
Pagi memang menjadi waktu aktif cewek dewasa satu ini. Ia sudah segar dengan baju bersihnya dan menyantap makanan hangatnya. Udara yang dingin bekas deras gemuruh kemarin malam membuat semuanya tampak tidak menyukainya aktifitas pagi.
Sama seperti asisten rumah tangga yang baru datang ini, “Maaf, non. Saya terlambat!”
“Hmm... tolong bersihkan rumah,” Adira masih sibuk mengunyah makanannya, “Oh, siapkan sarapan untuk dia.”
“Dia?” asisten ini berhenti di depan sofa. Memandang satu sisi yang ditunjuk nona majikannya. Dan menanggapi seseorang yang masih terlelap, “Buset, bu! Ini siapa?!”
Nanda hampir saja terbangun. Refleks asisten ini menutup mulut dan menjauh beberapa langkah. Itu reaksi yang tidak tertolong. Wajar. Tidak satupun pria yang seharusnya tidur di satu atap yang sama dengan Adira.
“Dia membantu saya pulang kemarin malam. Gara-gara banyak hal, dia tidak bisa pulang,” Adira menatap wanita asisten ini lebih tegas, “Jangan pikirkan itu. Kerjakan saja apa yang saya minta.”
“Ba, baik....”
Asisten ini pun tidak mau ikut-ikutan akan hal pribadi tuannya. Biarlah siapapun yang ia bawa pulang, tugasnya hanya mengurus pekerjaan rumah dan pulang setelahnya. Ditambah lagi hari ini Sabtu. MUstahil ia habiskan seharian di sini.
“Oh, tidak perlu masalah untuk makan siang. Tolong siapkan untuk makan malam saja,” Adira kembali menyibukkan diri dengan kunyahannya.
“Heh? Nona makan siang di luar?”
“Iya. Letakkan di tempat biasa kuncinya kalau anda selesai.”
Urutan rencana kembali memenuhi hari Adira. Syukurlah lawan bicaranya nanti memberikan jawaban positif bahwa ia akan datang.
Kali ini ia harap si ayah tidak mengacau lagi.
...◇ ◈ ◇ ◈ ◇ ◈ ◇ ◈ ◇...
“Ayah telat ya?” pria ini akhirnya bisa datang menepati janjinya.
Dira masih duduk dengan tegap di satu sisi meja cafe bersamaan dengan secangkir kopi yang hangat, “Silahkan duduk,”
Si ayah ini duduk dan mengambil papan menu di antara mereka berdua. Tertawa ramah dengan jiwa kebapakannya yang tidak jelas dari mana.
“Pas sekali, ayah lapar~!”
Namun Adira tidak ingin memikirkan itu.
Pada dasar ia sudah makan lebih dulu karena lagi-lagi ia harus menunggu lebih lama. Beruntung karena hari libur, ia sudah berencana untuk meluangkan waktu sebanyak mungkin. Semuanya demi menyelesaikan sampai ke akarnya.
“Saya akan langsung ke intinya. Apa maksudnya anda meminta Viren untuk menggantikan anda menjemput saya kemarin?”
Terhenti gerak tangan sang ayah membuka menu yang tampak seperti kalender meja itu. Ia sungguh tidak menemukan apa yang membuat alis Adira tampak sangat marah. Berpikir ia harus menunda makan siangnya.
“Kenapa? Kan pacar. Pas dong antar jemput sama pacar.”
Adira menggeleng lelah, “Tidak saya duga sejauh ini anda tidak mengenal saya. Setahun sebelum anda menikahi bunda, aku dan Virendra sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi.”
“Tapi waktu ayah tanyain, dia bilang masih kok.”
Adira tidak tahu lagi. Harus siapa yang ia masukkan ke inti masalah? Virendra yang sering melakukan banyak hal merugikan dia. Atau si ayah yang kehadirannya adalah sebuah masalah.
Ia bahkan tidak bisa mempercayai ucapan keduanya.
“Apapun yang sudah terjadi, saya akan tekankan. Tolong jangan sampai saya menemukan kejadian berkaitan Viren lagi,” Adira menegak satu kali kopi panasnya.
“A, ayah minta maaf.”
“Hentikan itu.”
“Apanya?”
“Sampai kapan anda ingin mempertahankan akting anda seperti itu? Sampai anda berhasil rujuk dengan bunda? Sampai saya dengan rela memberikan penghasilan saya pada anda? Atau sampai menguras habis Pancarona untuk anda dan Virendra?”
“Ayah tidak mungkin⏤”
“Kita langsung ke bahasan kedua,” pandangan Adira menajam sesaat dagunya naik. Seakan menunjukkan siapa seharusnya yang didengarkan dan siapa yang harus mendengar.
“Aristya umur 47 tahun,” Dira mengeluarkan Ipad yang sengaja ia bawa. “Suami dari Wulandari Dwi Zafia, putri dari pemilik boutique Zafia.”
“A, ap, Dira?”
