebelakang menggunakan jari-jari lalu menghela nafas pelan.


Jihoon memejamkan matanya tiga detik kemudian melihat anak perempuan mengenakan pakaian pink itu lagi. Anak perempuan itu sangat menggemaskan dengan baju pink dan rambut panjangnya di kucir kuda.


“Ini untukmu.” Renjun menyodorkan sekaleng soda kepada Jihoon.


Pemuda itu menoleh, kemudian tersenyum menatap pria yang mengenakan seragam tempat kerjanya. Jihoon memperbaiki duduknya dan mengambil kaleng soda di tangan Renjun.


“Maaf aku hanya bisa memberi itu padamu.” Ucap Renjun menyesal. Jihoon tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


“Kau sudah lama bekerja disini?”


“Iya, aku harus membiayai keperluanku.”


Alis-alis Jihoon saling bertautan membentuk kerutan halus di sekitar dahinya yang di ekspose oleh pemuda itu.


“Dimana kedua orang tuamu?”


“Mereka sudah meninggal saat aku berumur 11 tahun.”


“Oh maaf aku tidak tahu.”


Renjun tersenyum senang. “Tidak apa-apa, aku malah senang karena ada orang yang tahu kisah hidupku.”


“Uh?”


“Sebenarnya tidak ada yang tahu jika aku ada anak yatim piatu, bahkan para guru.”


Jihoon menatapnya heran, menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan bertanya ‘kenapa’


“Aku terlalu takut di rundung oleh anak-anak. Mereka menyeramkan.” Jawab Renjun sambil terkekeh.


Renjun membuka kaleng sodanya lalu meneguknya hingga tandas.


“Lalu kenapa kau memberitahu ku tentang ini? Bukankah aku termasuk diantara mereka?”


“Tidak, kau itu orang baik.”


“...”


“Kau tahu ada sebuah kutipan yang mengatakan don't judge a book by its cover,” ucap Renjun tersenyum lebar. “Dan Jangan pernah menilai berdasarkan masa lalunya.”


“Tapi kau pernah takut padaku.”


Renjun terkekeh. “Ya, ku akui saat itu aku memang takut karena aura mu benar-benar menyeramkan, seperti ribuan iblis mengiringimu.”


“...”


“Saat itu kau benar-benar iblis yang menyeramkan. Kemanapun kau berjalan aura hitam selalu mengikuti mu.”


Jihoon tersenyum tipis lalu menunduk mengamati jari-jarinya saling bertaut.


“Huang Renjun?!”


Renjun diam. Tak menjawab.


“Menurutmu, iblis dan malaikat dapatkah mereka bersatu?” Tanyanya dengan sebuah sunggingan senyum di sudut bibirnya.


•••


Jihoon menghembuskan nafas beratnya ke udara. Mengamati penampilannya di depan cermin full body.


Baru berselang beberapa hari ia selesai ujian, kini dia dihadapakan dengan sebuah acara yang akan mengubah hidupnya untuk selamanya.


Pertunangannya dengan Lia.


Hari yang ingin sekali dihindarinya akhirnya tiba di depan mata. Jihoon terlihat  begitu tampan dengan setelan jas berwarna cream dengan dalaman berwarna putih.


Dan jangan lupakan rambutnya di tata rapih dengan belahan poni mengekspos dahinya yang putih.


Jihoon memejamkan matanya, mengingat kembali pembicaraannya dengan bersama Renjun beberapa hari yang lalu.


“*Huang Renjun?!”


Renjun diam. Tak menjawab.


“Menurutmu, iblis dan malaikat dapatkah mereka bersatu?” Tanyanya dengan sebuah sunggingan senyum di sudut bibirnya.


Renjun beranjak dari duduknya. “Kau tahu mengapa Tuhan menciptakan Iblis dan Malaikat?”


“...”


“Untuk saling melengkapi.”


**Tok, tok, tok***


Pintu kamarnya terbuka lebar, Jihoon pun berbalik melihat sosok yang berjalan kearahnya.


pemuda dengan setelan jas hitam itu tersenyum kearah Jihoon. Woojin tak kalah tampan dari saudara kembarnya, rambut hitam klimisnya membuatnya semakin tampan.


“Hari ini akan menjadi hari yang panjang untukmu,” tutur Woojin.


Jihoon tersenyum miris. Ya hari ini adalah hari terpanjang yang akan di alaminya.


