
“Aaargh!”
“Tuan muda!”
Keributan mengelilingi meja kecil di sudut cafe yang tidak besar itu. Para pelayan mendapatkan penghidupan dari bekerja pada sang pria. Tidak bisa santai melihatnya disiram kopi panas.
“Tuan tolong ke sini, biar kami urus⏤”
“Lepas!” Viren mengelak untuk dibawa ke ruangan tertutup. Ia marah memandang si pembuat ulah, menunjuknya, “Berani-beraninya!”
“Kenapa?” Nanda masih menggenggam cangkir kopi milik Adira, “Mau gua tuang nih sisanya? Masih banyak!”
Salah satu pelayan ini mendekat, “Kak, tolong jangan bertingkah sembarangan di sini!”
“Oh, sekarang bosnya terlalu lemah buat lanjutin. Jadi minta pegawainya ya? Yakin kamu tingkat atas~?”
Kepintaran VIren terendam karena keangkuhannya dan amarahnya. Membekukan akal sehatnya. Ia tidak sudi dikatakan seperti itu oleh orang terendah. Penghinaan itu bukan hiburan sama sekali.
“Pergi kalian!” Viren berteriak pada para pelayan cafe.
“Tapi, tu⏤”
“Kalian harusnya dengarkan aku! Aku bos kalian! Waktu aku bilang pergi, pergi!!”
Hening yang sangat kencang itu menyelimuti ketiganya setelah para pelayan cafe takut untuk ikut campur. Saat yang sungguh dikhawatirkan Adira. Viren bisa saja mengamuk. Memperburuk keadaan Adira, Nanda dan Pancarona.
Akan tetapi, Viren menangkap dirinya sudah memenangkan loteri. Ia hanya perlu menukarkannya saja. Cool. Tenang dan Adira akan melanjutkan pertukaran hadiah itu.
“Aku kasih kesempatan sekali lagi,” lelaki yang sekarang melepas jas resminya itu kembali duduk, “Minta ampun sekarang, dan aku akan melupakannya.”
“Kebanyakan baca novel, pak? Enak aja!”
Adira semakin tidak nyaman, “Ananda, minta maaf sekarang.”
“Dira, udahlah. Tidak usah dipaksa. Kamu benci juga kan sama dia? Ngapain juga kerja sama?”
Wanita ini memang searah dengan apa yang dikatakan Nanda. Tetapi tuntutan memaksanya, tidak memiliki jalan lain.
Ananda mungkin tidak mengerti. Namun Panca yang mereka banggakan tidak berada di posisi yang prima untuk bisa menolak mentah-mentah tawaran ini.
Ditambah lagi karyawannya sudah menyiramkan kopi ke arah calon mitra kerjanya. Pancarona lebih berharga daripada keegoisannya kali ini.
“Kami tahu apa?” Viren tertawa mengejek, “Bosmu itu tidak punya pilihan. Dia harus kerja sama denganku, atau tempat kerjamu bakal hilang!”
“Kamu mau apa? Hancurin Panca?! Gampang! Gua tinggal demo depan rumah lo!”
Dira menarik ujung lengan baju Nanda, “Ananda!”
Nanda memandang wanita ini. Ia berpikir, apa benar Dira akan melakukannya? Adira itu kuat. Tidak mungkin bisa menyerah ke orang-orangan sawah ini.
“Bodoh sekali. Tanpa aku ratakan, Pancarona sudah pasti hancur.”
Sinar mata Nanda yang terpantul menggambarkan amarahnya yang kembali ke arah Viren, “Maksud?”
“Ananda, Pancarona sedang rugi. Kalau kita tidak punya dana bantuan...,” Adira memotong ucapannya, “Bisa biarkan kami? Anda yang bisa susah nanti.”
Viren menunjuk bajunya, “Tingkah tidak sopan ini. Bisa bikin Pancarona tidak punya harapan lagi. Gimana kata orang kalau lihat OB Pancarona berulah.”
Terdiam Nanda tidak merespons. Ia berpikir untuk beberapa saat.
Namun pria liar ini tidak bergetar akan ancaman itu. Di ujung akalnya, ia menemukan lampu yang menyala. Kebetulan, dia memang berencana mengeluarkannya cepat atau lambat.
“Maaf, ya, gak takut memang,” tak menduga tangan Nanda mengeluarkan selembar amplop.
Surat mengundurkan diri yang ditulis tangan langsung oleh Nanda.
Itu sungguh tidak terduga.
“Apa maumu?” Viren mulai tidak menyukai langkah Nanda. Akan tetapi ia tidak melihatnya sebagai kerugiannya....
Belum.
“Gimana? Kalau mantan OB ini dikeluarkan karena perusahaan yang baru kerja sama minta saya keluar?”
“Heh? Memang ada yang akan percaya?”
“Memang ada yang tidak percaya?” Nanda tersenyum tajam, “Gak cuma kamu yang punya orang hebat. Tidak kenal namanya kakek Hadyan~?”
Itu bukan rencana yang matang. Namun kedua orang ini memahami seberapa memungkinkan pria ini menjalankan apa yang ia sebutkan barusan.
Manusia sangat rapuh. Apalagi dengan desas-desus yang ditebarkan dengan tidak bertanggung jawab.
Benci dari dalam tulang sampai ujung rambut. Perasaan itu tidak bisa ia tutupi walau ia diminta menggunakan masker wajah. Ananda Ramli, pria ini tidak akan Viren maafkan.
“Ya, ya, ya. Udah pergi sana. Gak malu dilihatin banyak orang?” Nanda membuat muka bodoh, “Gak usah sok gagah, Dira pasti milih aku daripada kamu. Terima aja.”
