
Pagi terasa aneh bila dihabiskan dengan mata basah. Memang tidak bisa dipungkiri bahwasanya segar, tapi lelah pun merajai. Apalagi yang ditangisi itu tidak selesai dengan kerelaan hati saja.
Ingatan yang samar-samar akan malam ini membuat wanita ini gelisah. Bahkan baju kantornya belum sempat ia lepas.
“Mbak Munik?” panggilan yang serak dan tak bisa keras itu masih menggema di ujung tangga rumahnya.
Ia berpikir, mungkin kakak yang ia maksud tidak ada di tempat. Kembali ia menuruni tangga sederhana di tengah rumahnya.
“Meow~”
Eh?
Wanita ini terdiam memandang kucingnya.
Selayaknya kucing yang suka parkour. Ia, dengan keempat kakinya, menaiki sandaran sofa ruang TV yang membelakangi tempat Adira berdiri.
“Aa!!”
Suara itu bukan hal biasa. Pasalnya selagi si kucing ini turun ke dudukan sofa, teriakan pria yang malah terdengar.
Dan wajah pria yang baby face ini tampak setelah ia terduduk.
“Cing... jangan ngagetin... Napa sih, huh?” suara lemah yang mengantuk tapi kesal itu memecahkan hening.
Namun semakin hening dengan ia menyadari Adira yang terkejut tak bergerak.
Dari semua air mata yang Dira lampiaskan, mengaburkan ingatannya, berakhir membuatnya lupa dengan kunjungan pria ini.
Anehnya, ia tidak marah. Ia seakan lebih malu dan bersalah membiarkannya tanpa dipedulikan pemilik rumah.
“Maaf,” Adira mengusap matanya yang baru bangun itu sambil mendekat, “Tidur anda sakit?”
Nanda yang masih memangku si kucing putih, menatap diam bosnya ini.
“Apa?”
Pria ini tersenyum jahil, “Akhirnya aku bisa lihat Dira habis bangun tidur. Imut~”
Adira tidak menyadari wajahnya yang memanas.
Ia memang sudah terbiasa terhadap pemilihan kalimat Nanda. Namun ia belum menyadari bahwa, ya, semua pujian itu semakin masuk ke arah lain.
“Hentikan itu,” Adira dengan mudahnya memperbaiki wajahnya dengan baik, “Te, terima kasih sudah temani saya... semalam.”
“You must be like me more now, huh?”
“Anda boleh pulang sekarang.”
“Dira jadi ngambek-an sekarang~ Ya gak, cing? Hahahaha,” Nanda menerima jilatan manis membuat nuansa yang hangat, “Kenapa? Mau main di luar?”
“Chio kucing rumahan.”
Nanda terdiam. Itu masuk akal. Semenjak wanita ini sangat sibuk untuk melepas bebas kucingnya di luar rumah. Akan tetapi bukan itu yang jadi masalah sekarang.
“Kalau kamu takut Chio hilang atau kotor, aku yang bakal gendong dia. Jadi gak masalah dong hari ini jalan-jalan~?”
Adira tidak hanya pintar secara teori dan praktek. Ia juga mudah memahami akan membaca keadaan. Fakta bahwa wanita ini pasif akan feeling tidak bisa menutupi rasa tidak nyamannya akan hal ini.
Ia tahu pria ini berusaha menemaninya. Meski Nanda sungguh tidak tahu apa yang ia tangiskan semalaman.
“Saya tidak papa,” berbohong bukan hal baru melihat wajah poker face yang alami dari Adira, “Anda pulang saja. Saya tidak perlu hiburan.”
Nanda tersenyum lagi, “Aku tidak pernah bilang mau ajak jalan-jalan karena mau hibur Dira.”
Adira terdiam.
Senyum itu berubah jahil, “Tapi karena Dira-nya bilang gitu, berarti Dira maunya gitu kan~?”
Faktanya banyak cara untuk bisa memancing isi hati orang. Termasuk menuntun mereka agar mengatakan hal itu terlebih dulu.
Lagi-lagi Adira melonggarkan dirinya sampai akhirnya mendengar jawaban tak terduga.
Pria yang tetap manis walau dengan rambut berantakan itu mulai berdiri dan mengangkat si Chio, “Aku juga lapar, yuk sambil cari makan~”
“Itu lucu, saya kira saya memasang jadwal pekerjaan OB DARI PAGI.”
“Hmm... surat resins-ku ke mana ya? Kayaknya ada yang simpan~”
“Saya kan bilang, jangan merepotkan saya dengan pengunduran diri anda. Anda juga sudah janji tidak akan menyusahkan saya.”
“Dan aku juga janji aku bakal di sini kalau kamu memang butuh,” pria ini meletakkan lututnya di sofa dan mencondongkan dirinya ke arah Dira yang masih di belakang sofa, “Chio mau jalan-jalan, mama~”
Nanda memamerkan wajah Chio yang tangannya semangat menyentuh wajah Dira. Lalu ia mengintip ingin tahu bagaimana wajah Dira.
Senyumnya masih saja tidak luntur, “Please~”
“Ada yang jual soto enak dekat sini,” namun Dira menjawab iya?!
Nanda, dengan seringai yang tidak pernah ada batas lebarnya, beranjak dari sofa dan bersorak, “Yey! Ayo ucing~”
Entahlah. Karena posisi wajah mereka yang baru saja sangat dekat, atau karena rasa tidak nyaman membiarkannya masuk ke masalah pribadinya. Apapun itu, Dira jadi terasa mudah luluh dengan pria ini.
