
Siapa sangka, rusuh di depan bangunan itu sungguh mengangkat orang-orang dari fokus untuk pekerjaannya. Kerumunan orang yang tampak liar. Layaknya mereka siap mencakar siapapun yang ada di dalam gedung.
Pancarona, tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Walau ia muda dan banyak kelemahan, hal ini terasa tidak mungkin terjadi.
Untung, masalah utamanya sudah ditenangkan. Keributan itu akhirnya mundur dengan Daffa sendiri yang turun tangan. Sedikit ketegasan dari aparat yang bersangkutan, orang-orang ini tampak tidak ingin menjadi pelaku.
Para karyawan bisa bernafas, untuk sekarang. Fares yang masih di sana merasa hukum akan bertindak tidak seperti yang diharapkan. Adira mengerti akan hal itu.
Dan saat ini dia sangat marah.
“Maaf, maaf maaf bu. Pak Danwar tidak bisa dihubungi⏤”
“Hubungi lagi!” Adira masih berdiri tegak di belakang kursi kerjanya.
“Baik!”
Daffa yang merasakan ketegangan itu sungguh tidak mengucapkan kalimat.
Sampai Fares mengucapkan pendapatnya, “Anda tidak bisa hanya marah saja. Cari cara dulu agar para klien anda tidak menyerang balik. Kalau mau mau tuntut, kita harus gerak duluan.”
“Bagaimana caranya menuntut orang yang kabur?!”
“Itu urusan mudah kalau tuntutan anda dipenuhi hukum,” tegas suara Fares tidak tergoyang oleh amarah Adira.
Suasana yang lebih serius dari sebelumnya terlihat jelas. Apalagi setelah Fares ini berdiri dari sofa.
“Untuk saat ini saya akan cari bukti. Kalau Pancarona tidak ada hubungan tentang kerja sama satu pihak pak Danwar. Masalah bisa selesai lebih mudah. Tapi saya tidak jamin anda akan keluar tanpa dampak apa-apa. Beliau masih pihak anda.”
Adira paling takut akan hal itu. Ini perusahaan yang tidak bisa asal berdiri tanpa dana sendiri.
Namun itu lebih baik daripada keruntuhan semuanya, “Tolong lakukan yang terbaik. Akan saya bayar berapapun.”
“Jangan pikirkan itu. Pikirkan saja cara..., mungkin pihak anda bisa buat kesepakatan yang tidak membawa hukum. Meja hijau bisa lebih liar dari yang anda kira,” Fares berjalan dengan berkas-berkasnya.
Dira sedikit menenangkan dirinya, “Akan kami pikirkan jalannya.”
Beliau pergi dengan meninggalkan ketiga orang ini. Di saat Adira menghela nafas panjang untuk menenangkan diri. Si pegawai wanita dan Daffa memilih diam dan melanjutkan penyusunan proyek Danwar yang kacau.
Pikiran Adira berlarut-larut. Ia sampai memikirkan skenario terburuk untuk Pancarona. Hal yang tidak ingin disentuh oleh tangannya.
Bunyi ponsel itu terdengar Adira. Ia tidak bersemangat akan chat yang masuk tapi ia tetap membukanya.
Hmm?
[You can get through this! Kalau ada yang perlu aku bantu, bilang saja. Semangat!]
Itu... Nanda?
Orang itu pasti mendapatkan kabar dari suasana Pancarona. Namun Nanda tahu, wanita ini kuat dan bisa menghadapinya. Kalimat itu sungguh mengatakan kalau pria itu ada di samping Adira.
Ampuh, tidak ada kata lain untuk menggambarkan reaksi Adira. Ia jelas lebih tenang.
Namun pesan lain mengganggu Adira. Pesan yang tidak ia kira akan menusuknya tepat di wajahnya. Datang bersama sebuah alamat share location di bawahnya.
[Aku dengar Danwar mengirimkan kamu hadiah. Gimana kalau aku bantu? Jam tujuh nanti temui aku.]
...◇ ◈ ◇ ◈ ◇ ◈ ◇ ◈ ◇...
Rumah makan sekaligus coworking space. Sangat indah untuk dikunjungi.
Terlalu indah untuk ada di tangan pria itu. Adira tidak menyukai kenyataan bahwa ia harus menjejakkan kaki ke tempat milik mantan kekasihnya.
“Dira!” Viren melambaikan tangannya, “Di sini.”
Wanita ini tidak menanggapi senyumannya, berjalan mendekat dengan tak peduli.
“Silahkan duduk.”
Adira masih tidak menyukai situasi yang ia masuki. Wajahnya sungguh mengkerut seakan beruang yang mengamuk.
Sementara pria ini melambai ke pelayan di sana, “Fine coffee, for this fine lady.”
