The Childish And The Beast

The Childish And The Beast
#40 Ia di Saat Terendahnya



“... ra....”


“... bu ... ra....”


Tidak ada yang bisa meluncur masuk dengan bebas bila ada sesuatu yang difokuskan. Seakan mengakar dan tidak peduli dengan angin.


“... bu... dira....”


“... bu... Adira....”


Namun bila angin itu cukup kuat, bahkan beton bertulang yang bertumpu kuat di dasar permukaan tanah pun bisa dihempas rata. Daffa harus memanggil bosnya lebih keras. Ini bukan saatnya untuk berdiam karena waktu tidak menunggu.


“Bu Adira!”


“Ya? ... ya?” dan wanita ini akhirnya terlepas dari borgol lamunan.


Untuk saat ini.


Adira memperbaiki posisi duduknya, “Maaf. Sampai mana tadi?”


Masuklah saat sekretaris ini tidak melihat keadaan itu baik, “Anda tidak apa? Apa anda sakit?”


“Ya? Tidak. Tidak apa,” Adira memperbaiki ekspresi wajahnya lebih baik agar Daffa tidak membicarakannya lagi, “Kita lanjutkan. Apa ada masalah lain tentang proyek pembaruan?”


Daffa menarik nafas. Tentu saja, dia tahu wanita ini membangun pagar berduri yang sangat tinggi. Ia rasa ia harus membiarkannya dulu untuk saat ini.


“Semuanya tidak ada masalah. Semua kelompok melakukan bagiannya dengan baik seperti yang didiskusikan kemarin. Tapi... waktunya semakin mepet. Saya takut ada klien yang tidak puas lagi.”


“Awasi sampai besok. kalau masih banyak progres yang di bawah delapan puluh persen, kita langsung brainstorming sama-sama. Pastikan lusa, kita evaluasi lagi buat semua proyek.”


“Baik, bu.”


“Ada lagi? Danwar?”


“Tidak ada kelihatan sama sekali. Kak Fares akan siapkan pengadilannya, kemungkinan minggu depan sudah dapat surat pemanggilan.”


Adira menghela nafas. Masih banyak sekali yang ada di piringnya.


Lain sisi, lesu ekspresi itu tidak bisa luntur sampai Nanda pun menyadarinya.


Ia tahu tambatan hatinya ini sangat tertekan oleh banyaknya hal buruk yang menimpa Panca. Karena sebanyak ia bertemu pandang dengan wanita ini, pria ini layaknya tidak ada di matanya.


Tiga hari sudah berlalu sejak ia bicara dengan Dira di cafe. Namun ia tidak menangkap semangat yang sebelumnya. Seakan wanita ini dibawa ke atas dengan harapan, dan ia dihempaskan oleh sesuatu yang tidak Nanda tahu.


Nanda menjauhi pintu kantor Adira.


‘Apa harus kulakukan sesuatu?’


...◇ ◈ ◇ ◈ ◇ ◈ ◇ ◈ ◇...


Adira menghela nafas yang lelahnya. Meletakkan dengan sementara runyam dan lelah di kursi mobilnya.


Kerusakan yang Danwar sebabkan di banyaknya proyek memang membuat klien marah tempo hari. Dan Adira mau tidak mau menawarkan jasa desain lainnya dengan cuma-cuma. Namun tetap saja banyak klien yang tidak puas dengan desain gratisan itu.


Sungguh perdebatan panjang yang melelahkan. Perlu banyak waktu dan tenaga, but she guesses it’s done. Semuanya... beres. Selesai.


Tamat....


“Bu?”


“Y, ya?”


“Itu, bu, ada....”


Ada? Apa?


Sopir itu sudah ada di luar mobil, bicara dengan Adira dari jendela mobil. Suara deras hujan membuatnya memilih membuka sedikit jendela selagi payung pak supir ini terbuka.


Pak supir baru saja membuka pagar rumah Adira. Untuk mengantarkan sang bos ke dalam halaman rumah yang teduh. Akan tetapi ia menemukan seorang pria.


Dia berdiri diteduhi atap tritisan yang tidak lebih dari lima puluh sentimeter. Atap itu memang tidak terlalu memberikan teduhan untuk orang, tapi Nanda memaksa berdiri di depan pagar rumah Adira.


“Ananda?”


Pak supir yang sudah kembali masuk ke mobil, mengendarai masuk ke dalam halaman.


Wanita ini menuruni mobilnya, “Ada apa?” Adira menghadapi pria yang tidak tahu menahu sudah masuk ke pagar yang terbuka.


“Kenapa malam-malam?” Adira membawa sepatunya ke rak sepatu di lemari yang menyatu dengan dinding, “Ada masalah apa?”


“Kenapa datangnya saya dianggap sebagai pertanda buruk seperti itu~ Hatiku sakit~♪”


Adira menghela nafas, “Tolong katakan saja langsung apa urusan anda. Saya sudah lelah.”


