The Demon

The Demon
Part 5



Happy reading


.


.


.


Sohyun turun dari bis yang telah mengantarnya sampai dihalte dekat rumahnya. Ia hanya tinggal menyebrang dan melewati lorong untuk sampai. Ia terus melangkah, untung saja lampu pejalan kaki berpihak padanya sehingga Sohyun tak harus menunggu sedikit lama lagi. Ia butuh istirahat secepatnya hari ini, tubuh dan pikirannya lelah.


Melangkahkan kaki pendeknya sepanjang jalanan menuju rumahnya, sesekali Sohyun menghela nafas panjang, ia lelah setelah seharian belajar dan mengalami masa-masa menjengkelkan di sekolahnya.


Mulai ia bermasalah dengan Changbin, dan aish Sohyun tidak ingin mengingatnya lagi. Ia benar-benar ingin melupakan kejadian hari ini, bahkan ia berharap tidak bertemu dengan pemuda yang sampai saat ini belum dikenalinya.


Sesaat ia berada di depan kafe, Sohyun melambaikan tangannya kedalam, menyapa seseorang di meja kasir. Jaehyun yang menyadarinya tersenyum lebar dan menggerakkan tangannya mengisyaratkan Sohyun untuk masuk ke kafe.


Menghelakan nafasnya pelan, mungkin ia harus singgah dulu sebelum kembali kerumahnya.


Krinnggg


Suara lonceng pintu itu bunyi ketika Sohyun membukanya, ia masuk dan segera mendekati meja kasir.


"Baru pulang Sohyun-ah."


Sohyun menganggukkan kepalanya. Bibirnya mengerucut lucu membuat Jaehyun yang melihat menjadi gemas.


"Ada apa?"


"Tidak apa-apa Jaehyun-ssi. Aku pesan milkshake Taro satu yah."


Jaehyun menganggukkan kepalanya. "Duduklah disana,"


Sohyun menurut, dengan langkah yang malas Sohyun menuju kursi paling pojok berdekatan dengan jendela. Menumpukan dagunya pada tangannya, satu tangannya yang bebas mengeluarkan ponselnya dan menekan beberapa angka sebelum ia mendekatkannya pada telinganya.


6 sampai 7 detik Sohyun menunggu panggilannya tersambung. Menghela nafas panjang. Lagi-lagi nomor yang dihubungi tidak dapat dihubungi dan memintanya untuk meninggalkan pesan suara.


"Oppa, apa kau baik-baik saja? apa kau sedang berselingkuh? Yak, kau mau mati di tanganku, oppa hubungi aku jika kau tidak ingin kubunuh dan beri aku alamatmu."


Bib


Mengakhiri pesan suaranya, entah sudah keberapa kalinya ia meninggalkan pesan suara untuk nomor yang dihubunginya itu. Sudah dua tahun semenjak kekasihnya itu pindah ke Korea untuk melanjutkan sekolahnya, dan sudah dua tahun pemuda yang berstatus kekasih Sohyun itu tidak pernah mengabarinya, membalas pesan atau menelfon pun pria itu tidak pernah melakukannya. Sohyun jadi curiga jika kekasihnya itu telah mendapatkan kekasih baru disini.


"Kau terlihat sangat lelah." ujar Jaehyun sembari meletakkan milkshake taro di atas meja. Sohyun mendongakan kepalanya melihat wajah Jaehyun dari sudut ini, ahh sangat tampan ; pikir Sohyun.


Pria itu tersenyum lebar sehingga dimple miliknya terlihat. Jika Kekasihnya dapat berselingkuh, bolehkah Sohyun berselingkuh dengan Jaehyun? Pria itu sangat tampan dan baik kepadanya, bagaimana mungkin Sohyun tidak tertarik dengan Jaehyun.


Tapi, tidak. Sohyun harus membuang semua pikiran jahatnya. Ia tidak boleh menyelingkuhi kekasihnya itu, dan Sohyun percaya jika kekasihnya tidak mungkin berselingkuh. Mungkin dia sibuk untuk mengejar gelar sarjananya. Mungkin


"Apa disekolah ada yang mengganggu mu?"


