The Demon

The Demon
Part 13



...


Sekarang Sungwon duduk bersila di lantai, dengan kedua tangan diangkat tinggi-tinggi di atas kepalanya. Ia tidak mengerti kenapa imo itu tiba-tiba masuk kedalam rumah kakaknya dan menuduh dirinya sebagai pencuri.


Tidak tahu apa kalau mahluk semanis dirinya adalah adik dari Park Jihoon.


Sungwon memperhatikan sekitarnya. Dapur rusak, bohlam lampu entah bagaimana caranya bisa lepas, ranjang kesayangan Jihoon juga patah.


Aish dia tidak tahu harus membayar berapa untuk biaya ganti rugi nanti kepada kakaknya.


"Imo. Aku bukan pencuri."


"Bagaimana aku bisa percaya kau bukan pencuri. Kau bahkan terlihat mencurigakan saat membuka meja belajar Park Jihoon."


"Astaga aku ini adiknya."


Sohyun acuh, dia memilih melipat kedua tangannya dan mengangkat dagunya dengan angkuhnya.


Sebelum ia memutuskan untuk tinggal di korea. Ibunya sudah berpesan untuk tidak mempercayai siapapun. Meskipun mahluk imut sekalipun.


"Imo!" panggil Sungwon putus asa.


Dia sudah lelah, tangannya sudah pegal diangkat terlalu lama, rambutnya berantakan seperti sarang burung. Sungguh bukan style adik dari Park Jihoon dan Park Woojin.


Kriiieekk


Sohyun segera mungkin memutar kepalanya ke belakangnya. Tepat di pintu utama, dengan berbekal sapu ditangannya Sohyun memperhatikan sosok yng masih berdiri di bibir pintu dengan air wajah terkejut.


Knop pintu itu dirusak secara paksa, terlihat jelas jejak kursi yang ke empat kakinya sudah bengkok.


Jihoon dan Jaemin masuk kedalam rumah tanpa melepas sepatu terlebih dahulu. Mereka berdua masih terkejut melihat penampakan rumah yang selalu rapih namun kali ini terlihat seperti kapal Titanic saat menabrak bongkahan es.


Jika saja ini adalah sebuah drama, mungkin ada musik pengiring yang tepat saat Jihoon melihat kondisi kamarnya. Contohnya Lagu My Heart Will Go On dengan suling rusak di intro lagu.


Rahang Jihoon terjatuh saat manik coklatnya melihat ranjang yang dibeli dari hasil balapannya rusak. Keempat kakinya patah, rollnya menyembul ke permukaan.


Demi tuhan, Jihoon ingin memakan orang hidup-hidup saat ini.


"Jihoonie." panggil Sohyun mendekat. Jihoon mengalihkan atensinya pada kondisi kamarnya yang bisa di bilang replica kapal Titanic ke arah Sohyun.


Kondisi Sohyun tak kalah berantakan, rambut panjangnya berantakan, dua sampai tiga helai sampai berdiri tegak diatas kepala Sohyun.


Jihoon meringis sakit saat melihat sudut bibir kekasihnya itu berdarah. Entah apa yang dilakukan gadis itu sampai melukai dirinya sendiri.


"Oppa...hiks" Panggil Sungwon. Manik hitamnya berair, bibirnya di melengkung kebawah.


Jihoon memperhatikan kondisi adiknya. Tidak tega hati Jihoon melihat adik gilanya dengan penampilan seperti itu.


Astaga keduanya habis melakukan apa sampai terlihat kacau. Jihoon mengacak rambutnya frustasi, ia mendekat dan menyentuh kedua pundak Sohyun, gadis itu meringis kesakitan saat bahunya di genggam kuat.


"Apa ada yang sakit?"


Sohyun menggelengkan kepalanya, tapi air wajah Sohyun seolah menahan kesakitan di bahunya.


Jihoon memperhatikan lengan Sohyun. Tidak ada yang luka luar, tangannya sedikit bergetar, apa mungkin lukanya ada didalam


"Akh, Yaaa bodoh sakit!"


