
Please vote before you read it
Happy reading ❤
...
2 tahun yang lalu ...
Inggris
Sohyun meletakkan ponselnya setelah di rasa cukup baginya melihat layarnya selama dua jam.
Sso 💞
Kim Doyoung, i miss you..
Please hubungi aku setelah melihat pesan ini.
Kekasih kelincinya itu belum membalas pesannya meski itu sudah terbaca dari dua jam yang lalu.
Tidak biasanya si kelinci tampan itu mengabaikannya selama ini.
Ting
Buru Sohyun meraih ponselnya yang terletak di atas meja. Senyum merkah terpatri dibibir manisnya. Notifikasi dari kekasihnya berhasil menghapus kelelahannya selama dua jam.
My bunny 🐰
Baby, maaf aku baru sempat membalasnya...
Tadi aku ada di teater, saat membuka pesanmu seseorang memanggilku untuk kembali berlatih.
I'm sorry 😚😚🤗
And, Aku juga merindukanmu.
Sso 💞
Apa kuliahmu sudah selesai hari ini?
My bunny 🐰
*Iya, dan aku sekarang berada di dalam bus menuju rumah.
Apa yang sedang kau lakukan hari ini*?
Sso 💞
Tidak ada yang spesial, aku pergi berbelanja dengan kate dan Nory.
Ahh.. Kate already has a boyfriend!! Dia seorang mahasiswa jurusan Seni dan Humaniora di Cambridge University.
My bunny 🐰
Serius? Aku akan mengirimkan pesan selamat padanya nanti sesampai dirumah.
Sso 💞
Melihat Kate bertemu dengan pacarnya membuatku cemburu. Aku ingin kau ada disini Doyoung-a
My bunny 🐰
ㅋㅋㅋㅋ aku akan pulang musim gugur nanti.
Kita akan menghabiskan waktu selama sebulan nanti. Apa kau puas?
Sohyun memperbaiki posisinya.
Beteriak dengan kencang membaca pesan dari Doyoung.
Musim gugur?
Itu tidak lama lagi. Terhintung tinggal dua minggu lagi menyambut musim gugur.
Drrrtt drrrt
Sohyun segera menggeser ikon hijau dan mendekatkannya di telinga kanannya.
"Bunny!!"
Terdengar sura tawa renyah saat suara nyaring Sohyun menyambut panggilannya.
"Astaga sayang jangan berteriak seperti itu. Bagaimana dengan ibu dan ayahmu jika mendengarnya."
"Aku terlalu senang bunny."
"ㅋㅋㅋㅋ apa yng kau lakukan sekarang?"
"Berbicara denganmu." Sohyun merebahkan dirinya diatas kasurnya, manik coklatnya mengamati langit-langit kamarnya yang terdapat sebuah photo seorang pria tampan.
"Serius deh, kamu mau kesini saat musim gugur?" tanya Sohyun sembari memandangi wajah tampan pacar kelincinya.
"Iya... Kenapa kau tidak suka?"
"Astaga bicara apa kamu? Tentu aku suka. Aku akan membuat cemburu Kate saat kau datang nanti. Enak saja tadi dia memperlihatkan kemesraannya bersama Shawn." Ucap Sohyun.
Pria itu kembali tertawa.
Suara berisik disusul kemudian.
"Kau baru sampai dirumah?"
"Iya, ini baru masuk apartement."
"Kuliahmu hari ini melelahkan tidak?"
Sohyun merasakan pria itu menggelengkan kepalanya di sana.
"Tidak. Kami banyak bersantai hari ini."
"Ahh begitu.. ahya aku belum tau teman-temanmu disana."
"Aku hanya memiliki sedikit teman disini sayang. Hanya ada beberapa di antaranya Jaehyun."
"Apa dia tampan?"
"Heh?" pria diseberang sana mengangkat sebelah alisnya. Jika saja Sohyun dapat melihatnya dengan jelas, mungkin bibir pria itu ikut mengerucut lucu.
"Kau ingin berselingkuh dengannya?"
Sohyun tertawa keras. Suara Doyoung ketika cemburu sangat menggemaskan. Nadanya akan berubah dari biasanya.
"Buahahahaha.. Astaga bagaimana bisa kauㅡ hahahahah perutku sakit.."
"Sayang aku serius!"
