
Tidak perlu panjang lebar. Empat bulan kerja keras. Wanita yang selalu dianggap tidak pantas hanya karena penampilannya ini mengeluarkan seluruh usahanya untuk Pancarona.
Bila perlu diucap, tidak banyak hal yang terjadi. Dua belas proyek gagal Danwar yang diselesaikan dengan kekeluargaan. Sudah dua kali diadakan pengadilan untuk Danwar. Fares menanganinya dengan sangat baik meski Adira hanya duduk di kursi persidangan. Taruna mulai di tahap pembangunan lantai ke lima.
Ya, tak banyak yang terjadi. Karena bagi Adira, masih banyak PR yang harus dikerjakan.
Nanda yang melihatnya saja pusing tujuh keliling. Omar? Makan saja ia dengan makan siang ala warung seperti biasa.
“Apa aku ajak aja ya?” Nanda memeluk gitar studio dengan angan yang melayang, “Gimana?”
Omar lebih bingung. Tapi ia tidak mau memperdulikannya, “Iya. Ajak dah ajak.”
“Serius?”
“Iye.”
Nanda berdiri dengan semangat, “Mantap!”
Seakan saudara sendiri, Omar sudah menduga semangat itu. Namun, seperti orang asing, OB yang lapar ini saja tidak peduli dan malas untuk melihatnya pergi. Apalagi kalau diminta untuk mencari tahu apa yang Nanda ributkan.
Di sela Nanda yang mencari-cari satu orang, pertemuan kecil diselenggarakan di ruang Adira. Wanita yang akhirnya punya alasan untuk duduk tenang dan mendengarkan ini, berhadapan dengan tamu istimewa.
“Hmm..., kamu yakin dia suka ini?” pak Hadyan bersantai di sofa depan Adira, “O hoh! Aku pikirin apa? Dia suka semua hadiah! Hahahaha!”
“Saya mau merencanakan hal yang lebih expand. Tapi saya pihak yang tidak tepat untuk leluasa akan hal itu. Saya rasa ini hal yang terbaik.”
“Tapi kalau begini... namanya gambling kan?”
Adira meletakkan kopinya kembali ke meja, “Saya rasa tidak. Kemampuan Nanda bisa menutupi hal itu,” ia terdiam sesaat, “Tapi bapak benar, saya harus diskusikan ini terlebih dahulu sebelum memberikannya.”
“Hahahaha! Kau sayang sekali ya sama Nak Nanda!”
Wajah Dira memerah, “Ti! Tidak!” ia harus tetap tenang, “Aaa... pak, anda tahu ini hanya sebagai hadiah karena banyak membantu saya dan Pancarona. Ananda tidak mau menerima apapun, tapi saya rasa ia akan lebih menyukai hal ini.”
Bapak ini tersenyum melihat tingkah anak muda yang suka mengelak. Namun ia pernah merasakan nuansa itu. Ini adalah saat di mana keduanya yang menentukan. Bukan orang lain.
“Oleh karena itu, saya mohon bimbingan anda. Saya tidak akan bisa merealisasikan ini tanpa anda, pak.”
“Tanpa kamu minta pun, aku ada niat kasih hadiah buat dia. Tapi kalau idenya begini, aku bakal ikut pasti. Katakan saja kapan kalian siap, terus tinggal kuurus sisanya.”
“Terima kasih, pak.”
Kakek yang sudah matang ini berdiri, “Nah, kalau gitu aku pamit.”
“Biar saya antar,” wanita ini ikut berdiri.
“Haduh..., aku di sini masih orang asing kah? Biarlah aku bolak-balik sendiri.”
Berat hatinya yang sebesar apapun itu, Dira tetap tidak dapat memagari kebebasan orang tua ini.
Wanita ini membungkuk kecil, “Hati-hati di jalan, pak. Semoga hari bapak baik.”
“Adira juga,” bapak ini menemuk pundak Adira.
Tak lama pria ini melewati pintu ruangan Adira. Sementara Dira masih berdiri memberi salam pergi.
Ia berdiri lama di sana. Pikirannya seakan menggantung. Namun ia tidak perlu berpikir banyak bila hanya perlu berbicara dengan Ananda.
Tok tok tok!
Waktu yang tepat, arah tatapan Adira masih tidak bergerak dari arah pintu tertutup itu.
“Masuk,” Adira menanggapi gelombang ketukan yang kedua.
Dan yah, tidak lain dan tidak bukan, si Ananda yang selalu muncul bisa dibicarakan.
Nanda, yang menangkap bosnya berdiri di depan pintu, berasumsi kalau bosnya mau meraih pintu, “Mau keluar?”
Adira menggeleng, “Ada apa?”
Murah senyum pria ini memasuki ruangan dan menutup pintu di belakangnya, “Not busy?”
Adira melipat kedua tangannya, “Memang saya bisa bekerja kalau ada anda di ruangan saya?”
“Heh,” tawa itu masih segar walau hari mulai panas, “Ini kan malming....”
Masih dengan kedua tangannya yang menekuk di depan badannya, Adira mengangkat alisnya, “Intinya?”
“Intinya... ada rencana keluar?”
“Tidak,” Adira menjauhi beberapa langkah ingin kembali bekerja, “Sudah?”
