The Childish And The Beast

The Childish And The Beast
#39 Perubahan Hubungan



Hari yang tidak tertolong panjangnya. Dalam satu hari, ia sudah menemukan kesulitan yang Danwar sebabkan. Satu persatu ia bernegosiasi dan merencanakan perbaikan pada para klien yang mengamuk itu.


Masih di hari yang sama, ia harus berhadapan dengan Viren. Dan... ia harus... menerimanya?


Namun⏤Adira tersenyum⏤ia rasa benar bila ia tidak menerima tawaran Viren itu. Wanita ini mengakui kalau dirinya terlalu takut. Jika dia mendinginkan kepalanya dan mengambil beberapa waktu, dia pasti bisa menemukan solusi yang jauh lebih baik.


Ananda percaya dengan kemampuan Adira. Sudah saatnya Adira juga percaya dengan dirinya sendiri.


‘Uangku pribadi masih bisa menuruti setidaknya satu bulan....’ pikir Adira.


Memutar otak ke kanan dan ke kiri hanya untuk mencari jalan keluar.


“Saya permisi, bu,” sopir ini sudah ingin kembali ke rumahnya sendiri setelah mobil Adira diparkirkan.


Dira mengangguk kecil, “Silahkan.”


Pagar rumah tertutup sedangkan pintu depannya dibuka. Tanpa membutuhkan kunci, wanita ini berpikir ART-nya masih bersiap di rumahnya.


“Mbah Munik?”


“Sayang~”


Adira terbelalak, “Bunda? Kok bunda ke sini?”


Ibu ini berdiri dan memeluk putri sulungnya, “Dira sehat kan?”


“Iya, bun,” ia membalas pelukannya, “Bunda kenapa, kemari tidak kasih kabar?”


“Dira juga, makin jarang telpon bunda,” ibu ini melepas pelukannya.


“Panca sedang banyak request, bunda. Dira tidak bisa lepas gitu saja.” Adira masih tersenyum tipis.


“Anak ayah gimana kabarnya~”


Senyum itu sirna saat ia sadar ada satu lagi sosok yang berada di belakang bundanya. Pria tidak tahu diri itu mengulurkan kedua tangannya. Namun wanita ini masih bersikap cool dengan silent treatment yang ia lemparkan.


“Kasih peluk dong. Ayah sendiri juga,” sang bunda menepuk pipi Adira.


Adira tahu, bundanya tidak akan menggerakkan hatinya menjauh dari pria ini. Meski sudah resmi lepas, kenyataan bahwa mereka ingin rujuk....


Lebih baik Adira mengatakan hal lain, “Ada kabar apa ke sini? Malam-malam.”


“Ayahmu bilang...,” wanita janda ini digandeng Adira untuk duduk di sofa, “Kamu ada masalah di kantor. Dira tidak papa kan?” ia mengelus wajahnya.


Dira berpikir sesaat, “Iya, tidak papa kok.”


Bos ini terdiam sejenak. Memang ada masalah yang terjadi sejak sebulan lalu karena Danwar. Hari ini pun ada bencana di mana-mana. Namun, bagaimana wanita ini tahu?


Apa Nanda? Dia mudah berteman dengan siapapun. Mungkin saja⏤sebentar... dari ‘ayah’?


Pria yang ia pikirkan ini ikut duduk di seberangnya, “Katanya Danwar bikin rusuh kan? Dia juga ambil uang Panca juga kan? Ayah benar-benar minta maaf. Kalau ada yang bisa ayah bantu, bilang aja ke ayah, ya?”


Wanita ini tak lega dengan dukungan itu. Pundaknya malah lebih tegang, lagi dan lagi. Ia sampai berdiri.


Ucapan Fares sang pengacara terngiang di kepalanya.


‘Saya tidak yakin kalau pihak kerja sama pak Danwar hanya satu orang.’


“Kenapa anda bisa tahu?” Adira berusaha untuk tidak berpikir buruk, “Masalah itu tidak ada yang tahu selain saya, Daffa dan pengacara saya.”


Pria ini terdiam. Tersadar akan apa yang ia katakan.


Mulut adalah harimaumu. Satu kalimat tambahan saja bisa membuatnya semakin lebih buruk.


Dan pria ini harus mencuci otak untuk bisa mengembalikan keadaan.


“Anda, dari mana anda tahu?” Adira mulai tidak bisa menghentikan pikiran buruknya, “Katakan!”


Namun sang ibu tidak mau sang pria disalahkan, “Dira, ayahmu bisa saja dengar dari anak-anak kantor. Ayahmu kan ke kantor tadi pagi.”


Adira semakin geram, “Untuk apa anda ke Panca lagi?!”


Ia tidak bisa mengeluarkan pemikirannya bahwa mantan ayah angkatnya ini terlibat langsung akan penggelapan dana di Pancarona. Mau bagaimana pun, pria ini menunjukkan batang hidungnya kembali di sekitar keluarganya hanya untuk uang.


Dira sudah cukup kenal dengannya. Orang gila yang sekali mendapatkan uang di satu sumber, ia akan menggali sampai ke sisi tanah yang lainnya.


Ia dan Viren. Tambahan lagi Danwar. Ha ha, sungguh kombinasi yang menjijikkan.


“Anda harus bertanggung jawab akan apa yang anda lakukan!” Adira meraih ponselnya.


“Dira?!”


“Jangan panggil saya! Simpan nafas anda di pengadilan nanti!” Adira sudah siap menghubungi pengacaranya.


“Dira!” sang bunda menahan ponselnya, “Apa-apaan? Kenapa Adira bicara begitu?!” ia merebut ponsel anaknya.