"Tungguㅡ haahaha kau lucu bunny. Aku sama sekali tidak mengenal siapa itu Jaehyun kemudian kau cemburu akan hal itu? Astaga, hei kau tidak ingat kita sedang LDR, dan disini masih banyak mahluk tampan yang nyata di depan mataku loh."
"Aku tidak takut soal itu. Karena ku tahu kau tidak menyukai produk impor. Hahahaha"
Keduanya kembali bercerita hal ringan. Banyak hal yang mereka katkan, mulai dari sekolah, pertemanan dan lingkungan baru Doyoung di Seoul.
Terlalu asik sampai mereka tidak menyadari jika hari semakin larut. Dan salah satu dari mereka mulai tertidur, dengan ponsel yang masih menyala.
"Goodnight baby.. I miss you and i love you so much."
──────
Korea selatan
Sreeek
Jihoon terbangun saat suara korden kamarnya di buka secara paksa. Sinar matahari merembes masuk dengan tiba-tiba, kelopak sakura itu dipaksa terbuka karena sinar terik itu mengganggu dirinya.
"Bangun tukang tidur. Cepat sana mandi dan siap-siap!"
"Hari inikan hari sabtu. Cepat tutup kembali kordennya!"
Woojin menghembuskan nafasnya kasar. Ia mendekat dan menarik secara paksa selimut hitam yang membungkus tubuh gumpal saudara kembarnya.
"Kau lupa hari inikan ada makan malam bersama dengan paman Lee!"
"Acaranya masih malamㅡbugh" Jihoon menendang tepat diperut Woojin.
Pemuda surai hitam itu langsung tersungkur di atas lantai, memegangi perutnya yang terasa sangat sakit dan nyeri di saat yang bersamaan.
"Aww."
Sementara Jihoon yang mengabaikan rintihan sakit saudara kembarnya perlahan menarik selimut yang disingkirkan Woojin.
Dengan kurang ajarnya Jihoon kembali membungkus tubuhnya dengan selimut dan kembali tertidur.
"YAKKK PARK JIHOON. KALAU KAU TIDAK BANGUN MAKA AKU AKAN MENYURUH SUNGWON UNTUK MEMBANGUNKANMU!"
Okeㅡ Jihoon segera mendudukkan tubuhnya diatas kasur.
Kacamata bulat langsung dipasang di telinga nya. Dengan wajah bantalnya Jihoon menggaruk rambut sarang burungnya.
Manik coklatnya langsung menatap tajam pria yang sedang mencoba menahan sakit dibagian perutnya.
Sekali lagi tidak ada perasaan bersalah dalam benaknya setelah melakukan kekerasan pada Woojin. Jihoon berdesis sebal dan menyibak selimutnya dengan kasar.
"Sudah sana keluar, saya mau mandi."
"Selesai mandi cepatlah turun. Ada Nakyung dibawa." Woojin berucap malas. Ia melangkahkan kakinya meninggalkan Jihoon yang tiba-tiba mematung setelah mendengar nama Nakyung.
:
;
Waktu berputar begitu cepat. Pagi berganti malam seperti sedang berkedip saja.
Jihoon terlihat begitu tampan dengan kemeja putih yang dipadukan dengan jaket kulit, skinny jeans berwarna hitam membungkus kaki panjangnya. Dan jangan lupakan rambut coklatnya ditata rapih dengan belahan poni memperlihatkan dahinya yang mulus.
Meja makan itu terlihat penuh dengan beraneka ragam makanan. Siapapun yang melihatnya akan melelehkan cara dari mulutnya, terlebih masakan nyonya Park yang tebilang cukup menggugah selera orang.
Acara makan malam berjalan dengan khidmat. Tidak ada yang bersuara saat acara makan berlangsung. Hanya ada suara dentingan sendok dan garpu ketika menyentuh piring.
.
.
"Sudah sangat lama kita tidak kumpul seperti ini." ujar tuan Lee tiba-tiba.
"Ya, sangat lama. Terakhir dua tahun yang lalu kan?" timpal tuan Park. Tuan Lee menganggukkan kepalanya.
"Aku tidak menyangka mereka tumbuh semakin besar."
"Kau ini bicara apa?! Tentu saja mereka tumbuh semakin besar, emangnya mereka harus menjadi anak-anak terus." ucap nyonya Lee.
Nyonya Park memperhatikan anak-anak yang kini menghabiskan waktunya di balkon. Entah apa yang menjadi perbincangan mereka saat ini, tapi mereka terlihat begitu senang.
