The Childish And The Beast

The Childish And The Beast
#36 Tenang Sebelum Badai



Di awal umur empat puluhnya, tantangan tidak menjadi teman yang tepat sembari menua. Ia berharap masa kerasnya berakhir dan hanya tinggal sesi garnish saja. Selangkah menuju ke 'kursi pantai', bersantai.


“Sial,” Danwar mencengkram botol plastik sekali pakai itu dengan keras, “Kalau seperti ini, mana bisa aku ambil alih Panca?”


Ia membuang botol itu langsung ke tempat sampah. Kemarahannya bahkan sudah menghampirinya padahal hari masih awal.


Tidak kunjung reda dengan orang-orang yang berbisik.


Siapa mereka? Berani-beraninya sama orang seperti Danwar! Lelaki ini, bahkan pemegang Pancarona pun tidak berani mengganggu gugat.


“Kamu beneran lapor ke bu Adira?!”


“Ssst! Berisik!”


Nanda memiringkan kepalanya selagi masih sibuk menghancurkan kertas, “Dira sendiri yang minta. Dia sudah tahu kalau Danwar tuh ambil-ambil upahnya orang.”


“Kalau gitu sudah dong?”


“Dipecat kah?”


“Mana gua tahu,” Nanda melanjutkan meluruskan kertas-kertas bekas itu ke alat penghancur.


‘Adira sudah tahu?!’ pikir Danwar yang tidak sengaja menguping.


Bagaimana bisa? Siapa yang berani-beraninya mengadu ke Adira?!


“Kamu juga bakal dikeluarkan, Nan?”


Pria ini tertawa kecil, “Mana mungkin Dira kayak gitu. Masa dia lebih milih belain koruptor dari pada aku.”


“Udah kayak pacaran aje! Hahahaha!”


Tawa itu sudah pecah, tetapi Danwar tidak berhenti berusaha menguping.


“Btw, guys, kalian ada kabar lain gak? Kayak dia ambil dana apa gitu... selain Taruna.”


“Tidak ada sih.”


“Udah dengar dia kerja buat orang lain gak?”


“Udah.”


“Basi, basi.”


Danwar menggigit ujung kukunya. Gosip-gosip yang semakin liar. Namun yang lebih ia khawatirkan adalah seberapa akuratnya gosip itu.


Pria berniat busuk ini sungguh seperti apa yang dikatakan mereka. Dan hanya dia sendiri yang tahu, rencana cadangan apa yang berputar di kepalanya sekarang.


...◇ ◈ ◇ ◈ ◇ ◈ ◇ ◈ ◇...


Waktu berjalan dengan cepat. Setiap rencana kerja yang dijalankan Pancarona tentu berjalan baik dengan hasil yang memuaskan. Tidak ada hal sangat baik ataupun sangat buruk. Biasa saja, membuatnya tidak menarik untuk tersiar di berita.


Namun setiap hal punya rahasia. Dan rahasia itu ingin Adira perbaiki, tentu dalam rahasia pula. Kerusakan Pancarona tidak boleh mempengaruhi apapun.


“Selamat pagi, kak,” Adira sangat menghormati pria ini.


Lelaki yang banyak dibicarakan karena kemampuannya. Kakak sepupu yang jauh lebih tua dari Daffa ini sudah terlihat berwibawa dengan mata lembut dan sifat kepemimpinannya.


Dan tentu saja sosok ini menemukan apa yang Adira minta dengan mudah.


“Pagi,” pria ini berjalan masuk ke kantor Dira.


Adira mempersilahkan pria ini, “Silahkan duduk.”


Keduanya duduk meski Daffa lebih memilih untuk berdiri di antara dua sofa itu, memastikan ia menghormati keduanya.


“Bagaimana, kak?”


“Ya,” pria yang akrab dipanggil Fares ini mengeluarkan map penuh dengan apa yang dimaksud, “Sudah siap kalau anda siap.”


“Apa saya boleh lihat?”


“Silahkan.”


Adira mengambil tumpukan lembaran itu. Membuka-buka isinya dan membaca. Berbagai bukti yang sudah didapat, menyambungkan kejanggalan dan dalang di perusahaannya.


Satu hal yang menangkap perhatian wanita ini. List nama yang kemungkinan menjadi korbannya. Ada nama Nanda di sana.


Fares ini menjelaskan, “Saya sudah dapat alur keuangan pak Danwar, dan keuangan dari setiap karyawan dari perusahaan anda. Ada sekitar 37 orang yang alami pemotongan honor secara sepihak.”


“Dan saya hanya menyadarinya lima....”


Dua pekan lebih. Pria ini menemukan sangat banyak luka di belakang punggung Pancarona. Luka itu sungguh menyayat Adira seakan membuat luka sungguhan.


Ke mana perusahaan adil yang ia dambakan untuk berdiri?


Nanda benar, dia terlalu membangun pagar berduri yang tinggi⏤agar tidak banyak yang mendekati pribadinya. Akan tetapi itu juga yang membuatnya tidak memahami orang lain. Sampai akhirnya ia tidak tahu siapa sekutu dan siapa lawan.


“Adira,” Fares memanggilnya, “Apa ada orang lain yang anda curigai?”


“Ya?”


“Dana keuangan Pancarona cukup aman. Saya curiga ada orang lain yang bantu pak Danwar.”


“Bantu... Gimana?”


“Apa yang ditutupi?” Daffa masuk ke percakapan.


