
Desain yang hanya kayu. Namun masih kuat untuk terus diterpa air. Ember plastik yang tidak lebih dari enam puluh liter menjadi penadah yang tangguh di rumah pria ini.
Tetesan air yang dipangku sejenak oleh barang sederhana. Semuanya mengalir deras setelah ditumpahkan langsung di kepalanya. Pasalnya tak panas dan tak dingin. Bisa dilihat pria ini menikmati mandi paginya.
Ia merenggang kecil setelah kain itu melilit dirinya.
“Huh! Seger!”
Nanda langsung keluar dari kamar mandi satu kali satu meter itu. Tidak sempat mengeringkan tubuh atasnya, sudah masuk ke dalam rumah yang lebih permanen. Ubin membiarkan jejak basah dari telapak pria yang mengguncang rambut basahnya.
Singkat, ia memasang kemeja khas merah itu dan keluar lagi. Pekerjaannya hari ini harus jadi pengalaman baru baginya!
“Ramli, makan dulu yuk,” wanita ini sering disebut Ummi.
Hanya mereka berdua yang ada di rumah type 24 yang setengah jadi itu. Dan itu cukup untuk keduanya merasakan sarapan yang tenang.
Ummi ini menambah porsi oseng sayur itu di piring anaknya, “Gimana kerjanya?”
Pria ini menyelesaikan kunyahan di mulutnya, “Bosnya manis~”
“Yahh. Bukan itu maksud ummi!” wanita yang senantiasa berpakaian sederhana ini memukul pundak putranya, “Kamu gak ada sakit? Capek? Bener enak di situ?”
“Enak, ummi. Kayak masakannya ummi~”
“Haduh, diajak serius gitu ya?”
Nanda tertawa manis, “Ummi mikir yang enggak-enggak terus sih. Kan ummi tahu, anak ummi yang paling ganteng bisa kerja apa aja~”
“Iya, ummi gak mikirin lagi,” wanita ini tidak bisa membekap mulutnya, “Tapi jangan dipaksa loh. Kalau capek, istirahat. Berhenti juga gak papa.”
Jejeran gigi Nanda yang sibuk ******* makanannya, hanya sebuah alasan untuk diam. Tanpa sedang memakan saja, Nanda memilih untuk diam.
Ia memiliki alasan yang, sampai kapanpun, tidak akan disetujui ummi-nya.
“Uhuk huk!”
Kesehatan wanita nomor satu bagi Ananda Ramli ini, sudah tak sebugar dulu.
Nanda mengulurkan gelas air putihnya, “Ummi gak usah buka warung hari ini. Nanti malah tambah batuk.”
“Ummi gak papa.”
“Ummi. Dengerin Ramli dong.”
“Gimana nanti masakannya? Kan ummi sudah masak.”
Tak suka Ramli dibuat ibunya sendiri, “Ummi jangan gitu. Gimana kalau Ummi sampai masuk RS lagi?”
Kendati apapun elakan yang dilempar, semua ini dasarnya karena satu hal dan akan memang satu hal itu.
Ananda harus mencari penghasilan tetap dan menyurutkan mimpinya untuk saat ini. Obat, tenaga medis dan semua sarana sangat dibutuhkan oleh sang ibu. Bila dana tidak ada untuk satu hari saja, pasti sulit untuk tubuhnya.
“Iya, ummi jualannya sampai jam sepuluh saja deh.”
Nanda belajar untuk tidak memaksakan kehendaknya untuk orang lain. Ia besar dengan seperti itu. Dan tidak mungkin ia memaksa ummi yang selalu bersemangat ini.
“Hp ummi jangan ditinggal loh,” pundak pria ini tidak bisa tenang.
Namun waktu menunjukkan sudah saatnya menarik gas dan pergi.
Pria ini memang biasa bangun pagi. Bukan hal aneh menemukan antrian jalanan yang tidak berhenti. Selancar itu, sampai di Pancarona pun terasa belum ada siapa-siapa.
Teman Nanda yang berupa kendaraan butut itu diistirahatkan di parkiran bawah tanah. Waktunya untuk memulai rutinitas pagi di studio yang luar biasa. Ia rasa pertama-tama ia harus menyiapkan coffee maker di lantai dasar.
“Hei kamu,” suara pria yang melintas di sampingnya terdengar menggema.
Nanda berhenti melangkah. Ia menemukan pria gagah yang memanggilnya. Mengenakan jas mahal yang bahkan menyentuh bahannya pun tidak akan pernah untuk Nanda.
Kiranya, Nanda memilih untuk bicara sopan, “Saya?”
Pria asing ini mendekati Ananda dan menghadap lurus pria OB ini. Kebingungan menguasai wajah Nanda. Ia sangat tidak mengenal lawan bicaranya. Lalu apa yang membuatnya harus saling berbicara di tempat seperti ini?
“Langsung saja,” pria ini berhenti, “Kamu, ada apa sama Adira?”
Kusut, Nanda benar tak bisa menangkap apapun, “Apanya?”
“Ananda Ramli, kamu kan?” pria ini memulai bicara lagi, “Hubungan apa kamu sama Dira?!”
Satu kata yang keluar dalam pikiran Nanda tentang orang ini, aneh. Datang tak diundang dan pertanyaan tak masuk akal membawanya ke keadaan ini. Harus dijawab apa?
“Memangnya kenapa? Anda sendiri ada hubungan apa sama Dira.”
