The Childish And The Beast

The Childish And The Beast
#32 Outing Event



‘Bulan stress’. Ada kalanya para pekerja mengalami hal itu. Layaknya toko stationery yang terlalu ramai di awal pembelajaran baru. Pabrik-pabrik mebel yang menambah jam kerjanya sewaktu pesanan menumpuk. Sampai warung kecil di jam istirahat kantor.


 Dan lagi, biro arsitek yang mengutamakan deadline-nya dan permintaan klien. Ucapan selesai, tak menggambarkan arti sebenarnya.


 Pemikiran itu sampai ke Adira. Tidak salah bila ia menyadarinya bila para pekerjanya jadi terkesan... lambat.


Gagasan itu tidak bisa terlepas.


‘Perlu pencahayaan alami, mungkin’ pikirnya.


Kantor itu berusaha ia hidupkan dengan membuka tirai dengan tombolnya. Dinding kaca di belakang kursinya membuat ia memilih berputar untuk melihat.


Terdiam.


Nanda tertawa tanpa suara. Hal itu menandakan seberapa hebatnya ruang kedap yang Adira miliki. Berdiri sedekat itu dengan kaca yang ia bersihkan saja, Adira tetap tidak mendengar gelak Nanda.


Ruangannya kembali berfokus pada penerangan buatan. Setelah Adira memilih menekan tombol untuk menutup kembali tirainya.


“Huuuh...,” bertambah lagi lelah Adira. Itu wajah terakhir yang ia ingin lihat.


Dirasa ia hanya butuh sedikit istirahat. Apalagi ia melewatkan break time-nya.


“Hmm?” Adira menyadari sesuatu. Ia kembali memandang ke tirai yang tertutup di belakangnya.


Bila diingat lagi, sudah sangat lama ia melihat wajah pria ini. Perusahaannya tidak sebesar itu sampai membuatnya tiga bulan tak temu pandang. Ada masalah kah?


Ya, dia pernah mendengar dari Nata. Sudah lama sekali orang itu tidak mengunggah apapun di sosial medianya. Itu, apa itu berarti dia sedang stress kerja juga?


‘Kena, kenapa aku jadi memikirkan dia?!’


Ia sungguh teralihkan hanya dengan melihat wajahnya selama kurang lebih sepuluh detik.


Semua halang kabut pikirannya itu pasti hanya kekhawatiran akan pekerjanya sendiri. Hari semakin hari, banyak permintaan dan banyak waktu yang dimakan. Orang tidak bisa lepas dari kemungkinan stress.


Begitu pula Nanda.


...


‘Aku harus berhenti berpikir.’


...◇ ◈ ◇ ◈ ◇ ◈ ◇ ◈ ◇...


Sewaktu-waktu datang saatnya di mana ia pun tidak pirsa akan dirinya sendiri.


Pengetahuannya memang tidak menampung semuanya. Namun kalau masalah seperti ini, Adira sangat yakin kalau dialah yang memegang kendali dan pemahaman penuh. Rasa dan pemikiran dalam hatinya.


Namun bagaimana bisa terus berdengung akan keadaan Nanda selama ini. Khawatir akan kemungkinan yang terbebani pekerjaan.


Sampai wanita ini membuat acara outing kecil untuk perusahaan. 


Yah, setidaknya sudah kelihatan hasilnya di ekspresi para pekerja lainnya. Makan-makan seperti ini tidak ada yang menganggapnya sebagai hal buruk.


‘Tidak papa, sekali-kali.’


Adira juga tidak merasakan beban dari pengeluaran untuk menyewa seluruhan rumah makan ikan bakar ini. Ia pun tahu, suasana baru dalam sehari juga bisa membuat lebih segar. Perasaan itu juga ia rasakan.


“Bu Adira,” Daffa menangkap atasannya dengan laptop yang menyala, “Tolong, bu, ikut istirahat juga. Saya akan bantu kerjaannya nanti.”


“Udaranya bagus untuk berpikir,” Adira tidak lepas dari pekerjaannya, “Anda bersenang-senang saja.”


Daffa tahu betul wanita ini dikatakan sebagai wanita workaholic. Ia juga menyadari wajah segar wanita ini yang pastinya ia gunakan untuk pekerjaannya. Sehingga Daffa pun tidak ingin mencampurkan mood baik itu dengan gangguannya.


“Tolong ingat untuk istirahat, bu.”


“Tante tidak main air?” coba lihat itu, Abizar juga ikut khawatir selayaknya omnya.


Seumur Abizar, tentu ia semangat akan danau ikan sebagai tanah dasar banyaknya gazebo. Rumah makan yang terbuka dengan khas lesehan memang selalu tampak unik. Apalagi banyaknya wahana lain yang ditambahkan di kanan dan kirinya.


Adira mengenal baik anak ini. Ia menepuk kepala Abizar, “Abi saja. Tidak papa kan?”


Lelaki manis ini berinisiatif menyerahkan satu dari banyaknya permen miliknya. Membuat Adira harus berpikir, harus diapakan makanan yang tidak ia suka ini?


