The Childish And The Beast

The Childish And The Beast
#33 Apa yang Benar



“Keluar kamu!”


Nanda menggenggam gagang sapunya lebih keras. Wajahnya layaknya bom atom yang sebentar lagi dijatuhkan.


Omar menahan pundak juniornya itu, “Udah. Jangan ikutan.”


Danwar sungguh menutupi sisi iblisnya dengan baik. Tidak akan ada yang melapor karena alasan takut. Bahkan Nanda yang berjiwa bebas, mundur untuk mempertahankan upahnya.


Namun keranjang penuh kebusukan itu selalu punya lubang. Masuk ke telinga Adira walau dalam bentuk serpihan.


Sebesar apapun kejutan, wibawa sang wanita itu tidak berhenti mencekam setiap orang. Apalagi saat beliau mendengar masalah. Bisakah kalian sanggup menghadapi tatapan itu?


Jika Daffa ditanya, ia pun tidak nyaman berdiri di sana.


“Kenapa, bisa sampai ada penggelapan honor karyawan?” tatapan itu sungguh membuat ketiga orang ini bergetar.


“Ma, maaf bu. Saya juga baru dengar⏤”


“Sejak kapan?”


Karyawan ini tidak bisa berhenti gemetar, “Tiga, bulan.”


“Lalu kenapa tidak ada yang melapor?! Kenapa saya yang harus memanggil anda duluan?!”


“Itu bu....”


“Anda lebih takut pada Danwar, atau saya?”


Sendat tertahan suara mereka.


Lengking suara Adira menggema, “Jawab!”


“Ma, maaf bu!”


Tidak, Adira tidak menginginkan tanggapan seakan ia adalah bos di atas segalanya. Ia hanya ingin padi di sawahnya bisa dipanen dengan semestinya. Bukan petani yang lebih mendengarkan para hama!


“Saya akan panggil lagi kalian nanti.”


“Tolong bu, jangan pecat kami!”


Adira menajamkan tatapannya, “Tidak ada yang membicarakan tentang pecat memecat. Atau anda lebih memilih saya membahasnya?! Keluar sekarang!”


“Baik!”


Pintu terhempas setelah tiga orang ini keluar, dan kembali tertutup perlahan dengan otomatis.


Daffa berusaha menenangkan bosnya, “Maaf. Saya... lalai.”


Adira tidak sempat menyalahkan orang-orang. Ia hanya terheran sendiri, bagaimana bisa semua kekacauan ini berjalan lancar di belakang punggungnya?


Lanjut Adira bicara, “Siapa saja yang terkena dampaknya?”


“Sejauh ini ada lima orang...,” Daffa menyebutkan satu persatu nama pegawai yang dilaporkan, “Dan... Nanda.”


“Ananda?”


“Pasti dia seenaknya lagi. Kalau Danwar marah⏤semua, orang ini orang yang pernah bikin Danwar marah.”


Dira terdiam berpikir, “Ini sudah tiga bulan terjadi?”


“Sesuai yang dijelaskan mereka tadi. Iya. Tapi mungkin lebih.”


Adira, memang, tidak menemukan pria itu terlalu mengganggunya selama tiga bulan yang dimaksud. Apa itu masalah yang menimpa Nanda?


“Daffa, telepon Ananda ke sini sekarang,” Adira menghempaskan diri ke kursinya.


“Baik,” Daffa berusaha memanggil pria ini.


Sayangnya, panggilan itu tidak terhubung. Layaknya ponsel itu tidak pernah punya jaringan.


“Tidak tersambung bu.”


“Apa?”


“Saya cari sekarang.”


Wanita ini berdiri dari duduknya, “Saya cari sendiri! Kita bicarakan lagi ini nanti,” ia memutari mejanya, dan terhenti di samping Daffa, “Dan, tolong selidiki lebih lanjut, diam-diam.”


“Baik bu.”


Adira pergi meninggalkan ruangannya.


Langkah satu, dua dan seterusnya tidak sekalipun melambat. Bahkan seperti terburu-buru.


Dan, wow, pikirannya memaku pada satu pria yang baru dibicarakan tadi. Ia memilih menuruni tangga langsung ke lantai dua. Memasuki rest area dan dapur besar yang kemungkinan besar ada dia di sana.


Ya, ada Nanda di sana.


“Ananda,” Adira berhenti di depan meja makan bersama itu, “Ada yang ingin saya bicarakan.”


Orang-orang di sekitar bisa jadi berpikir, ‘oh dia dalam masalah lagi’.


Namun senyum polos yang tidak pernah dihapusnya itu muncul lagi dan lagi. Pria ini sungguh sedang kasmaran.


“Ya~?”


Adira harus memilih pertanyaan yang aman meski didengar Danwar, “Kenapa ponsel anda tidak bisa dihubungi? Di sini kan ada wifi.”


“... emm....”


Omar yang duduk di sampingnya melihat ini sebagai hal yang baik.


Ia tahu, Nanda bukan orang dewasa yang rasional. Pria manis yang mengutamakan perasaan dia dan orang di sekitarnya. Umpama lebah yang ingin membantu menyebarkan serbuk sari ke sekitar taman.


Sayangnya, Nanda masuk ke taman yang salah bernama dunia. Manusia menjadi iblis pemakan bunga yang kejam.


Ia yakin, tidak, ia tahu. Adira, teman sekelasnya bertahun-tahun ini, akan ada di sisi Omar untuk masalah ini.


“Ada apa? Katakan.”


“Dia baru saja jual HP-nya,” Omar langsung mengatakannya.


Nanda melotot kaget, “Mar!”