Jihoon banyak tersenyum malam ini, Woojin banyak mengeluarkan suaranya sekedar memarahi saudara kembarnya, dan jangan Lupakan Sungwon yang bertingkah seperti anak bayi. Merengek di rangkulan antara Jihoon dan Woojin.
Rasanya begitu damai melihat ketiga putranya akur. Nyonya Park ingin ketiganya tetap seperti ini, melihat anak-anaknya yang selalu bahagia.
Namunㅡ
"Aku sudah tidak meragukan keduanya lagi. Woojin terlihat mencintai putri mu."
Tutur kata tuan Park membuat nyonya Park otomatis mengalihkan atensinya.
Dan menaruh seluruh atensinya pada tuan Park.
Alis-alisnya bertaut bingung. Merasa ada yang aneh dengan ucapan suaminya tadi.
"Apa yang kau katakan?" tanya nyonya Park.
"Apa aku melupakan sesuatu?"
"Kau tidak pernah memberitahukanku apapun. Apa maksudmu Woojin mencintai Nakyung?"
Tuan Park diam.
Tuan dan nyonya Lee ikut diam memperhatikan sepasang suami istri yang saling beradu tatap. Yang satu menuntut penjelasan dan yang satu terlihat sangat bingung.
Keadaan tiba-tiba menjadi canggung.
Woojin mencintai Nakyung? Apa nyonya tidak salah dengar?
Sejak kapan putranya itu menyukai Nakyung? Sementara yang dia tahu Jihoon lah yang menyukai Nakyung.
Tiba-tiba perasaan nyonya Park merasa tidak enak.
"Sayang apa yang terjadi padamu? Aku minta maaf jika tidak memberitahukan mu. Aku berniat menjodohkan Woojin dengan Nakyung. Kau taukan mereka saling menyukai."
Nyonya Park terbelak kaget.
Jantungnya seolah berhenti berdetak. Pikirannya mendadak menghilang.
Ia mengalihkan perhatiannya pada orang tua Nakyung. Mereka tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya seolah yang diucapkan tuan Park adalah kebenaran.
Astaga..
Nyonya Park memejamkan matanya, tiba-tiba kepalanya menjadi sakit. Dipijit pangkal hidungnya, dan menghirup nafas sebanyak mungkin.
Dia membuka matanya. Dan saat itu juga pandangannya bertabrakan dengan pandangan terkejut anak-anaknya.
Jihoon dan Woojin memberikan pandangan yang sama. Terlihat jelas mereka terluka.
"Astaga kalian sudah mendengarnya? Padahal ayah dan paman Lee akan mengungkapㅡ"
"Apa itu betul?" tanya Jihoon, memotong cepat ucapan ayahnya.
Pria tua bangka itu bangkit dari duduknya. Kaki panjangnya di langkahkan mendekati Woojin. Berdiri diantara Woojin dan Nakyung.
"Bukankah lebih baik kalian meresmikn hubungan kalian ke jenjang yang serius?"
Mata Jihoon memerah. Menatap tajam ayahnya yang sedang tersenyum cerah kepada Woojin dan Nakyung. Bibirnya digigit keras, sehingga ia tampa sadar telah melukai dirinya.
"Ayah, kami masih kecil!" Woojin berucap. Mencoba melepaskan rangkulan ayahnya.
Pria itu menggelengkan kepalanya. Manik hitmanya menatap tuan Lee, meminta pria itu membantunya untuk menjelaskan apa yang terjadi saat ini.
"Park Woojin apa kau sekarang merasa malu? Astaga calon menantuku ini menggemaskan sekali...
... Kami menjodohkan kalian. Tentu saja dengan pemikiran yang sangat matang dan bagaimana kau memperlakukan putriku sangat baik."
"Paman kami hanya bersahabat. Dia telah kuanggap seperti adiku sendiri."
Woojin melepaskan rangkulan ayahnya. Manik hitamnya memandang Jihoon yang kini tengah meneguk kasar minumannya.
"Ada seseorang yang lebih mencintai Nakyung dan itu bukan aku."
"Park Woojin apa yang kau katakan? Selama ini aku melihat dengan jelas kauㅡ"
"Ujinnie." Nakyung bersuara sedikit bergetar. Terdengar sangat jelas jika gadis itu menahan tangisnya.
"Ck, memuakkan!" Jihoon berdecih kesal.
Ia menoleh dan tatapannya bersiobrok tatapan tajam nan mematikan milik ayahnya.