"Eoh?"


Jaehyun menarik kursi dihadapan Sohyun dan duduk disana. Kedua tangannya dilipat diatas meja, mata tajam nya menatap lekat paras cantik Sohyun. Gadis itu masih terlihat cantik meski air wajahnya menunjukkan keterkejutan.


"Katakan padaku jika ada yang mengganggumu."


"Memangnya oppa akan datang ke sekolahku dan menolongku jika ada yang menggangguku?" Tanya Sohyun sambil menyirup milkshake taro miliknya.


"Tidak juga sih." ucap Jaehyun sembari menggaruk telengkuknya yang tidak gatel, ia tertawa canggung dan Sohyun hanya tersenyum kecil mengamati Jaehyun.


Terdiam mengamati Jaehyun yang masih tersenyum canggung kepadanya. Pria itu terlihat benar-benar sangat tampan, dari sudut manapun Sohyun melihat wajah Jaehyun, pria itu masih terlihat tampan, visualnya benar-benar sangat mengagumkan.


Pria itu sangat sempurna, di umurnya yang baru menginjak 22 tahun, ia sudah membangun kafe dan tempat tinggal seorang diri, Jaehyun juga seorang mahasiswa di salah satu Universitas Seoul, jurusan Hukum. Ahh Sohyun ingat jika kekasihnya itu satu Universitas dengan Jaehyun.


"Oppa."


"Hm."


"Bisa kau membantuku?"


"Bantu apa?"


"Tolong carikan seseorang, dia satu kampus denganmu hanya berbeda fakultas. Bisa yah."


Satu alis Jaehyun terangkat naik. Kenapa Sohyun harus memintanya mencari seseorang yang gadis itu tahu dimana keberadaannya.


"Kenapa aku dan bukan kau sendiri?"


"Karena oppa satu universitas dengannya. Dan aku malu jika aku yang mencarinya kesana, bagaimana mungkin aku mencari di universitas saat aku masih mengenakan seragam senior high school. Mau yah oppa, ini sudah dua tahun aku tidak menemuinya dan aku merindukannya."


"Memangnya dia siapa mu Kim Sohyun?"


Sohyun terdiam beberapa detik. Ia baru menyadari jika permintaannya ini akan mengundang pertanyaan yang baru saja Jaehyun ucapkan. Menggigit bibir dalamnya, sudah dua kali Sohyun melakukan tindakan bodoh, pertama berciuman dengan pemuda bersurai merah dan sekarang meminta tolong pada pria yang disukainya untuk mencari kekasihnya.


Benar-benar bodoh.


"Kim Sohyun."


"Eoh."


"Aku akan membantumu jika kau memberitahu ku apa hubungamu dengan orang yang harus kucari ini?"


Mulut Sohyun terbuka kemudian tertutup lagi. Ia ingin memberitahukan kepada Jaehyun, tapi ia tidak yakin jika hal itu akan membantu. Bagaimana jika Jaehyun langsung menolak ketika Sohyun menyebut orang itu adalah kekasihnya.


Tetapi, jika Sohyun tidak memberitahukan Jaehyun, ia tidak akan bertemu dengan kekasihnya. Mungkin saja mereka akan bertemu dijalan suatu saat nanti. Tapi, tidak ada yang tahu kapan imajinasi nya itu menjadi kenyataan.


Menundukkan kepalanya. Ia tidak berani untuk menatap mata tajam Jaehyun ketika ia akan memberitahukan kebenarannya.


"Dia kekasihku, namanya Kim Doyoung, seorang mahasiswa dari fakultas keseniaan."


(*^▽^*)


Jihoon melepaskan pakaian sekolahnya, memperlihatkan bentuk-bentuk indah di perutnya. Tangannya membuka lemari putih, mengeluarkan t-shirt hitam dan jaket denim, menutup kembali pintu lemarinya dan mengenakan pakaiaannya.


