
Di dalam dasar pikirannya, Adira mengejek dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia sefleksibel itu? Selayaknya gambaran spidol yang bisa bergerak dalam air.
Letoy letoy tidak punya pendirian!!
Pagi tadi, ia sungguh mengumpulkan orang untuk bertanya langsung dengan mereka. Layaknya usulan Nanda. Mengumumkan siapa yang mau mengundurkan diri dan memohon untuk bersabar bagi yang memang ingin bertahan.
Bukannya itu sama saja seperti ia putus asa?
“Siang~” Nanda yang wajahnya menjengkelkan. Enak sekali dipamerkan di depan Adira, yang lesu duduk di ruang rapat kosong, “Mikirin aku ya?”
“Ya.”
Nanda terkejut, “Beneran?!”
“Kenapa saya bisa membiarkan orang seperti anda berkeliaran dan mempengaruhi pendapat saya dengan mudahnya? Anda manusia yang berbahaya!”
“Phht, hahahaha!” Nanda terduduk di meja, bersamaan dengan tangan Dira yang mengikut meja yang sama, “Dira ye... gak percayaan. Have faith lah~”
Bukannya Adira tidak mengharapkan banyaknya tenaga kerja. Namun dunia tidak sesimpel itu sampai bisa bekerja sama tanpa timbal balik yang memungkinkan. Tanpa diminta, pasti banyak tenaga emas akan mundur.
Ia takut. Manusia buruk rupa ini bisa saja kehilangan semuanya.
Heh?
“Hei, jangan negatif thinking dulu. Semangat dong~ Pasti bisa!” Nanda mengetuk jarinya di kening Dira sampai wajahnya terangkat.
“Kalau semua orang keluar minggu depan, saya akan potong gaji anda sampai 75 persen.”
“Uuuu~ Takut~” ia berdiri, “Hahahaha,” langkahnya mendekati berbagai macam bungkus yang harus dibuang di seluruh ruang rapat.
Adira tidak mau beranjak dari duduknya. Memilih untuk ikut membuang botol mineral miliknya ke tempat sampah dekatnya.
Nanda yang melihat kesempatan ini mulai bersiul, “Tahu gak? Ada cerita serem belakangan ini di Panca.”
Adira tidak berkomentar apapun. Hanya salah satu dari banyaknya bahasan random dari pria yang sudah tiga puluh tahun.
“Ingat ventilasi atas? Itu katanya ada yang... menghuni....”
Tentu saja Adira tidak menelannya. Bangunan ini seumur Pancarona. History tanah, proses pembangunannya, semua tidak ada yang aneh. Desas-desus itu tidak akan menggerakkan bahkan sehelai rambut Adira.
“Kadang-kadang, ada suara gedor dari sana...,” Nanda masih berusaha memancing bosnya.
Adira jadi teringat sesuatu, “Mungkin ventilasi-nya tersumbat lagi. Itu sering kejadian.”
Sekarang giliran Nanda yang tidak berkomentar. Ia seperti semut yang sedetik menemukan makanan bergula tinggi. Tetapi kemudian, setelah membawa teman, makanan itu hilang. Lihatlah wajahnya yang tidak berekspresi itu diam.
“Tunggu, bukannya itu tugas anda juga untuk mengecek kebersihan ventilasi?” Adira menatap tajam Nanda.
Ups. Sekarang si semut ini harus pergi~
“Aaa... duh! Kayaknya saya harus ke WC deh!” Nanda melewati kursi Adira menuju satu pintu rapat yang paling dekat.
Ya tentu tidak semudah itu.
Adira sempat mengambil pel. Beruntungnya, benda itu berdiri bersamaan dengan tempat sampah di kereta bersih-bersih yang Nanda bawa. Mengulurkannya di belakang kursinya sebelum Nanda lewat.
“Mau ke mana? Bersihkan dulu ini! Tanggung jawab juga dengan ventilasinya!”
Nanda tertawa, “Jahatnya bu... yang OB kan bukan aku doang~ Atau pilih kasihnya Dira maunya lihat aku doang~?”
Adira menyepak perut Nanda dengan punggul pel.
“Terserah! Selesaikan kerjamu!”
Nanda menyadari satu hal lain, tapi ia lebih memilih mengalah sambil tertawa manis. Anehnya, Adira melakukan itu bukan karena marah.
Siang ini bukan hal buruk ya?
...◇ ◈ ◇ ◈ ◇ ◈ ◇ ◈ ◇ ...
Adira harus berimprovisasi. Kehancuran apapun yang ada di depannya, ia harus lebih siap.
Termasuk akan hal yang ia tidak ia mengerti terhadap dirinya sendiri.
Sungguh. Dira sudah seperti kucingnya yang melihat pertunjukan sulap di televisi. Tidak hanya bagaimana bisa orang itu menghilang dari balik kain, dia bahkan bingung siapa yang ia tonton.
Ia sudah menduga, pengaruh Nanda lebih besar dari yang ia pikirkan. Mungkinkan karena ia selalu muncul seperti penampakan yang terlalu ramah.
“Pft!” Adira berusaha menahan tawanya.
“Semuanya sudah berkumpul.”
“Aa, ehem,” Adira harus fokus dan lebih serius setelah sekretarisnya ini kembali, “Kalau begitu kita langsung mulai.”