Sohyun menjerit kesakitan, saat Jihoon dengan sengaja menekan bahunya yang terasa perih seolah bagian itu seperti patah saja.


"Sakit?"


Sohyun menganggukkan kepalanya sembari mempout bibirnya. Astaga Jihoon yang melihatnya menjadi gemas.


"Oppa, kau tidak memperhatikanku? Hueeeee" Sungwon menangis dengan kerasnya. Baginya ini tidak adil, Jihoon memberikan perhatian khusus pada imo itu sementara dirinya terabaikan.


Jihoon menoleh, ia menghembuskan nafas putus asa melihat adiknya menangis seperti anak kecil, merengek meminta di belikan ice cream.


"Jaemin, tolong bawa Sohyun kerumah sakit, sepertinya tangannya terkilir, aku akan menangani Sungwon."


"Kau mengenal manusia itu?" tanya Sohyun. Jihoon menganggukkan kepalanya.


"Dia adikku."


Rahang Sohyun jatuh, dia tidak dapat mempercayai apa yang baru saja di dengarnya.


Anak laki-laki yang memanggil Jihoon dengan sebutan oppa adalah adiknya.


Astaga apa yang dia lakukan pada bocah laki-laki itu.


...


Jihoon menghembuskan nafasnya pelan. Setelah kepergian Jaemin dan Sohyun, dia menyelamatkan beberapa barangnya yang masih utuh. Meletakkannya di atas meja.


Ia berjalan ke dapur. Hanya tempat itu yang terlihat normal meski beberapa peralatan masak terlempar hingga kamarnya.


"Oppa?!"


"Apa lagi Park Sungwon?"


"Mianhe." Sungwon menundukkan kepalanya. Dia merasa bersalah dengan apa yang terjadi saat ini. Sebagian besar dari hancurnya rumah Jihoon karena ulah nya.


Jihoon membalikkan badannya, menatap Sungwon yang tengah menyesali perbuatannya. Hatinya sedikit terenyuh melihat adik gilanya itu.


Pemuda surai merah itu mendekat. Setelah berada di hadapan Sungwon, dia duduk tepat disamping Sungwon, merangkul tubuh adiknya yang sedikit bergetar karena menangis.


"Sudah tak apa, ini bisa diperbaiki."


"Really oppa?"


Jihoon menganggukkan kepalanya. Jihoon ingin tersenyum, namun mendengar adiknya itu memanggilnya oppa, senyumnya itu segera diurungkan.


"Park Sungwon?" panggil Jihoon dengan nada beratnya. Sungwon menegakkan kepalanya, menoleh ke kanannya guna melihat kakak tampannya.


"Kenapa kau tidak tinggal bersama ayah?"


Sungwon menghembuskan nafas pelan sebelum dia mulai berkata. "Kau takut pada ayah."


"Kenapa?" tanya Jihoon dengan sebelah alisnya yang terangkat naik.


Sungwon diam, dia ingin bercerita namun sedikit ragu. keraguan Sungwon membuat kerutan halus di dahi Jihoon.


"Ada apa? Cerita pada hyung?"


"Oppa harus berjanji tidak akan marah."


Tanpa menunggu lebih lama Jihoon menganggukkan kepalanya. Meski ucapan adiknya nanti akan mengundang amarahnya.


Sungwon memperhatikan Jihoon. Ia masih takut-takut menceritakan alasannya. Tapi, Sungwon tidak bisa memendam masalahnya sendiri. Ia butuh seseorang untuk membantunya.


"Oppa." lirih Sungwon. Ia menundukkan kepalanya menghindari tatapan kakaknya.


"Begini, a-aku eum i-itu."


"Katakan yang jelas Park Sungwon."


Sungwon menegakkan kepalanya, menoleh ke ada Jihoon. Manik hitamnya kembali memerah dan berair, siap meledak.


"Oppahueeeeeakudikeluarkandari sekolahdandisuruhgantirugi, hiks hiks a-aku harus bagaimana? Oppa"


"Apa?" Tanya Jihoon dengan nada sedikit meninggi. Apakah dia sudah salah dengar? Adiknya di keluarkan dari sekolah? Heol berita gila apa itu.


