The Childish And The Beast

The Childish And The Beast
#29 Tugas Baru



Jari itu tidak berhenti. Meskipun ini kedua kalinya Nanda masuk ke ruangannya. Layaknya rumah sendiri, yang datang tak diundang dan pulang tidak dijemput. Cangkir kopi kesayangan Adira harus dibawa kembali karena sudah kosong.


“Tolong buatkan yang baru,” Adira menyadari tangan itu.


Nanda mengerutkan keningnya, “Gak mau.”


Tangan itu terhenti. Mata Adira menatap sinis pria yang menolak melakukan pekerjaannya.


Nanda tersenyum nakal dengan satu bahunya terangkat. Rambutnya yang teruntai mengikuti kepalanya yang memiring. Ia sungguh dengan PD-nya bercanda dengan bos tertinggi tempat ia bekerja.


Nanda memasang wajah sedih, “Tidak boleh kebanyakan minum kopi. Kalau Dira sakit gimana~?”


Adira menjauhkan tangan dari papan ketiknya. Dia tidak menyangka ia pernah akalnya bercuit bahwa pria ini tidak akan menjadi gangguan. Nyatanya hari main pria ini ada di depan mata.


“Apa pekerjaan anda di sini?”


Nanda masih bisa tersenyum, “Nyapu, ngepel, nge-print, dan lain-lain dan lain-lain.”


“Anda membantu para rekan-rekan arsitek dalam pekerjaan rumah. Termasuk prasarana konsumsi saat dibutuhkan.”


“Tapi kan gak sehat kalau minum kopi terus~”


“Apa itu termasuk pekerjaan anda?”


Pria ini sungguh tidak menyerah. Ia dengan beraninya mendekat ke bagian dalam meja Adira. Matanya yang dibuat sendu tapi tersenyum jahil. Tangan kanannya tertahan di meja Adira. Dan kepalanya dimiringkan memandang bosnya lebih dekat.


Adira dibuat lelah, memilih kembali ke komputernya, “Jangan membuat saya mengambil langkah untuk mengusir anda, permanen.”


“Hahahaha,” Nanda menjauh, “Sorry~ I get it. Tapi ini kopi yang terakhir buat hari ini ya~”


Nanda kembali mengambil nampan itu. Ruangan serba coklat itu setenang Adira yang akan ia tinggalkan sendirian. Mengerjakan apapun yang bukan ranah dari Nanda.


Akan tetapi pria ini tidak senang hati melangkah pergi. Kembali mencari alasan yang bisa dibicarakan.


“Nata gimana?” ia menemukan bosnya itu sibuk lagi.


Lagi-lagi wanita ini mengambil jeda. Kepalanya mengambil intip dari balik layar komputernya. Tampak manis di mata Nanda yang menanti jawaban wanita berbaju jingga pastel itu.


Satu tangan kanan berjam hitam itu menahan wajahnya, “Nata menitip salam untuk anda.”


“Hmm..., terus?”


Adira dengan jelas terbisu, “Apa anda akan selalu mencari topik pembicaraan?”


“Cch!” Nanda mengedipkan satu matanya selagi menunjuk bosnya, “You got that right~!”


“Baiklah, bagaimana kalau anda menceritakan sedikit tentang sosial media yang sering dilihat adik saya?”


“Wah, tertarik nih?”


“Saya hanya ingin memastikan itu konten yang tidak merusak adik saya.”


Tawa Nanda yang murah ini tidak pernah ditahannya, “Dira belum pernah lihat?”


“Tidak.”


“Coba dilihat dong~ Banyak yang komen suaraku bagus loh~”


Adira sudah menangkap sebuah kemungkinan besar. Sosial media memang untuk menggambarkan kegemaran orang pemilik akun. Omongan yang blak-blakan dari Nanda, selalu memungkin Adira membaca pikiran dan kebiasaannya.


Namun jawaban Dira tidak pernah menggambarkan ketertarikan, “Saya sudah terlalu sering mendengar anda bernyanyi.”


“Karena nyanyianku selalu gratis untuk Dira.”


“Apa pendapatan di sosial media belum cukup sampai anda kerja di sini?”


Telunjuk Nanda mengait ke cangkir, membuatnya berputar di poros sebuah piring kecil di bawahnya.


Ia hanya menjawab, “Gak ada penghasilan.”


Adira mengangkat satu alisnya, “Anda tidak berminat.”


“Well, I want to. Orang gak banyak lihat. Mungkin gara-gara kualitas?”


“Kualitas apa maksudnya?”


“Kata yang lain, suaraku gak benar-benar kerekam bagus di sana. Dan videonya pecah.”


“Anda merekam dengan apa?”


Nanda mengeluarkan ponsel lama keluaran 2014-an. Sungguh awal kejayaan smartphone berlayanan 4G di Indonesia. Terlalu lama. Wanita ini sempat berpikir candaan Nanda yang terlalu niat, sampai membawa ponsel mainan.


Adira mengingat sesuatu, “Anda berencana menggunakan uang bonus yang saya berikan dengan apa?”


“Uang bonus,” pria ini ikut mengingat, “Oh, boleh dipakai?”


Ekspresi jelas Adira menggambarkan ia berkata kalau seberapa bodohnya lawan bicaranya.


Nanda tersenyum tidak bersalah, “Kan aku gak mau jauh-jauh dari Dira~”


Suara ketukan terdengar. Membuat senyum Nanda terlihat asam.


“Masuk,” Adira melepas ikatan rambutnya yang longgar sebelum akhirnya Daffa muncul dari balik pintu, “Ananda, anda bisa menggunakan apapun yang sudah saya berikan pada anda. Itu hak anda.”