Ia hanya bisa memegangi kepalanya, tidak paham dengan urat kepalanya sendiri.
Sama simpelnya memasang sepatu. Jaket dan beberapa lembar uang menjadi pendamping Dira untuk pergi. Bersama pria yang bahkan tidak merapikan rambutnya. Cerah wajahnya, berjalan seirama dengan Dira.
“Jangan senyum-senyum,” Adira mulai terganggu dan memilih memasang kudung jaketnya.
Tidak tahu menahu, telinga itu sudah seperti sekedar pipa. Nanda masih tersenyum dan membuat Adira kesal.
Ditambah lagi godaan di pagi hari, “Itu gak mungkin. Sama kayak hilangkan Dira dari pikiranku, mustahil!”
Langkah wanita ini masih saja tegas, “Kalau begitu pergi saja sendiri dengan Chio, saya pulang.”
“Ei, ngambek lagi~ Hahahaha! Jangan gitu lah,” Nanda masih mengelus Chio yang anteng di pelukannya, “Kalau aku tinggali cewek manis yang matanya merah, gimana orang mikirnya?”
Adira terkejut berhenti di tempat, “Mataku merah?!”
Nanda ikut terhenti setelah Dira fokus mengusap matanya sendiri. Ia melangkah lagi ke depan wanita ini kemudian diam tersenyum. Di lain sisi Dira melemparkan tatapan ‘apa lagi ini?’.
Pria ini kembali berucap, “Iya... mata KAMU merah. Tapi tetap manis kok.”
Lagi-lagi tanggapan yang tidak ia mengerti. Dira memilih memutarinya dan lanjut berjalan. Ia tidak peduli untuk menjadi imut atau apa. Yang ia pikirkan, ia tidak mau memandang mata pria ini lebih lama.
Rasanya seperti... seakan mengerti perasaan tomat merah yang kelewat matang. Dira tidak tahu kalau wajahnya lah yang samar-samar seperti tomat.
“Mau makan atau tidak?!” Dira melangkah lebih cepat, “Kalau lama, tidak ada traktir!”
Tawa manis itu bahkan tidak bisa dilewatkan oleh sesama pejalan kaki. Pedestrian open space kota ini seakan tidak cukup banyak orang. Dira saja tidak menyalahkan mereka. Kucing dan rambut setengah keriting berantakan milik Nanda, kombinasi yang... sesuatu.
Pria ini tampak ramah dengan larian kecilnya yang mengejar Adira, “Jahatnya Dira~ Suka banget motong waktu PDKT kita~”
“Terserah.”
Keduanya masih berjalan. Namun⏤wah⏤jantung Dira hampir saja meloncat. Wajah pria ini tiba-tiba menyelip di layar pandangan Adira yang lurus.
Seakan ia tidak butuh melihat jalanan, Nanda memamerkan wajah tenang, “Need me to do something for you?”
Lagi-lagi harus diam di tengah umum. Ia pun tahu apa maksud Nanda.
Wanita ini tidak akan menangis. Namun itulah kenapa orang menyebutkan roda terus berputar. Meski ada masalah besar, Adira harus mengganti rodanya sendiri agar bisa berputar.
Dan pria yang berdiri di depannya itu mengkhawatirkan bagaimana cara Dira memutarnya.
Ia tidak punya alasan lagi untuk menyingkirkan simpati Nanda. Mau bagaimanapun, Ananda adalah salah satu pekerjanya yang terkena dampak kelalaiannya.
“Panca bisa bertahan paling lama satu tahun.”
Nanda tentu terkejut akan hal ini. Tetapi, dari banyaknya kejadian yang seakan dituangkan oleh takdir, ia rasa itu masuk akal.
Berat hati, ia harus menerima keadaan itu.
Kembali pria ini bicara, “Any ideas?”
Keputusan ini memang tidak mudah, tapi tidak mustahil dilakukan bila ingin mempertahankan Pancarona. Tak terkecuali dari klien yang tidak mau merugi.
“Cepat atau lambat... banyak yang harus di PHK.”
“Kenapa? Memang serugi itu sampai tidak ada dana sama sekali?” Nanda berusaha memasukkan otaknya ke dalam masalah ini.
Adira lebih dari paham bila pria ini tidak menangkap segawat apa keadaannya, “Anda benar saya mampu menyelesaikan masalahnya. Tapi bukan berarti itu bagus. Anda mau apa? Mau saya memotong gaji karyawan? Itu sama saja saya seperti Danwar.”
“Kalau begitu potong saja dulu. Yang lain paham aja kan kalau dibilangin?”
Tidak habis pikir Adira, “Orang-orang bekerja mengharapkan feedback yang sesuai dengan kesepakatan, Ananda. Mereka pasti menuntut kalau kurang dari itu.”
“Tidak, percaya aku. Mereka pasti lebih milih dipotong sementara dari pada dipecat.”
Adira tak senang, “Tidak ada yang⏤”
“Kalau gitu, coba tanya pendapat dulu. Kalau mereka memang mau keluar, biarin. Tapi kalau mau tetap, jadi enak kan?”
“Ananda.”
“Dira... percaya sama aku.”
Lagi-lagi, apa Adira akan mengikutinya kali ini?