The Childish And The Beast

The Childish And The Beast
#23 Bekal



“Kalau begitu, saya akan jabarkan lagi,” Daffa merapikan tumpukan kertas yang ia pegang, “Hari ini ada lima projek baru. Untuk pembagiannya. Proyek pak Wandi ditangani tim empat. Bu Jian....”


Kata perkata yang keluar dari lelaki ini, masih bisa Adira tangkap dengan mudah walau ia mengetik di luar konteks. Hari kerja untuk kali ini pun masih menumpuk permintaan dari mana-mana. Sibuk dan padat seperti biasa.


Lelaki ini melanjutkan laporannya kepada sang tertinggi di Pancarona ini, “Saya pastikan semuanya siap untuk besok. Dan untuk perkembangan Taruna, masih normal berjalan seperti biasa. Tim Virda akan langsung monitor langsung ke sana siang ini. Itu saja.”


Adira menghentikan tangannya, “Apa ada masalah di luar proyek?”


“Pak Danwar masih sama,” wajah Daffa tidak tenang, “Bu Hana katanya mau ambil cuti lebih cepat gara-gara hamilnya.”


Wanita ini pun tidak mendapatkan apapun dari topik yang dimasalahkan.


“Oh iya,” Daffa teringat sesuatu, “Tadi pagi, Ananda....”


Banyak sekali laporan yang Daffa sampaikan yang berkaitan tentang pria berpikiran bebas itu.


Adira tidak ingin banyak memperdulikannya, tapi tampaknya tidak dengan Daffa. Pada akhirnya Adira mengambil keputusan kalau Daffa itu tidak menyukai Nanda sampai semua keburukannya perlu dilaporkan.


Lalu apa lagi yang akan disampaikan Daffa kali ini?


“Ada apa lagi? Katakan saja langsung,” Adira menyadari dengan jelas keraguan Daffa yang biasa.


“Pak Virendra menemui Nanda tadi pagi.”


Wanita ini tidak bisa tenang. Matanya melotot sesaat dan semuanya tampak remang-remang di pikiran itu. Sudah cukup buruk ia menerima perlakukan yang dibuat oleh Virendra. Dan baru saja juga dia menutupi kekacauan yang lalu.


Kali ini apa lagi? Target mengerikan apa yang akan dipancingnya lagi?


Adira bisa menangis lagi hanya dengan memikirkan berbagai spekulasi itu.


Namun tidak, tidak akan, “Apa yang dia lakukan?”


Daffa memilah-milah lagi berkas apa yang perlu Adira sendiri tangani, “Beliau... menemui Nanda di parkiran Panca. Saya rasa beliau tidak suka Nanda dekat dengan anda.”


Ekspresi terganggu itu jelas di wajah, “Apa maksudnya⏤”


TING!


Suara singkat yang tinggi itu keluar bersamaan dengan kedipan lampu di satu sisi telepon meja. Membuat Daffa memandang Adira sesaat, dan akhirnya tangan itu meraih satu tombol.


“Ada apa?”


[“Permisi pak Daffa, ada yang mencari bu Adira di resepsionis.”]


Adira berhenti memikirkan hal lain dalam beberapa detik. Otaknya mempertanyakan sosok siapa lagi yang mengetuk masuk ke lingkungan yang ia jaga ini?


“Siapa?” wanita ini tidak mau membuang waktu untuk berpikir.


[“Emm... katanya beliau bapak anda, bu Adira.”]


Tidak ada kata lain yang bisa menggambarkan keadaan Adira selain tidak percaya. Gelombang kejut yang ia terima dari pendengarannya itu, tidak bisa menipu pemikirannya yang buntu.


[“Bu Adira, apa perlu saya antarkan beliau ke ruangan anda?”]


Bukannya lebih baik ia yang mengamatinya dengan matanya sendiri? Lagipula, Adira tidak punya kepercayaan cukup agar bisa menggelar karpet merah masuk ke dalam Pancarona, untuk lelaki ini.


Ia memilih untuk memotong pitanya sebelum tamu tak diundang itu masuk.


“Tidak. Saya ke sana,” Adira akhirnya menutup panggilan itu selagi ia berdiri, “Tolong selesaikan kumpulkan berkas yang perlu saya tangani. Setelah itu urus pembagian proyeknya.”


“Baik, bu.”


Daffa yang masih bertahan di sana menjalankan apa yang dikatakan. Sedangkan heels rendah berwarna peach itu melaju konstan ke depan. Anggukan, sapaan, harus dilewati dari kerumunan orang yang mendapatkan dana hidup dari Pancarona.


Cepat melaju, tapi ia tidak menantikan atas kedatangan dirinya sendiri di depan sana. Resepsionis sudah hanya dua meter darinya.


“Bu Adira,” pekerja di meja resepsionis itu berdiri menyambut atasannya. Ia menunjuk ke satu arah, “Beliau di sana, bu.”


“Terima kasih,” penampilan tak menarik dari wanita ini, jelas semakin dekat ke ruang tunggu tamu yang terbuka itu.


Kepala seseorang yang ia yakini siapa, sekarang sudah Adira hadapi. Begitu pula pria ini, memutar kepalanya memandang seseorang yang pernah jadi anak angkatnya.


“Bisa cepat katakan urusan anda? Saya sibuk,” Adira melipat kedua tangannya di depan.


Pria ini berdiri, “Jangan gitu. Ayah cuma mau bawakan bekal buat kamu. Ibu sama ayah yang bikin loh.”


