
Typo bertebaran
🙂
.
.
.
Dua belas tahun kemudian
Hari ini Seoul tampak begitu cerah, langit biru terlihat begitu indah dengan awan putih di sekitarnya.
Suara hiruk piruk anak-anak yang sedang bermain air menemani Jihoon yang saat ini berbaring diatas pasir putih. Mata indahnya terlindungi dengan kaca mata frame hitam.
Lelaki itu menghirup udara segar itu dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Diam-diam Jihoon rindu dengan ketenangan ini, hanya bersantai di pantai dan menikmati udara sejuk.
Sudah lama sekali Jihoon tidak merasakan ketenangan ini setelah ia lulus SMA, melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi kemudian saat ini ia berhasil menjadi sosok yang sukses. Menjadi seorang dokter ahli bedah.
Siapapun tidak dapat percaya dengan mudah tentang ini. Mereka akan bertanya untuk kedua kalinya memastikan bahwa seseorang yang dulunya hobbi bolos sekarang telah menjadi seorang dokter bedah di usianya yang masih muda, bahkan ia telah mendapatkan gelar Professor.
“Appa?!!!” teriak anak perempuan di bibir pantai.
Jihoon terbangun dari berbaringnya. Melepaskan kaca matanya dengan gaya yang sangat maskulin. Beberapa wanita yang menyaksikan hal itu terpesona di buatnya.
Tubuh atas Jihoon yang terbuka memperlihatkan bentuk tubuhnya yang sangat sempurna.
“Appa kesinilah!!!”
Anak perempuan itu terus melambaikan tangannya kearah Jihoon. Wajah jengkelnya terlihat begitu jelas di iris hitam milik Jihoon.
Jihoon terkekeh, ia lalu bangkit dan memperbaiki bajunya, memasang beberapa kancing kemeja putihnya untuk menutupi otot perutnya.
“Astaga ada apa sayang?!” Jihoon mendekat, mengamati anak perempuan dengan rambut panjangnya di kuncir dua.
“Lihat Dongbi menggangguku,”
Guk, Guk
Jihoon menoleh, ia tertawa kecil memperhatikan anjing kesayangannya terlihat sangat menikmati mandi-mandinya di pantai. Berbanding terbalik dengan gadis kecil itu yang cemberut karena Dongbi selalu menganggunya.
“Appa ayo pulang!”
“Kau sudah lapar?”
Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya. Jihoon mengulurkan kedua tangannya meminta anak gadisnya meraih tangannya lalu menggendongnya menjauh dari pantai.
“Kalau begitu kita berberes dulu. Appa akan menghubumi eomma untuk membuatkanmu makanan.”
“Katakan pada eomma untuk membuatkan ku Hodu Gwaja.” ucapnya dengan nada yang menggemaskan. Jihoon mengangguk, tak lupa ia mengigit pipi putrinya yang begitu chubby.
“Akkhhhhh apppa, sakit!!!”
Jihoon tertawa semakin keras dari sebelumnya dan juga terdengar suara gonggongan Dongbi dibelakang seperti ia sedang menertawakan kelakuan khonyol ayahnya.
.
Dalam perjalanan Jihoon hanya fokus pada jalanan di depannya sementara puteri kecilnya tengah tertidur di kursi belakang bersama Dongbi.
Ah.. Anjing itu kini semakin tua. Jihoon yakin Dongbi jauh lebih tua daripada dirinya.
Jihoon melirik puteri kecilnya melalui kaca spion. Perlahan sudut bibirnya terangkat naik ketika melihat puterinya tertidur dengan bibir di majukan,
Ah menggemaskan sekali, pikir Jihoon.
Anak perempuan itu terlibat sangat menggemaskan meski tengah tertidur. Bibirnya yang dimajukan, kedua sepasang pipi chubby itu terlihat seperti buah peach, merah muda dan menggemaskan. Dan jangan lupakan bulu matanya yang lentik nan panjang.
Gadis kecil itu sepertinya mewarisi 99% dirinya.
Drrrt drrrrrr
Jihoon perhatiannya pada head unit pada mobilnya. Panggilan tertera di layarnya.
