
Angin yang liar di kala Adira memandang ke arah gelap awan. Hanya punya satu tujuan, menunggu pria yang membuat janji di pesan sebelumnya. Mau bagaimana pun, sang ayah ini sudah berjanji akan menjemputnya dan mengajaknya makan malam.
Dua kali, ia merasa kali ini akan sama saja seperti kemarin siang. Pasalnya dihubungi lagi pun tak dijawab. Gedung yang sepi menendang kesadaran Adira akan watu.
“Lama?”
Wanita ini memutar pandangannya. Ia tahu siapapun itu, orang ini mengajaknya untuk bicara. Pandangan itu seketika menjadi kemarahan.
Ruang terbuka, yang tampak jelas dari luar dinding kaca Pancarona ini, sungguh menjadi tempat terburuk untuk Adira kali ini.
“Untuk apa anda di sini?” Adira sudah berdiri di samping pria ini.
Viren tersenyum mengikuti alur pembicaraan layaknya ia sukses memberi kejutan, “Jemput kamu, biar kamu bisa pulang, apa lagi?”
Terdiam kebingungan. Namun ia kembali duduk, “Yang menjemput saya bukan anda. Tidak perlu berbohong.”
Sebelum ia menyadari, Viren sudah menunduk. Bersamaan dengan satu tangannya menahan beban sendiri di sandaran sofa yang diduduki Adira. Tubuh tinggi Viren membuat wajahnya dengan mudah memandang Adira yang tidak bergerak.
“Sepertinya kamu kelewatan sesuatu,” Viren tahu wanita ini akan terkejut, “Ayahmu yang suruh aku ke sini jemput kamu.”
Lintasan perkiraan pria ini tidak salah, Adira sungguh dibuat terpaku. Wajah itu memandang mantan kekasihnya ini.
Kolaborasi apa lagi yang mereka berdua ciptakan? Roda sungguh berputar dengan cepat dan berhenti dengan sisi yang tidak terduga. Bagaimana bisa mantan pacar dan mantan ayah, menjadi bisa sangat busuk seperti ini?
Namun, istilah taman yang berbunga kembali, tidak ada di kamus di tempat bernama hati Adira. Lebih baik ia ada di sisi roda paling bawah dan ditekan oleh penumpangnya.
“Terima kasih atas pemberitahuannya. Saya bisa pulang sendiri dengan lega. Permisi,” Adira kembali berdiri dan pergi.
Virendra, pria yang selalu mendapatkan apa yang ia inginkan ini, terhentak dengan jawaban Adira. Namun, tawanya tetap menunjukkan ketertarikannya.
Ia mengikuti wanita ini. Pintu yang terbuka dan area dropout yang mulus. Mobil yang masih standby di sana terbuka saat Viren ikut keluar. Namun keduanya melewati.
“Lalu, kamu mau jalan kaki?” tawa mengejek Viren.
Adira tidak mau memilikikan bagaimana ia pulang. Sebelum orang ini hilang dari pandangannya. Ia akan terus berjalan menelusuri taman sampai hal itu tercapai.
“Bukan permasalahan anda. Pergi saja temui pacar-pacar anda,” lirikan sinis menerpa pria itu, “Atau sekretaris anda.”
Viren tertawa senang, “Sudah aku duga, kamu masih cemburu kan?”
“Ya, saya cemburu dengan anda,” Adira tak bisa menahan amarahnya dan memilih untuk berhenti, “Anda adalah pria tidak tahu diri yang hanya bermain-main dan semuanya sudah berjalan baik. Dan itu masih kurang bagi keegoisan anda!”
Benar saja. Langkah Adira untuk melupakan kemanisan antara mereka berdua, mengubah pandangannya terhadap Viren. Dan itu semakin buruk semakin hari.
Kali ini sungguh Virendra dibuat ikut mendidih. Menggenggam tangan Adira.
“Apa yang anda lakukan?”
Viren terdiam dengan marahnya. Membuat Adira ingin melawan lebih.
“Lepaskan!”
Sekuat apapun Adira mencoba, genggaman kokoh itu tidak mau lepas. Hening itu semakin menampakkan kemarahan Viren⏤yang sebenarnya hanya mengamati wanita tidak berkekuatan ini mencoba melarikan diri,
Adira dibuat marah, “Lepaskan tangan anda!”
Viren tertawa, “Kamu harus dengerin orang. Dasar⏤”
“Lepas.”
Terkejut keduanya dibuat. Layaknya suara gemuruh di antara awan yang belum menangis itu. Nanda mengejutkan, sudah ada di antara mereka.
Balasan cengkeraman kuat itu Nanda lancangkan di pergelangan Viren. Kejut dan perih itu membuat Viren sungguh melepas Adira. Nanda berdiri di depan Adira selagi memberi jarak pada Viren.
Sempat kesakitan, Viren akhirnya bisa kembali berdiri tegak, “Kamu belum paham juga posisi kamu⏤”
“Aku OB, Dira bos, dan kamu cowok g*bl*k yang gak bisa move on. Iya, paham!”