Wanita ini berdiri di ramainya pekerja Pancarona. Ruang aula lantai satu yang cukup luas untuk seratus orang lebih berdiri bebas.
“Perhatikan!” Daffa memperjelas kesunyian yang diharapkan pembicara sebelum mengeluarkan kata per kata.
Adira menarik nafas setelah matanya tertutup dan terbuka sesaat. Waktu yang sempit itu, Adira mendapati Nanda di salah satu kerumunan itu. Senyuman hangat, cukup mengatakan kalau pria itu sungguh ada di sisinya.
Mari mulai melihat hasil yang pria itu percaya.
“Seperti yang saya sebutkan seminggu lalu, kita berada di dalam krisis. Tentu saja saya tidak bisa memaksa anda menerima honor yang kurang sambil mengharapkan kerja maksimal dari anda sekalian,” Adira berat melanjutkan kalimatnya.
Namun semua orang menunggu aba-aba yang sudah diduga oleh mereka. Terlepas dari pengumuman yang dinyatakan wanita ini tujuh hari yang lalu.
“Bagi siapa yang ingin mengundurkan diri. Silahkan letakkan surat anda di depan saya dan saya bebas tugaskan anda. Sekali lagi, mohon maaf. Untuk pesangon, saya harus membayar terlambat. Tapi saya jamin itu akan cair diwaktunya.”
Suara langkah dari orang yang ingin menyerahkan surat itu mulai memantul-mantul di dinding aula. Apalagi dengan suara aula yang senyap dari orang-orang yang memilih bisu.
“Akhirnya bisa lepas dari kamu juga, hah!” salah satu yang membanting surat pengunduran diri itu mulai belagu.
Tidak kalah kasar dengan empat orang temannya yang sepertinya punya satu frekuensi. Daffa bahkan harus ditahan oleh tangan Adira. Mereka tidak berkewajiban untuk menanggapinya.
Faktanya, wanita yang diejek ini kebingungan.
“Tidak ada lagi?” Adira tidak melihat orang lain yang maju selain lima, “Apa masih butuh waktu menulis surat pengunduran dirinya?”
“Tidak~” Nanda dengan senyum percaya dirinya bersuara, “Tidak ada yang mau keluar tuh~”
Adira tercengang. Tapi tidak dengan setiap orang di sini, mereka seakan melihatnya sebagai hal yang tentu saja terjadi.
“Honor kalian tidak akan sebesar sebelumnya! Mungkin bahkan saya akan...,” Adira kebingungan harus bagaimana menjelaskan keadaan yang tidak menguntungkan ini.
“Kami ngerti, bos,” Nanda menjelaskan dengan singkat pendapat banyak orang yang tetap di tempat, “Kami saja yang gak mau keluar.”
Diam melanda Dira selagi orang-orang menanggapi untaian Nanda yang lantang itu.
“Iya deh gaji dipotong,” Nanda melanjutkan ucapannya, “Tapi gaji awal loh udah gede. Ya kami mah, seneng kerja di sini.”
Adira terdiam. Pekerjanya seakan tidak berkurang sama sekali walau tahu Panca bisa saja merugi.
Pada dasarnya, ini tidak akan terjadi bila tidak ada Nanda. Siapa lagi yang terdengar seperti memamerkan kebaikan Dira di seluruh Panca kalau bukan Nanda sendiri?
Orang-orang pintar ini diingatkan kembali atas kepahaman yang sudah pasti. Kepahaman yang bisa saja hilang bila terbawa emosi. Nyata tentang apa yang membuat Panca seperti apa, dan kesuksesan apa yang masih tertunda. Nasib saat ini saja yang tidak berpihak.
Ayolah, siapa yang mau kehilangan pekerjaan di tempat yang memang bagus dan sulit untuk masuk seleksinya?
Dan Nanda memanaskannya kembali fakta itu di telinga mereka.
Zaman sekarang, orang mengerti konsep the beast yang ada di dongeng. Manusia kejam di pekerjaan yang membuat stres, bukan berarti bukan tempat yang sempurna untuk bertahan di dunia.
Secara tidak sadar, usaha pendiri Pancarona ini sudah berbuah kepercayaan para pekerjanya.
“Ba, balik kerja semuanya!” Adira, di mata Nanda tampak manis sekarang.
Beliau keluar dari ruangan dengan tampak tak peduli. Namun banyak juga yang menyadari sesuatu.
“Eek, bu Adira salting kah?”
“Bisa gitu?”
“Apaan sih, namanya juga manusia. Sama aja kali sama kita.”
Nanda mengernyit, “Ei, awas kalian naksir! Udah gua duluan!”
“Ye, siapa juga yang naksir. Gua kan gak aneh kayak lu!”
“Wah, penghinaan!” Nanda berlanjut.
“Kalian tenang!” Daffa yang masih tinggal.
Suara hening itu menandakan sebesar itu mereka fokus ke orang kedua Pancarona ini.
Daffa tersenyum kecil, “Mungkin ke depannya kalian bakal kerasa kerja terlalu berat. Pasti semuanya bisa stabil kalau kita kerja sama. Mohon bantuannya semuanya!”
Dengan seruan sang sekretaris, mulailah hari kerja seperti biasa. Pancarona tampak tidak berubah sama sekali.