The Childish And The Beast

The Childish And The Beast
#20 Bila dan Akan



Satu bulan. Tiga puluh hari. Hari yang tujuh dikali oleh empat minggu.


Lama, dan tak lama. Proyek yang didebatkan dan diperebutkan ini akhirnya bisa stabil. Dan sosok yang bertanggung jawab itu sudah sangat yakin semua akan baik-baik saja.


Maka minggu ini ia berencana untuk melepaskan semua perkerjaannya. Penat yang dilepas dengan menjauhkan justru satu lembar saja. Bisa jadi pameran interior menyalakan dirinya.


Tidak sesuai dirinya, ia masuk ke kerumunan pusat perbelanjaan.


Cukup hanya sendiri, ia melangkah pasti ke aula mall yang ada di tengah-tengahnya. Brosur, spanduk, bahkan speaker mall sudah membicarakan event ini.


Tidak bohong, Adira bersemangat dengan wajah yang tak berbeda dari biasanya.


Satu, dua, tiga. Berjam-jam sudah berlalu hanya melihat berbagai desain dalam berbagai corner kecil.


Banyak angan dan ide berselancar. Ia hanya memilih untuk menggariskannya di buku kecilnya. Namun, waktu berjalan. Wanita ini perlu beranjak untuk sekurang-kurangnya makan siang.


‘Hari ini mau makan apa ya?’


Pikiran Adira yang masih terbagi. Variasi yang tidak kunjung kurang tentu membuat bingung wanita yang ‘mengagungkan’ makanan ini.


Ia terdiam. Bukan karena bingung, tapi karena telinganya bersenandung suara seseorang.


Tak luar biasa, tapi panggung itu masih lebih tinggi dari titik lantai mall. Menarik mata satu dan mata yang lain. Ke satu titik, Ananda yang bernyanyi.


Kaku perilaku Adira memang tidak sepasang dengan Nanda. Bumi dan langit jauhnya bila ditanya. Namun kiranya bumi bisa menatap langit, dan langit menyelimuti bumi. Wanita ini dapat menjamin bila suara Nanda tidak mengecewakan.


Ia menikmatinya meski ia menunggu di samping panggung.


Ananda yang baru turun panggung dengan tiga lagu. Binar dan semangat hatinya mendekati si bos.


“Senangnya~ Bisa lihat Dira pas libur~”


“Jangan mulai.”


Nanda tertawa kecil, “Ada yang dikerjain?”


“Mengunjungi pameran,” Adira memilih langsung ke inti tujuan ia menunggu di sini, “Apa anda luang? Saya ingin pergi makan siang. Anda mau ikut?”


Terdiam Nanda tidak mempercayai telinganya. Dipaksa bagaimanapun, Dira adalah tipe wanita yang jarang tersenyum, berlebihan bila ajakan itu sering keluar dari mulutnya.


Nanda memainkan jari di dagunya, “Biar aku tebak, bukan kencan?”


“Bukan.”


Tampak sesuatu kalimat muncul ke atas tumpukan pikiran pria ini, “Hoh! Apa karena Dira terharu dengan nyanyianku?”


“Anda mau ikut atau tidak?”


“Kenapa tidak mau?” Nanda menyimpangkan tas ransel satu tali itu, “Aku kan harus tahu alasan yang tidak kencan itu apa.”


Adira memutar matanya, “Karena anda menemani saya ke rumah pak Hadyan kemarin.”


Teleng kepala Nanda kiranya ia tersenyum, “Cuma itu.”


“Cuma itu,” tidak senang-senang, wanita ini melaju ke kumpulan orang yang menelusuri mall, “Ayo.”


“Makan di mana kita~” ia masih saja menggoda bos-nya ini, “Restoran bintang lima yang memang buat dua orang?”


Dira memang bisa membiayai untuk dua orang makan ke tempat mewah. Namun daripada tampaknya membangun suasana yang akan dicanda oleh pria ini, Dira lebih baik memilih membawanya ke tempat anak-anak.


Tempat yang hari ini banyak dipilih oleh banyak orang tua....


“Pizza Jame,” menentukan sudah langkah beraninya.


“Yah...,” sekeras itu tawanya ditahan, “Gak romantis banget.”


“Itulah tujuannya.”


“Aku ditolak lagi kah~?”


“Iya.”


Air conditioner yang tidak tampak di dinding mall. Dinginnya menyertai tangan Nanda yang memilih mengancing kemejanya selagi murah akan tawaan. Buku pendamping yang masih ada di tangan Adira tetap tidak tergoyah dengan langkah yang semakin tangguh.


Hening itu membuat Adira memasukkan bukunya. Sedangkan mata hitam mengkilap satu lelaki ini memandang dari ujung rambut si Adira.


Kembali tas selempang macrame ke belakang tubuh Adira, “Tidak adakah yang bisa anda bicarakan selain hanya melihat ke saya?”


“Dira manis, gimana dong?”


“Apa lagi sekarang?”


“Apanya?”


“Anda tahu kan hanya anda saja yang mengatakan hal-hal seperti itu pada saya.”


“Tolong bereaksi seperti orang normal lainnya. Untuk apa juga anda kekanakan seperti itu?”


“Dira yang tidak percayaan~ Kan sudah aku bilang aku suka Dira. Ini reaksi yang sangat normal.”


