The Darkness Within Me And The God Who Hates Me

The Darkness Within Me And The God Who Hates Me
Episode 14 Kenyataan Tentang Semua Perjuangan Ini



Dan terjadi lagi, dimana tubuh sang raja yang penuh luka di pukul terhempas ke tanah hingga mengakibatkan lubang besar di tempat itu, vierra dan terra merapatkan barisan menuju tuannya, karena mereka berdua melihat aura membunuh yang sangat liar pada tubuh derav,


Derav menginjak tubuh sang raja yang konyol, terus berkata dengan lantang agar suaminya tidak melakukan hal konyol terus menerus,


Boy merasa lega karena temannya yang bodoh tidak jadi mati, makin terkejut boy dan hidan berikut kedua roh, bagaikan sudah tekena petir lalu terbakar, melihat derav yang terus menginjak injak tubuh suaminya, ya walaupun di dasari oleh rasa cemburu,


"Hanya karena cemburu, nyawa orang bisa hilang berkali kali" ungkap hidan yang melihat perbuatan derav kepada suaminya sendiri,


"Lebih baik aku mati jikalau memiliki istri layaknya pembunuh bayaran" gumam boy,


Akhirnya boy, memberanikan diri untuk mendekati derav, lalu mengajak untuk melanjutkan perjalanan mereka,


"Sudahlah ratu, mungkin dia hanya bercanda, mari kita melanjutkan perjalanannya, masih tersisa enam hari untuk sampai ke kota emerald" ungkap boy


Dengan senyum layaknya bocah berumur 17 tahun derav mengangguk dan menyetujuinya,


"Hei ratu, bagaimana dengan temanku yang sekarat itu" ujar hidan


"Hei, suami payah, bangunlah, jangan terlihat lemah seperti itu, ayok bangun" dengan santainya derav berkata sambil berjalan,


"Baiklah, bisakah kamu tidak melakukannya lagi" ujar davos


"Heeh, berisik kamu suami payah" ungkap derav memalingkan wajahnya,


Boy, hidan, vierra dan terra terkejut melihat tubuh davos yang meregenerasi tubuhnya sehingga kembali utuh,


Ternyata, walaupun davos tidak bisa menggunakan sihirnya, lebih tepatnya tidak tahu cara menggunakan sihirnya, tapi dia mempunyai kekebalan daya tubuh yang amat luar biasa, serta kecepatan regenerasi yang tidak masuk akal,


"Waaaah ternyata di depan ada kota" ujar hidan melihat sebuah kota dari arah gunung,


Mereka terus berjalan tanpa mengenal lelah, hingga sampai di kaki gunung yang membatas wilayah pegunungan dengan sebuah kota,


Mereka berenam terus melangkah hingga mereka masuk ke sebuah kota


"Sebenarnya itu bukan kota, semua orang yang hidup di dunia ini menyebutnya, Wilayah Penyihir" ujar derav,


"A aa apa lagi yang akan terjadi, sesungguhnya aku merasakan bahaya berada di depan kita" ujar davos


"Hmm" boy pun berpikir, melihat pemandangan nya yang indah, akan tetapi bau busuk selalu tercium oleh hidung,


"Apakah hanya aku yang merasakannya, atau pun mereka juga merasakan bau menyengat ini, tapi... Jikalau bau itu tercium, orang seperti davos akan selalu mengatakannya sedari awal daripada aku" gumam boy saat berjalan lebih dalam menuju kota bersama teman temannya,


Tiba tiba, kedatangan mereka di sambut oleh salah satu tetua wilayah penyihir yang muncul tiba tiba di hadapan derav dan memberi salam,


"Salam hormat kepada ratu kegelapan dari kota tafear" hormat tetua tersebut yang di ikuti oleh beberapa masyarakat yang muncul tiba tiba di belakang penyihir tua itu,


"*Hormat kami kepada sang ratu kegelapan" *masyarakat wilayah penyihir**


"Ya ya ya, berdirilah, aku membawa sang raja bersama kedua calon kandidat yang mengurus feltagon di masa depan" ungkap derav, berkata kepada para penyihir,


Davos, boy dan hidan di buat terkejut oleh perkataan derav, serta kebingungan apa yang di maksud dengan kandidat pengurus feltagon di masa depan,


"Apa maksudnya semua ini, perkataan ratu semakin membuat ku bingung" gumam boy,


Sementara hidan sedang mengobrol dengan terra, bertanya apa yang di maksud oleh derav, hanya saja terra pun tidak tahu tentang apa maksud dari perkataan derav,


"Ya, aku sudah memikirkannya secara matang, tinggal menunggu perkembangan mereka selanjutnya" ungkap derav,