Ia terdiam beberapa detik, memperhatikan pantulan tubuhnya di cermin. Bukan, wajahnya yang menjadi pusat perhatian manik coklat miliknya, tapi bekas jahitan vertikal di lengan putihnya. Jemari Jihoon bergerak menyentuh gumpalan daging bekas jahitan itu, ia meringis ketika ingatan dimana ia mendapatkan luka tersebut, dan bagaimana sakitnya dirinya saat itu.


Di malam yang gelap itu, Jihoon melajukan motornya sangat cepat. Air matanya mengalir deras membasahi pipi chubbynya, bahkan pipi kenyal itu terlihat membiru dan sudut bibirnya robek, terlihat seperti seseorang telah melayangkan pukulan pada pipinya. Bermodal nekad Jihoon terus membawa motornya membelah kota Seoul, tanpa helm dan sim. Jihoon tidak peduli jika malam itu ia tertabrak truk dan mati di tengah jalan atau ditangkap polisi karna kedapatan mengendarai motor dibawah umur dan tanpa sim. Itu sudah tujuannya malam ini, mengakhiri hidupnya atau menjauh dari keluarganya.


Ayahnya sungguh jahat kepadanya, bagaimana bisa ia melakukan hal ini kepadanya. Jihoon mencintai Nakyung, tapi mengapa gadis cantik itu harus di jodohkan dengan Woojin, dan apa? Nakyung yang memintanya sendiri untuk dipasangkan dengan Woojin ketimbang Jihoon.


Mereka bertiga -Jihoon, Nakyung dan Woojin- sudah menjadi sahabat sejak mereka kecil, sudah belasan tahun mereka habiskan bersama dan sudah belasan tahun juga Jihoon mencintai Nakyung. Awalnya Jihoon tidak mempermasalahkan jika Nakyung tidak membalas perasaannya, asal gadis itu ada di sisinya dan tetap menatapnya. Semuanya berjalan baik-baik saja sebelum malam ini terjadi, disaat ayahnya mengungumkan pertunangan Nakyung dan Woojin. Jihoon jelas menentangnya, ia tidak setuju jika Woojin yang menjadi pilihan Nakyung. Ia tidak ingin orang yang dicintainya, mencintai orang yang dibencinya ; Park Woojin.


Park Woojin, mengambil semua apa yang seharusnya menjadi milik Jihoon. Dan Jihoon membenci Woojin karena hal itu. Mengapa semua tidak pernah berpihak kepadanya. Mengapa keluarganya terlalu memperdulikan Woojin daripada dirinya, dan mengapa Nakyung harus mencintai Park Woojin? Kenapa bukan Park Jihoon.


Piiipp*


Lampu mobil itu kerkedip dihadapan Jihoon, sehingga membuatnya terkejut dan membanting stirnya, beruntung ia dapat menjaga keseimbangannya. Namun sialnya ...


Blammmm


Jihoon melompat kaget ketika suara pintu itu dibanting sangat kasar, sampai-sampai terdengar ke lantai atas. Memutar matanya malas, ini mungkin saja kerjaan si ahjumma lantai bawah.


"Ahjumma bisakah kau menutup pintumu pelan-pelan."


Hening, tidak ada jawaban dari ahjumma itu. Jihoon pikir mood si ahjumma sedang tidak baik sampai ia membanting pintu rumahnya dan tidak menjawab perkataannya.


Mengendikkan bahunya, mungkin opsinya itu benar. Jihoon merapikan rambutnya, kemudian melangkah keluar dari rumahnya. Tidak ingin berlama-lama menunggu omelan ahjumma, Jihoon memilih untuk pergi dan menyelesaikan urusannya malam ini. Urusannya itu jauh lebih penting daripada dia menunggu omelan ahjumma.


Jihoon menuruni anak tangga, mainkan gantungan kunci motornya dengan jari telunjuk dengan memutar-mutarnya.


Sesampai di lantai satu, Jihoon menghentikan langakahnya. Mulutnya terkatup rapat, matanya membulat tidak percaya, bahkan gantungan kunci yang sejak tadi berputar di jari telunjuknya malah terjatuh, terlempar tepat dibawah kaki seseorang.