“Ei, dengerin dulu lah~” Nanda ikut mendekat.
“Apa?” Adira berputar dan memandang pria bermata hitam ini.
“Malming-an gak afdol kalau gak have fun, gak sih~?”
Hening sesaat,. Wanita ini merasakan ke arah mana rangkaian dialog ini akan pergi. Ia berdiri dengan tegasnya masih di antara sofa. Menatap Nanda dengan tenangnya.
“So..., mau temenin aku?”
“... saya bukan orang yang bisa bersenang-senang.”
“That doesn’t mean I don’t want to.”
Dira memainkan matanya ke arah lain layaknya kebanyakan orang saat berpikir, “Malam ini?”
Ananda masih bermain senyum, “Malam ini~”
Dira terdiam sesaat selagi menarik dan membuang nafas, “Kamu bisa bawa mobil?”
Bagi Nanda, itu adalah pertama kali ia mendengar pertanyaan random dari bosnya. Padahal bos ini selalu protes bila Nanda yang bicara random.
Seringai semangat Nanda menjawab, “Iya. Aku pernah jadi supir pribadi sekitar setahun lalu. SIM-ku masih aktif~”
“Anda ke rumah saya. Kita pergi dengan mobil. Infokan jam berapa anda akan ke sana.”
Tawa renyahnya tidak pernah bosan walau disebut berkali-kali itu. Rasanya seperti damai mendengar suara burung di pagi hari. Bahkan Adira tidak membencinya meski ia masih bersikap layaknya acuh tak acuh.
Namun ia tidak bisa lagi mengabaikannya apalagi sekarang.
“Gyaa!” teriak Adira menyadari pria ini sembarangan memeluknya.
“Thank you~!”
“Lepas! Dibilang lepas!” Adira menarik bantal sofa yang dekat dengannya, “Lepas tidak?! Lepas!”
Nanda masih tertawa riang meski ia dipaksa melepas pelukannya karena pukulan bantal dari Adira. Adira yang memerah padam di wajah masih memukuli sekuat yang ia bisa.
“Keluar!” tingkah Adira itu dianggap kebalikannya oleh Nanda. Sampai wanita ini harus mendorongnya tepat ke pintu, “Kembali kerja! Keluar!”
“Iya~ Hahahahaha! I’ll text you later~ Kay~?”
“Keluar!”
Pintu tertutup dan hening. Adira tidak bisa berpikir seperti dirinya yang biasa.
Tata cerita seperti apa yang diharapkan kalau sudah seperti ini. Mau marah, tapi lawan bicaranya seperti itu. Layaknya bicara dengan anak kecil yang bahkan tidak sadar kalau yang dihadapi adalah wanita yang sedang marah. Yang ada hanya tenaga terbuang sia-sia.
Namun sungguh, the beast yang orang bicarakan tidak bisa lagi mengingat naskahnya. Seakan teater yang sudah jauh dari alur aslinya. Bila the beauty yang dibicarakan bersikap berani seperti itu, bukan lagi kisah manis dansa yang menanti mereka.
Adira tidak memikirkan apapun tentang itu⏤belum? Yang ia pikirkan ia ingin pulang cepat. Mungkin... ke salon?!
...◇ ◈ ◇ ◈ ◇ ◈ ◇ ◈ ◇...
“Beneran nih, Nan?”
Pria yang dipanggil ini berwajah santai. Senada dengan santainya t shirt printing dan celana jogger murahnya. Sepatu yang hanya salah satu dari dua sepatu miliknya beranjak ke teras yang seharusnya bersih.
Ia mengangkat satu bahunya selagi memiringkan kepala, “Lah? Tadi semangat mau berangkat pake mobil.”
“Tapi kan....”
“Gini deh, gua perjelas,” satu temannya lagi menyahut tanpa ragu, “Kenapa kamu undang bu Dira juga?!” tekanan yang sambil menahan volume suara terasa sangat dekat di telinga Nanda.
Namun otak Nanda malah melenceng dari ancaman itu, “Ye, Omar aja bolehin.”
“Huh?!” Omar ini terkejut, “Dari mana?!”
“Ye tadi pagi juga lu bilang ajak aje~”
Omar terdiam. Ia tidak menyangka ketidakpedulian yang kecil malah menjadi... agrh sudahlah. Lelah sudah Omar berpikir.
Apalagi....
Ting Tong!
Nanda sudah menekan bel rumah Adira.
“Sudah terlanjur. Kalian memang mau ngusir bos sendiri~ Hayo~” Nanda tahu seberapa takutnya teman-teman ini bicara dengan Dira.
“Sial⏤”
Pintu terbuka. Dan hening menerpa.
Satu sisi, Adira kebingungan dengan banyaknya orang di depan rumahnya. Lima orang? Mungkin lebih. Namun ia tidak bisa mengutarakan pendapatnya.
Di sisi lain, para pekerja ini sudah ada di satu langkah sebelum skakmat. Mereka tidak mau mengajak bosnya yang bossy ini ke malam senang-senang mereka. Mata mereka melotot menunjukkan pendapat itu. Namun mulut mereka paksa tertutup seakan dilem.
Lalu sisi satu lagi....
“Lah? Dira dandan~?”
Ini... sungguh canggung.