
.
.
.
...
"Belum pulang lagi Park Jihoon?" tanya seorang wanita bertubuh tinggi dan langsing mendekati Jihoon yang tengah menepuk-nepuk apron hitam yang menggantung di perutnya.
Jihoon tersenyum tipis melihat wanita bersurai coklat itu duduk di hadapannya dengan sebatang rokok yang masih menyala di tangannya.
"Noona datang lagi."
Wanita itu menganggukkan kepalanya. "Kepalaku hampir pecah melihat tua bangka itu menghampiriku lagi."
"Mau vodka?" tawar Jihoon. Wanita itu menganggukkan kepalanya.
"Euh bagaimana bisa dia menemukan tempat kerja baruku ya?" tanyanya bingung. Ia mengeluarkan benda pipihnya dan menekan beberapa huruf di keyboard pesannya.
Jihoon datang dengan satu gelas besar penuh dengan vodka, sesuai dengan takaran yang biasa wanita itu pesan.
"Berikan saja apa yang noona punya. Dia kan hanya meminta berkas itu."
Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Nope, berkas itu sangat penting Park Jihoon. Aku akan melindunginya, tak seorangpun bisa menyentuh berkas itu." ucapnya sambil meletakkan ponselnya di atas meja bar.
"Memangnya apa isi berkasnya sih sampai noona tidak mau memberikannya pada pria itu."
Wanita itu diam, jari-jari indahnya menarik gelas besarnya dan menegak dengan kasar vodkanya, tak peduli jika itu akan membuatnya mabuk nantinya.
"Berkas itu semacam Pandora. Jika di buka oleh orang yang salah akan mengakibatkan hacurnya dunia ini."
Jihoon terkekeh pelan. "Bilang saja itu berkas isi data orang-orang yang korupsi dana perusahaan."
Rahang Lia jatuh setelah mendengar perkataan Jihoon. Bagaimana anak laki-laki surai merah itu tahu isi berkas nya.
Jihoon melihat Lia dengan ekor matanya, kemudian tersenyum tipis. "Aku hanya menebak, tapi sepertinya tebakan ku benar."
"Uhh tapi jangan bilang-bilang sama siapapun, termasuk bosmu." Ucap Lia dan di angguki oleh Jihoon sebagai jawaban.
Choi Lia akhirnya merasa tenang melihat jawaban dari pemuda surai merah itu. Dia diam sambil menegak vodka miliknya, manik hitamnya memperhatikan Jihoon lamat-lamat.
Siapapun yang melihat Jihoon saat ini dia tidak akan percaya jika ia masih anak SMU. Postur tubuh yang tegap, tinggi, dan memiliki wajah rupawan. Orang-orang akan menyangka jika Jihoon adalah anak kuliahan.
"Jihoon." panggil Lia.
Jihoon menengakkan kepalanya. Sebelah alisnya terangkat naik, memandang penuh tanya pada wanita cantik di hadapannya.
"Kau kan masih SMU kenapa bekerja di tempat seperti ini?"
Jihoon tersenyum. "Hanya ingin mengisi waktu kosong."
"Aku serius Park Jihoon."
Jihoon menghentikan pekerjaannya dari membersikan gelas-gelas. Kedua tangannya bertumpu di atas meja, menahan beban tubuhnya.
"Aku membutuhkan uang."
"Untuk apa?" tanya Lia. Jihoon tersenyum tipis membuat debaran jantung Lia berdetak dua kali lipat.
Entah kenapa senyum tipis Jihoon membuat Lia tiba-tiba berdebar. tak seperti biasanya.
"Hanya urusan pribadi."
"Aku bisa membantumu dengan satu syarat."
Jihoon diam beberapa saat. "Apa?"
"Temani aku tidur."
--
"Hallo mom."
"Iya sayang ada apa?"
Sohyun menggelengkan kepalanya, meski dia sendiri tahu jika ibunya tidak akan melihat tindakannya itu.
"Aku merindukanmu."
"Kami juga sayang. Bagaimana keadaanmu?"
Tidak baik, aku sakit mom ujar Sohyun dalam hati. Ia mengigit bibir dalamnya, menahan isakan tangis yang mungkin saja keluar.
"Aku baik mom."
"Syukurlah, bagaimana sekolahmu apa anak-anak disana menyambutmu baik?"
"Iya, mereka sangat baik."
Suara helaan nafas lega dari seberang telepon.
"Mom."
"Iya sayang."
