The Demon

The Demon
Part 27



Tulisan miring berarti flashback 😂


Typo berterbaran


.


.


.


Sohyun speechless memandangi ponsel ditangannya.


Satu persatu pesan yang ia terima di buka. Membaca isi pesan yang pernah dia kirimkan untuk Doyoung selama dua tahun.


Ya, itu ponsel Doyoung.


Dan entah bagaimana benda kecil itu berada di dos milik Jihoon.


"*Dua tahun yang lalu dia kecelakaan. Kami ingin menghubungi pihak keluarganya tetapi ponselnya hilang."


"Hanya saja, diantara mereka hanya Woojin oppa baik-baik saja meski dua tahun yang lalu telah terjadi*."


"Dua tahun yang lalu Jihoon oppa mengalami kecelakaan. Dimalam yang sama, Woojin oppa juga mengalami kecelakaan."


Sohyun segera berdiri dari jongkoknya. Tanpa sengaja ia menjatuhkan ponsel milik Doyoung kelantai, membuat benda tipis itu kembali mati.


"Ayah tidak menyelamatkan Jihoon oppa, dia hanya menyelamatkan Woojin.. Dan membuang semua kesalahan yang terjadi pada Jihoon oppa."


"*Kau tidak membunuhnya."


"Pria itu meninggal dalam perjalanan*."


Tangisnya kembali pecah. Air matanya mengalir begitu saja di pipi chubbynya. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menangis. Membiarkan air matang terus keluar dan menjadi kering.


"Tidak, Jihoon tidak mungkin." Sohyun menggelengkan kepalanya, berusaha sekuat mungkin untuk mengilangkan pikiran buruknya tentang Jihoon.


Sungwon sudah menjelaskan semuanya padanya. Kecelakaan itu tidak ada sangkut pautnya dengan Jihoon.


Woojin lah yang bersalah.


Tetapi pikiran buruk itu terlalu mendominasi dirinya. Berbagai prasangka dan pertanyaan demi pertanyaan memenuhi kepala kecilnya.


Benda ini selama ini berada bersama Jihoon, berarti pria itu tahu jika ia adalah kekasih Doyoung?


Bisakah Sohyun menebak jika selama ini Jihoon mendekatinya karena merasa bersalah.


•••


Krriinggg


Bel istirahat berdering cukup keras. Para siswa-siswi bersorak bahagia karena waktu yang ditunggu akhirnya tiba.


Sohyun memasukkan bukunya kedalam laci mejanya dengan tergesa-tergesa. Ia pun bangkit dari duduknya dan berlari keluar dari kelas.


Beruntung kelas Jihoon hanya berada di sebelahnya.


Ketika Sohyun berada di pintu kelas Jihoon. Matanya langsung menyapu sekitarnya, mencari sosok Jihoon ditengah-tengah kerumunan siswa siswi.


Tetapi, nihil.


Sohyun tak menemukan sosok itu.


“Hyunnie.”


Sohyun menoleh. Tubuhnya mundur kebelakang saat Nakyung mendekatinya dari samping. Entah dari mana gadis itu sebelumnya.


“Mencari Jiun?”


“Dimana dia?”


“Dia tidak masuk sejak pelajaran pertama. Aku pikir dia membolos bersamamu lagi.” Nakyung menjelaskan. Gadis cantik itu memperhatikan wajah Sohyun, mengamatinya dengan lamat-lamat. Pupuilnya bergerak geksiah, bibir dalamnya digigit. Sohyun terlihat seperti orang linglung.


“Kalian ada masalah?”


Sohyun tersenyum getir kemudian menggelengkan kepalanya.


“Tidak, kalau begitu aku kembali ke kelas.”


Sohyun melangkah menjauh sebelum  melihat jawaban Nakyung.


Kening Nakyung berkerut, membuat kerutan halus disekitar dahinya.


“Kelasnya kan ada disana. Kenapa pergi kearah sana?” tanya Nakyung bingung, memperhatikan Sohyun yang melangkah menuju arah yang berbeda dari kelasnya.


;


Jihoon menutup pintu mobil sedan berwarna merah itu cukup keras setelah mereka sampai di depan pagar rumah.


Kakinya di langkahkan mengitari mobil dan kini berdiri tepat disebelah kemudi.


“Noona tidak singgah dulu?”