Yeonnie Eomma is calling
Jihoon tersenyum kemudian menekan ikon hijau untuk menjawab panggilan wanita itu.
“Yakhhh Park Jihoon?! Kau dimana?!”
Jihoon terkekeh. “Ssttt pelan kan suaramu. Apa kau mau membangunkan putrimu?”
Hening sejenak.
“Apa Yeon tidur?”
Jihoon mengangguk meski itu percuma. “Ya, aku akan sampai sebelum makan malam.”
“Ck, cepat sedikit. Kasihan putriku belum makan.”
“Kau tidak mengkhawatirkan aku? Aku juga belum makan,”
“Itu urusanmu. Aku kan sudah bilang makan dulu sebelum pergi. Kalian tidak mendengarkan dan langsung pergi, kau pikir aku tidak khawatir dengan kondisi putriku yang pergi ke pantai dengan perut kosong?!”
“Astaga kau sangat cerewet, bagaimana bisa akuㅡ”
“Bagaimana bisa apa, hah?! Sudah cepat pulang, aku akan memasakkan makan malam yang enak untuk kalian..”
Bib
Jihoon terkekeh. Wanita itu sama sekali belum berubah meski beberapa tahun telah berlalu.
;
Guk, guk
Jihoon tersenyum lebar menurunkan Yeon dan Dongbi bersamaan. Anjing coklat itu segera lari kedalam rumah dengan lidah yang dijulurkan kedepan, sepertinya dia tahu ada menu makanan spesial yang dibuatkan untuk dirinya.
“Dongbi-ya, tunggu?!!”
Yeon ikut berlari, mengejar Dongbi yang telah masuk kedalam rumah mereka.
Sementara Jihoon tersenyum lebar menyaksikan kesayangannya masuk kedalam rumah.
Jihoon berjalan membuka bagasi mobil, mengeluarkan tas keperluan milik Yeon. Setelah itu Jihoon berjalan masuk kedalam rumah dengan perasaan yang senang dan perut yang keroncongan.
Kali ini ia tidak bisa menahan laparnya lagi, meski beberapa jam sebelum sampai dirumah dia singgah membeli tteokbokki dan hot bar untuk mengganjal perutnya bersama Yeon.
“Eomma!!” Yeon berlari kearah wanita cantik dibelakang wastafel. Tubuh kecilnya hanya bisa memeluk paha wanita yang masih sibuk mencuci piring.
“Astaga kau sudah tiba sayang?” wanita itu bertanya dan masih membelakangi puterinya.
“Heum..”
“Apa kau lapar?”
“Heum..”
Wanita itu terkekeh. Ia pun melepaskan sarung tangan karetnya, meletakkannya di samping piring bersih kemudian dia berbalik.
Dia tersenyum lebar mengamati wajah lelah Yeon dibawahnya.
“Ututu cuci tangan dan kaki dulu setelah itu makan.” ucapnya sambil mengusap rambut hitam Yeon. “Ahya jangan lupa panggil appa untuk ikut makan bersama. Dia ada di ruang belajar.”
Yeon mengangguk dan tersenyum, setelahnya dia berlari melewati Jihoon yang baru tiba di dapur.
Wanita itu berkacak pinggang mengamati saudara iparnya. “Kau senang membawanya keluar?” Tanya wanita itu sambil melepaskan apron merah mudanya.
Jihoon mengangguk, lalu dia berjalan menuju meja makan, meletakkan tas Yeon di atas meja.
“Tentu. Dimana Woojin?”
“Di dalam, sedang mengurusi beberapa berkas.” Ucap wanita cantik itu, tangannya bergerak menuang air minum kedalam gelas lalu memberikannya kepada Jihoon. “Akhir-akhir ini dia terlibat sibuk mengurusi perusahaan.”
Jihoon mendengarkan dengan baik, tapi tak langsung menyahut. Senyum tipis terbentuk begitu jelas di wajahnya saat maniknya menatap wajah cantik dihadapannya.
“Sebentar lagi ulang tahun pernikahan kalian, apa kalian ingin merayakannya?”
“Aku tidak tahu, melihatnya sibuk akhir-akhir ini membuatku tidak tega meminta untuk merayakannya. Bagiku selama dia ada di sisiku aku sudah bersyukur.”