Keringat dingin meluncur hebat dari kepala pria yang dipanggil Aris ini. Tidak bisa dipungkiri, gelagat tubuhnya yang tegang sungguh menceritakan kebenaran secara tidak langsung. Membenarkan apa yang dikatakan Adira dengan tidak langsung.
Dira masih membaca, “Namun sepertinya terjadi masalah. Sampai istri anda tidak punya hak lagi untuk menerima uang dari orang tuanya. Apa mungkin anda ketahuan menggelapkan dana boutique?”
“Dira, bukan!”
Sungguh pria yang kukuh. Tujuannya lebih besar daripada jalan kekalahan yang sudah terbuka lebar. Cepat dan sigap menariknya langsung. Bukti kesalahan itu masih ia sangkal sekeras mungkin. Meskipun Adira sudah menggunakan otak encernya dengan baik.
“Enggak kok. Dira pasti salah orang.”
Wanita ini tidak kalah dengan ekspresinya yang masih berkuasa, “Apa yang anda lakukan setelah ditelantarkan mertua? Anda menghutang cukup besar. Anda sangat putus asa seperti itu.”
“Hutang apa?! Tidak ada!”
Adira menghela nafasnya, “Luar biasa. Anda berusaha sekuat ini untuk melunasi hutangnya. Setidaknya kalian saling mencintai sampai saat punya dua hutang besar saja kalian masih bersama.”
“Adira, percaya sama papa! Tidak ada perempuan lain selain bunda. Ayah tidak pernah dekat dengan siapa-siapa⏤”
“Simpan saja kalimat anda. Itu tidak enak didengar.”
Kiranya tekanan ini sudah sangat dalam. Terlepas dari kebenarannya, Ayah ini sungguh bersikeras akan kata-katanya. Ia tahu, cinta yang dia bicarakan tidak akan kalah akan apapun. Dan itulah yang membuatnya tetap bertahan.
Harapan kecil, anak angkatnya itu memahaminya. Serta memberikan kesempatan yang larut hilang bersamaan dengan kepercayaan Adira.
Ia tidak menyerah.
Pria ini mengepalkan kedua tangannya, “Dira, kamu gak bisa gini terus. Ayah sayang bunda-mu. Bundamu juga gitu.”
“Sayang sekali. Saya tidak digerakkan dengan hati seperti bunda. Kalau diingat-ingat...,” Adira melipat kedua tangannya, “Saya tidak pernah sekalipun berpikir hubungan saya dan anda dibangun dengan hati.”
“Kamu gak bisa halangi ayah balik sama bunda. Bundamu bisa sedih dengar itu.”
Itulah masalahnya. Adira mengerti tentang hati dan sakit.
Ia sempat merasakan manis itu. Dan sakit itu terjadi tiga kali. Ledakan besar yang sungguh mengubah segala pikiran Adira. Dan ketiganya membuatnya tidak ingin mengulurkan tangannya ke pria dengan rela hati.
Namun sang Ibu masih punya hati yang manis. Cintanya yang ia percaya masih ia rawat dengan senang hati.
Bila ia membuang pria ini, sama saja artinya Adira yang memberi keluarganya rasa sakit hati. Aristya ini sungguh menggenggam kelemahannya.
Namun larian kuda tidak selalu lurus mengikuti jalur. Ia sudah tahu apa yang ia lakukan. Sementara atau apapun, inilah yang terbaik yang ia bisa lakukan untuk sekarang.
“Kita bisa jalankan ini baik-baik,” Adira mengeluarkan lembaran yang sudah dia siapkan, “Terima ini dan lenyaplah seperti yang anda biasa lakukan.”
Tercengang. Itu bukan hal biasa yang bisa asal diberikan di cafe kecil seperti ini. Jumlah angka nol di kertas itu tidak tertandingi dengan perkiraan Aris. Nama berupa tanda tangan Adira menjadi bukti kalau ia memang sukses akan Pancarona.
Lalu apa yang akan dilakukan si ayah?
“Ayah punya hutang. Itu, itu benar. Tapi Adira, sayang. Ayah tidak bohong kalau ayah sayang kamu, bunda sama Nata. Itu benar,” tenang dan jelas, pria ini bicara.
“Kita bisa lakukan ini dengan jalan yang tidak ramah kalau begitu,” Adira mengambil barang-barangnya dan berdiri, “Saya akan menjauhkan anda dari tempat saya, apapun caranya.”
Mata itu melotot. Adira sungguh tidak suka hasilnya. Namun ia tahu, sekali dikasih hati, ia akan meminta jantung. Ia hanya perlu mengurusnya dalam waktu yang lebih panjang.
“Dira.”
“Jangan ganggu siapapun. Bunda, Nata, atau pun orang-orangku di Pancarona,” Adira bersiap untuk pergi, “Ini kebaikan saya, anda tahu? Kekacauan yang anda buat akan membantu saya dalam menuntut anda.”
Tidak apa. Hanya masalah waktu untuk Adira mendapatkan tali garis finish-nya.