Omar tidak mengatakan apapun. Namun ia juga tidak bisa bertetap.


“Itu...,” akan tetapi pria ini tidak merasa baik bicara di sini.


Adira memandang sekitar selayaknya arah mana yang dilihat Omar, “Kalian bisa tinggalkan kami?”


Orang-orang ini tidak berniat untuk melawan atasannya. Salah satu dari banyaknya meja makan itu akhirnya kosong selain ketiga orang ini.


Adira duduk di seberang mereka, dengan condong ke meja, “Bisa katakan sekarang?”


Omar memilih menjawabnya, “Danwar, dia seenaknya potong gajinya Nanda. Jadi setengah.”


“Mar! Udah!”


“Kita gak bisa terus-terus diam. Gimana ibumu nanti? Kamu mau jual apa lagi buat beli obat ibu kamu?!”


Adira berada di antara perdebatan itu. Memahami keadaannya. Ia hanya tidak paham satu hal.


“Kenapa,” ucapan itu menghentikan kedua pria ini, “Kenapa anda berdua tidak mengadukan ini ke saya?”


Nanda mengalihkan pandangannya, “Dira sudah banyak punya masalah.”


Tak paham menyertai wanita ini. Sangat tidak paham.


Dia itu apa? Apa dia pahlawan yang rela berkorban untuk teman-temannya? Sosok pahlawan bodoh yang bahkan tidak tahu dirinya membuat masalah semakin tersendat?!


“Anda tahu, itu tidak membantu. Saya, jadi tidak tahu kalau Panca...,” mulai hancur, “Ini tidak adil untuk semua orang.”


“Kami juga... tidak berani dipecat,” Omar menjelaskan alasannya.


Ia tidak tahu, sebesar ini Danwar mempengaruhi perusahaannya.


“You hate me now?” Nanda memulai lagi.


“Saya kira anda tidak percaya saya karena anda tidak suka saya.”


Wow?


Dira terdiam.


Apa itu dikatakannya dengan keras?


“Ehem..., maaf,” Omar tidak mau berakhir di tengahnya, “Jadi....”


“Ya, harus lakukan sesuatu,” Adira berdiri, membuka ponselnya akan sesuatu, “Ananda, kita keluar.”


“Ke... mana?”


“Kita bertemu di dropout,” Adira pergi.


...◇ ◈ ◇ ◈ ◇ ◈ ◇ ◈ ◇...


Nanda yang duduk di sampingnya sudah kehilangan senyum. Bukannya Adira menyinggungnya atau apa. Dia... tidak paham apa yang dibicarakan. Adira sudah seperti berdebat dengan pemilik toko ponsel. Tentu dengan topik keunggulan masing-masing dagangannya.


“Hmm...,” Adira berpikir, “Anda lebih memilih yang mana?”


“Aku?”


“Siapa lagi yang ada di sini?”


Nanda menunjuk pria yang sedari tadi bicara, dengan tidak merasa bersalah, “Bapaknya?”


Sang bapak bingung.


Adira mengangkat alisnya, “Sungguh?” 


“Ya..., heh,” Nanda tertawa canggung, “Kok Dira beliin aku HP?”


Diam. Lagi, wow.


Adira tidak yakin jawabannya. Ini terlalu tiba-tiba bahkan wanita ini tidak menemukan alasan kenapa dia melakukan hal sejauh ini.


“Pilih saja,” Adira menyerah untuk berpikir, “Anda mau atau tidak?”


Nanda tersenyum jahil, “Dira khawatiran baaaanget sama aku~”


Sungguh?! Kutu kasur ini! Bukan saatnya mengatakan hal random seperti itu di tempat umum!


Adira tidak bisa berhenti mengerut, “Ce pat pi lih!”


Tawa Nanda pecah, “Yang bagus yang mana, pak?”


Bapak yang berumur ini tersenyum geli, “Yah, bagus semua lah. Masa saya jualan yang gak bagus.”


“Ya betul juga ya..., aaaa... Dira pilihin deh.”


Tertahan kata-kata umpat di dalam hati Adira. Ayo kita selesaikan dan kembali bekerja. Ia memilih ponsel yang lebih unggul dalam menangkap gambar dan video di malam hari. Berasumsi kalau Nanda tidak punya banyak alat pendukung.


Hmm... faktanya Adira memikirkan itu lebih dalam. Sekali beli, ia membelikan juga banyak hal untuk mendukung hobi Nanda.


Nanda semakin tidak tahu cara menolaknya. Ia sudah seperti siput yang tidak bisa bergerak menanggapi semua ini.


“Anda bisa lanjutkan konten anda sekarang,” Adira merapikan dompetnya yang baru saja mengeluarkan kartu kepercayaannya itu, “Ada apa?”


“Tidak~” Nanda sungguh terpaku di kakinya.


“Oh ya,” Adira mengingat satu hal, “Kalau memang ada yang tidak seharusnya di Pancarona, saya harap anda lebih aktif melaporkannya pada saya. Seperti tentang anda dieksploitasi Danwar atau semacamnya.”


Nanda tertawa kecil, “Eksploitasi?”


“Saya serius,” Adira berlanjut, “Kalau anda tidak salah, jangan takut bertindak. Saya bisa jamin anda baik-baik saja.”


Gila! Berapa banyak lagi dia harus jatuh cinta ke wanita yang sama. Wanita ini luar biasa! Nanda tidak bisa lelah mengulangi pikiran yang sama.


“Ayo kembali, waktu makan siang habis.”


“Dir.”


“Ya?”


“Boleh minta nomormu gak?”


..., “.... Minta Omar.”


Lagi, pria ini bersenang hati.