Lia menggelengkan kepalanya dan tersenyum. “Tidak. Aku harus kembali ke kantor. Nanti malam akan ku jemput lagi.”


Jihoon diam.


“Kau tidak ada kegiatan malam ini bukan?”


“Ya, datanglah kemari nanti malam.”


Lia menganggukkan kepalanya. “Kalau begitu titipkan salamku pada ayahmu.”


Jihoon tidak menjawab, ia tersenyum smirk sebelum akhirnya berbalik dan melangkahkan kakinya masuk kedalam rumahnya.


Sementara itu, Lia masih memperhatikan punggung lebar itu perlahan menghilang dibalik pintu berwarna cokelat kayu.


.


Ketika berada didalam rumah tidak ada sambutan yang Jihoon harapkan. Rumah itu terasa seperti kuburan, tak ada tanda kehidupan lagi.


Bahkan rasanya sudah berbeda dari dua tahun yang lalu.


“Jihoon-a.” Panggil suara lembut dibelakang Jihoon.


Langkahnya terhenti. Jihoon berbalik dan melihat siapa yang memanggilnya.


Senyum hangat itu menyambutnya. Seorang wanita paruh baya berjalan mendekatinya dan memeluk tubuhnya begitu erat.


“Kau memutuskan pulang nak?” tanyanya. Tangannya tak hentinya menghelus surai belakang Jihoon. Sesekali ia mengecup pipi gembil puteranya.


Rindu,


Sangat rindu. Nyonya Park itu sangat merindukan kehadiran Jihoon di sisinya. Selama dua tahun Nyonya Park hanya dapat melihat Jihoon dari kejauhan dan juga saat acara tertentu sampai pemuda itu kembali kerumah.


Jihoon mengepalkan kedua tangannya dibawah sana. Dadanya berdebar dan dan tubuhnya terasa hangat.


Dalam diam Jihoon menangis.


Tangannya bergerak dan membalas pelukan sang ibu.


Memeluk begitu erat yang berhasil membesarkannya hingga saat ini.


“Eomma, hiks.”


“Eum..” Sang ibu melepaskan pelukannya. Tangannya terulur keatas menyentuh kedua pipi Jihoon, menghapus air mata puteranya menggunakan jari-jarinya. “Kau kenapa? Ada masalah?”


Jihoon menggelengkan kepalanya. Kedua sudut bibirnya melengkung kebawah, menggambarkan dengan jelas jika dia sedang bersedih.


Si ibu tersenyum tulus. Tangan satunya naik keatas dan menghelus surai hitam Jihoon.


“Ceritakan nanti. Sekarang beristirahat lah.” Ucapnya, Jihoon mengangguk mengiyakan. “Masuklah, eomma akan membuatkan mu makan siang.”


Tak banyak menjawab Jihoon pun menganggukkan kepalanya dan langsung meninggalkan ibunya, kakinya di langkah kan naik keatas dimana letak kamarnya berada. Tepatnya di sebelah kamar Woojin.


.


Tubuh lelahnya di buang begitu saja diatas kasurnya.


Helaan nafas panjang terdengar begitu jelas di setiap sudut ruangan tersebut.


Jihoon memejamkan matanya tiga detik. Dan terbuka perlahan, maniknya langsung mendapati langit-langit kamarnya yang begitu kosong. Tidak ada stiker bintang-bintang seperti milik Sohyun.


Membunuh bintang untuk mendapatkan satu bintang ternyata tidak mudah.


Mematikan satu saja diantara mereka akan membuat satu bintang yang diinginkan olehnya menjauh.


Jihoon membunuh Doyoung? Tidak, bukan dia yang membunuh pria itu, tetapi, semua orang telah menuduhnya sebagai tersangka pembunuhannya. Dan sampai kapanpun itu Jihoon akan di kenal sebagai pembunuh Kim Doyoung.


Jihoon mengusap wajahnya dengan kasar. Kembali menghembuskan nafas panjang ke udara.


“*Oppa.. Hiks mianhe oppa.”


Jihoon berdiri dekat pintu, terdiam untuk waktu yang lama mendengar Sohyun menangis begitu keras didepan guci abu Doyoung.


Bukan hal yang direncakan. Jihoon datang tanpa tahu jika Sohyun juga berkunjung.


Mungkin jika Jihoon tahu Sohyun datang untuk menemui Doyoung, ia akan memilih untuk mencari tempat yang cocok untuk berbagi cerita*.