Mata pria ini menajam, seakan tidak menyukai setiap kata yang Nanda pilih. Itu bukan hal pertama bagi Nanda. Walau ia tidak begitu paham apa yang membuat orang-orang selalu marah, tapi Adira pun suka mengeluarkan ekspresi seperti itu.
Pria ini menajamkan pandangannya, “Kamu cuma OB. Dira, owner. Tingkatan kalian jauh. Seharusnya kecoak kayak kamu gak paksakan keberuntungan. Merusak pemandangan.”
“Huh?”
Alis Nanda terangkat satu, menandakan sebesar itu ia tidak peduli dengan ucapan pria ini. Memperhatikan lebih jelas, Nanda mengingat satu hal yang sempat ia anggap tidak penting. Penampilan, wajah dan gestur dari dagunya yang selalu naik.
“Kamu,” Nanda menunjukkan jarinya ke arah pria ini, “Kamu orang yang bikin Dira nangis kapan hari kan?!”
Pria ini terdiam sesaat, tapi ia tertawa aneh, “Hooh, dia menangis?”
Keluar lagi pikiran tak nyaman dari sosok tak dikenal ini. Bisa-bisanya ia tersenyum puas selagi mengetahui wanita luar biasa seperti Dira menangis karena dia. Nanda tidak mau pria ini berurusan dengan Dira.
Tangan kiri Nanda terkecak di pinggangnya, “Gak tahu sama tingkat-tingkat begituan. Buat apa juga dengerin cowok gak ada gentle-nya sama sekali? Mending kamu yang jauh-jauh dari Dira.”
Pria ini mengangkat dagunya lebih tinggi, “Bagaimana Dira bisa hire orang bodoh kayak kamu?”
“Memang kamu yang tentukan keputusan Dira?” Nanda tidak getar, “Dengar ya, mau kamu pacar, tunangan, apalah itu. Aku gak peduli. Lebih baik kamu gak cari urusan lagi sama Dira.”
Seringai orang ini menghilang tanpa jejak. Ia menganggap serius akan kicauan serangga yang berisik ini. Berani-berani ia bicara seakan ia yang ada di puncak tangga.
“Ananda!”
Kedua pria yang sedang berdebat ini menemukan sumber suara lain. Lelaki lain yang tidak tahu kapan datang. Namun suaranya yang tegas dan langkahnya yang tahu posisinya. Orang ini bukan yang bisa diabaikan.
“Kamu ngapain lagi pagi-pagi?!” Daffa datang, marahnya ke arah Nanda.
Mulut Nanda melengking tak merespons positif apa yang dikatakan sekretaris bos tertinggi ini, “Yah, pak Daffa pagi-pagi marahin saya. Saya mah cuma mau masuk, terus kerja. Lah, ini, ngajak kelahi⏤Aauw!”
Daffa menyenggol keras kepala Nanda dari samping, “Jangan melantur! Kalau mau kerja, kerja sekarang!”
Si pria, yang masih tidak Nanda kenal ini, tampak tidak bereaksi dan memilih untuk memperhatikan.
“Napa sih pak?!” sedangkan Nanda tidak bisa berhenti marah.
Daffa menatap pria ini, “Maaf pak. Saya sendiri yang akan menegur anak ini. Anda tidak perlu sulit-sulit mengurusnya.”
Nanda memang sejenak berpikir ini orang penting, tapi ia tidak berpikir kalau atasannya pun membela orang yang salah.
Pria ini tertawa kecil, “Memangnya kamu tahu aku bicara apa sama dia?”
Asisten ini membungkuk kecil, “Saya rasa Ananda hanya bicara tidak pakai pikir. Apapun yang dibicarakan, dia pasti sudah menyinggung anda.”
Sungguh bukan orang yang bisa diremehkan. Pria ini tidak mau berurusan lagi.
“Aku pergi.”
Daffa mempersilahkan pria ini pergi, “Semoga hari anda menyenangkan,”
Parkiran itu masih saja sepi meski waktu semakin naik mendekati jam kerja. Dan Nanda semakin dibuat tidak menyukai keadaan.
“Kenapa saya dimarahi tapi dia nggak sih?! Semua orang sukanya marahin OB ya ka⏤”
“Diam! Kalau aku tidak hentikan, kamu bisa nyusahin bu Adira!”
Nanda terdiam, “Kenapa? Emang dia siapa?”
“Kamu gak tahu? Virendra Abinaya, penerusnya Abinaya group.”
“Oh? Yang sabotase kerja bu Adira?!”
Daffa menyerngitkan keningnya, “Aku gak tahu kamu dengar itu dari mana, tapi iya, beliau bisa. Makanya jangan sembarangan sama orang itu. Ingat! Kamu sendiri yang bakal kena!”
Nanda mulai nada bicara mengejek, “Apa? Dia mau menghabisi aku dan keluargaku?”
“Bisa.”
Nanda terdiam menelengkan kepalanya, “Gimana, gimana?”
“Dia bisa begitu!” Daffa berteriak lagi, “Makanya bu Adira tidak pernah bisa tenang. Kamu juga Panca! Makanya hati-hati!”
Ananda tidak tahu harus seperti apa. Konflik ini diluar kapasitas kepalanya. Namun ia benar tidak ingin membuat sulit orang, khususnya wanita yang masih spesial di hatinya itu.
Nanda akhirnya bisa tenang, “Memang dia siapa sih? Kayak mantan overprotective aja.”
“Memang mantan.”
Terdiam sejenak, “Huh?!”
Daffa kembali meninggikan suara, “Udah, kerja sana!”