Jihoon menatap lekat adiknya, menuntut penjelasan yang lebih.


"Begini, uhm di Canada aku di bully. Mereka bilang jika aku ini aneh. Aku tidak mempermasalahkannya toh aku memang aneh."Ucap Sungwon menundukkan kepalanya kembali kepalanya. Jari-jariny bermain dneagn ujung bajunya sendiri.


"Lalu ada anak laki-laki menolongku, merek berkelahi, anak itu terluka jadi aku membantunya dan memukul orang-orang yang membullyku." Sungwon mengangkat kepalanya. Manik hitamnya langsung bertemu dengan manik coklat Jihoon yang tajam. Sungwon menelan ludahnya kasar. Tatapan saudaranya itu terlalu mengintimidasi dirinya.


Sungwon jadi tidak berani melanjutkan kalimatnya.


"Ceritakan semuanya Park Sungwon."


Mata Sungwon mulai berkaca-kaca, ada gurat takut yang tampak di wajahnya.


"Aku memukulnya hingga masuk rumah sakit karena patah tulang di bagian leher."


"Pffft" Jihoon mencoba untuk tidak tertawa. Sungguh tertawa di saat seperti ini tidak pas. Jihoon baru saja mendengar kisah memilukan adiknya selama tinggal di Canada, hingga dia menjadi bahan pembullyan.


Oke itu tidak lucu, dan membuat Jihoon ingin meremukkan kepala anak-anak yang telah membully adiknya.


Tapi, adiknya melangkah lebih dahulu. Bahkan ia mematahkan tulang leher anak-anak nakal itu. Oh tuhan apakah ini sudah waktunya adiknya berubah seperti anak laki-laki normal?


"Oppa"


Jihoon menoleh. Dia mengangkat sebelah alisnya. Sepertinya bukan saat ini anak laki-laki itu berubah menjadi normal.


Park Sungwon akan tetap jadi bocah gila yang memanggil kakak laki-lakinya oppa dan bersikap manja kepadanya.


"Bagaimana? kedua orang tua mereka meminta ganti rugi, kalau aku tidak membayarnya mereka akan membawa ke pengadilan." ujar Sungwon ketakutan.


Jihoon memperbaiki posisinya menghadap Sungwon sepenuhnya. Satu tangannya terangkat naik meremas kuat pundak Sungwon.


"Hei kau tidak salah, mereka yang memulai duluan. Kenapa kau setakut ini, kau memiliki seseorang sebagai saksi."


"Aish oppa ini, anak laki-laki itu hanya pengunjung. Dia bahkan bukan orang Canada. Setelah pertengkaran itu, kedua orang tuanya langsung membawanya pulang ke negaranya."


"..."


"Oppa."


Jihoon menghembuskan nafasnya, menyisir rambutnya naik keatas. Ia bingung harus bagaimana.


Jika berita ini sampai ke telinga ayahnya. Jihoon pastikan Sungwon hanya akan menjadi sup iga pagi harinya.


Jihoon memperhatikan adiknya dari ekor matanya. Sungwon menggigit jari-jarinya, ikut berpikir mencari jalan keluar.


Dia tersenyum, mengusak surai hitam Sungwon dengan gemas sambil terkekeh pelan. Setidak sukanya Jihoon pada Sungwon tapi anak itu adalah adiknya, seseorang yang harus dia lindungi setelah kekasihnya.


"Tenanglah, aku akan meminta Woojin untuk ikut membantu. Bagaimanapun dia kakakmu."


"Oppa, hiks thank you."


••


Dokter Lee merapikan peralatan medisnya setelah mengobati tangan Sohyun yang terluka.


Pundak kanan Sohyun terlihat sangat besar dengan gips fiber yang melilitinya.


"Kau ini mengangkat apa sampai pundakmu patah heum?" tanya Dokter Lee mengamati Sohyun yang duduk di atas bangsal.


Sohyun hanya menunduk, pikirannya melayang di saat ia mencoba membuka pintu rumah Jihoon dengan mendobraknya beberapa kali sebelum merusak nya dengan kursi.