Lantas si penyihir tua itu membawa mereka ke suatu wilayah dan pemandangan yang sangat indah, bau busuk yang boy hirup pun menghilang, ternyata mereka di bawa ke wilayah timur, di kota yang bernama shafir dan itulah kota asli para penyihir, hanya saja mereka menunggu kehadiran derav bersama kawanannya di utara dan membuat sebuah ilusi di wilayah tersebut,


"Mohon semuanya harap tenang,,, berkumpul lah kalian wahai masyarakat penyihir, sang ratu telah kembali bersiap melaksanakan kudeta besar besaran kepada mereka yang mengaku dewa, ratu kegelapan DERAV CLEORIUS putri tunggal dari dewa yang menciptakan dunia ini dewa yang dulunya kita puja dan banggakan, sekarang harus kita musnahkan agar tidak ada perselisihan diantara semua ras, bersama dewa dewa lainnya mereka bersenang senang mempermainkan nyawa kita" ungkap penyihir tua yang mendeklarasikan pemberontakan,


Davos, boy dan hidan sangat terkejut mendengar tentang deklarasi kudeta besar besaran terhadap dewa, mereka bertiga berdiam karena mereka tahu maksud yang sebenarnya dari perjalanan ini, boy mengira perjalanan ini hanya untuk mengumpulkan sebuah kelompok dari ras tertentu untuk sebuah penyerangan besar besaran,


"Rasanya jikalau aku boleh memilih, aku hanya ingin pulang melihat sebuah kenyataan yang mustahil ini" gumam hidan dengan keputusasaan nya,


"Sesungguhnya kami sedang di hadapkan dengan kematian yang sebenarnya" ujar davos


Sementara itu penyihir tua itu terus mengatakan tentang sebuah perang, sampai dia menyelesaikan pidatonya, semuanya bubar barisan, namun derav bersama teman temannya di bawa ke ruang khusus untuk tamu,


"Ini konyol, bahkan lebih konyol dari perbuatan ku sehari hari" gumam davos yang terus merenungi kenyataan ini,


"Diriku ini belum pantas untuk mengalahkan semua makhluk yang ada di dunia ini, hahahaha... Hidupku akhirnya berakhir disini" gumam boy dengan keputusasaannya


"Aku ingin pulang, aku ingin pulang, aku ingin pulang" gumam hidan yang merasa di bumi pasti akan lebih menyenangkan walau tanpa kekuatan,


Di saat mereka bertiga kebingungan, serta derav yang terus membicarakan tentang hal itu bersama si penyihir tua, tiba tiba, datang cahaya tepat di depan mereka,,,


"Ternyata murid murid ku melemah ya" ujar bora yang tiba tiba datang bersamaan cahaya tersebut,


Mereka bergegas memeluk tubuh gurunya, hingga menangis ingin kembali pulang ke dunia mereka,


"Silahkan menangis lah, ungkapkan semua rasa kalian, dan temukan jalan kalian saat kalian menangis" ungkap bora berusaha menenangkan mereka,


Akhirnya mereka bertiga menangis layaknya anak kecil yang ingin membeli sebuah balon,


Sementara itu derav memanggil kedua roh tersebut, ya,,, vierra dan terra untuk menghadapnya, bersama penyihir tua derav membawa mereka berdua ke tempat yang sangat gelap, lalu mereka berdua melakukan sihir teleportasi ke kota emerald,


Sesampainya mereka berempat di kota emerald, mereka berbicara tentang sesuatu, entah apa yang di rencanakan derav dan penyihir tua itu, hingga mereka meninggalkan vierra dan terra di kota elf tersebut,


Mereka berdua kembali ke wilayah timur, dimana davos, boy dan hidan sedang meratapi kenyataannya, dan selalu memikirkan keputusan apa yang akan mereka pilih,


Pulang ke dunia manusia, atau memilih untuk ikut berperang melawan dewa, itulah yang mereka pikirkan, hingga malam tiba mereka memikirkannya,


"Huaaaah, aku sangat bingung" ujar davos, yang memikirkan gelar, bahkan memiliki istri yang manis walaupun terlihat seperti anak kecil, yang membuatnya enggan meninggalkan dunia ini


Davos berdiri dari ratapan yang buntu, dia berjalan ke mendekati boy dan hidan, dia duduk di tengah tengah antara mereka berdua,


"Apa kalian ingat, jikalau sesuatu yang buntu, tidak ada titik temu, apa yang akan kita lakukan dulu saat kita di dunia manusia" ujar davos


"Itu baru temanku" ungkap hidan kembali dengan senyumnya,


"Ya, kebiasaan buruk mu di dunia kita, bisa menjadi solusi terbaik untuk saat ini" tanggap boy tentang perkataan davos


"Yosh, baiklah" davos berdiri dan menatap para penyihir yang berada di dekatnya,


Sambil memegang pundak salah satu penyihir yang lewat di hadapannya, davos berkata,


Bersambung......