The Childish And The Beast

The Childish And The Beast
#30 Pengejaran



“Aku adalah raja dari lautan! Melawan, kamu harus jalan lurus ke papan kayu. Jatuhlah bersama harga dirimu! Argh arg arg arg!”


Percaya diri, Nanda memasang topi origaminya. Dengan kumis kertas yang diwarnai hitam dan ditempel hanya dengan selotip bening. Tangannya satu menutup sebelah matanya. Satunya memegang pensil warna dan menunjuk ke langit.


Semangatnya memang sesuatu. Membuat para karyawan yang sama-sama memakai ruang coloring, tidak bisa lepas memperhatikan.


Padahal anak yang sedang ia jaga bersikap tenang. Bersama gambaran dan crayon yang ia gunakan di meja rendah.


“Yang jaga siapa, yang jagain siapa.”


“Argh!” akting bajak laut itu masih berlanjut. Kali ini ia menunjuk karyawan yang mengkritik ini, “Jatuhlah kau ke dasar laut! Bergerak!”


Para karyawan ini tertawa kencang. Menertawakan Nanda. Namun muka tebal Nanda tidak mau menanggapinya.


“Nanda!” Omar datang dengan gitar milik Nanda, “Kamu ngapain...? Apaan kok kumis-kumisan?”


“Arg! Aku adalah kapten untukmu! Gerakkan kakimu dan bersihkan kapal, deck boy!”


“Deck boy, palamu!” Omar menyibak topi kertas Nanda, “Jangan main-main! Kerja!”


“Ini kerja,” Nanda menerima gitarnya dari tangan Omar. Ia pun ingat ia meninggalkannya di dapur kemarin, “Thanks.”


“Nanda disuruh jadi babysitter, Mar,” pekerja lain menjelaskan lebih dulu.


“Oh, pak Daffa yang nyuruh?”


“Iya,” Nanda memetik beberapa senar sambil melemparkan tatapan sinis, “Makanya jangan main tuduh aja~”


Omar tidak terima kalau dia salah, “Kamu kan sering bolos kerja!”


“Ye, mana ada! Aku tuh OB teladan~ Udah sana, kerja!” disombongkan dirinya sendiri sambil bermain nada rumit di gitarnya.


Perdebatan antar teman yang manis harus dihentikan. Omar juga punya jadwal bersih-bersih yang padat. Hari ini ada dua OB yang izin ditambah Nanda yang sedang tidak bisa membantu. Membuatnya harus ekstra bekerja.


“Ups,” Nanda menyadari ia memetik senar yang salah. Sadar, masih banyak yang perlu ia pelajari.


“Om,” Abizar tampak sudah mendekat, “Itu gitar om?”


“Iya, om baru beli. Keren gak?” Nanda memamerkan gitarnya.


Abizar duduk santai di karpet walau lebih dekat, “Itu kan gitar murah yang biasa di pasar.”


Ouch. Harga diri Nanda yang memang tidak tinggi-tinggi amat ini jadi jatuh lagi. Tidak ia sangka anak umur tiga tahun ini lebih paham yang seperti itu.


Bahkan semua orang, yang mendengar, tertawa akan kejutan ini.


Mau bagaimana lagi? Ia memang banyak mendapatkan uang belakangan ini. Walau kebanyakan adalah uang sogokan, itu tetap rezeki Nanda. Akan tetapi ia harus menahan diri. Uang itu tidak boleh dihabiskan untuk dirinya sendiri. Perawatan Ummi sangat mahal.


Hasilnya, ia bisa membeli gitar sendiri, walau yang tidak mahal.


“Pinjam, om,” tangan Abizar terulur.


Nanda menggembungkan pipinya, “Ye, ngapain? Kan gitar om murah!”


“Gitu aja ngambek, Nan. Hahaha!!”


“Si Abi loh cuma jujur.”


Dengan berat hati, pria ini lepas tangan terhadap gitarnya setelah Abizar sedikit memaksanya, “Awas rusak!”


“Hmm...,” anak manis ini mengambil posisi.


