The Darkness Within Me And The God Who Hates Me

The Darkness Within Me And The God Who Hates Me
Episode 8 Kembali Nya Sang Raja



Begitulah masa masa dimana kesalahpahaman antara davos dan teman temannya, selesai mengenang masa lalu, derav mengajak bora kembali ke meja perjamuan untuk berkumpul dengan murid muridnya, setelah itu derav kembali ke kamar untuk melihat keadaan davos,


"apa yang terjadi, kenapa manusia bodoh itu terbaring lagi" tanya derav kepada empat wanita roh beserta para penjaganya,


"maaf ratuku, mereka berempat melempar tuan dari arah tuan terbaring saat ratu memukulnya" jawab penjaga yang bertugas di kamar itu,


"mmmmbbuahahahahaha, apa boleh aku melemparnya lagi" ujar derav kepada mereka semua yang berada di kamar,


walaupun seorang ratu, derav adalah anak bungsu dari seorang dewa, yang sudah pasti di spesialkan oleh orang tuanya, begitupun sikapnya yang seperti anak kecil,


"ya sudah, kalian semua boleh pergi" derav memberi perintah agar mereka semua meninggalkan kamar itu, para penjaga segera pergi seperti apa yang di perintahkan oleh ratunya,


akan tetapi....


"hei, kenapa kalian juga tidak pergi" ujar derav kepada empat wanita roh,


"aku tidak akan melangkahkan kaki untuk pergi dari sini" ujar nairra dengan sikap cemburu terhadap ratunya,


"ya kita pun tidak akan meninggalkan tuan kita, walaupun tuan sedang bersama ratu" sorak penuh kekesalan, antara alsava,clarra dan athifa


"nee, dengarkan aku, jikalau kalian tidak mau pergi pun tidak apa, hanya saja aku merasa kasihan kepada kalian jikalau aku menyetubuhi tuan kalian di hadapan kalian" derav mengancam ke empat roh tersebut denan ancaman yang konyol,


Tafear, dimana semua orang sedang bersenang senang dan berpesta ria atas kepulangan raja yang dirindukan oleh masyarakatnya, tiba tiba...


"duaaaaaaaaar" sebuah ledakan terjadi di pintu masuk gerbang selatan kota Tafear"


"lapor, ada segerombolan petualang yang memaksa masuk serta merusak gerbang pintu masuk dengan sihir ledakan" penjaga melapor kepada ratu yang sedang di kamarnya bersama davos dan empat wanita roh,


"ya ampun, merepotkan, tapi aku senang bila kedatangan tamu tak di undang" derav bangun dari tempat tidurnya, bergegas pergi ke ruang perjamuan, derav berteleportasi ke ruang perjamuan, membicarakan apa yang sedang terjadi kepada bora dan teman temannya, "ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu disini" ujar derav sambil mendekati bora dan teman temannya


"silahkan, bicaralah" bora beserta teman temannya mendengarkan apa yang di bicarakan oleh derav tentang situasi di gerbang selatan, terkejut bukan heran boy dan hidan setelah mendengar siapa yang melakukan penghancuran gerbang selatan,


"hah!!! MANUSIA" begitu boy dan hidan saat mengekspresikan wajah senangnya, bahwa di feltagon ada juga makhluk sejenisnya, yaitu manusia, sayangnya bora mengentikan kabar gembira itu dan menjelaskan perbedaan manusia feltagon dengan manusia bumi,


di feltagon ras yang di sebut manusia adalah makhluk hidup dengan siklus terendah, yang mudah di diskriminasi, bahkan seiring waktu berjalan manusia adalah makanan berprotein tinggi bagi para monster, orc dan orge, semua penderitaan manusia itu sirna, ketika seseorang raja yang menentang dewa datang ke feltagon, mereka mengakui manusia sebagai makhluk yang bersosial tinggi, ramah serta mau berbagi, di masa itu monster, manusia, orc, orge dan ras lain yang hidup di feltagon, menjuluki sang raja dengan gelar Dewa Kemurkaan


