
Gelap yang menusuk indra peraba. Bumi yang berotasi dan membelakangi pusat tata surya. Mungkin dingin ini disebabkan oleh suasana yang mengait tenggorokan orang ini.
Siapa? Siapa lagi kalau bukan wanita yang akrab dengan sebutan Adira ini.
Tak sama dengan sang ibunda beserta adik bukan kandung yang berteriak dalam hatinya yang berkaca-kaca.
“Ayaa, maaiih!” ucapan gembira dari sang adik, Nata namanya.
Si adik ini senang saat bundanya membukakan kado kecil dari sang ayah. Ucapan kamsia yang tak sampai di pita suaranya tetap bajik didengar.
Keduanya sungguh terbawa haru. Pasalnya tidak setiap saat, bahkan sudah dua tahun lalu, sang ayah mau pulang dan bertukar sapa. Ia dikenal sebagai pemilik toko kecil di pinggiran ibukota.
Namun topeng itu hanya Adira yang bisa melihatnya. Tidak salah lagi, ayah sambungnya ini hanya kembali karena membutuhkan uang. Pasalnya, toko mebel itu tidak pernah ada.
Murah hati Adira, tak sampai hati mengatakannya dengan gamblang pada ibu dan adiknya.
“Kalian ketemu di mana?” bunda ini melanjutkan makannya.
Si ayah tertawa, “Ternyata ada di Pizza Jame.”
“Makan siang ya? Kan sudah dibilang, Dira pasti makan di sana.”
Adira hanya diam untuk melumatkan makan malamnya. Pembicaraan terus mengalir tanpa ada kaitannya dengan pendapat Adira.
“Immana to’oonya?”
“Kenapa?”
Sang ibu tersenyum dan meletakkan sendoknya di sisi ujung piring, “Nata tanya, toko ayah gimana?”
“Oh...,” pria ini ikut berhenti mengunyah makanannya, “Lancar saja.”
Umpamanya memang seperti itu, Adira berpikir orang tua yang tidak bertanggung jawab ini tidak akan kembali.
Dira mengenali pria ini sejak ia berumur sekitar sepuluh tahun. Saat itu, sang ayah kandung sudah menjalani hidupnya tanpa bunda. Tak memahami di saat belia, Adira mengiyakan sang bunda yang ingin memulai hidup baru.
Namun, terlambat, Adira sadar dia bukan orangnya.
Bila ditanya, apa yang pernah pria ini lakukan di belakang sang bunda, mungkin salah satunya luka di punggungnya.
“Katanya kemarin sempat kena tipu kan?” jari-jemari lentik sang ibu yang tampak muda ini menutupi sebagian mulutnya.
Sang ayah melanjutkan mengagumi masakan mantan istrinya, “Untungnya bisa dibenerin. Oh iya, bunga yang kamu pesan kemarin bagus kan?”
“Iya. Terima kasih sudah rekomen.”
Ya. Kedua insan ini memangnya sudah lepas hubungan. Tidak lama lalu, perselisihan membuat sang ibu untuk kedua kalinya menyandang sebutan janda.
Namun anak sulungnya tahu, bunda ini masih menyimpan hati. Khususnya setelah sang bungsu mendambakan dampingan ayahnya.
Adira, ia menangkap hal yang tidak nyaman, “Rekomendasi?”
Curiga akan sesuatu, Adira ada di keadaan waspada. Ibu kandung dan mantan ayah sambung, keduanya sudah pisah sejak dua tahun lalu. Lalu bagaimana bisa mereka seperti tahu keadaan hidup masing-masing?
“Kemarin kan bunda bilang ada seller bunga yang bunda dapat rekomen,” sang bunda menunjuk pria ini, “Ayah yang kasih tahu.”
Wanita karir ini terdiam sesaat, “Kalian masih stay contact?”
Bunda ini tak bisa mengatakan apapun.
Dia tahu benar apa yang terjadi pada putri pertamanya. Itu semua yang membuat sang wanita ini memilih untuk berpisah dengan pria keduanya. Namun tidak dipungkiri, rasa cintanya itu tidak terhempaskan oleh apapun.
Sejak dulu, ia luluh dengan hatinya. Bahkan sekarang, tidak berubah hati itu membungakan dirinya.
Meski sang putri menegaskan, pria ini tidak lebih dari manusia yang ingin enak⏤lepaskan apapun yang hanya untuk tujuannya. Dan kekerasan tidak lebih dari salah satu tiket masuk ambisinya. Namun, manusia bisa berubah, bukan?
Kini pria ini sudah belajar akan hidupnya. Tidak mustahil memulainya lagi, kan?
Fat changes. Jangankan kembali, menyukai pria ini saja tidak ada setetes pun dari Adira.
“Maaf, ayah memang salah. Semuanya,” ayah ini menyentuh tangan anak dari mantan istrinya, “Tapi kita harus tetap punya hubungan bagus.”
Adira menarik tangannya, “Sejak kapan kalian tukar kabar?”
“Dua bulan lalu....”