Ucapan Nanda yang lagi-lagi tidak terduga. Namun Nanda tidak berhenti.
“Bu bos,” Nanda berbalik ke Adira, “Bu bos sama dia punya keturunan?”
Kejutan di atas kejutan. Ucapan kali ini sungguh di luar nalar!
“Orang kayak aku gak mungkin ada hubungan kayak gitu sama Dira! Perhatikan siapa yang kamu ajak ngomong!” Viren sungguh naik pitam.
“Bilangnya gitu. Tapi masih ngejar mantan. Anakmu gak di sini, pak ayam jago!”
Bukannya marah, Adira tampak lebih terhibur. Nanda menangkap wanita ini menahan tawanya.
Viren tertawa meski alisnya mengatakan atas kemarahannya, “Bosmu itu yang gak bisa kalau gak ada aku. Buktinya sekarang dia gak tahu gimana pulang.”
“Aku bisa antar,” dan kembali Nanda dengan singanya.
Semakin benci Viren dengan sosok ini, “Jaga mulut kamu, dasar OB!”
“Karena aku OB, aku bisa disuruh apa aja sama bos. Termasuk, antarin pulang,” spekulasi tak terduga Nanda selagi ia memandang bosnya, “Bos nyuruh antarin?”
Adira menangkap sesuatu. Itu adalah kesempatan untuk pergi dari sini, sekarang juga.
“Iya, antarkan saya,” responsif, Adira mengikuti.
VIrendra tertawa, “Lihat! Kamu bikin aku lebih rendah daripada buangan ini!”
Nanda semakin murka di lubuk hatinya. Akan tetapi tangan Adira menariknya.
Adira mulai melangkah, “Sudah cukup. Kita pergi, Ananda.”
“Pergi! Ya! Pergi! Sudah muak aku sama kamu! Ini penghinaan!”
“Berhenti mempermalukan diri sendiri,” Adira melanjutkan jalan dengan Nanda, “Pergilah dengan tenang.”
Taman itu menyalakan lampunya. Mobil Virendra mendekati pewaris yang masih kecil itu. Kemarahannya masih menahan kakinya di tempat, meski dipanggil oleh supirnya berkali-kali.
Ia pergi, Adira dan Nanda semakin tak peduli.
“Terima kasih,” Adira menjadi satu-satunya yang bicara di kesepian kedua orang ini.
Dan Nanda, rasa canggung itu harus ia tahan setidaknya sampai ia mengantar pulang si bos.
Atau tidak?
Pada akhirnya sunyi membawa mereka sampai ke rumah hangat Adira. Meski petir mulai menegaskan keadaan alam yang tidak menentu.
“Masuklah. Tidak mungkin anda pulang seperti ini. Tunggu sampai reda,” ajakan Adira selagi pintu rumahnya terbuka.
“Tidak us⏤”
JEDAR!!
Sepertinya petir pun tak setuju dengan Nanda.
“Ayo masuk,” Adira membuka pintunya lebar.
Nanda rasa ia harus menahan canggung itu lebih lama.
Ia meninggalkan kendaraannya di samping teras dan ikut masuk. Basah di seluruh tubuh mereka menjadikan agenda selanjutnya adalah bersih-bersih diri.
Waktu semakin dingin, larut semakin membeku. Kedua hal ini mempercepat agenda mereka sehingga keduanya sudah hangat di ruang tengah. Berita televisi dengan cuaca yang akan semakin buruk⏤mau tidak mau harus dimatikan.
Membuat Adira memilih menghangatkan makanan untuk dua orang. Dan nampan mendatangi Nanda yang duduk di depan televisi. Ya, dengan canggung.
“Makanlah. Anda menginap saja dulu. Hujannya terlalu deras.”
Otak Nanda sampai di mana tidak bisa berpikir lagi. ‘Bagaimana ini?!’ ujarnya.
Pria ini menyadari ada yang menempel di kaki-kakinya. Hewan berbulu putih tebal yang membuatnya tampak gemuk. Celana pendek yang dikenakan Nanda, membuat hewan itu bisa menjilati kakinya.
Miaw~
Adira mengangkat hewan kecil itu, “Chio, jangan mengganggu.”
Miaw miaw~!
“Chio, calm down.”
“Ti, tidak. Tidak papa,” Nanda nyatanya penasaran dengan hewan yang tiba-tiba datang itu.
Chio berhasil melepaskan diri. Betina ini langsung berlari dan mengelus-elus kembali kaki Nanda.
Wanita ini tersenyum menatap hewan peliharaannya, “Maaf. Kalau Chio sudah suka orang, dia tidak mau lepas.”
Nanda terdiam. Menggelitik di ujung hati Nanda membuatnya terpana di satu titik. Wajah Adira tampak menjadi titik target layaknya ia ingin menembak panah.
Dan wanita itu menyadari tatapan Nanda. Walau pecinta musik ini langsung berpaling.
Ia sungguh tidak tahu harus bagaimana menanggapi keadaan canggung ini.