Memang bakat tidak pandang umur. Siapa sangka. Lelaki kecil ini hebat memainkan gitarnya, di samping tubuhnya yang lebih kecil. Bahkan lebih hebat dari Nanda biasanya.


“Kok bisa?!” mata Nanda berkelap kelip, “Ajarin dong~!” Nanda diulurkan gitarnya kembali.


Sementara Abizar meraih kembali tas ransel bermuka beruang dengan nama Abizar di atasnya, “Abi juga belajar sendiri.”


“Wah, Nanda, gak malu apa? Hahahah!”


Nanda kembali ke kumpulan penyejek itu, “Kenapa harus malu? Kan gak salah.”


Akan tetapi itu malah mengundang tawa yang berlanjut.


“Om,” Abizar kali ini berbisik.


“Napa?”


Ia mengulurkan tas ranselnya ke Nanda. Diperlihatkan apa yang ada di dalam. Leher Nanda spontan menekuk membantunya melihat ke dalam.


Anak kecil ini masih berbisik, “kelincinya Abi tidak sengaja ke bawa.”


“Huh?” Nanda memperhatikan lebih baik.


Benda itu sungguh bergerak. Memperlihatkan dirinya sebagai kelinci kecil berwarna putih. Ini sungguh hal random yang tidak terduga. Bahkan sulit untuk dicerna Nanda.


“Mau beli minum nih. Ada yang nitip?” satu karyawan yang sedang sumpek memilih mendekati pintu, “Nanda, Abi, mau nitip gak? Minimarket.”


“Oh? Gak... Gak,” Nanda yang linglung mencoba untuk menjawab senormal mungkin.


“Abi juga tidak. Makasih.”


Karyawan ini membuka pintu cermin satu arah itu, “Kay kay,” ia pun pergi.


“Om,” tekanan yang masih berbisik dari Abizar mengagetkan Nanda. Anak ini menunjuk ke arah pintu, “Kelinci Abi.”


Nanda mengarahkan perhatiannya ke arah luar. Memperlihatkan makhluk kecil berekor pendek itu melompat bebas di luar fasilitas coloring. Sesaat hening itu menegang dengan nafas gelagapan Nanda yang panik.


Sungguh hari yang random. Hari ini Nanda disuruh untuk menangkap kelinci yang baru saja diperkenalkan kurang dari lima menit lalu.


Kedua lelaki ini berlari ke luar pintu dan mencari-cari. Hewan ini tidak hanya lincah, jam kerja membuatnya semakin sulit dilihat.


“Auw!”


“Maaf!”


Nanda bahkan harus menabrak banyak orang. Akan tetapi mereka harus berlari.


Lagi dengan random yang tidak terbaca. Nanda dibuat panik melihat tingkah kelinci yang ternyata cerdik melarikan diri ini, dengan menaiki tangga.


Anak demi anak tangga akhirnya mereka naiki.


Berhenti sudah pengejaran mereka. Satu pria keluar dari satu ruangan, pria ini....


“Mau ke mana ini?! Abi! Jangan lari-lari!” Daffa berhenti di jalur lari mereka, di depan pintu yang ia tutup, “Nanda, harusnya kamu jaga Abi biar gak kemana-mana!”


“Iya. Ini emang gak kemana-mana,” Nanda tidak bisa diam di satu titik seakan gatal untuk ingin berlari.


Daffa tidak paham sama sekali. Melihat OB ini seperti ulat kepanasan yang tidak mau diam, “Bisa diam gak kakinya?!”


“Itu pak!”


“Itu apa?!”


“Om Daffa,” Abizar menarik-narik kemeja Daffa, “Si putih kabur ke dalam.”


“Putih?” Daffa terdiam. Mengingat ingat kembali akan nama itu, “Kenapa putih di sini?!”


Paman ini tahu akan kelinci yang baru saja diadopsi oleh Abizar. Ia tidak mungkin menyangka kalau ada hewan itu berkeliaran di kantornya.