Kandas waspada itu menjadi ejekan dalam hati. Bisa-bisanya pria ini berpikir untuk memelas mantan istrinya hanya karena ada maunya. Tragedi apapun yang menimpa sang ayah, Dira tahu itu bukan lagi urusannya dan keluarga kecilnya.
“Atta, bissha bikin ni lo.”
“Hebat. Ayah pasti senang.”
“Sini, coba ayah lihat.”
Keluarga ini tetap membutuhkan sosok ayah. Nata yang menyerahkan semangatnya pada penyakitnya. Ibu yang tak tahu kapan akan menyerah. Selunak itu pondasi mereka, dan sekuat itu mereka butuh sokongan.
Bukan kepala keluarga seperti Adira yang mereka butuhkan. Mereka butuhkan sosok lain yang dua tahun itu hilang.
Paham, Adira tak tega menghancurkannya. Rasional tidak selalu jadi jawaban. Hati mereka yang haus kasih sosok ayah dan suami, menghilangkan semua kenyataan yang pahit.
Makan malam itu berlalu dengan dua sisi. Hangat bahagia mereka. Waspada di sisi Adira.
Kalanya, Adira mengajak sang pria ini bicara berdua saja. Ibu dan Nata mengira mereka hanya membasuh peralatan makan, tapi bicara bisa dilakukan bersamaan.
“Bagaimana Pancarona? Ada masalah?” ayah ini ingin mencairkan suasana.
“Benar juga,” Adira masih membasuh alas kaca itu, “Masalah apa yang membuat anda kemari?”
“Kan tidak papa kalau mau berkunjung sekali dua kali.”
“Itu memang bagus, tapi bukan bila yang datang itu anda.”
Si ayah tampaknya tidak mau diam, “Ayah minta maaf gara-gara yang dulu. Ayah janji tidak akan seperti itu lagi.”
“Tentu saja. Anda bisa melakukan yang jauh lebih buruk.”
“Harus seperti apa ayah, Dir? Supaya kamu bisa percaya sama ayah, gimana?”
“Begini saja,” tampaknya Adira mau mulai berdiskusi, “Anda sebutkan saja apa yang anda mau sekarang, sebelum semuanya semakin rumit.”
Si ayah ini memang tidak terlihat seperti seorang ayah.
Bukan disanggah oleh wajah awet muda, tetapi ia seakan menolak untuk menjadi tua. Pakaiannya yang selalu up to date, rambut yang bahkan dicat dan tindikan di telinga. Namun harus diakui, penampilannya tetap rapi.
Pendapat antonim muncul di pikiran Adira. Laki-laki ini bukan orang baik.
“Dira, ayah sayang banget sama kamu.”
“Saya rasa anda tidak mengerti.”
Wanita, berbaju kuning kejinggaan ini, sungguh beraksi dengan wajahnya. Layaknya mengaplikasikan sikap sangar di depan pegawai yang mengacau. Bos besar ini tahu apa yang ingin ia untaikan.
“Anda adalah pria yang menjadi ayah saya hanya karena ibu kandung saya menikahi anda. Itu pun sudah hilang sejak anda memilih untuk pisah dengan ibu saya.”
“Dira, tolong⏤”
“Tolong anda dengarkan saya sebentar,” Adira menyeka tangan basahnya ke celemek, “Saya berusaha mati-matian sebesar ini hanya untuk keluarga saya. Keluarga saya yang sungguhan.”
Gemetar di suara Adira sungguh sudah lenyap. Padahal masa lalunya termasuk menyayat hati kecilnya. Akan tetapi, semua membangun Adira.
“Anda boleh saja pernah jadi ayah saya. Tapi kita bukan keluarga. Baik menurut saya, ataupun menurut anda. Saya tahu anda kemari bukan karena alasan keluarga.”
Faktanya pria ini hanya memikirkan tentang uang, uang dan uang. Kekerasan yang diterima Adira tidak lebih dari kemarahan tak beralasan. Amarah hanya tentang uang.
Dan saat Adira menghasilkan banyak, tidak aneh kalau Adira berpikir pria ini ingin mengorek dompet mantan keluarganya.
“Ayah janji, semuanya berbeda kali ini.”
Kembali Adira mengadukan piring-piring dengan busa sabun, “Tentu. Akan menguntungkan bagi anda bila anda mengatakan itu jauh sebelum anda menikahi ibu saya.”
“Dira, sayang....”
“Jangan panggil saya seperti itu. Anda bukan ayah saya. Dan jangan coba-coba berpikir untuk masuk kembali kemari. Ini peringatan.”
Hari yang semakin malam dan sunyi. Telinga Adira tidak menangkap apapun.
“Dira tidak mau kasih sekali saja kesempatan? Ibumu bisa senang kalau Dira begitu.”
Wanita ini menyadarinya. Itu tidak salah. Namun tidak ingin sungguh-sungguh membenarkan.
“Baiklah. Coba saja yakinkan saya. Walaupun itu tidak akan mungkin,” Adira menyelesaikan cuciannya, “Kita bicara lagi bila anda siap mengatakan keperluan anda sebenarnya.”
Geram, ia pun tidak ingin memandang wajah pria ini.