Adira ini meluruskan punggungnya seakan tidak bisa menunggu, “Bisa anda jelaskan lebih banyak?”


“Saya menemukan beberapa bukti CCTV,” pria ini menarik beberapa kertas yang dibawa Adira, “Dia seperti ingin bertemu dengan seseorang.”


“Siapa?”


“Itu masalahnya. Dia selalu masuk ke ruangan privat yang tidak punya CCTV. Berarti, dia bertemu dengan orang yang penting.”


“Maaf, bu,” Daffa memotong, “Anda menyuruh saya mencari kabar apapun tentang Danwar. Saya mendapat gosip tentang Danwar bekerja untuk orang lain.”


Sebenarnya, ya, Adira juga pernah mendengar itu dari Nanda. Gosip liar yang tidak punya bukti. Namun kalau kemungkinan itu keluar dari mulut pengacara hebat ini, Adira tidak bisa tertawa lagi.


“Apa ada orang berkuasa kuat yang bisa anda pikirkan?” Fares kembali ke Adira.


Tentu saja. Ada satu orang yang paling gila yang bahkan di luar kepala sudah menjadi kemungkinan terburuk.


Namun, ia tidak mau memikirkan apapun tentangnya.


Ini sudah sebulan. Dan tidak ada waktu untuk menghayati masalahnya 


Fares berlanjut, “Saya harus katakan. Saya tidak punya apapun untuk tuntut orang ini. Juga, saya tidak yakin kalau pihak kerja sama pak Danwar hanya satu orang. Kita cuma sanggup tuntut pak Danwar saja.”


Adira meletakkan kertas-kertas itu dengan rapi kembali ke meja, “Untuk saat ini, tolong fokuskan saja untuk mengembalikan hak para karyawan. Mereka butuh keadilan di tempat ini.”


Fares menutup matanya, menghela nafas beberapa saat. Ini hanya salah satu dari banyaknya kasus rumit yang dihadapinya. Dan semuanya lebih dari dalam masuk ke kehidupan pribadi mereka.


Namun ini sungguh sangat berbeda. Keadaannya adalah seperti mengambil belut yang licin dan berlistrik. Orang-orang ternama dan berkuasa yang dihadapinya sekarang. Apapun bisa menghanguskannya kembali seakan bumerang.


“Saya paham,” Fares mengambil bukti-bukti itu, “Saya proses secepatnya.”


“Terima kasih.”


“Pengadilan bisa dilakukan sekitar seminggu. Saya juga minta bantuan untuk saksi-saksinya. Standby terus sampai saya hubungi lagi.”


“Daffa akan membantu anda akan saksi-saksinya,” Adira mengulurkan tangannya pada pria itu, “Kumpulkanlah sebanyak yang anda butuhkan. Namun saya harap anda tidak menggunakan kekerasan.”


“Saya paham⏤”


BRAK!


Pintu terbuka dengan tergesa-gesa. Tidak ada sopan santun yang perlu dilalui dalam kepanikan. Wanita dengan span selutut ini terlihat kusut dan tidak tenang.


“Bu, maaf, maaf bu, tapi bu....”


Adira menangkap raut wajahnya, “Ada apa?”


“Maaf bu, Itu maaf. Ibu harus lihat ini,” wanita ini berjalan dan berhenti di sofa belakang Adira. Mengulurkan papan dengan kertas laporan ke depan wajah Adira.


Wanita tertinggi itu memperhatikan dengan seksama apa yang tertulis di sana.


Itu adalah laporan proyek yang dijalankan oleh setiap karyawan. Dan lembaran itu melaporkan jelas tentang apa yang dilakukan Danwar selama satu bulan ini.


“Kita tidak ada menerima proyek-proyek ini,” bingung menyerang Adira, “Apa yang terjadi? Kenapa Danwar menerima proyek sebanyak ini?”


“Maaf. Maaf maaf bu. Masalahnya bukan itu, bu.”


Dira tenggelam dalam sentar otak yang lambat. Ia tidak menangkap sama sekali, “Katakan, sekarang!”


“Semuaya, proyeknya. Semuanya. Gagal.”


“Apa?”


“Banyak kesalahan yang terjadi. Akhirnya para klien marah. Mereka semua... meminta untuk ganti rugi.”


Daffa mendekat dengan marah, “Itu semua Danwar yang atur?!”


“Maaf pak. Tapi dia juga tidak melapor. Maaf. Maaf, maaf⏤Aaa!” ponsel wanita yang melapor ini berbunyi, “Halo. Iya, bu maaf.”


Begitu pula telepon di meja Adira. Membuat Daffa mendekati asal suara dan menekan speaker.


“Siapa?”


[“Pak Daffa, ini security! Di depan ada banyak tamu yang datang! Mereka semua ma⏤”]


[“Di mana bos kalian?! Keluar sekarang!”]


[“Ganti rugi! Kami sudah banyak investasi ke desainnya! Ini yang kami dapat?!!”]


[“Tenang dulu! Kami akan urus satu persatu tapi jangan buat keributan!”]


Apa yang... terjadi? Pikiran Adira sungguh tidak jelas.


“Maaf, ya, pak. Tolong tunggu sebentar. Halo, iya bu!” Wanita ini sibuk dengan panggilan yang bertubi-tubi di ponselnya.


[“Pak Daffa! Kami harus bagaimana?”]


“Maaf bu. Kami akan atur.”


[“Panggil bos kalian!”]


Adira berdiri dari duduknya, “DIMANA DANWAR?!!”