Sama halnya dengan Jihoon, Sohyun juga terkejut bukan main melihat orang yang ingin dilupakannya muncul dihadapannya.


Niat awal Sohyun ingin memarahi si ahjussi yang beberapa hari terakhir mengganggu ketenangannya. Ia sengaja membanting pintunya tadi, dan mengundang kemarahan si ahjusssi. Berhubung mood Sohyun sedang tidak enak jadi ia ingin melampiaskannya dengan memarahi si ahjussi yang ternyata pemuda yang ingin di lupakannya itu.


Jika jadinya seperti ini Sohyun menyesal mengangkat bendera perperangannya. Seharusnya ia sudah tenang di dalam rumahnya, tidur dan melupakan masalahnya. Dan jika Sohyun tahu jika si ahjussi menyebalkan itu adalah pemuda bersurai merah, lebih baik ia tidak pernah meladeninya sejak awal.


Buru-buru Sohyun membalikkan badannya, menekan tombol kunci rumahnya. Ia ingin segera masuk kekamarnya untuk menghindari Jihoon. Jika ia tetap berada disini, Sohyun tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirinya.


"Yak apa yang kau lakukan?" tanya Jihoon memperhatikan Sohyun yang terus-menerus menekan angka password yang salah. Sudah ketiga kali Jihoon mendengar nada yang sama, membuat telinganya menjadi sakit.


Sohyun terlalu gugup dan malu untuk bertemu dengan Jihoon. sehingga ia terus menekan angka yang salah, isi pikirannya tiba-tiba kosong ketika ia kembali bertemu dengan Jihoon.


"Kim Sohyun."


Sohyun terpenjat kaget, pemuda itu memanggilnya dengan nada rendahnya. Jemarinya berhenti menekan angka password, terlalu terkejut untuknya ketika mengetahui pemuda itu mengetahui namanya.


"Whoaaa kita bertemu lagi rupanya, aku tidak menyangka jika kau adalah ahjumma menyebalkan it-"


"Aku bukan ahjumma menyebalkan yang kau maksud, lagi pula ini bukan rumahku."


Satu alis Jihoon terangkat naik, terlihat bingung dengan perkataan yang baru saja diucapkan Sohyun. Jika ini bukan rumah Sohyun, lalu untuk apa wanita itu berada disini dan berusaha menekan password nya.


"Lalu untuk apa kau mencoba membuka pintunya jika ini bukan rumahmu."


Sohyun membalikkan badannya  menatap kesal pemuda dihadapannya itu. Pipinya kembali memerah dan Sohyun merasakan merahnya menjalar ke telinganya. Sohyun bukan tersipu mendengar suara Jihoon, melainkan ia kembali marah dan malu.


Jihoon tersenyum miring, wajah memerah itu kembali ia lihat setelah beberapa jam yang lalu sesaat mereka menyudahi ciuman panasnya di rooftop. Ahh mengingat ciuman itu, membuat Jihoon ingin lagi.


Bibir Sohyun benar-benar candu buatnya. Bibir mungil berwarna cherry itu membuat Jihoon tidak berhenti untuk tidak mencicipinya.


Melangkahkan kakinya mendekat kearah Sohyun, membuat gadis itu tanpa sadar melangkah mundur. Punggung Sohyun menabrak pintu rumahnya, tidak ada kesempatan baginya untuk melangkah mundur lebih jauh lagi. Ia sudah terpojok, Jihoon berada tepat dihadapannya, memperlihatkan smirknya yang sialnya terlihat tampan.


Gluk


Sohyun menelan ludahnya dengan susah payah. Jantungnya kembali berdegup kencang, ia takut kejadian tadi pagi terulang lagi. Dan benar Jihoon memiringkan kepalanya sembari memangkas jarak antara mereka. Jihoon tersenyum.


"Aku ingin menciummu."


"Eoh?"