“Bunda tidak paham? Dia!” Adira menunjuk sang ayah, “Dia sudah seenaknya menggelapkan uang perusahaan untuk dia sendiri! Dia yang merusak perusahaan Dira!”


“Jangan asal menuduh begitu! Ayah kamu cuma khawatir sama kamu. Pasti kalau kenapa-napa, ayahmu cari tahu biar bisa bantu juga.”


“Dira!”


Putri sulung ini merasakan mual. Fakta akan si ayah, Aristya ini, menjadi bagian dari dalang yang ingin menghancurkan Pancarona. Satu lagi fakta amis, pria ini didukung sepenuhnya oleh hati bundanya yang polos.


Apa yang terjadi? Bukannya wanita ini sudah bercerai dengan Aris karena sadar akan kebusukannya? Semanis apa bau ‘cinta kembali’ itu sampai bunda ini bisa terhipnotis?


Mustahil! Dira tidak mungkin hidup dengan keadaan ini! Ini bundanya yang dia bicarakan. Hatinya bisa jadi sedang indah, tapi dia harus disadarkan akan kepalsuannya. Walau itu akan menyayat hati.


Adira menahan bahu sang ibu agar bisa saling memandang, “Bunda, untuk apa bunda cerai dengan dia? Bunda ingat kenapa kan?”


Ibu ini merasa tidak nyaman dengan bahasan ini, “Itu, itu bukan masalahnya.”


“Masalahnya dari sana, bunda. Bunda tahu orang ini sudah melakukan apa. Lukanya Dira, perusahaannya Dira,” lirikan sinis Adira lemparkan sang ayah yang tidak bicara satu kata pun itu, “Sudah seperti ini memang mukanya.”


“Adira tidak pernah habiskan waktu sama ayahmu belakangan ini,” si ibu menyentuh tangan anaknya, “Orang pasti berubah.”


“Tidak bunda, Aristya tidak mungkin berubah!”


“Dira!”


“Bunda, Dira mohon, lihatlah lebih teliti. Orang ini yang buat hidup kita sengsara, bunda! Tidak ada bedanya dengan papa!”


Bunda ini melepas tangan Adira, “Jangan samakan ayahmu dengan orang itu!”


Adira menggeleng, “Papa jauh lebih baik daripada dia!”


“Dira! Cukup!!”


“Bunda⏤”


“Tidak! Jangan bicara apapun!” bunda ini tidak disangka sudah menangis.


Hati Adira terluka. Ia tidak menyangka ia akan menemukan saat di mana bundanya akan menangis karena dia. Namun apa yang harus ia lakukan kalau bunda ini masih mengelak seperti ini? Tidak mungkin kan bila ia harus terus menerus menikam hati nuraninya?


Namun, Adira tidak bisa membiarkan pria ini. Keluarganya, perusahaannya, para karyawannya. Semua orang bergantung pada dana yang seenaknya dimainkan oleh Aristya.


“Bunda, tolong ponsel Dira. Sekarang,” Adira mengulurkan tangannya, “Kerugian yang disebabkan orang ini sudah keterlaluan. Saya harus menghubungi pengacara sekarang. Tolong....”


Wanita ini menggeleng-geleng. Memegang erat ponsel yang dimaksud. Masih tidak ingin mendengarkan apa yang dikatakan anaknya.


“Dira kenapa? Bukan seperti Dira yang bunda kenal.”


Mata, mata Adira berair.


Kalimat yang tidak masuk akal itu. Seakan manusia hanya mengenal satu hal tentang satu orang. Bila sampai hal yang tidak diinginkan muncul di orang itu, ia seakan tidak membenarkan.


Layaknya tidak mengenal.


“Bunda, ponsel Dira!”


“Kamu bukan anakku!!”


“Bunda...?”


“Aris itu suamiku. Suamiku!!”


Ini benar-benar gila untuk Adira, “Apa maksudnya bunda bicara seperti itu?! Dia sudah punya istri baru, bunda!!”


“Aku tahu....”


Adira tidak bisa bicara apapun. Sungguh, apa yang dia alami sekarang?


“Jas, kita pulang saja yuk,” si ayah ini menemukan keadaannya yang tidak pasti, “Dira cuma terlalu banyak masalah di kantor.”


“Tidak,” bunda ini masih menangis, “Dira terlalu banyak mengeluh tentang kamu! Kalau Dira saja tidak mau terima kamu, aku...,” tangisan itu tidak kunjung reda, “Aku tidak bisa terima Dira....”


“Bunda ini tidak lucu,” Dira memandang Aris itu, “Kamu! keluar dari keluargaku! Jangan muncul lagi!”


Si bunda, Jasmine, ini melempar ponsel Dira di sofa, “Kalau kamu mau usir Aris, aku juga pergi!!”


“Bunda....”


Kulit Adira yang kusam dan lelah, tidak diam dan terus bergetar. Bahkan tengkuk lehernya yang tertutup rambut sebahu itu terasa dingin. Layaknya es itu menamparnya. Kalimat nyata yang ia terima. Tanpa ada kalimat balas yang tersirat di pikirannya.


“Aku tidak akan kembali,” bunda ini menambah kenyataan pahit di telinga Adira.


“Jas⏤”


“Ayo!” Jasmine ini menarik tangan si Aris ini melewati Adira.


Tanpa Adira melihat ke belakang, ia tahu dua suara pintu itu artinya membuka dan menutup. Keras, sangat keras sampai tidak bisa dilewatkan oleh telinganya.


“Apa... apa yang terjadi?” Adira terhentak, terduduk dengan lututnya, “Kenapa jadi begini...?”


Ucapan yang tidak terucap. Hubungan ibu dan anak menjadi tegang. Bahkan nyaris putus.