
“Abi,” Daffa membuka ruang coloring.
Siapa lagi yang ia cari selain keturunan dari kakak sepupunya ini. Kelinci di tangan Abizar tampak tidak bisa diam. Tidak berbeda dengan Nanda yang terus waspada agar makhluk itu tidak mengambil loncatan seribu.
“Pappa sudah datang, ayo,” asisten ini membantu Abizar melingkarkan tas punggungnya, “Nanda, kamu juga ikut.”
Ia bahkan tidak mau berpikir apa-apa. Lelah di tengah hari ini sungguh sesuatu.
Mereka hanya berjalan menuruni ruangan. Sampai ke ruangan yang lebih umum untuk tamu. Daffa bisa melepas tangan anak kecil ini yang berlari duluan ke ruang tunggu.
Pria berbadan indah itu menyambutnya setelah ia berdiri. Wajahnya jelas meski dua orang dewasa itu masih perlu berjalan.
“Thanks, Daf,” pria ini menyebarkan suara lembut yang tegas.
Daffa menjawab dengan tenang, “Iya kak.”
Nanda terdiam di sana. Sungguh atmosfer yang berbeda. Kedekatan mereka dan hangatnya percakapan sungguh dikemas dengan tegas dan kedewasaan keduanya. Memang tidak ada senyuman, tapi ia sudah tahu kalau keduanya dekat.
“Dia Nanda?” pria ini menyadari keberadaan satu orang lagi.
Daffa mendorong kecil Nanda, “Iya, dia.”
“Thanks udah jagain Abi,” pria ini menurunkan Abizar, “Masalah si Putih, aku minta maaf.”
“Nggak kok, kak, malah asyik kejar-kejaran,” Nanda tertawa manis.
Pria ini meraih dompetnya di kantong celana, “Ada sedikit nih,” dia mengulurkan beberapa lebar yang ia lipat dan sembunyikan di bawah telapaknya. Terulur ke Nanda.
“Lah, kak, gak usah,” Nanda menggeleng, “Udah dapat dari Daffa,” ia tersenyum lebar.
“Yang ini dari aku. Ambil.”
Nanda terdiam sejenak. Sedetik ia menerima alur ceritanya. Menerima uang itu dengan senyuman lebarnya.
“Jangan kapok-kapok ya kak,” Nanda masih saja bercanda.
Tentu dengan hadiah tambahan dari siku Daffa yang menekan pundak Nanda. Bisa-bisanya orang ini bercanda seperti itu!
“Heh,” Pria ini tidak disangka masih bisa tertawa kecil. Pria ini meletakkan dompetnya kembali. Meraih tangan Abi, “Yuk, kita pulang.”
“Abi boleh beli makannya Putih tidak?”
“Boleh,” kelembutan sang pria ini tercurahkan bagai orang lain, “Say thank you ke om.”
“Makasih om Daffa. Makasih on Nanda.”
“Siap,” Nanda menjawab dengan jempolnya.
Kepergian dua orang itu dibiarkan kedua pekerja Pancarona ini. Hangat keluarga kecil itu pergi begitu saja.
Dan Nanda pun mulai bicara pada Daffa, “Abi gak mirip ya sama papanya.”
Tatapan itu seketika terhenti pada Daffa, “Sama kak Fares maksudnya?”
“Oh, papa Abi itu kak Fares?”
“Kak Fares itu kakeknya Abi.”
Nanda terdiam sesaat. Mencerna⏤
“Huh?!” terkejut ia bukan kepalang, “Tapi manggilnya papa....”
“Paap, pa. Panggilan sayangnya Abi.”
“Lah, kakak lu udah punya cucu, kenapa lu belum punya anak?”
“Hubungannya apa sama gua?!” Daffa jadi terikut logat gaul Nanda.
“Ye, kan kakak. Emang umurnya kak Fares berapeee?”
“Lima tiga!”
“Buset! Dekat-dekat emak gue!” Nanda terkejut lebih lagi.
Pasalnya pria yang ia temui tadi tidak tampak lebih dari kepala tiga.
Daffa menghela nafas. Ia mulai berjalan ingin menelusuri lantai satu ke lift. OB ini mengikuti Nanda.
Kembali Nanda dengan kepo-nya, “Jadi... orang tua Abi ke mana?”
“Meninggal. Abi yatim piatu dari lahir.”
“Aa... whaaaaat?” mereka memasuki lift dan Nanda masih berbicara, “Abi tahu kan itu kakeknya?”
“Udah.”
“Oh, bagus. Gak kebayang kalau gak dibilangin sampai gede kayak gimana.”
Daffa melirik Nanda yang berdiri di sampingnya, “Abi lebih kuat dari yang kamu kira.”
“Heh?”
“Something just... tidak biasa sama dia....”
“Apa?”
“Nothing.”
Nanda yang kebingungan memilih untuk membiarkan pembicaraan itu larut. Bahkan Nanda tidak tertarik dengan cerita Daffa. Ia hanya penasaran satu hal.
“Tapi kelihatan mudah loh, kakak lu.”
“Nana?”
“Naan, na. Neneknya Abi.”
Pintu lift terbuka. Daffa mengeluarinya berusaha meninggalkan Nanda.
Nanda kembali terbakar, “Emang kenapa sama Nanna-nya?”
Daffa tak berucap sama sekali di sana. Melihat ke arah Nanda.
Ia tahu, orang ini akan semakin penasaran kalau ia mulai membicarakannya. Tidak banyak yang tahu, kakak ipar Daffa itu penuh dengan cerita dihidupnya. Bahkan ia adalah sebagian kecil dari cerita itu.
Menepuk pundak Nanda, “Kerja,” pergilah dia.