Apa mungkin karena itu?"


"Entahlah."


"Datanglah seminggu sekali untuk mengeceknya. Untung saja luka dalamnya tidak terlalu parah."


"Berapa lama dia akan menggunakan gips?" tanya pada pemuda surai hitam yang berdiri tepat di belakang Dokter Lee.


Dokter tampan itu membalikkan badannya, dia tersenyum ramah pada Woojin.


"Dua minggu. Tolong jangan buat lengan itu bergerak terlalu banyak."


Woojin menganggukkan kepalanya. Dokter Lee menolehkan kepalanya, memperhatikan Sohyun dengan tatapan datarnya.


"Setelah mendapatkan resep kau boleh pulang. Ingat jangan menggerakkannya jika kau tidak ingin satu tanganmu di lepas." ucap Dokter Lee, ia kemudian pergi sebelum Sohyun benar-benar marah.


"Dokter Lee kau menyeramkan." teriak Sohyun dari tempat duduknya.


Woojin menggelengkan kepalanya. Ia mendekat sembari menarik kursi kehadapan Sohyun kemudian duduk.


"Apa sakit?" tanya Woojin penasaran.


"Sedikit. Dimana Jaemin?"


"Dia keluar membeli cemilan. Kudengar kau merusak rumah Jihoon?"


Sohyun tersenyum kaku. Tangan kirinya bergerak mengusap telengkuknya.


Astaga memalukan sekali, bagaimana bisa Woojin mengetahuinya? Ahh kau lupa Kim Sohyun jika Jihoon adalah saudara kembar Woojin, dan kekasihnya itu meminta Woojin untuk menemaninya.


Woojin terkekeh. "Kau sudah bertemu dengan Sungwon?"


"Anak laki-laki itu?" tanya Sohyun, Woojin menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Dia lucu kan."


Sohyun mengangguk membenarkan. Dari segi apapun Sungwon itu lucu dan imut.


Woojin diam memperhatikan pundak Sohyun yang di gip tebal. Pasti sakit pikirnya. Dia meringis di kala ingatannya melayang ke beberapa tahun yang lalu, dimana bagian tubuhnya di gips.


"Apa yang kau pikirkan?"


"Eoh," Woojin mengalihkan pandangannya menatap Sohyun. Dia tersenyum lebar, memperlihatkan ginsulnya yang menyembul. "Aku ingat kalau dulu pernah di gips juga."


"Oh ya, kapan?"


Woojin terdiam sejenak, memikirkan kapan dia terakhir kali mengalami kejadian itu.


"Ah, dua tahun yang lalu. Aku pernah kecelakaan motor."


"Benarkah?"


Woojin menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Iya, dan sampai sekarang aku masih trauma naik motor."


Sohyun tersenyum, tangan kirinya terangkat menghelus surai hitam milik Woojin.


"Aigo kasihannya." ucap Sohyun. Woojin tertawa lebar melihat wajah jahil Sohyun yang seolah meledeknya yang tidak dapat menaiki motor setelah insiden itu.


Sohyun ikut tertawa bersama Woojin. Meledek pria berkulit tan itu sangat menyenangkan, dia tidak mengerti mengapa ia bisa senyaman itu meledek seseorang.


Woojin memelankan tawanya, dia tersenyum tipis melihat kedua kelopak sakura itu tertutup rapat membentuk garis lurus, kemudian kedua pipi chubbyny terangkat naik saat dua sudut bibirnya melengkung keatas dengan lebar.


Ahh indahnya.


Tanpa keduanya sadari, seorang pemuda berdiri menyaksikan dengan tatapan yang sulit dia artikan.


Jihoon mengepalkan kedua telapak tangannya, hingga buku-buku jarinya memutih.


Dadanya berdenyut sakit melihat keakraban kedua manusia itu, terlebih saat manik coklatnya melihat jelas arti tatapan yang Woojin berikan pada Sohyun.


Menghela nafas pelan, Jihoon berbalik melangkahkan kaki jenjangnya meninggalkan ruangan tersebut dengan perasaan yang bercampur aduk.


•••