“Woojin beruntung memilikimu.”
Wanita itu tersenyum, “Aku jauh lebih beruntung dapat memiliki Woojin. Dia pria dan ayah yang baik.”
“Aku memang pria yang baik.”
Suara tiba-tiba itu membuat kedua orang yang menikmati obrolan tadi langsung menoleh dan memberikan tatapan bingung.
Woojin datang bersama puteri kecilnya di gendongannya. Dia tersenyum lebar saat berada di samping istrinya.
“Kalian sedang membicarakan ku kan?” Tanya Woojin memperhatikan istri dan saudara kembarnya secara bergantian.
Seketika Jihoon menggelengkan kepalanya dan kembali menegak air putihnya hingga tandas. Tangannya lalu meraih sumpit, meraih sepotong telur dadar dan melahapnya.
Woojin terkekeh. Ia memberikan Yeon pada istrinya kemudian menarik kursi makan dan mendudukan bokongnya dengan nyaman disana.
“Bagaimana dengan pekerjaanmu di rumah sakit?”
“Seperti biasa. Tidak ada yang spesial.”
“Benarkah? Apa tidak ada dokter baru?”
“Dokter baru?!” tanya Jihoon sambil menegakkan kepalanya.
Woojin mengangguk, ia bergumam dengan mulut penuh dengan nasi dan lauk pauknya. Sesaat setelah menguyah Woojin membuka mulut untuk bersuara.
“Aku dengar akan ada dokter baru yang bekerja di Seokhan Medical.”
“Aku tidak tahu kabar itu,”
“Sesekalilah bertemanlah dengan rekan kerjamu.”
“Apa kau tidak memilik teman dirumah sakit?” Wanita itu bertanya sambil menatap wajah Jihoon yang terlihat datar.
“Dia punya, satu-satunya teman yang dimiliki Jihoon hanya seorang perawat yang selalu menemaninya bertugas maupun makan siang,” jawab Woojin, maniknya berputar seperti sedang memikirkan nama perawat wanita itu. “Kang... Seulgi.”
“Kang Seulgi?!” Tanya ulang istrinya, dan di angguki oleh Woojin sebagai jawaban.
“Aku bahkan sampai curiga jika mereka berdua memiliki hubungan yang khusus!”
“Yakhh, jaga bicaramu Park Woojin?!” Jihoon melotot marah, ingin sekali dia melempar sumpitnya ke wajah Woojin jika saja Yeon tidak ikut makan malam bersamanya. “Aku tidak berkencan dengannya.”
“Ck, mengaku saja dan bawa dia ke acara pernikahanku lusa.”
“Mwo?!!”
Sang istri menoleh dengan tatapan terkejut. “Kau membuat pesta? Kenapa tidak memberitahu ku soal itu?!"
Woojin menggaruk telengkiknya yang tidak gatal. “Nanti akan ku menjelaskan padamu.” Ucapnya sambil meraih tangan istrinya untuk di genggam.
Jihoon merotasikan matanya malas. Lagi-lagi dia melihat pemandangan yang kurang berkenan untuknya. Woojin selalu memamerkan kemesraannya dengan istrinya yang sudah di nikahinya selama enam tahun lalu.
Ya, mereka menikah diusia yang cukup muda. Dan tentu saja pernikahan mereka diawali oleh kesalahan yang dibuat oleh Park Woojin sendiri.
•••
Wanita cantik itu berjalan begitu eloknya diatas marmer berwarna putih.
Menarik kopenrya dengan santai dan satu tangannya menekan beberapa tombol di layar ponselnya setelah itu mendekatkannya di telinga kirinya.
Suara sambungan mulai terdengar, senyum tipis itu terbentuk sangat indah saat seseorang yang dihubunginya menjawab panggilannya.
“Heum, eomma aku sudah sampai.”
“...”
“Iya, aku tinggal berjalan keluar dan menemuinya.”
Wanita itu tertawa lebar mendengar suara seorang wanita di seberang sana tak berhenti mengoceh. “Aku mengerti, aku akan menjaga diriku selama disini.”
“...”
“Heum, katakan pada Sunwoo untuk segera menyusul,”
“...”