Viren mendekati pria yang masih berdiri menyampingi meja ini. Tidak begitu jauh mereka mengilatkan kemarahan satu sama lain. Petir yang ada di perasaan saja menegangkan keduanya. Badan yang tingginya tidak begitu jauh, tentu bisa menambah hawanya.
“Kamu tidak mungkin mengundurkan diri. Ibumu butuh kamu kan? Kali ini cuma kebaikan dariku,” Viren mengambil waktu perginya.
Ia tidak menunggu jawaban dari Nanda⏤tidak, Nanda bahkan tidak bisa menemukan jawaban yang ingin ia lemparkan untuknya. Seakan kenyataan itu tidak bisa terbantah.
Alasan yang membuatnya bertahan di pekerjaan yang menguntungkannya ini, tidak lain dan tidak bukan karena ummi-nya.
Dira tidak merasakan kilatan tegang antara pria itu. Wanita ini berdiri dan menarik tangan Nanda.
“Ikut!” sepatu flatnya masih bisa bersuara saat ia melangkah pergi membawa bawaannya, beserta dengan Nanda.
Mereka memilih melepas tangan setelah beberapa jauh dari cafe. Nanda yang sedari tadi diam, mengikuti dengan sangat menurut.
Jelas bosnya tidak senang dan menghadapnya dengan kedua tangan yang terlipat.
“Apa itu tadi?” Dira mengevaluasi pegawainya ini.
Nanda memainkan bibirnya mengeluarkan tampang tidak bersalah. Siapa bos yang tidak marah kalau tahu ada bawahan yang mengikuti sembarangan? Faktanya, dia mengganggu pekerjaan bosnya.
Bos ini perlahan menenangkan diri, “Anda tidak perlu ikuti ke masalah ini. Ini masalah saya. Saya akan pastikan anda bisa bekerja. Bisa mendapatkan honor yang sudah disepakati di Pancarona. Tanpa ada masalah.”
Hmm? Semangat di mata Adira tidak padam. Ia tidak putus asa⏤sama seperti yang dilihat Nanda saat ia keluar gedung Panca beberapa saat lalu.
Mungkinkah itu hanya kekhawatiran Nanda?
Orang-orang tahu, wanita ini kuat dan tidak perlu diberi simpati. Punggung tangannya tidak akan ragu menyepak rasa kasihan orang lain. Kemandirian dan kehebatan itu yang membuat Dira adalah Dira.
Lengkung bibir Nanda terangkat, “Dira sudah banyak bantu aku. Rasanya... tidak adil kalau aku tidak bantu. Tapi, aku bisa apa? Kekuatanku cuma bisa pinjam nama orang. Mau bantu, bantu gimana?”
“Anda tidak perlu membantu.”
“Aku tahu~ Adira pasti bisa sendiri. Tapi, pahami sedikit dong,” pria ini memutar arah pandangnya bernegosiasi dengan sepoi angin yang tiba-tiba, “Kalau orang yang kau suka kesusahan, kamu memang bisa diam?”
Lagi-lagi membicarakan hal itu. Tidak ada hari pertemuan dengan Nanda, di mana dia tidak mengatakan perasaannya. Jika seperti ini terus, Adira bisa jadi sampai malu mendengarnya.
Namun, tak sampai sana, “Anda, sungguh menulis ini untuk membantu saya?”
Mata itu kembali ke tangan Dira yang ternyata sudah membawa surat pengunduran diri Nanda, “Cuma itu yang bisa aku pikirkan.”
“Tidak. Jangan begini hanya untuk Panca! Saya tidak terima suratnya!”
Pikiran Nanda hanya mengatakan, seberapa imut bosnya ini, “Aku juga bakal keluar kalau gak karena itu.”
“Apa?” Adira teringat satu hal, “Anda ingin mengejar cita-cita anda?”
“You could say that.”
Adira tahu, dia tidak bisa menghentikan kalau memang pegawainya ingin melepas Pancarona. Mimpinya membangun tempat yang ramah akan hobi dan mimpi pegawainya masih belum bisa terealisasi.
Rencana angan-angan itu tidak mungkin bisa di keadaan Pancarona saat ini. Sialnya lagi, keadaan memperburuk kemungkinan banyak pegawainya tidak bertahan di pancarona.
Pada dasarnya, pancarona sudah habis.
“Oh, jadi itu yang bikin aku kepikiran,” Nanda memiringkan punggungnya, membuat wajahnya bisa mengintip ekspresi apa yang ada di wajah Dira.
“Apa?”
“Ayolah, masa bosku yang kuat mau nyerah? Belum. Dira belum kalah. Pasti bisa kalau mikirin lebih lagi,” Nanda menggosok kepala Dira, “Muka putus asa gitu gak cocok sama Dira.”
Terkejut Dira mendengarnya. Padahal ia tidak mengatakan apapun, tapi pria ini sungguh mengetahui arah jalan hati dirinya.
Dirinya yang sudah putus asa.
“Aku memang tidak paham apa-apa. Tapi aku pasti ada di sini kalau kamu butuh,” tangan pria itu tidak lepas dari kepala Adira, “Dira gak butuh balik lagi sama mantan! Cemburu nih aku~”
Sungguh? Kalimat penyemangat apa itu?
Namun tidak dapat diterka, pikiran Adira layaknya di awan,
Ia sadar, semua yang dikatakan pria ini tidak salah. Dia hanya perlu memutar otak untuk lebih keras kepala. Tangannya masih sanggup.
“Kalau mau bantu, jangan seenaknya mengundurkan diri,” Dira menyepak tangan Nanda dari tangannya, “Menambah pekerjaan saja,”
Nanda tertawa manis, “As you wish, my queen~”
Adira tidak menjawab, ia hanya membuang wajahnya jauh dari Nanda.