“Lah. Kenapa... dibilang dong.”
“Kerja!”
“Kabur dia... hik.”
Nanda menyayangkan apa yang baru saja terjadi. Itu sangat, sangat sangat disayangkan.
“OB! Ikut, kamu! Cepat!”
Akan tetapi waktu kerja tidak pernah membohongi siapapun. Tidak ada detik yang bisa disisihkan hanya untuk pemikiran yang tidak dibayar. Ikuti saja suruhan atasan yang baru saja lewat itu.
“Bersihkan ini!” pria bernama Danwar ini memerintahkan tanpa ragu, “Kamu ngapain masih di sini?! Sudah dibilangin keluar!”
“Pak, bukan saya,” Ajeng namanya, Nanda saja mengenalnya dengan baik. Tetapi ia tidak tampak senang, “Bukan saya yang rusakin, pak. Serius.”
“Keluar sekarang!”
Nanda berusaha mengambil helai kain. Hanya untuk membersihkan tinta yang tumpah ruah di sekitar mesin besar fotocopy ini. Akan tetapi ia tidak diam.
Nanda bersuara, “Kenapa sih? Memang fotocopy-nya kenapa?”
“Diam, kqmu! Selesaikan kerjamu!”
“Pak, tolong jangan potong gaji saya. Ini beneran bukan saya yang rusak,” Ajeng masih berusaha keras mempertahankan haknya.
Nanda menemukan sesuatu yang tampaknya tidak menguntungkan temannya. Tangan itu bekerja tapi tidak dengan otak, mata dan telinganya.
“Siapa yang bayar ini kalau bukan kamu?!”
“Tapi bukan saya pak.”
“Diam, kamu!”
Akan tetapi tidak ada yang bisa membuangkap Nanda, “Ya, pak, gak bisa dong kayak gitu. Ajeng kan bilangnya bukan dia. Masa asal tuduh.”
“Kamu siapa suruh-suruh saya?! Ini bos kamu!”
Lelah juga mendengar omong kosong seperti itu. Mata Nanda sampai berputar menanggapinya, “Gak ada hubungannya itu mah, pak. Kalau bapak salah juga bisa dipecat langsung sama bu Dira.”
“Kamu tidak ada kerjaan lagi selain suruh-suruh orang?! Bersihkan ini atau keluar saja sekalian dari Panca!”
“Bapak yang nyuruh-nyuruh dari tadi.”
Sudah sampai ke ubun-ubun amarah itu menaik. Danwar ini bukan orang yang sabar sampai membiarkan satu semut ini mencoba memanjat ke puncak pohon yang ia sendiri sedang panjat.
Apalagi ia mendengar akan kedekatan ia dengan bos besar. Orang yang tidak tahu diri ini mengambil jalan belakang. Bisa dia bertaruh, kali ini Nanda sudah bersenang-senang dengan uang habis raupannya. Kepala OB ini pasti semakin besar dan tidak tahu diri.
Tidak ada kata lain yang menjelaskannya, iri hati Danwar membuatnya membenci anak ini. Bahkan hanya dengan melihatnya, ia ingin mengutuknya sampai melewati batas kemanusiaan.
“Kerjakan tugas kamu sekarang! Jangan urusi urusan orang.”
Nanda, di urutan emosi yang tidak berbeda jauh. Kebenciannya terhadap bapak ini tidak jinak. Ia sudah cukup lama bekerja di sini. Mengetahui seberapa kotornya sifat bapak bertubuh gempal ini.
“Kalau bapak sembarangan sama temen-temen kerja yang lain, ya masa saya gak belain!”
Tidak bisa menahannya lagi. Orang ini sudah ia anggap sebagai pengganggu yang merendahkannya. Danwar sungguh dikendalikan oleh amarahnya.
Ajeng tahu betul hal ini bukan yang terbaik, “Nan, udah. Kamu gak usah....”
“Apanya kak? Dia selalu semena-mena sama orang kantor. Masa gak ada yang protes sih?” Nanda menyadari kerumunan yang lambat laut memperhatikan mereka, “Kalian bener mau diam aja? Ini penyalahan hak namanya!”
Satu pun tidak ada yang buta akan keadaan. Mereka hanya tidak memberikan tanggapan apapun. Tajamnya kenyataan sebuah derajat di pohon Pancarona. Enggan mereka berurusan dengan pria yang mengurus penghasilan mereka.
Dan Ajeng tahu, Nanda akan mendapatkannya setelah elakan tadi, “Nanda, minta maaf sekarang.”
“Buat apa? Ayo guys, kita harus⏤”
BYUR!
Suara air meluncur jatuh ke lantai. Menghempaskan beberapa tetesan langsung ke sepatu Nanda. Gelas itu juga dilepaskan jatuh mengikuti.
“Bersihkan!”
“Bapak gak bisa gini⏤”
“Kamu mau saya potong gajimu?! Atau mau dipecat sekalian?!”
Nanda bisa jadi terlalu percaya diri. Ia memang sepemikiran dengan sang atasan tertinggi, bila tingkatan seperti itu tidak memiliki arti.
Akan tetapi pekerjaan tetap pekerjaan, dan bawahan harus mendengarkan atasannya. Ditambah lagi atasan licik yang sudah dengan baik menjaga image-nya di depan bos. Tidak ada hak sama sekali akan suara Nanda yang ada di paling bawah.
Orang-orang ini tahu, dan mereka memilih mundur. Jadilah, bapak ini pergi dengan Ajeng. Dengan Nanda bersama kubangan air yang harus dibersihkan.
Ia tidak tahu. Terlalu cepat untuknya merasa kalah. Kedepannya, ia akan dikejar oleh dana yang semakin dipotong hanya karena atasannya marah.