Langkah wanita berambut pendek sebahu itu terhenti saat ia telah berada diluar bandara. Dia tersenyum saat maniknya menangkap sosok tegak berdiri di depan mobilnya dengan gaya yang sangat menawan, kaca mata hitamnya bertengker di hidung mancungnya, pria itu mengenakan outfit formal, jas hitam dengan dalaman berwarna putih, ditambah lagi dengan dasi warna navy.
“Eomma, aku sudah bertemu dengannya. Sudah dulu ya.”
“...”
Bib.
“Oppa?!!” wanita melangkah maju kemudian memeluk erat tubuh Jaehyun.
“Sohyun-ie.. Aku merindukanmu.”
“Akupun sama.” Ucapnya sambil melepaskan pelukannya. “Bagaimana kabarmu? Apa oppa baik-baik saja?”
Jaehyun mengangguk sebagai jawaban. Mata sendunya tak berhenti memandang wajah cantik Sohyun. Wanita itu terlihat semakin cantik setelah sembilan tahun telah berlalu, pipi chubby terlihat sedikit menirus dan rambutnya dipotong pendek hingga sebahu, bahkan Sohyun mengecat rambutnya berwarna coklat.
“Apa kau kurang makan selama di Amsterdam?” Tanya Jaehyun meraih koper Sohyun dan membawanya masuk kedalam bagasi.
“Heum,” jawabnya dengan bibir dimajukan. Jaehyun gemas, sangking gemasnya dia dengan berani menarik bibir kecil itu didepan umum.
“Kau belum mendapatkan tempat tinggalkan?!” tanya Jaehyun lagi sambil membuka pintu mobil, membiarkan Sohyun masuk terlebih dahulu kedalam mobil mewahnya terlebih dahulu.
“Ya, semua terlalu buru-buru,” jawab Sohyun, ia masuk kedalam mobil dan tak lupa memasang safety belt untuk melindungi dirinya dari bahaya yang terjadi di jalanan.
Setelah Sohyun masuk kedalam mobilnya, Jaehyun berlari memutari mobilnya dan masuk kedalam. Sebelum menjalankan mobilnya di perhatikan sekitarnya, merasa tidak ada yang aneh Jaehyun pun membawa mobilnya menjauh dari bandara.
“Tinggalah dirumahku sampai kau menemukan tempat tinggal.”
Sohyun menoleh dan tersenyum, “Bukan ide yang buruk.”
“Kapan kau masuk bekerja?”
“Dua hari lagi. Pihak sana sebenarnya memintaku untuk beristirahat selama beberapa hari lagi, tapi aku butuh uang untuk membeli apartemen.”
Jaehyun tertawa, melihat Sohyun melalui ekor matanya. “Bagaimana kalau kita tinggal bersama saja.”
Kali ini Sohyun tertawa cukup keras, bahkan kedua tangannya saling bertepuk, menimbulkan suara nyaring nan berisik.
“Itu bukan ide yang bagus oppa, kecuali kau memintaku menjadi istrimu itu mungkin ide yang bagus?”
“Kau lupa aku pernah mengajakmu menikah dua tahun yang lalu.”
Jaehyun yang melihat hal itu melalui ekor matanya diam-diam tersenyum lucu. Ia tidak menyangka Sohyun akan menjadi seperti ini ㅋㅋㅋ
Masih teringat dalam pikiran Jaehyun dua tahun yang lalu ketika ia berangkat dari korea ke Amsterdam untuk menemui orang tua Sohyun.
Setelah Sohyun kembali ke Inggris, orang tua Sohyun memutuskan untuk pindah Amsterdam, alasan utamanya karena ayahnya dipindah tugaskan ke Kota besar itu. Sohyun, ibu dan adiknya hanya bisa menuruti dan akhirnya mereka menetap di Amsterdam selama dua belas tahun ini.
Kembali lagi saat Jaehyun datang ke Amsterdam. Dia berkunjung untuk merayakan Natal bersama, ia mendapatkan undangan dari orang tua Sohyun.
Jaehyun begitu dekat keluarga, kedekatan mereka di awali saat Nyonya Kim ke Seoul untuk menjemput puterinya. Jaehyun adalah satu-satunya pria yang selalu membantu nyonya Kim saat Sohyun masih dirumah sakit dan ketika mereka memutuskan untuk pindah.