“*Seharuanya kau tetap hidup dan menepati janjimu. Oppa bilang akan menikahiku. Hiks..”


Jihoon menoleh. Sohyun masih menangis disana dan terus menerus memukul kaca yang melindungi guci abu didalam sana.


“Aku menunggumu, merindukanmu dan aku sangat mencintaimu. Hiks.” Tubuh Sohyun merosot kebawah. “Bagaimana bisa kau membuatku mencintaimu seorang diri untuk waktu yang lama?”


Jihoon meremas kuat buket bunga yang dibawanya sejak tadi*.


*tiba-tiba air matanya mengalir.


Dadanya sangat sakit seperti di lempari picau dan menancap tepat dihatinya.


“Oppa, aku mencintaimu. hiks.”


Jihoon merunduk, membiarkan air matanya mengalir begitu deras di pipinya.


Gadis itu, tak pernah mengatakan dia mencintainya.


Kalimat cintanya hanya ditujukan kepada Doyoung.


Dan dapat Jihoon simpulkan jika selama ini Sohyun tak mencintainya.


Gadis itu hanya mencintai Doyoung yang kini telah meninggal*.


...


“Sohyun noona.”


Sungwon berlari mendekati Sohyun yang baru saja pulang dari sekolahnya.


Pemuda manis dengan baju kaos berwarna merah maronnya itu berlari senang seperti seorang anak bertemu ibunya.


Sohyun berhenti melangkah. Dia berbalik dan memandang bingung Sungwon.


“Kenapa cepat sekali pulang?” tanya Sungwon mengambil tas ransel Sohyun dan ia memasangnya di punggungnya. “Wajahmu terlihat sangat lesuh.”


Sohyun tersenyum tipis, ia pun melanjutkan langkahnya menuju apartemennya.


“Noona sakit?” tanya Sungwon sekali lagi.


“Tidak, aku sedang membolos.”


“Eiy kayak Jihoon oppa saja.”


Hening.


Tidak ada pembicaraan setelah itu.


Bahkan ketika mereka berdua masuk kedalam apartemen pun tidak ada salah stau dari mereka memulai pembicaraan.


“Dimana barang-barangmu?” tanya Sohyun sembari mengamati sekitarnya yang terlibat begitu rapih tanpa barang-barang milik Sungwon dan juga dos milik Jihoon.


“Oh itu, sudah diangkut oleh Jihoon oppa. Aku akan kembali kerumah orang tuaku. Jihoon oppa juga akan tinggal disana mulai malam ini. Kami akan berkumpul seperti dulu.”


“Jihoon? Tadi dia datang?”


Sungwon mengangguk cepat.


Beberapa jam yang lalu Jihoon memang datang kesini untuk memberitahukan jika Jihoon telah berbicara dengan ibunya dan masalah disana akan diselesaikan oleh ibunya tanpa sepengetahuan sang ayah. Tapi sebelum itu, Sungwon masih harus tinggal disini sampai masalahnya selesai.


“Sungwon-a, bisa berikan aku alamat rumahmu!”


Sungwon memandang bingung Sohyun. Kedua tangannya seketika di lipat diatas perutnya, dan tubuh bagus belakang menyender di tembok.


“Untuk apa?”


“Bisa berikan saja tanpa bertanya alasannya.”


“Noona mau bertemu dengan Jihoon oppa?”


“Ya, aku ingin menemuinya.”


“*Oppa,” panggil Sungwon mendekati Jihoon yang membawa beberapa barang-barangnya masuk kedalam mobil.


Langkah Sungwon terhenti saat melihat seorang wanita cantik mengambil dos yang dibawa Jihoon. Wanita itu tersenyum cantik, sangat cantik sampai yang melihatnya akan terpesona.


Tetapi tidak untuk Sungwon. Wanita di sana bukanlah tipenya.


Wanita itu terlalu cantik dan seksi untuk di miliki.


“Jihoon oppa!” panggil Sungwon sekali lagi.


Dia melangkah semakin dekat. Tangannya terangkat menyentuh bahu Jihoon agar pria itu menoleh kearahnya.


Jihoon berbalik, dan melemparkan pandangan bertanya ‘Apa’ pada Sungwon.


“Lia, tunangan ku.” ucap Jihoon tanpa keraguan.