“Hmm....”


“Ada lagi? Saya harus berdiskusi dengan Daffa.”


Nanda tersenyum, “Boleh aku ikut ngerumpi?”


“Cih,” Nanda memasang muka kesal yang secara tidak langsung bisa dianggap mengejek, “Ini mau keluar.”


Pria ini melangkah pergi membuat Daffa semakin tidak suka dengannya. Indra penglihatan Daffa memerah layaknya emosi itu memanaskan darahnya.


“Biarkan,” Adira yang jeli membuka topik, “Ada laporan apa?”


“Ini, bu,” tumpukan kertas itu diserahkan langsung ke meja prinsipal Pancarona, “Dan bu, saya dengar ada keributan lagi gara-gara pak Danwar. Ibu yakin tidak mau mengurusnya?”


Satu kumpulan kertas diangkat oleh wanita ini. Membacanya sekaligus memilah apa yang dicerahkan oleh Daffa.


Tentu perlu diurus, pikir Adira. Jalur apa yang dipilih agar tetap di jalan pedestrian yang aman, itu yang perlu direnungkan. Pancarona masih pejalan kaki yang konstan dan lambat. Hendaknya lebih berhati-hati agar tidak tertabrak.


“Bagaimana kalau langsung minta para ahli?” Daffa membuka otaknya.


“Hukum, maksud anda?”


“Saya bisa membantu bila anda menyetujuinya.”


Adira terdiam dan menyayangkan. Ia berharap tas bawaan tidak sembarangan dibuang. Pria yang disebut Danwar ini masih sangat vital untuk Pancarona. Waktu, apa dia bisa mengulurkannya untuk sementara?


“Tahan dulu. Sejauh ini masih aman.”


“Bu Adira, kalau diamkan⏤”


“Ini keputusan saya.”


Alot Daffa untuk menjawab. Kemampuan bosnya tegas, melarangnya untuk ikut campur.


Tangannya disatukan sendiri oleh Adira, menahan dagunya, “Tapi, saya masih butuh bantuan kakak sepupu anda. Ada yang perlu saya diskusikan. Bisa?”


“Tentu, bu, saya akan sampaikan,” Daffa menjawab tanpa ragu, “Dan, bu, kebetulan saya juga ingin meminta izin. Lusa Abizar ini berkunjung kemari.”


“Silahkan. Pastikan tidak menyinggung kerja orang lain.”


“Baik, bu. Terima kasih.”


“Oh iya,” Adira kembali mengingat hal lain, “Bu Windi, kedatangannya bagaimana?”


“Belum ada konfirmasi bu. Kemungkinan besar dua hari atau lebih.”


“Tolong kirimkan permintaan konfirmasi. Bisa sulit bila akhirnya jadi mendadak.”


“Baik, bu.”


...◇ ◈ ◇ ◈ ◇ ◈ ◇ ◈ ◇...


Nanda termasuk tidak teratur mengenai jam kerjanya. Mungkin karena teman-teman arsiteknya selalu datang dan pulang sesukanya. Kebebasan itu mudah diserap oleh Nanda yang bahkan bukan dari bagian perancang rumah.


Ia hanya berharap terlambat dua puluh menit ini tidak akan mengganggu pendapatannya.


Penasaran dan bingung membuat kepalanya seolah mencari celah. Ramai di ujung ruangan itu tidak biasa. Siapa yang ada di antara banyaknya orang yang tersenyum itu?


“Kembali kerja!” suara Daffa melengking.


Nanda yang semakin penasaran memilih mendekat daripada mengikuti teman-temannya yang menjauh. Sampai Daffa pun menyadari penampilan keluar Nanda.


“Kamu telat!” tatapan itu menusuk Nanda yang masih saja tersenyum polos.


Pria ini melepas ranselnya ke satu sisi bahunya selagi mempertahankan kepolosannya, “Oh ya?”


“Kamu benar-benar tidak pernah kapok!”


Nanda mengangkat kedua tangannya, “Macet pak~ Serius!”


Tasnya yang tidak mau diam di satu posisi membuat Nanda melihat ke bawah kakinya. Sadarlah dia akan sosok pendek di dekat kaki Daffa.


Bocah lelaki ini memandang Nanda dengan mata coklatnya.


Cepat kilat Nanda kembali ke Daffa, “Bapak punya anak?!”


“Bukan!!”


Muka Nanda tercondong ke belakang, “Saya kan nanya pak. Biasa aja lah.”


“Daripada nanya,” Daffa mendorong sedikit anak ini ke arah Nanda, “Mending kamu jadi babysitter.”


“Huh?”


Daffa menunduk ke arah anak itu, “Abi sama omnya dulu ya? Jangan nakal.”


“Iya,” suara anak ini dengan patutnya.


“Wait wait wait wait wait! Kerjaan saya gimana, pak?”


Daffa mengulurkan beberapa lembar yang tidak terduga, “Aku yang bicara sama bu Adira.”


Nanda menerima tanpa segan beberapa lembar uang itu, “Understood.”


“Jangan sampai dia keluyuran di lantai tiga. Ada tamu bu Windi hari ini,” Daffa berjalan cepat seakan diburu sesuatu, “Om tinggal.”


Nanda tidak tahu dan tidak kenal dengan apa yang dibicarakan Daffa. Tetapi ia tahu, dia harus menjadi pengasuh hari ini.


Pria ini tersenyum, “Mau main apa?”


Lelaki ini berpikir.