Pria itu memiliki tempat tersendiri di hati Nyonya Kim.
Kemudian, saat Sohyun kembali ke Inggris komunikasi antara dirinya dan Sohyun tidak pernah putus, mereka saling bertukar kabar, layaknya seorang kekasih yang sedang menjalani pacaran jarak jauh.
Jaehyun yang sejak awal menganggap Sohyun layaknya adiknya yang harus dilindungi, tiba-tiba perasaannya menjadi aneh seiring berjalannya waktu.
Jantungnya berdebar ketika mendengar suara Sohyun, begitupun ketika melihat wajahnya ketika mereka video call dan juga Jaehyun merasa ada yang hilang ketika Sohyun tidak menjawab pesan dan telefonnya.
Semakin perasaannya menjadi semakin Jaehyun sadar ia merasakan sesuatu yang tidak seharusnya dia rasakan pada Sohyun.
Hingga akhirnya malam natal di Amsterdam, Jaehyun dengan berani ingin menikahi Sohyun. Tanpa berpacaran terlebih dahulu, Jaehyun ingin menikahi wanita itu.
Waktu dua belas tahun cukup untuknya mengenal siapa Sohyun. Tanpa ketakutan akan di tolak, dia menyatakan keinginannya.
Tetapi, Jaehyun harus menunggu tiga minggu Sohyun menjawab lamarannya. Dan, tentu saja Sohyun menolak lamaran itu dengan satu alasan yang Jaehyun ketahui.
Park Jihoon..
Pria itu masih menempati isi hati Sohyun. Hingga hari ini.
•••
Pesta perayaan pernikahan Woojin dan istrinya berlangsung dengan sederhana dan kekeluargaan. Hanya beberapa yang diundang oleh lelaki tampan itu, orang terdekatnya yang beruntung diundang oleh calon Presdir itu.
Semua orang menikmati pesta sederhana itu, tak terkecuali oleh Jihoon. Dia duduk di kursi bar dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.
“Kau senang?!” tanya seorang pria tua duduk di kursi sebelah Jihoon.
Jihoon menoleh dan tersenyum manis pada pria berkaca mata itu.
“Heum, senang.” Jawab Jihoon tak berhenti tersenyum.
“Aku tidak mengira hal ini akan terjadi begitu cepat, melihat kalian tumbuh dewasa dan menjadi seorang kakek.” Tuan Park menoleh menatap lamat wajah putranya. “Melihat Yeon seperti ini mengingatkan ku saat kalian masih kecil.”
“Itu sudah lama sekali.”
“Tentu saja, tapi ayah masih ingat saat kau menangis karena Woojin terjatuh dari sepedanya.” Tuan Park tertawa, sementara Jihoon tersenyum malu-malu. Ia hampir saja melupakan kenangannya saat kecil.
“Itu sangat memalukan saat membahasnya saat ini.”
Tuan Park bergumam pelan. Ia mengedarkan pandangannya kepada para tamu yang berdatangan, beberapa saat ia berhenti dan fokusnya pada sosok wanita dengan blazer motif graph. Rambut panjangnya di ikat ekor kuda.
Wanita itu tertawa bersama beberapa tamu yang datang. “Bukankah dia Kang Seulgi?”
Jihoon mengikuti arah pandang ayahnya, ia berhenti memperhatikan seseorang yang berdiri di bibir pintu dengan seorang pria.
Maniknya membulat lebar, wanita itu tertawa lebar memasuki mansion milik tuan Park yang menjadi tempat perayaan ulang tahun pernikahan Park Woojin.
Tiba-tiba tangan Jihoon bergetar. Senyum seindah pelangi itu kembali dilihat setelah beberapa tahun kemudian, wajahnya tetap cantik, rambutnya pendek tetapi tidak mengurangi kadar kecantikannya.
“Sohyunniee..”
“Joy-aa..” Sohyun berseru senang bertemu Joy, ia berlari kecil kemudian memeluk tubuh Joy sangat erat.
“Astaga aku pikir kau bercanda untuk datang ke sini.” Ujar Joy sambil melepaskan pelukannya. Matanya beriar menahan tangis melihat sahabat yang disayangi akhirnya datang ke pesta ini.