Nanda tersenyum sendu. Seakan ia ingin tetap happy di depan wanita ini, tapi ia tidak bisa tenang dengan semangat Adira yang redup.


Ia mendekat sampai ke ujung teras yang bersih, “Karena hujan~?”


Dira sungguh harus berhadapan dengan pria ini? Benar-benar harus sekarang?


“Bu, saya langsung permisi,” tidak dengan Nanda, pak sopir ini memilih menembus hujan dengan jas hujannya.


Adira berhasil membuka pintu, “Hati-hati, pak,” ia kembali ke Nanda, “Bisakah kita membahas ini besok? Harinya sudah malam.”


“Ananda.”


“Dira~”


Wanita ini menghela nafas, “Anda tidak akan pergi walaupun saya usir kan?”


“Ti~dak~”


Hujan yang makin deras dengan semakin hilang suara kendaraan bapak itu. Dira mengiyakan akan angin dan kencangnya hujan malam ini. Wanita yang Nanda anggap manis ini sungguh tidak punya hati untuk mengusirnya.


“Masuklah,” Adira memasuki rumah lebih dahulu.


Nanda tersenyum. Ia melepas sepatunya. Masuk dan menutup pintu.


Adira yang sudah sempat melepas blazer-nya, mengulurkan handuk kecil ke Nanda yang sedikit basah.


“Trims,” Adira menerima handuk itu dan membersihkan wajahnya.


Dira duduk di sofanya, “Anda ingin menanyakan tentang honor anda yang diraup Danwar? Memang masih butuh waktu, tapi sebentar lagi dia pasti bertanggung jawab. Tolong tunggulah sebentar.”


Nanda tertawa, “Aku ke sini, bukan buat itu.”


“Lalu?” Adira masih tampak sibuk dengan pekerjaan yang ia bawa pulang.


Pria ini tahu, dia selalu sibuk. Namun tatapan Adira yang kosong, membuat Nanda tidak bisa diam.


Ia duduk di samping Dira. Membungkukkan diri ke depan, merendahkan pandangannya untuk melihat wajah sang wanita yang terus menunduk ke tumpukan kertas.


Adira menyadarinya, terganggu, “Bisa katakan apa keperluan anda?”


“Apa terjadi sesuatu?”


Dira tidak mendengarkan, “Tolong langsung katakan saja apa yang anda inginkan.”


Hmm? Tangan pria ini menyentuh kepala Dira. Sungguh mengejutkan.


“Aku mau lihat Dira nangis,” sendu itu masih ada di wajahnya, “Biar aku gak khawatir.”


“Ke, kenapa saya harus menangis?!”


“Mata Dira kayak maksa biar gak nangis.”


“Saya tidak akan menangis!!”


“Terus, kenapa Dira marah?”


Wanita ini diam.


Selama ini ia selalu tenang dan bersikap rasional. Namun kali ini ia juga sadar ia terlalu emosional.


“I’m here.”


Adira memandang pria ini.


Nanda tersenyum, “Gak papa. Nangis gak salah kok.”


Dia bisa saja mengatakan itu. Namun Dira? Orang ini menyuruhnya menangis? Apa-apaan?! Itu tidak akan terjadi walau keluarganya sendiri yang menyuruhnya⏤lucu sekali pemikiran itu masuk ke kepala Adira.


Secara teknis, ia sudah tidak punya keluarga lagi. 


Ditolak oleh orang tua sendiri, membuatnya tak berkutik.


“Kan?” Nanda masih memandang wajah Dira yang menunduk, “Dira kayak mau nangis.”


Dira menarik nafas, “Tidak apa. Tidak ada masalah.”


“Nangis aja.”


“Ananda! Cukup!”


Suara itu terdengar lebih menggelegar dari petir yang menyusul. Berdiri di depan Nanda seakan marah akan itu. Adira sungguh muak dengan Nanda yang memaksanya untuk melakukan hal yang tidak Adira mau.


Namun, kenyataannya, air mata Adira sungguhan mengalir.


Tangan itu tidak tahu menahu digenggam Nanda, “It’s OK.”


Dira menggeleng. Ia tidak mau mengakui bahwa ia sedang menangis. Apa lagi di depan orang lain.


Layaknya ia menunjukkannya sendiri bahwa dia lemah.


Adira menarik tangannya. Berjalan cepat meninggalkan pria ini. Menaiki tangga yang jelas terlihat dari posisi sofa itu.


Membuat mata Nanda terkunci, ke mana wanita ini bergerak. Lantai dua yang terlihat jelas dari lantai satu membuatnya tahu ia masuk ke satu ruangan.


Dira membelakangi pintu. Kamarnya adalah tempat pertama yang ia pikirkan untuk bersembunyi.


“Hik...,” tangisannya sungguh pecah.


Lemas, wanita ini menangis tersedu-sedu di belakang pintu, Duduk ia bersandar di sana.


Nanda sendiri? Sudah sampai langkahnya di depan pintu itu. Ia duduk di sisi pintu sebaliknya. Menunggu sampai suara tangis itu reda.