“Makanan manis bisa bantu berpikir cepat.”


Dira tahu anak ini pintar, tapi pengetahuan yang jarang didengar itu menggelitik perutnya.


“Makasih.”


Terbawa Abizar dengan Daffa untuk berkeliling kawasan di pinggiran danau⏤ yang keseluruhan bisa disebut setengah hektar. Adira berakhir sendirian di gazebo yang masih kosong makanan karena harus menunggu.


Makanan bakar memang lama untuk siap. Saking lamanya, Adira merasa ia harus mengisi perut.


“Huuuh,” nafas terbuang yang jelas itu menandakan Adira harus mengikuti kata sistem pencernaannya.


Dirasa ia harus menggandeng tas laptopnya dan mencari-cari makanan di sana. Butuh menelusuri jalan setapak untuk beberapa waktu.


Terjamah mata itu ke arah satu orang.


Bersamaan, bisik-bisik orang sekitar layaknya ada di gua yang menggemakan suara.


Perusahaan yang tidak rumit seperti Pancarona saja masih banyak yang belum mengenal Nanda. Macam kelakuan yang Nanda berikan memang mudah didengar. Tapi tidak ada yang mengelak bahwa penampilan Nanda masih menyilaukan.


‘Ganteng banget’, ‘Udah taken gak ya?’. Pujian sejenis selalu melewati telinga Adira setiap kali ia ada di dekat lelaki ini.


Faktanya, ia berjalan ke sini!


Eh? Tidak? Nanda berjalan saja melewati Adira.


‘Itu hal baru,’ pikir wanita ini.


Kaki Adira tidak berlanjut. Pandang ke punggung Nanda yang tidak berhenti.


Bukan pertanda yang baik!


Wanita ini berlari kecil mengikuti Nanda. Dan HAP! Ia berhasil menangkap sejumput bagian belakang dari sweater Nanda.


Tidak menyadarinya, Nanda sempat tersentak dengan sesuatu yang menghentikannya melangkah. Angannya kembali ke dirinya.


“Anda sedang apa?” suara familiar di telinga Nanda itu memutar poros di lehernya. Memperlihatkan Adira yang dekat di belakangnya.


Ia terdiam, “Emm....”


“Anda sadar di depan anda itu danau kan?” Dira masih belum melepas baju Nanda.


“Wah!”


Benar saja. Anak ini baru saja menyadari kaki kanannya ada di tepi danau buatan yang dalam.


Ia mengikuti tarikan Adira dan mundur beberapa langkah untuk keamanannya. Matanya, yang masih belum mencerna dengan benar informasi indra penglihatannya, beralih menatap ke Adira. Sesaat diam dalam kejut.


“Ini bukan kolam renang,” Adira berusaha mencari alur otak Nanda yang tidak terduga.


Mungkinkan dia ingin berenang? Namun dia tidak mungkin sebodoh itu.


Berusaha Nanda mengembalikan dirinya, “Aha, ha ha ha, iya,” walau masih sangat kaku.


Segelas kopi di tangan Nanda tidak sedikitpun bergerak. Orang yang memegangnya, seakan ditarik lagi dalam pikiran. Padahal orang nomor satu yang menarik perhatiannya masih ada di hadapan.


Sweater murah Nanda tidak menghangatkan suasana yang masih sunyi.


“Ananda.”


“Eh? Ya?”


Adira menaikkan satu alisnya. Tangannya ingin melipat keduanya di depan badannya. Satu jarinya masih terbiasa memperbaiki posisi kacamata meski kali ini ia tidak mengenakannya.


“Kalau HP anda ikut basah bagaimana? Tolong jangan berjalan sambil melamun,” ia masih berdiri di depannya.


“Aha ha...,” tawa itu terdengar jelas hambar.


Dira juga menyadarinya. Orang ini tidak sedang baik. Fisiknya tidak terlihat sakit. Kalau begitu....


Bos ini menempelkan punggung tangannya ke ujung dahu sendiri, “Ada masalah?”


Nanda menerima perkataan itu dengan baik di telinga. Ia hanya tidak percaya perkataan wanita ini. Ketegasannya seakan berubah menjadi keramahan.


“Apa karena itu juga anda tiga bulan tidak ada upload apapun?” Adira menyatakan pemikirannya kencang-kencang.


Kali ini tawa Nanda lebih alami, walau masih semu terdengar. Tapi senyumnya tidak berbohong.


“Gak worth it aja up terus. HP butut. Belum juga beli kuotanya,” Nanda tersenyum.


Diam wanita ini mendengarkan. Ia memang belum melihat apapun di sosial media. Namun ia tahu orang ini keras kepalanya bukan hal yang bisa disenggol oleh masalah seperti itu.


Ya, itu tetap keputusan dia sendiri.


Kepala Nanda memiring dengan senyum kalem mempesonanya, “Thank you sudah khawatir~”


Lupakan. Dia sudah kembali ke dirinya sendiri.


Nanda terkejut, Adira pergi meninggalkannya, “Loh? Mau ke mana? Dira~”


Senyumnya hilang saat wanita itu sungguh pergi jauh.