Setelah sembilan tahun lamanya mereka berdua bertemu. Sudah sangat lama.
Dan kerinduan itu begitu banyak hingga Joy yak mampu untuk menahan lagi.
“Aku merindukanmu.”
“Aku juga,”
“Ahya kenalkan ini Kim Sohye, istrinya Woojin.” Joy bersemangat mengenalkan seorang wanita yang sejak tadi memperhatikan keduanya.
Wanita itu, Sohye tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya kepada Sohyun.
“Kim Sohyun.” sapa Sohyun.
Wanita itu hanya tersenyum, dia tak mengulang menyebut namanya karena Joy sudah memberitahukan Sohyun.
“Kau datang bersama Jaehyun oppa?!”
Sohyun memutar kepalanya. Terlalu senang bertemu dengan Joy membuat Sohyun lupa akan kehadiran Jaehyun dibelakangnya.
“Tentu, dia yang membawa undangannya.”
“Bukankah Woojin sudah mengirim undangan padamu?” tanya Sohye. Sohyun tersenyum canggung.
“Aku meninggalkannya di Amsterdam.”
“Yakhh kau kan bisa menghubungi Woojin.” Ucap Joy
Sohyun terkekeh, “Aku takut mengganggunya. Ah ya dimana si kecil Yeon?!”
Pertanyaan Sohyun sontak membuat ibu muda itu langsung menyadari ketidakhadiran puterinya di sisinya.
Dia berputar dan mengamati sekitarnya mencari putri kecilnya itu.
Tak hanya Sohye yang tampak kebingungan, Joy dan Sohyun pun tampak kebingungan mencari sosok kecil yang menggemaskan itu.
Hingga akhirnya, pandangan mereka bertemu.
Beradu tatap dalam kejauhan.
Jihoon diam di sana, berdiri tepat di samping ayahnya dengan pandangan masih fokus pada Sohyun.
Sohyun pun sama. Dia memandang Jihoon. Saling bertukar sapa melalui tatapan.
‘*Bagaimana kabarmu?’
‘Aku baik-baik saja.’
‘Aku senang kau kembali*,’
“Sohyun-ah.”
Panggilan tiba-tiba itu membuat Sohyun mau tak mau memutuskan tatapannya dengan Jihoon.
“Kita duduk disana.” Ucap Jaehyun sambil menunjuk salah satu sofa dekat dengan kolam renang. Sohyun mengikuti arah tunjuk Jaehyun kemudian menganggukkan kepalanya.
Jaehyun tersenyum lalu meraih tangan Sohyun untuk di genggam, membawa wanita itu untuk duduk santai di tempat yang paling strategis.
.
Jihoon berdiri diatas balkon dengan soda ditangannya. Kali ini dia tidak minum alkohol, ya itu karena dia harus kembali ke rumah sakit jika ia menerima panggilan darurat.
Ia juga sudah berhenti minum alkohol dan merokok. Pekerjaannya membuat dirinya benar-benar menjauh dari sesuatu yang akan membunuhnya. Jihoon mulai memikirkan kesehatannya.
Jihoon menghembuskan nafas panjangnya, maniknya memperhatikan kejadian dibawahnya. Orang-orang kini berkumpul di kolam renang sambil memanggang daging.
“Jihoon.” panggil Sohyun dibelakang Jihoon. Lelaki itu seketika berbalik dan melihat Sohyun berjalan kearahnya.
“Apa yang kau lakukan disini?” Tanyanya ketika berada disebelah Jihoon.
“Hanya mencari ketenangan. Kau?”
Sohyun tersenyum lebar. “Aku juga. Dibawah terlalu ribut.” Jawabnya sambil meminum wine berwarna putihnya. Pandangan Sohyun tertuju pada sekaleng colla di genggam Jihoon. “Kau minum soda?”
“Eum ya, aku tidak minum alkohol lagi,”
“Kenapa?”
“Aku menghindari untuk menjaga kesehatan ku.”
“Ah, ah iya kau seorang dokter sekarang.”
Jihoon tersenyum tipis. Tak perlu ditanya darimana Sohyun tahu pekerjaannya, Woojin pasti yang memberitahukannya.