“Tidak perlu,” Adira mengatakannya tegas, “Katakan apa mau anda kali ini?”
“Stretch to the point?” dia menikmati Doppio panasnya, “Aku pikir kita di sini mau sedikit bersenang-senang.”
“Bagaimana anda tahu tentang Danwar?”
“Apa yang anda rencanakan sampai memerintahkan Danwar untuk menggagalkan banyak sekali proyek?”
“Oh, kamu pikir aku yang melakukannya? Aku memang benar mau menggenggam Pancarona, tapi tidak mau dia runtuh.”
“Itulah yang saya tanya. Kenapa anda melakukan itu?” Adira membuang wajahnya, “Jangan mengelak. Anda membawa saya ke tempat anda, supaya anda bisa bicara bebas tanpa ada yang rekam jejak.”
“Tentu saja aku tidak mau pengacaramu mengganggu kencan kita.”
Adira tidak bicara sama sekali. Namun tatapan tajamnya melemparkan semua kalimat. Membuat Viren ini bergetar, dan semangat di dalam satu waktu.
“Kangennya. Matamu memang selalu menarik. Tajam... Bergairah.”
Hening itu mendatangkan sang pelayan dengan gelas kopinya. Tanpa bicara, ia meletakkan kopi itu di meja depan Adira. Kepul asap tipisnya tidak mengganggu tatapan lurus Adira.
“Aku mau membantumu,” Viren meneguk kopinya lagi, “Kalau kita kerja sama, mau klien sekuat apapun, semuanya bisa diatasi.”
“Dan dibayar dengan...?”
Viren mengakui kepekaan Adira. Ucapannya berlanjut, “Taruna. Lalu aku kasih semua modal yang hilang.”
Pertama, mengacaukan kesempatan Pancarona. Kedua, menyabotase progres Taruna. Dan terakhir, ini? Menghancurkan perlahan-lahan dari dalam Pancarona dan membuat Adira menyerah?
Apa lagi yang akan keluar dari balik bulu serigala yang maruk ini?
Bukan saatnya mengeluarkan perasaan, kan, Adira?
“Hanya Taruna?”
Viren tersenyum, “Ya, hanya itu. Kerja sama yang tidak berkait sama sekali kan?”
Adira, dengan sangat yakin ingin menolaknya. Taruna adalah proyek utama yang menghidupkan Pancarona di keadaan sekarang. Lebih baik ia menahan makan sampai batas kemampuan manusia daripada ia harus menyerahkan apa yang ia bangun.
Ditambah lagi, siapa yang akan percaya kalau pria ini akan berhenti sampai di sana?
Namun, kembali lagi. Semua yang dilakukan Danwar sangat meruntuhkan Pancarona. Tampak di masa depan⏤meski bila semuanya selesai dibersihkan⏤keadaan Pancarona masih merugi.
Dana-dana itu harus pergi selain untuk menopang modal proyek. Para Arsitek dan kawannya perlu dibayar jasanya.
Uang pribadi? Mungkin bisa menahan mereka. Untuk waktu panjang? Tidak mungkin.
Apa yang harus Adira lakukan?
“Bagaimana?” Viren sangat puas dengan keadaan,
“Saya..., saya....”
“Apa kamu butuh waktu? Tapi tidak ada waktu kan?”
Adira... harus melepaskan keras kepalanya. Untuk Panca, untuk orang-orang yang ia pertanggung jawabkan. Wajahnya yang tegas seakan ingin menangis.
“Saya⏤”
BRAK!
“Definitely, no!”
Adira terpaku. Di antara keduanya, tangan seseorang ini menggetarkan meja cafe sesaat.
“Dengar ya, kutu, kami tidak mau ada urusan!”
Terbuka mulut Adira tidak menyangka, Nanda sudah berdiri dengan satu tangannya menopang di tengah meja bundar itu.
“Kamu lagi...?!” Viren tidak menyambutnya dengan senang hati. Senyumnya seakan berbalik, “Ngapain kamu di sini?!”
“Emm.... Menjauhkan mantan posesif dari bos Panca tercinta? Kamu pikir ngapain?!”
“Ini di luar kesanggupanmu. Bos Panca dan bos Abinaya mau bicara empat mata!” Viren tersenyum ke Adira, “Wanita manis ini sudah ingin bekerja sama denganku! Kamu tidak ada hak untuk berkata lain!”
Nanda tidak bisa tersenyum. Ia sudah muak bahkan hanya dengan berhadapan dengan pria itu. Apalagi dengan kalimat basi yang diulang-ulang!
“Ananda?!”
Tidak diperpanjang lagi. Nanda menarik cangkir kopi penuh milik Adira dan menuangkannya ke Viren.