“Heol daebak. Lalu bagaimana dengan Sohyun noona?” tanya Sungwon geram.


“Aku akan memberitahukan hal ini padanya.”


Sungwon memutar matanya jengah. Diangkat tangannya menyibak poninya keatas dan membiarkannya helaiannya berjatuhan di dahinya.


“Baru kali ini aku merasa kecewa padamu hyung.”


“Kenapa tiba-tiba?”


“Apa begini caramu menyelesaikan sesuatu? Hyung, kau tidak pernah lari dari masalah, kau selalu menghadapinya. Tetapi, mengapa sekarang kau lari?”


“Yak!”


“Apa? hyung apa kau benar-beanr mencintai Sohyun noona?”


Jihoon diam. Tak menjawab.


Dia menoleh, menghindari tatapan sang adik yang menatapnya seperti polisi pada tersangka.


“Aku lelah mempertahankan seseorang yang tidak pernah mencintaiku.”


“Mwo?!”


“Aku tidak akan mengulang kejadian yang pernah terjadi lagi*.”


“Untuk saat ini dia tidak ada dirumah. Aku yakin karena tempat itu seperti neraka bagi kami.” Ucap Sungwon menjauhkan tubuhnya dari dinding. Kakinya melangkah menuju sofa dan duduk dengan nyaman disana.


Sohyun mendekati Sungwon, berdiri tepat dihadapan pemuda itu. “Lalu menurutmu sekarang dia dimana?” tanya Sohyun.


“Mungkin dirumahnya Daniel oppa,” Sungwon memejamkan matanya. “Jangan tanyakan alamatnya, aku tidak tahu.”


Sohyun membeku.


Baru saja dia ingin bertanya alamat pria bernama Daniel. Tetapi Sungwon langsung membuatnya membeku dengan langsung menjawab bahwa ia tidak tahu dimana keberadaan pria itu.


Sohyun menghembuskan nafas beratnya. Ia bingung, dimana lagi dia harus bertemu dengan Jihoon untuk mendapatkan penjelasan.


Ia tidak ingin sakit kepala memikirkan hal buruk tentang perasaan Jihoon kepadanya.


Apa pria itu benar-benar tulus padanya atau hanya karena merasa bersalah?


“Sohyun noona.”


“Apa?” jawab cepat Sohyun. Ia menoleh dan mendapati mata Sungwon memandangnya dengan tatapan datar.


“Bisakah aku bertanya padamu?”


Sohyun diam. Pupilnya bergerak turun seolah mengiyakan pertanyaan Sungwon.


“Apa kau mencintai Jihoon oppa?” tanya Sungwon dengan suara beratnya dan terdengar sangat serius.


Sohyun tertegun mendengar pertanyaan Sungwon. Mengapa pemuda itu tiba-tiba bertanya perasaannya pada Jihoon.


•••


“Kenapa kau bertanya soal itu?”


Woojin mendekati Joy dengan setumpuk buku yang didapatnya dari perpustakaan.


Pemuda bersurai hitam itu kemudian menarik kursi tepat dihadapan Joy dan mendudukkan bokongnya dengan nyaman di bantalan kursi.


Joy memperhatikan Woojin sambil menyesap susu strawberry yang baru saja di belinya.


Pupilnya bergerak kearah Sohyun yang sejak tadi berdiam diri dan seperti mayat hidup.


Woojin mengamati Sohyun. Gadis itu memang terlihat mayat hidup. Tidak ada gairah dalam hidupnya selama beberapa hari ini.


Woojin percaya perbedaan diri Sohyun ini di pengaruhi oleh Jihoon, karena Jihoon pun seperti ini di rumah.


Selama beberapa hari ini Jihoon terus berada dirumah, tidak pergi sekolah ataupun melakukan kegiatan seperti biasanya.


Ah, Jihoon hanya akan pergi jika wanita cantik yang bernama Lia itu datang menjemputnya.


Mereka pergi tengah malam dan pulang pagi-pagi.


Entah apa yang mereka lakukan diluar sana. Karena pulang-pulang Jihoon memiliki aroma parfum yang hanya digunakan wanita bercampur aroma alkohol yang menyengat.


Beruntung beberapa hari ini Ibu mereka berangkat keluar negeri untuk menyelesaikan masalah Sungwon dan ayah mereka belum pulang dari perjalan bisnis.