“Yakhh kau kan bisa menghubungi Woojin.” Ucap Joy
Sohyun terkekeh, “Aku takut mengganggunya. Ah ya dimana si kecil Yeon?!”
Selama ini Woojin dan Sohyun masih berhubungan tanpa sepengetahuannya. Dan Jihoon tidak tahu karena Sohyun telah mengganti nomor ponselnya.
“Kau mengganti nomormu?” Jihoon menoleh menatap Sohyun. Lelaki itu tampak terkejut karena Sohyun sejak tadi masih menatapnya meski dirinya telah memutuskan pandangannya beberapa saat yang lalu.
“Ketika sampai di Inggris aku kecopetan. Beruntung aku menulis nomor Jaehyun oppa, Woojin dan Joy.”
“Kau tidak menyimpan nomorku?”
Sohyun tersenyum lembut. Mata sendunya memandang lekat Jihoon, memperhatikan setiap sudut wajah tampan itu.
Pria itu terlihat semakin tampan dan dewasa, tubuhnya terlihat bugar dan pipinya tidak pernah berubah, masih chubby seperti photo yang ia terima beberapa bulan yang lalu.
Komunikasinya dengan Woojin yang tidak pernah terputus membuat Sohyun selalu menerima kabar tentang Jihoon. Woojin begitu rutin memberitahu hal-hal tentang Jihoon mulai dari ia berhasil masuk ke universitas Seoul kemudian menjadi lulusan tercepat di jurusan kedokteran, setelah itu bekerja di rumah sakit Seokhan medical. Apapun itu, yang penting kabar baik Woojin akan mengirimkannya pada Sohyun.
Woojin tidak lupa mengirimkan photo Jihoon jika ia memiliki waktu yang senggan. Ada begitu banyak photo Jihoon di smartphone Sohyun, tak terhitung berapa jumlahnya karena kurang ajarnya Woojin yang mengirim derp face Jihoon.
“Aku tidak pernah menyimpan nomormu di buku catatan ku,” jawab Sohyun yang sontak membuat bibir Jihoon melengkung kebawah, sedih.
Sohyun tak dapat menahan senyumnya ketika melihat wajah sedih itu untuk pertama kalinya setelah dua belas tahun.
Perubahan mimik wajah Jihoon yang tiba-tiba sungguh dirindukan Sohyun, terlebih bagaimana pria itu memaksakan kehendaknya.
Park Jihoon si The Demon, Sohyun merindukan sisi itu. Entah mengapa ia merindukannya hari ini.
Sohyun ingin melihat Jihoon yang meluap-luap ketika marah ataupun cemburu, melakukan keinginannya dengan sesuka hatinya, menciumnya tanpa meminta izin, membuat kedua pipinya memerah dan memasang wajah tanpa dosa setelah melakukan semua itu.
“Aku tidak menyimpannya di dalam buku tapi aku menyimpannya di pikiranku. Aku selalu ingat nomor ponselmu.”
Jihoon langsung menoleh dengan bibir dikatup rapat-rapat menahan senyumnya. Sohyun tersenyum miring, rasanya sangat senang melihat ekspresi berubah-ubah itu dalam waktu yang sama.
“Tapi kenapa kau tidak menghubungi ku?” Tanya Jihoon pelan
Sohyun menahan senyumnya, lalu mengalihkan perhatiannya pada orang-orang dibawah sana. “Mengapa aku harus menghubungi mu terlebih dahulu?”
“Ugh?!!”
“Kau bahkan tidak pernah menanyakan sesuatu tentangku pada Woojin,”
“...”
“Ah aku lupa jika kau sudah bertunangan.” Sohyun menoleh menatap Jihoon.
Ingin sekali Sohyun tertawa saat ini melihat wajah ngeblang Jihoon.
Pupil itu bergerak mengamati wajahnya, mulutnya menganga membentuk huruf o kecil.
Tidak bisa lagi, Sohyun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa, ia harus pergi dari tempat itu kemudian tertawa begitu keras.
“Aku minta maaf.. Ahya aku harus turun, aku takut ada yang melihat kita disini.”