"tapi semuanya telah berubah, semenjak raja itu menghilang dari mereka yang memujanya" ujar derav menyambungkan cerita bora,


"mereka saling membunuh satu sama lain, seperti masa predator dulu kala" singkat derav menceritakan permasalahannya saat ini,


"jadi, manusia lebih agresif tentang sihir dan kekuatan, serta sering membuat masalah" tanya hidan kepada derav,


"ya, hanya saja bukan keinginan mereka sendiri melakukan hal itu, melainkan mereka yang terkena sihir pengendalian oleh seorang dewa," jawab derav sambil tersenyum manis,


"aku mengerti, feltagon sudah menjadi kembali seperti awal kedatanganku kesini" ujar bora sambil melihat derav dengan tatapan seriusnya,


"aku tak memaksa kalian berdua untuk ikut bersama ku, tapi sekarang ini kita harus menentukan pribadi diri kita masing masing dengan pilihan hati kita" ungkap bora sambil memberi pilihan kepada muridnya


"aku mengerti dan aku akan ikut suhu" jawab boy dengan semangat,


"hei kampret, kenapa kamu langsung ikut tanpa berpikir dahulu" hidan tak ingin terlibat apapun di dunia yang tidak di ketahui asal usulnya, karena hidan rasa ini terlalu sulit bila di pikir dengan logika


"oh, iya ada satu hal yang ingin ku tanyakan padamu" boy penasaran apa yang sedang di lakukan sahabatnya semenjak dia di bawa kesini boy belum melihat davos sama sekali,


"dia masih tertidur di kamarku, aku memberinya kesempatan untuk beristirahat, karena dia sangat terlihat lelah" jawab derav sambil melangkahkan kakinya, dia pergi meninggalkan ruang perjamuan,


"oh iya, aku tunggu kalian bertiga di ruang umum, ikutilah penjaga berpakaian hijrah tersebut" derav melakukan teleportasi kembali ke kamarnya, serta mereka bertiga mengikuti penjaga tersebut,


setelah sampai di kamar dia sangat terkejut melihat apa yang terjadi di kamarnya, hebat bukan main, mereka berempat tidur dalam pelukan davos yang pingsan setelah di pukul derav,


"a aa apa maksud dari semua ini" ucap derav dengan penuh kekesalan, tidak terduga oleh derav ke empat wanita itu akan tidur bersama davos di tempat tidur miliknya


sementara itu bora bersama kedua muridnya telah sampai di ruang umum, dimana sudah berkumpul para ksatria kota tafear, mereka semua berbaris di hadapan sebuah kursi yang tidak di duduki seorang pun, bora dan kedua muridnya di silahkan duduk di samping kursi yang kosong itu, mereka bertiga bergegas dudu, kursi kosong tersebut sebutlah kursi milik raja, sementara 4 kursi yang tersedia di samping , tiga kursi di samping kanan, dan satu kursi di samping kiri,


"eh, kenapa kita di perlakukan layaknya bangsawan" ujar hidan bertanya kepada bora yang duduk disampingnya,


"begitu yah, sepertinya aku kurang bersyukur, padahal dari awal kedatanganku, terra selalu berada menemaniku, hehe,,, maafkan aku ya terra" pernyataan hidan membuat terra tersenyum manis dan membuat hidan sedikit malu,


di waktu yang sama, derav membuat davos terbangun dengan sihirnya, "bangunlah"


akhirnya davos terbangun dan sudah capek terkejut dengan hal hal yang di luar nalarnya, maka, ketika melihat wanita roh tidur di pelukannya, davos mulai dengan aksi nakalnya, karena tidak mau berpikir panjang lagi, davos segera melancarkan aksinya, meraba, mengelus, bahkan hasrat ingin mencium mereka satu persatu :V


tapi sangat di sayangkan, sebelum davos memuaskan nafsunya, derav melayangkan sebuah pukulan "jleeeeb" tepat di mukanya davos sehingga membuat tempat tidurnya hancur berantakan, lagi dan lagi davos selalu membuat derav kesal karena tingkahnya,