“Sohyun-ah.” Panggil Woojin menyentuh lengan Sohyun. Gadis berpipi gembul itu menenggakkan kepalanya, pupilnya memandang kosong kearah Woojin yang menggagu dirinya melamun.


“Kau sakit? Mau ku antar ke UKS?”


Sohyun menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, lagian aku tidak apa-apa.”


“Wajahmu pucat. Sebaiknya kau ke UKS, aku yang antar jika kau merasa keberatan pada Woojin.”


Sohyun menoleh kearah Joy. Wanita sesegar buah kiwi itu terlihat bersemangat ingin mengantar Sohyun ke UKS.


Senyum tipis tersenyum terukir indah dibibirnya.


Sohyun tahu mengapa Joy begitu semangat ingin mengantarnya ke UKS. Itu karena Joy ingin ikut beristirahat, berhubung beberapa menit lagi jam pelajaran dimulai.


“Tidak perlu. Aku bisa sendiri.” Sohyun bangkit dari duduknya. Mulai merapikan pakaian dan rambutnya yang sedikit berantakan.


“Kau yakin?” Tanya Joy dan diangguki oleh Sohyun sebagai jawaban.


“Kalau begitu hati-hatilah. Aku akan memberitahukan guru Song kalau kau sedang beristirahat di uks.” Ucap Woojin.


Untuk kedua kalinya Sohyun mengangguk, dan kali ini diiringi dengan senyumnya.


“Aku pergi ya.”


Mereka; Joy dan Woojin mengangguk. Setelah itu Sohyun berjalan meninggalkan kedua sahabatnya.


Sepanjang lorong menuju uks Sohyun tidak menemukan mahluk hidup selain dirinya yang melewati lorong ini.


Tidak seperti biasanya, pikir Sohyun.


Lorong ini biasanya paling banyak digunakan siswa siswi untuk pergi ke perpustakaan atau ke halaman belakang untuk bersantai.


Tapi sekarang sangat sepi. Seperti saat ink Sohyun melewati lorong hantu saja.


Sohyun memeluk buku tebal yang sejak tadi dibawanya. Melangkah dengan langkah cepat, Sohyun merasa takut berjalan sendirian di lorong ini.


Biiiibibbb


“YAKKKHHHH!” teriak keras Sohyun saat suara notifikasi dari ponselnya terdengar begitu tiba-tiba.


Menghelus dadanya yang berdebar dua kali lebih cepat seperti sudah lari maraton.


Bibb bibbb biib


Ponselnya terus berbunyi, memberitahukan jika sebuah pesan baru saja tiba.


Sohyun merogoh ponselnya didalam saku rok sekolahnya dengan tergesah-gesah.


Bukkk


Bahkan sampai buku yang dibawanya jatuh ke lantai.


Sohyun membuka ikon pesan dari grup kelasnya. Alis-alisnya saling bertaut, tidak biasanya grup kelasnya seramai ini.


Sohyun membungkuk, mengambil bukunya yang jatuh, dan matanya tak bisa lepas dari layar ponselnya.


***heol.. Jihoon memukul Shin Yechan.


mereka terus berkelahi.


Yechan selalu mencari masalah dengan Jihoon.


pisahkan mereka bodoh, kenapa hanya mengirim pesan di grup.


kaupun sama bodoh.


aku tidak berani melerai mereka. Lihat wajah Yechan telah hancur***.


Sohyun memperbaiki berdirinya, iapun langsung lari menuju kelas Jihoon.


Dimana pria itu tengah berkelahi.


.


Bugh


Bukannya merasa sakit menerima pukulan diwajahnya, Yechan terus menyunggingkan smirk yang membuat Jihoon menggeretakkan gigi dalamnya.


Jihoon menatap nyalang pada Yechan. Tak peduli betapa hancurnya wajah Yechan saat ini.


“Kau masih sanggup tersenyum rupanya.”


“Hahaha haruskah aku memohon ampun padamu. Sudah kukatakan sejak awal, Sohyun hanya sekedar pelacur untukㅡ”


Bugh


“Mati kau berengsek!”


Bugh


Jihoon mendorong keras tubuh Yechan hingga tubuh besar itu menabrak meja-meja di sekitarnya.


Tidak mau diam begitu saja, Yechan balas menyerang dengan mendang perut Jihoon hingga Jihoon tersungkur di lantai sambil menjerit kesakitan.