Sohyun menundukkan kepalanya sebelum berjalan meninggalkan Jihoon, tetapi baru dua langkah Sohyun merasakan tangannya di cegat oleh seseorang.
Ia menoleh kebelakang melihat kebawah, kearah tangannya kemudian menaikkan pandangannya dan menatap bingung.
“Aku dan Lia tidak bertunangan. Pertunangan kami batal saat kau pergi.”
Sohyun tersenyum. Dan berbalik menghadap Jihoon.
“Aku tahu.”
“Uh?!” Jihoon melepaskan tangan Sohyun dengan segera. “Apa maksudmu?”
“Aku tahu pertunangan kalian batal dan kau datang menyusul ku ke bandara,”
“Woojin mengatakannya padamu?” Tanya Jihoon dan diangguki oleh Sohyun sebagai jawaban. “Tapi kenapa kau mengatakan..”
“Aku hanya bingung mengapa kau tidak pernah menanyakan tentangku pada Woojin selama ini?” Potong cepat Sohyun, “setiap kali aku berhubungan dengan Woojin aku menunggu sebuah pernyataan bahwa kau mencari nomorku, kau menanyakan kabar ku, apakah aku baik-baik saja. Tapi aku tidak pernah mendapatkan kabar itu...”
“...”
“Kenapa?”
Jihoon menghembuskan nafas pelan. Ia pun menundukkan kepalanya, terlalu malu untuk menatap Sohyun saat ini sambil menjawab pertanyaan wanita itu. “Kupikir saat itu kau membenciku, dan juga nomormu tiba-tiba tidak aktif menambah imajinasi ku bahwa kau tidak ingin ku hubungi lagi.”
“Bodoh.” Sohyun menggelengkan kepalanya tidak mengerti.
Lelaki dengan lulusan tercepat di fakultas kedokteran ini ternyata masih bodoh untuk menyadari sesuatu.
Dan bukan hanya Jihoon yang bodoh. Sohyun pun bodoh karena menunggu pria bodoh itu.
“Sohyun-ah,”
Sohyun tidak menjawab, maniknya terangkat memandang wajah Jihoon lekat.
“Apa kau masih mencintaiku?” tanya Jihoon dengan suara pelan
Butuh beberapa menit untuknya mencerna apa yang ditanyakan lelaki itu. Akhirnya Sohyun tersenyum sedih. Matanya berkaca-kaca melukiskan kebahagiaan yang dirasakannya.
“Heum, aku masih mencintaimu.” Jawabnya sambil mengangguk kecil.
Kedua mata Jihoon melebar dengan perlahan seakan Sohyun baru saja mengatakan sesuatu yang memberinya kejutan.
Jihoon menarik nafasnya susah payah, menelan ludahnya seolah ia sedang menelan krikil.
Jantungnya mulai berdebar dengan cepat.
Jihoon melihat Sohyun tersenyum lembut kearahnya. Jihoon merentangkan tangannya hendak memeluk tubuh Sohyun. Tetapi, matanya langsung membulat nyaris keluar dari tempatnya, ketika sesuatu yang lembut menempel di bibirnya.
Kedua tangan Sohyun langsung melingkar di leher Jihoon, bibirnya bergerak sangat lembut, menyesap bibir atas dan bawah bergantian.
Jihoon yang awalnya membulat karena terkejut perlahan terpejam. Tangannya yang bebas langsung menarik pinggang Sohyun semakin dekat dengan tubuhnya.
Bibirnya ikut bermain dan mengambil ahli permainan.
Ciuman Jihoon semakin panas dan membakar. Lelaki itu melumat bibir Sohyun dengan kehausan, mencecap seluruh sudutnya dengan bibirnya.
Sohyun tersenyum dalam pagutannya, ia tak ingin kalah. Dijalankan tangannya turun ke lengan berotot Jihoon, *** tangan itu seolah dia sedang menyalurkan sensasi yang memabukkan. Ketika bibir Sohyun terbuka, lidah Jihoon menyusup masuk, mulanya ia hati-hati kemudian masuk semakin dalam, bertemu dengan lidah Sohyun dan saling bermain di sana.
Pagutannya semakin panas dengan tubuh mereka semakin rapat.
ㅡ END ㅡ