Adira merasa salah langkah. Ia batuk sedikit dan mengatakannya dengan jelas, “Anda benar. Tidak seharusnya saya menanggapi. Normal anda adalah tidak masuk akal bagi saya.”


“Ye, bener kok. Buktinya ibu selalu pakai baju pink. Imut gak sih~?”


Dira, ia memandang bajunya sendiri. Ia sebenarnya tidak memperhatikan baju apa yang dikenakannya. Hiasan bunga kecil itu berwarna baby pink yang manis. Namun pada dasarnya baju itu putih.


“Terima kasih, saya pastikan tidak akan menggunakan warna pink lagi.”


Nanda merengut, “Ye, yang orang bilang jangan didengerin. Hidup bukan cuma bikin orang lain yang senang~”


Ucapan apapun tidak ada yang keluar dari mulut si perempuan. Kali ini Nanda mengeluarkan kalimat yang bukan main-main. Ia setuju.


Wanita ini bersyukur sudah sampai ke tujuan.


Sungguh rekomendasi untuk tempat makan anak-anak. Banyak orang tua yang membawa anak dibawah umur, bebas berlarian bahkan di pintu masuk. Adira memilih untuk ke balkon yang terbilang lebih sepi.


Keduanya memilih topping yang disuka. Dan menunggu, meski hening di tengah keseluruhan ramai restoran pizza itu.


“Berhenti memandangi saya,” Dira memilih bermain dengan buku dan pulpen gambarnya.


“Tidak mau~”


Dira menghela nafas dan melanjutkan corat-coretnya. Ia berpikir beberapa saat hanya untuk mencari topik yang bisa dibicarakan.


Oh.


“Apa anda memang bekerja banyak?”


Mulutnya terbuka sedikit di sela punggung tangan itu menumpu dagunya dengan anggun, “Aku bakal setia sama Pancarona kok~ Tenang~”


“Bukan itu yang saya maksud. Saya hanya pikir kalau anda punya pekerjaan di mall, anda bisa jadi bentrok dengan jadwal yang lain.”


“Cuma kerja sekali panggil kok. Kerjaanku semuanya bukan kontrak panjang kayak Panca.”


“Semuanya bersangkutan dengan musik?”


“Karena aku bagusnya di sana?” Nanda menangkap masalah lain, “Apa Panca tidak boleh begitu?”


“Tidak. Tidak ada ketentuan seperti itu di kontrak kerja.”


Nanda menumpuk kedua tangannya beserta pipinya di meja, “Tapi, kalau mau fokus jadi penyanyi. Kayaknya aku harus keluar Panca deh. Ya kalau dana buat rilis udah ke-cover.”


Adira tentu punya hati lebih dari yang bawahannya kira. Ia merasa sangat puas dengan pekerjaannya yang berhasil ia bawa menurut hobinya. Namun banyak yang tidak seberuntung ia. Termasuk pria ini.


“Jangan menyusahkan diri sendiri. Kalaupun anda sukses rilis, bukan berarti anda bisa bertahan,” Adira menghela nafasnya.


Yang iakatakan, menggambarkan jelas tentang Pancarona. Tempat yang ia bangun dan pertahankan sampai sekarang.


Jujur, Nanda tidak suka cara pikir Adira kali ini.


“Siapa tahu, sekali rilis, anda akan langsung jatuh. Berhasil debut bukan berarti tidak ada masalah lagi. Saya sering dengar penyanyi berhasil membuat satu lagi trend, tapi tidak terdengar setelahnya. Persaingan bisa sangat... Tidak terduga. Apalagi anda.”


“Your point is?”


Adira menangkap suara Nanda yang tidak santai seperti biasa. Itu terdengar aneh. Layaknya melihat anak kecil penyemangat yang tiba-tiba murung. Canggung, tapi masih dilanjutkannya pembicaraan oleh Adira.


“Misalnya, qnda tetap kerja di Pancarona. Lalu Pancarona menyokong di hobi anda. Mungkin bisa bantu seperti pendanaan rilis. Jadi anda masih punya pekerjaan walau bagaimana hasilnya nanti,” Adira terjeda, “Masih... misal. Bagaimana menurut anda?”


Mata Nanda terbuka, tidak bisa marah padanya. Bukan, hati kecil Nanda malah tersentil. Ia seakan sadar telah diberi advice berdasarkan kekhawatirannya wanita ini.


Ini memang hanya keinginan pribadi Adira. Dan ini hanya sebuah sketsa tidak tentu dari buah pikiran Adira. Tidak lebih dari pendapat yang dikeluarkan pertama kali ke orang lain. Yang ternyata orang pertama yang mendengar adalah pria bebas ini.


Adira tidak menyukai perubahan ekspresi Nanda yang layaknya mendengar hal bodoh, “Silahkan. Ejek saja lebih baik daripada anda diam seperti itu.”


“Aku tidak ngejek,” Nanda memiringkan pandangannya, “Gimana ya bilangnya... terima kasih?”


Lagi-lagi ia tak paham, “Untuk?”


“Kalau Dira, benar-benar mau bikin gitu, aku bakal ke-bantu banget,” ia mencondongkan kepalanya, dan tersenyum, “Please do that. Thank you~”


Dira lagi-lagi membisu. Ia memilih untuk kembali bermain dengan pulpen dan kertas selagi menunggu pesanan yang tak kunjung datang.


“Aa, Adira!”


Wanita ini menyadari seseorang yang berhenti di sisi meja.


Tersentak ia sampai berdiri, “A, ayah?”