“Aku tahu,”


“Hari ini Sohyun berangkat ke Inggris, apa kau tidak berniat menghentikannya?”


“Aku...” Jihoon merunduk. “Ingin.”


Woojin tersenyum, ia pun mengeluarkan tangannya dari saku celananya dan memberikan kunci motor pemuda itu. “Pergilah.” Ucapnya.


“Tapi bagainana dengan pertunangannya?”


“Jika kau tidak menginginkan pertunangan ini mengapa harus dilanjutkan?” suara sosok dibelakang anak muda itu menarik perhatian Woojin dan Jihoon.


“Aeboji?!”


Pria paruh baya itu melangkah mendekati kedua puteranya. Di tersenyum lembut dan mata sendunya memandang Jihoon lamat.


“Maafkan ayah, seharusnya ayah tidak melakukan ini padamu,” ucapnya sambil meremas bahu Jihoon.


Jihoon diam. Manik coklatnya bergantian menatap Woojin dan ayahnya bergantian, menuntun penjelasan lebih pada dua orang dihadapannya.


“Pergilah, biarkan pertunangan ini ayah yang akan selesaikan.”


“Tapi bagaimana dengan perusahaan mu nanti.”


Tuan Park menoleh menatap Woojin, lalu tertawa bersama Woojin.


“Jangan cemaskan itu. Pergilah.”


Jihoon masih diam di tempatnya. Semua terlalu membingungkan untuknya.


Ayahnya tiba-tiba menjadi sosok yang hangat, tidak seperti biasanya. Jihoon takut akan terjadi hal buruk pada pria tua itu. Karena orang-orang percaya jika orang berubah menjadi baik maka dia akan meninggal.


Omong kosong.


“Hei, tunggu apa lagi?!” Woojin kembali menyodorkan kunci motor pada Woojin. “Dia berangkat 13.30, kau hanya punya waktu 30 menit.”


Jihoon melihat jam tangannya. Sekarang sudah jam satu siang, waktunya sangat terbatas.


“Aeboji, aku tidak tahu apa yang terjadi tapi maafkan aku!” Ucapnya sebelum akhirnya ia berlari keluar dari kamarnya.


Brakkk


Sungwon terlonjak kaget didepan pintu kamar Jihoon. Maniknya membulat sempurna saat Jihoon berlalu begitu cepat di hadapannya.


“Mwoya?” tanya Sungwon sambil menatap heran pada ayah dan Woojin. “Apa terjadi disini?”


Tuan Park hanya diam sambil tersenyum. Entah mengapa perasaannya terasa ringan setelah membiarkan Jihoon bebas dan melihat kedekatannya dengan salah satu putera yang selalu di bencinya itu.


Ia memejamkan matanya, mengingat berapa jahatnya dia kepada Jihoon di masalalu. Bagaimana dia mengkhianati puteranya sendiri.


;


Jihoon membawa motornya dengan kecepatan tinggi, membelah kota Seoul. Dia tidak punya banyak waktu, Sohyun akan meninggalkannya beberapa menit lagi.


Butuh beberapa menit bagi Jihoon untuk tiba di bandara.


Saat tiba di bandara, Jihoon segera melepas helm dan turun dari motornya. Ia kemudian berlari, mencari Sohyun.


Sesekali Jihoon memperhatikan tangannya, beberapa menit lagi sebelum pesawatnya lepas landas. Jihoon berlari, menoleh kanan dan kiri berharap Sohyun masih ada di bandara.


“Kumohon Sohyun-ah..”


Langkah Jihoon terhenti saat melihat dari kaca besar bahwa salah satu pesawat mulai bergerak menjauh.


“Kim Sohyun, tidak! Jangan pergi!!” Jihoon menggeleng ribut. Dengan langkah kaku Jihoon mendekat, menyentuh kaca bening dihadapannya dengan telapak tangannya.


“Kumohon... hiks, Sohyun-ah..”


Jihoon menunduk, air matanya mengalir tanpa pamit.


Bibirnya bergetar.


Rasanya Jihoon ingin menangis dan berteriak. Ia telah kehilangan bintangnya.


“Sohyun-ah...”


Kedua tangan Jihoon terkepal erat di sisi tubuh.


Tanpa suara Jihoon menangis, matanya yang merah dan basah menyaksikan pesawat itu telah take off.