"Bisakah aku meminta sesuatu?"
"Apa itu? Katakan saja."
"Eum aku butuh uang... Eemmm rumahku rusak beberapa hari yang lalu."
"..."
"Dan membutuhkan renovasi."
Wanita paruh baya itu terdiam, memberi jeda di antara mereka. Sohyun mengepalkan tangannya, takut jika ibunya tidak akan memberinya uang dan dia lebih takut jika ibunya menyadari dirinya berbohong.
"Mom."
"Besok mom akan mengirim uangnya ke atm mu. Kau tidak perlu takut untuk meminta uang sayang."
"Thank's mom."
"Iya sayang. Ah ya sudah dulu, eomma mau melanjutkan memasak."
Sohyun menganggukkan kepalanya kemudian mengakhiri sambungannya setelah wanita diseberang sana mengucapkan salamnya.
Sohyun meletakkan ponselnya diatas meja belajarnya. Dia kemudian berjalan menuju ranjangnya, duduk diam dengan isi kepala melayang entah kemana.
Ia menghembuskan nafasnya perlahan.
Tidak ada gunanya memikirkan Jihoon untuk saat ini.
Yang harus dia pikirkan adalah bagaimana caranya dia cepat sembuh dan kembali bersekolah.
Nanti saat bertemu dengan Jihoon. Sohyun akan menyelesaikan masalahnya dan memberikan uang itu.
Sohyun pikir, hubungannya bersama Jihoon harus berakhir.
---oOo---
Joy berlari kecil menghampiri Woojin yang sedang berjalan menuju mobilnya.
"Woojin?!"
"Oii Park Woojin."
Woojin membalikkan badannya setelah mendengar seseorang memanggil namanya. Sebelah alis Woojin terangkat naik saat melihat Joy menghampirinya.
"Apa?"
Joy mengatur nafasnya. Berlari dari kelas hingga parkiran membuat dirinya kehilangan pasokan oksigen di paru-parunya.
"Kamu mau kerumah Sohyun kan?" Tanya Joy.
Woojin menganggukkan kepalanya pelan. "Iya, kamu mau ikut?" Jawab tanya pemuda berkulit tan itu. Joy menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja." ucap Joy kemudian berjalan mengelilingi mobil sedan milik Woojin dan saat berada di seberang, Joy langsung membuka pintu mobil Woojin dan masuk.
Woojin menggelengkan kepalanya sembari terkekeh.
Tidak heran bagi Woojin melihat tingkah laku teman kelasnya itu.
Saat Woojin menyentuh handle mobilnya. Sosok perempuan tiba-tiba menyentuh pundak Woojin, membuat sang empu menoleh kaget.
"Lee Nakyung, kamu menagetiku." ucap Woojin.
Sang pelaku penepukan hanya menyengir bodoh sebelum akhirnya dia membuka suara untuk bercerita.
"Mau kemana?" Tanya Nakyung.
"Menjenguk Sohyun. Ada apa?"
"Tidak apa-apa. Boleh ikut?"
Sebelah alis Woojin terangkat naik. "Serius mau ikut?"
Nakyung menganggukkan kepalanya dengan semangat.
Woojin terdiam beberapa saat, manik hitamnya melirik Joy yang sedang mengamati dirinya.
Menghela nafas pelan, Woojin tersenyum kearah Nakyung.
"Masuklah,"
;
"Jin?!" panggil Joy, pemuda tan itu melirik sekilas teman kelasnya.
"Ada apa?"
"Singgah dulu di minimart itu, aku ingin membeli sesuatu." ucap Joy sambil menunjuk mini mart yang tidak jauh dari posisi mereka.
"Kau tidak ingin ikut berbelanja?" Tanya Joy sambil melepaskan sealtbetnya.
"Ikut, bagaimana denganmu Nak?"
Woojin menolehkan kepalanya kebelakang. Gadis itu melemparkan senyum seperti biasanya dan menganggukkan kepalanya.
Woojin mengeryit bingung. Selama beberapa menit yang lalu Nakyung selalu tersenyum kearahnya.
Padahal jika dilihat ia sedang bersama dengan Joy, biasanya Nakyung akan cemberut karena cemburu.
Heol, apa yang diharapakan olehmu Park Woojin
"Yuk"
Joy turun duluan dari dalam mobil kemudian disusul oleh Nakyung yang ikut tanpa banyak bicara. Sementara Woojin menggelengkan kepalanya, entah mengapa ia merasa sedikit aneh pada dirinya.