Itu bukan suara Sohyun, tetapi sosok pria yang berdiri dibelakang punggung Jihoon dengan satu tangannya menggenggam sebuah smartphone. Jihoon dan Sohyun menoleh kearah sumber suara, kemudian mendapati Jaehyun yang sedang memergoki mereka berdua.


Sohyun merasakan dapat menghela nafas lega, beruntung Jaehyun datang dan menghentikan tindakan yang hampir saja dilakukan Jihoon.


Pemuda bersurai merah itu menjauhkan tubuhnya dari hadapan Sohyun, membalikkan badannya memandangi Jaehyun yang senantiasa berdiri disana dengan smartphone ditangannya.


"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Jaehyun sambil menatap Sohyun dan Jihoon secara bergantian.


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, apa yang kau lakukan disani?" tanya balik Jihoon dengan kedua tangannya masuk kedalam saku jaket denimnya.


"Oh aku, aku mau mengembalikan ponsel Sohyun yang tertinggal di kafe."


Sohyun menoleh sebentar kearah Jihoon sebelum akhirnya ia melangkah mendekati Jaehyun dan mengambil kembali ponselnya.


"Gomawo oppa."


"Sama-sama, ahya kalian sudah berkenalan. Sohyun kenalkan dia Park Jihoon pemilik tempat tinggal di lantai atas dia juga seko-"


"Kami sudah bertemu disekolah." potong cepat Jihoon. Sohyun menoleh menatap Jihoon dengan pandangan tajam. Tatapannya mengisyaratkan jika pemuda bernama Park Jihoon itu harus menyembunyikan apa yang telah terjadi pada mereka saat disekolah tadi.


Jihoon yang menyadari arti tatapan itu hanya memutar matanya malas. Tanpa disuruh pun Jihoon ogah untuk membicarakan perihal ciuman panas mereka. Siapa juga yang mau mengumbarnya pikir Jihoon.


"Kau mau kemana Jihoon?"


"Pergi."


Jaehyun hanya mengangguk mengerti? Sejujurnya ia tidak mengerti, hanya saja ia tidak ingin memperpanjang pembicaraannya dengan Jihoon. Berbicara panjang dengan Jihoon hanya akan membuatnya lelah sendiri, toh perkataannya tidak akan pernah didengarkan oleh pemuda bersurai merah itu.


"Oppa, aku masuk duluan ya."


Jaehyun menoleh menatap Sohyun, kemudian tersenyum manis.


"Uhm, aku juga harus turun. Masuklah."


Setelah itu Sohyun melangkah mendekati pintu rumahnya, melewati Jihoon begitu saja. Dengan pikirannya yang kembali tenang Sohyun mengingat kembali angka password rumahnya, ia tersenyum girang sampai melompat-lompat layaknya anak kecil yang mendapatkan balon dari ayahnya.


"Kau bilang itu bukan rumahmu."


Kesenangan Sohyun berakhir ketika mendengar suara berat yang dibencinya mengalun di telinganya. Sohyun memutar kepalanya, menatap sinis pemuda bersurai merah itu.


"Ini memang bukan rumahku, aku hanya menyewanya. Wleee" tukasnya, menjulurkan lidahnya kearah Jihoon sebelum akhirnya ia melengsang masuk kedalam rumahnya, mengunci dari dalam pintu rumahnya.


Jihoon melongo tidak percaya. Ia nyaris saja mengangkat tangannya hendak mengedor-ngedor pintu besi itu, jika ia tidak menyadari kehadiran Jaehyun yang masih memperhatikannya. Mengepalkan kedua telapak tangannya didalam saku jaketnya, mencoba sekuat mungkin meredam emosinya.


Menolehkan kepalanya melihat samping kanannya. Jaehyun menatapnya dengan kedua sudut bibirnya yang dipaksa untuk tidak terangkat. Jihoon mengendus kesal, kaki panjangnya itu terangkat dan menedang pintu besi milik Sohyun sebelum ia melangkah pergi dari tempatnya.


"YAKKK!!"


Sudah tidak diragukan lagi jika itu suara dari pemilik apartemen yang pintunya di tendang oleh Park Jihoon.


Tbc