Sang anak menghela nafasnya, “Saya bisa mengurus makanan saya sendiri. Katakan pada ibu untuk tidak perlu merepotkan diri.”


Ayah satu ini tidak habis pikir. Bagaimana bisa, anak sulung kesayangan dari mantan istrinya ini, tidak bisa melihat kebaikan orang lain. Tidak ada yang salah dari menerima saja, kan?


“Kamu harus lebih bisa hargai usaha orang.”


“Saya ambil, sudah kan?” wanita ini menerima tas yang dirancang khusus untuk kotak bekal, “Anda bisa pulang sekarang.”


“Dira, banyak orang di sini. Kalau kamu kelihatan kasar sama ayah, nanti anak buah kamu mikirnya apa?”


Kalau bisa meremehkannya dengan suara keras, Adira akan melakukannya. Meski ia tidak mau ribut, tentu bukan tentang memperhatikan pendapat orang.


Sejak kapan Adira memikirkan pendapat orang? Ia akan melakukan apa yang perlu tanpa memikirkan hal rumit seperti itu. Hatinya dan hati orang lain tidak perlu selalu terhubung. Dan dalam hati Adira, rasanya berat mendapati pria ini ada di sini.


Ribut-ribut? Adira rasa itu bisa saja, kalau pria ini tidak kunjung pergi.


“Lebih tenang kalau anda pergi sekarang,” Adira bersiap untuk pergi, “Saya serius.”


“Heeeeh..., kamu masih belum bisa percaya sama ayah ya?” senyumnya yang perih ia pamerkan bersamaan dengan gesturnya yang bersiap untuk pergi, “Mau gimana lagi, kamu benar sibuk sih. Ayah pulang dulu.”


Adira bisa bertenang hati untuk saat ini. Orang ini sungguh pergi tanpa mengelak sama sekali. Namun masih banyak hal baru yang perlu ditangani dengan tatap muka langsung. Ia tidak bisa berdiri diam saja di sini.


Seperti bekal ini. Kurang bersyukur, Adira rasa bukan itu masalahnya. Hanya saja, sepertinya terasa mual saat memikirkan pria itu. Jarang sekali, Adira bisa merasakan dirinya tidak nafsu untuk memakan apapun.


“♪Hati~ku sakit~ Saat kulihat dirinya~ Membawa bekal yang bukan untukku~♪”


Dan telinganya akhirnya menemukan, Nanda mulai melantun tidak jelas.


“Berisik lu, Nan!” Omar yang tidak mau tahu lagi, mulai membuli junior kerjanya ini, “Maaf bu. Dia lagi lapar.”


Wajah yang tampan dari Nanda ini tidak bisa berbalik dari Adira. Ia tersenyum layaknya menatap wanita yang mempesona di hati dan tidak bisa lepas akan hal itu.


Namun mata itu memberikan pemikiran lain bagi Adira. Sebesar itu laparnya Nanda?


Sangat kebetulan, bukan begitu?


Tas bekal itu dipindah tangan dari Adira ke meja makan yang ada di antara ia dan Nanda, “Kalau begitu silahkan.”


Nanda terkejut bukan main. Ditambah lagi Omar yang pada dasarnya sudah mengenal bos ini sejak di bangku sekolah. Perlakukan tak terduga ini ternyata bisa dipancing oleh sikap tidak rasional milik Nanda.


Apakah dunia sudah terbalik dengan langit di pusat bumi?!


“Masakan Dira?!” Nanda malah bersemangat menerima tas bekal itu.


“Bukan.”


“Terus? Dari siapa?”


“Seseorang yang bisa masak.”


Detik satu saja sudah membuat bingung, detik kedua semuanya malahan semakin bingung. Namun bukan Nanda namanya kalau dia tidak menanggapi segala hal dengan senyuman.


“Ok, thanks~” Nanda membuka tas bekal itu.


Sebaliknya, Omar berusaha menghentikan Nanda, “Bu, gak usah urusin dia, bu.”


“Tidak,” Adira langsung menanggapi, “Saya tidak lapar. Makanya lebih baik Ananda yang makan daripada basi.”


Nanda kebingungan, “Kenapa? Problem?”


Adira tentu akan menerima menanyakan itu, tapi tentu bukan kewajibannya untuk menjawab. Terlebih lagi....


“Ngomong-ngomong. Tentang anda bertemu seseorang, pagi ini....”


“Ketemu orang? Oh, mantanmu?”


Lagi-lagi, tanpa filter pria ini berbicara. Mulut Omar sudah tidak bisa tertutup lagi.


“Tidak, lupakan. Silahkan menikmati makanannya,” Adira memilih untuk pergi dari pada menjawabnya.


Membuat kedua pria OB ini terdiam tidak tenang. Ditambah lagi Omar.


“Kamu mulai apa lagi sekarang?!” Omar memberikan pandangan tak ramah ke arah Nanda.


“Apanya? Kan tadi ditanya-in, ya dijawab dong!”


Pria ini hanya berharap keselamatan juniornya. Sampai ke otot, kelelahan merajalela. Membuatnya berpikir ia ingin mencari makan untuk dirinya sendiri.


“Serah deh! Gak mau tahu,” ia beranjak pergi, “Mau ke minimarket, nitip gak?”


“Permen karet! Thanks.”


Di sela makan siang itu, terendap pikiran. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Dira dan Virendra?