"Ososeoyo" sapa seorang wanita yang berdiri di bilik kasir.
Kedua gadis smu itu berpencar, mencari keperluan masing-masing. Woojin yang baru masuk kedalam mini mart terdiam beberapa detik sembari meagmati sekitarnya.
Woojin melangkahkan kaki panjangnya menuju salah satu bilik, menghampiri salah satu temannya.
"Uhh susahnya." ujar Nakyung mendengus kesal, pasalnya ia masih belum bisa menggapai barang yang ingin dibelinya itu.
Bruk
Tubuh Nakyung terasa bertabrakan dengan dada bidang seseorang. Manik hitamnya membulat saat melihat tangan terulur mengambil barang yang ingin dibelinya.
"Ini."
Nakyung membalikkan badannya, manik hitamnya semakin melebar saat melihat tubuh Woojin berada begitu dekat dengannya.
Sadar akan posisinya Woojin sedikit menjauhkan tubuhnya dan memberikan sekotak sereal pada Nakyung dengan kasar.
Tanpa berbicara Woojin meninggalkan gadis manja itu dengan rona merah di wajahnya.
Aneh, dirinya tiba-tiba menjadi aneh.
"Oh Park Jihoon." seru Joy saat melihat punggung lebar Jihoon.
Pemuda yang berdiri dihadpaan kasir pun membalikkan badannya mencari sosok yang memanggil namanya.
Joy berlari kecil kearah Jihoon dengan sekeranjang belanjaannya.
"Benar, aku kira akan salah memanggil orang." ucap Joy saat berada disebelah Jihoon. "Belanja apa saja?" lanjut gadis itu.
"Eiyyy rokok." Joy mendelik tidak suka. "Pantas saja kau mengenakan sweter"
Joy menarik sweter hitam milik Jihoon. Sementara pemuda surai itu hanya diam dan tidak menanggapi ucapan teman sekolahnya.
"Jiun." panggil Nakyung. Ia berlari menghampiri Jihoon meninggalkan Woojin yang sejak tadi berjalan di sebelahnya.
"Akhirnya ketemu." ucap Nakyung.
"Kau tidak pergi kesekolah lagi Hoon?" tanya Woojin
Jihoon hanya mengangkat kedua bahunya acuh kemudian membayar belajaannya.
"Itu bukan urusanmu."
Saat Jihoon ingin mengambil sekotak rokoknya cepat-cepat Joy mengambil dan menyembunyikan di ketiaknya.
Jihoon ingin mengambilnya, tapi dia mengurungkan niatnya karena tempat terlalu dekat dengan daerah sensitif perempuan.
"Park Joy, sini!!"
"Tidak akan. Kau kan kekasihnya Sohyun, sudah tahu jika Sohyun alergi dengan asap tetap aja merokok."
"Yakk!! Lagian aku sedang tidak di dekatnya. Sinikan rokoknya."
"Tidak akan."
Jihoon berdesir sebal. Ia terdiam beberapa saat memikirkan cara untuk merebut rokoknya itu.
"Ah ya Jiun, kami mau menjenguk Sohyun. Kau mau ikut tidak?" Tawar Nakyung.
"Betul, sebaiknya kau ikut bersama kam-"
"Tidak perlu, aku lagi sibuk." Jawab Jihoon tanpa memandangi Joy dan Nakyung.
Manik coklatnya bergerak kesembarang arah asal tidak bertemu manik judes dari kedua anak perempuan itu.
"Kalau kau ikut aku akan mengembalikan rokokmu." ucap Joy. Jihoon menoleh dan menatap lekat saudara kembarnya itu.
Woojin diam, membuat Jihoon bingung.
Pemuda surai hitam arang itu sama sekali tidak memberikan reaksi. Menyetujui atau tidak pun Woojin tak memperlihatkan reaksinya.
Jihoon menyeka surai merahnya keatas, memperlihatkan kening putihnya yang mulus.
Si penjaga kasir bahkan melongo melihat ketampanan yang beberapa detik dilihatnya secara langsung.
Jihoon membalikkan badannya. Melangkahkan kaki panjangnya keluar dari mini mart.
"Yaa Park Jihoon, kau sungguh tidak ma-"
Brakk
Joy tersenyum evil melihat Jihoon yang ternyata masuk kedalam mobil dan menunggu mereka bertiga selesai belanja.
:
;
Sohyun melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi. Mengeringkan rambut basahnya dengan satu tangannya.