Yang benar saja. Ini benar-benar bukan waktu yang tepat. Tamu hari ini, bu Windi, sudah bersama Adira di lantai atas. Beliau punya alergi bulu hewan.


Daffa harus berpikir cepat, “Di dalam ada tamu penting. Jangan ribut.”


“Lah, terus? Kelincinya?”


“Dengar, Nanda masuk kalau aku kasih tanda. Lihat aku di dalam dari sini. Ingat, diam-diam.”


Nanda berusaha menangani ke-random-an ini kembali. Ia mengangguk saja.


Daffa ini menarik nafas. Memasuki dengan tenangnya. Ia harus tenang dan bersyukur akan tata letak klien yang berdiri dengan santai di depan monitor. Pintu yang ada di paling belakang membuat si kelinci berada jauh dari klien.


Namun ia harus bergerak cepat.


Klien ini sudah ditangani banyak orang sekaligus Adira sendiri. Membuat Daffa harus mendekati Adira.


“Bu,” Daffa berbisik.


“Apa dokumennya sudah?” Adira bertanya dengan tegas.


“Masalahnya bu, saya minta maaf,” Daffa masih berbisik, “Abi, dia bawa kelinci. Kelincinya masuk ke sini.”


“Apa?” Adira terkejut bukan main.


“”Hachu!” klien ini ternyata sudah memiliki reaksi akan alerginya, “Kenapa tiba-tiba bersin begini?”


Adira melihat sekitar. Menemukan kepala Nanda muncul dari balik pintu yang terbuka. Pasang mata itu pun menemukan kelinci yang tenang di belakang ruangan.


Ia harus memutar otak.


“Mira, tolong minta OB untuk kasih pewangi baru. Jigar, ambilkan dokumen di meja Daffa. Daffa, kayaknya perlu lebih banyak menjelaskan desainnya. Ada beberapa yang perlu dijelaskan, ya kan?”


“Iya bu,” Daffa memahami keadaan. Ia mendekat ke arah klien mencoba mengambil perhatian beliau.


Kedua karyawan ini dituntun secara tidak langsung oleh Adira. Untuk keluar melalui pintu satunya di depan ruangan. Dan mata Adira menemukan Nanda yang masih terpatung. Satu telunjuknya memberikan arahan untuk  Nanda masuk.


Walau Nanda dengan lemotnya perlu waktu berpikir.


“Masuk, om,” Abizar berbisik dengan suara yang sangat pelan.


Nanda menyadarinya dan mengangguk. Perlahan ia memasuki ruangan.


“Bu Adira,” klien ini memanggil.


Untungnya Adira berhasil bersikap normal, “Iya, bu?”


“Kalau misalnya... hachi! Wah. Ini kenapa sih?” bu Windi ini mulai terganggu dengan bersinnya.


Daffa mengulurkan sekotak tisu, “Maaf bu. Mungkin OB kami kurang membersihkan tempat ini.”


Beliau menerima tisu, “Padahal masuk tadi tidak papa.”


Adira menyadari, keadaan akan semakin ribut. Ia menyadari, Nanda baru saja menangkap si kelinci dengan tanpa suara.


Bagus, pikir dia. Tangannya langsung melambai di balik tubuhnya menyuruh Nanda pergi.


Lagi-lagi Nanda tidak memahaminya. Ia tersenyum manis menanggapi wajah Adira yang kalang kabut meski ia berusaha tenang.


“Jadi, bu.”


Adira berusaha tetap tenang, “Iya, bu, kenapa?”


Mereka berbicara kembali sembari Nanda terduduk di lantai sambil memeluk kelincinya. Sesekali ada kesempatan, Adira memang menggerakkan tangannya lagi untuk aba-aba. Dan Nanda masih mencoba untuk memahami.


Abizar datang menyelamatkan keadaan, “Disuruh keluar om,” ia tidak perlu bersuara, sudah bisa menarik pelan om ini.


Pada akhirnya berhasil keluar dari ruangan. Mereka bisa bernafas. Dan tertawa bersama.


Random, sungguh random.