“Yakkkk kalian semua!!” teriak Yechan memperhatikan teman-teman sekolahnya yang masih menyaksikan perkelahian antara dirinya dan Jihoon.


Mereka masih disana, menonton dengan mata telanjang dan juga ponsel yang kamera diarahkan pada Jihoon dan Yechan.


Perkelahian mereka berdua tentu saja menjadi tontonan yang menarik. Dimana sang iblis beradu dengan sejenisnya. Iblis.


Beberapa murid tidak hanya menyegani Jihoon karena sifatnya dan dikenal sebagai seorang pembunuh. Tetapi sifat nakal Jihoon hanya berlaku di luar sekolah.


Berbaring terbalik dengan Yechan yang akan memperbudak murid-murid yang berada dibawah naungan beasiswa, atau anak-anak yang memiliki kasta di bawahnya.


“Kau tahu kekasih Park Jihoon? Kim Sohyun, yang satu kelas dengan Woojin.” teriaknya lagi. Yechan kembali memperhatikan sekitarnya. Senyum iblis terbentuk sangat jelas saat maniknya menangkap seorang gadis berdiri diantara murid-murid yang menyaksikan perkelahiannya bersama Jihoon.


Dada gadis itu bergerak naik turun. Menghirup oksigen sebanyak mungkin.


“Dia hanyalah pelacurnya Jihoon. Bukan kekasihnya!” ucap Yechan masih memandang Sohyun.


Sementara Sohyun membeku di tempatnya.


Apa yang baru saja didengarnya? Pelacur?


“Dan sekarang Jihoon telah memiliki tunangan. Bagaimana perasaan wanita itu mengetahui seorang pelacur menggoda tunangannya?”


Sakit.


Dada Sohyun berdebar sakit.


Jihoon memiliki seorang tunangan?


Oh tuhan.


Mata Sohyun mulai memerah dan berkaca-kaca. Gigi dalamnya menggeretak menahan emosi yang meluap-luap.


Bugh


Jihoon melayangkan pukulannya tepat di rahang Yechan. Kepala Yechan menoleh kesamping dan tubuhnya sedikit melangkah kebelakang.


“Bisakah kau berhenti berbicara berengsek?! Mulutmu bau sekali!” seru Jihoon marah. Ia melangkah mendekat dan menarik kerah baju sekolah Yechan.


Mereka bersitatap tajam. Mencoba saling membunuh dengan tatapannya.


“Ji?!”


Sebuah tangan menarik lengan Jihoon. Menjauhkan pemuda itu dari Yechan.


Tetapi, Jihoon yang terlalu didominasi dengan sifat iblisnya, menyentak begitu keras tangan Sohyun hingga Sohyun menabrak meja dan terjatuh kelantai dengan kaki dijepit dengan dua meja.


Murid-murid yang sejak tadi hanya bisa menyaksikan langsung berlari mendekati Sohyun, menolong Sohyun dari dua meja berat menimpa kakinya.


“YAKKKKHHH PARK JIHOON!!!!”


Teriakan yang berasal dari pintu berhasil membuat Jihoon menoleh. Matanya yang berapi-api menatap kesal pada saudara kembarnya disana.


Woojin berlari dan menarik Jihoon menjauh.


“Apa yang kau lakukan bodoh?!! Sialan,”


Woojin memperhatikan wajah Jihoon. Tidak terlalu parah dari wajah Yechan, hanya ada sedikit luka lebam di pipi dan sudut bibirnya.


“Sohyun?!!” teriak Joy.


Gadis itu berlari mendekati Sohyun dan langsung duduk tepat disebelah Sohyun.


Mulutnya menganga lebar melihat pergelangan tangan Sohyun yang membiru, belum lagi posisi kaki Sohyun yang terlihat begitu kesakitan.


Mendengar nama Sohyun, Jihoon akhirnya melihat kearah gadisnya dibawah sana. Butuh beberapa detik untuk Jihoon menyadari apa yang telah ia lakukannya.


Ia ingin mendekat tetapi Woojin menahan tangannya.


Mata itu menatapnya sendu. Genangan air mata terlihat begitu jelas di pelupuk matanya.


Hati Jihoon mencelos semakin sakit saat melihat Sohyun mengalihkan perhatiannya pada tangannya.


Wanita itu menghindari tatapannya dengan air mata yang jatuh di pipinya.