"Hati-hati membawanya"
"Yaaakkkk aku akan memotong masa depanmu jika kalian menyentuhkannya di lantai."
"Nakyung angkat yang berat."
"aishh kau terlalu banyak bicara Joy-a."
"Diam kau merah."
Sohyun menolehkan kepalanya kearah pintu rumahnya. Diluar sana terdengar begitu ribut, bahkan Sohyun begitu hafal dengan suara itu.
Dia melangkahkan kakinya mendekat ke ada pintu, setelah itu tanpa membuang banyak waktu Sohyun langsung membuka pintu rumahnya.
Jihoon, Woojin, Joy dan Nakyung seketika menjadi manusia patung. Mata mereka membulat karena terkejut Sohyun membuka pintu rumahnya yang secara tiba-tiba.
Iris coklat Sohyun bertemu dengan Iris coklat yang di rindukannya. Pemuda surai merah itu hanya diam, dan membalas tatapan Sohyun.
Entah sudah berapa lama mereka suka tidak bertemu. Rasanya Jihoon begitu merindukan kekasihnya itu, ingin memeluk dan ekhm menciumnya, menumpahkan kerinduan yang ia miliki pada Sohyun.
"Aaaa Sohyun-ie." Ucap Joy melemparkan barang yang dia bawa kepada Nakyung. Gadis sesegar buah itu melompat dan memeluk Sohyun sangat erat, membuat sang pemilik badan melangkahkan mundur.
"Astaga Joy-a."
"bogoshipda."
Sohyun diam tidak membalas pernyataan Joy, tangannya yang memeluk tubuh Joy bergerak memberi isyarat kepada ketiga manusia yang masih berdiri di depan rumahnya.
Ketiganya masuk meninggalkan Sohyun yang masih di peluk begitu erat oleh Joy.
"Joy."
"Wahhh rumahmu bagus juga. Ah ya Jiun bukankah rumahmu ada di lantai atas ya?" tanya Nakyung sembari meletakkan barang belanjaannya di atas meja.
Jihoon hanya menganggukkan kepalanya. "Iya, tapi sekarang sudah rusak. Aku berniat untuk menjualnya."
"Kenapa dijual?" tanya Woojin
Jihoon mendudukkan tubuhnya diatas sofa berwarna biru langit itu, sesekali manik coklatnya melirik Sohyun yang sedang berjalan kearahnya.
"Tidak apa-apa, hanya saja aku ingin."
"..."
"Bagaimana keadaanmu Sohyun?" tanya Jihoon memperhatikan Sohyun.
Gadis itu menghentikan langkahnya, sedikit terkejut mendengar Jihoon mengajaknya berbicara.
Sohyun diam, namun tidak dengan debaran jantungnya yang sialnya berpacu begitu kencang.
Seharusnya Sohyun tidak boleh seperti ini, dia sudah bertekad untuk mengakhirinya bersama Jihoon. Sohyun tidak boleh jatuh cinta lagi dengan pemuda surai merah itu.
Sohyun tidak ingin terjebak dalam kungkungan demon lagi.
"Woojin, kenapa baru datang lagi?" tanya Sohyun, mengalihkan perhatiannya pada Woojin.
Jihoon mengeraskan rahangnya. Dadanya berdenyut sakit melihat kekasihnya mengabaikan dirinya. Kedua telapak tangannya mengepal dibalik saku sweternya, begitu kuat dan merah.
"Oh itu karena ... Uhm ahya ini ada catatan untuk-"
"Sohyun aku haus." ucap Nakyung menghentikan kegiatan Woojin mengeluarkan sesuatu didalam tasnya.
Tatapan Nakyung berubah drastis, dari yang beberapa detik terlihat begitu lembut sampai membuat Woojin merona menjadi begitu tajam seperti pisau yang baru saja di asah.
Suasana ruangan itu tiba-tiba terasa mencekik akibat tatapan tajam dari keempat manusia yang sedang melempar pandang itu.
Jihoon yang menatap Sohyun dengan pandangan tajamnya, begitu pula dengan Nakyung. Sementara Sohyun menampilkan smirknya kearah Nakyung, menyatakan jika ia tidak takut dengan tatapan gadis manja itu.
Joy terdiam, melepaskan sepatunya secara perlahan. Entah mengapa ia sedikit takut melihat ke empat manusia itu yang di kerubungi oleh aura gelap dan membunuh. Rasanya Joy ingin pergi saja dari tempat itu.
•••