derav segera menyembuhkan lukanya, lantas mengikat davos, rasa sakit akibat pukulan derav telah hilang, oleh sihir derav, hanya saja darah yang mengalir daru mukanya davos tetap mengalir deras,


derav menyuruh keempat wanita roh untuk agar segera bersiap siap di ruang umum, mereka berempat pun bergegas segera melaksanakannya, karena bagi mereka berempat sesi ini adalah al yang sangat mereka dambakan, nairra, athifa, clarra dan alsava berteleportasi ke ruang umum, lalu berjalan menuju kursi yang kosong,


"triiing" tibalah ke empat roh agung di tengah tengah ruang umum yang membuat semua ksatria kota tafear menundukkan kepalanya,


"hormat kepada keempat roh agung yang telah hadir" ujar jendral yang memimpin acara tersebut,


"hormat kami kepada empat roh agung yang memberi kekuatan kepada kami serta selalu mendampingi tuan kami" begitulah sorak meriah penghormatan para ksatria kota tafear


keempat wanita roh agung bergegas untuk berdiri di kursi yang kosong tersebut,


"hai sahabat" mereka berempat menyapa bora


"hai juga, lama tidak bertemu athifa, nairra, clarra, alsava" sambut bora menyapa balik mereka,


boy dan hidan sangat panik melihat keempat roh agung yang aura nya menyebar luas mengisi satu kota,


tiba tiba suasana yang mencekam menyelimuti ruangan tersebut, api hitam bermunculan di setiap sudut ruangan itu,


derav pun datang beserta davos yang di gendong oleh pengawalnya,


"hormat kami kepada raja dan ratu, jiwa dan raga kami persembahkan untuk raja dan ratu" ujar jendral yang memimpin acara tersebut,


"apa yang sudah di lakukan si bodoh itu, sehingga mukanya berantakan" ujar pikir boy yang sudah mengira kekonyolan davos,


hidan hanya bisa menahan tawa, sampai tubuhnya membungkuk karena tidak sanggup menertawakan keadaan davos,


"sudah waktunya" gumam bora,


derav bergegas duduk di kursinya, dengan sikap yang tengilnya dia duduk santai, sementara davos diantar pengawal menuju kursi yang kosong tersebut, suasana menjadi sepi,


"ehm ehm, mari kita sambut kembalinya raja kita yang selama ini hilang, hormat untuk sang raja" mereka pun menundukkan kepalanya kelantai, seakan siap menerima apapun perintah rajanya, bahkan semua orang yang duduk di sampingnya termasuk derav,


dengan wajah penuh darah serta kebingungan yang membuatnya berdiri dari kursi tersebut sambil berteriak


"HAH, RAJA" teriak davos yang tak menyangka dirinya sebagai raja,


dengan sedikit rasa bangga davos berdiri tegak menantang, dengan wajah babak belur sontak davos bertanya kepada jendral yang pemimpin acara ,


"hei jikalau aku raja, mana permaisuri ku" tanya davos dengan imajinasi yang menggambarkan wanita cantik, sexy, imut berdada montok berpantat besar dan sulit di bayangkan oleh otak pria lainnya


"beliau adalah ratu beserta orang yang selalu mendampingi tuan sedari dulu, ratu derav yang duduk di samping kiri anda tuan" jawab jendral kepada davos,


"hei apa ucapan kamu tidak salah, pantaskah loli yang bernama derav menjadi permaisuri ku, dia masih kecil, teteknya pun kecil, apalagi pantatnya, gadis serba mini ini lebih pantas menjadi pelayanku loh" ungkap rasa kecewa davos setelah jendral itu menunjuk derav sebagai permaisurinya,


tanpa banyak kata derav langsung memukul wajah davos hingga tubuhnya tersungkur ke lantai


bruaaaaaakkkk


dan terjadi lagi.....


Bersambung........