The Childish And The Beast

The Childish And The Beast
#25 Keegoisan dan Cinta yang Rapuh



“Kopi~! Kooppi kopi kopiiii~!”


Seperti yang biasa dilakukan Nanda selalu membawa kopi pesanan banyaknya pekerja yang menyisih malam. Memilih untuk mempercepat jam kerja dan mengambil waktu tidur. Deadline memang mematikan di saat-saat terakhir.


“Thanks, Nan~”


“Asli, ngantuk bet!”


Nanda tertawa, “Melek, melek. Nanti gaji dipotong.”


“Gak dipotong gajinya aja, dipotong juga kita-nya.”


“‘Saya harap anda tidak hanya bilang bisa menyanggupinya. Saya butuh action. Dan tanggung jawab anda’ sumpah!” suara mengejek itu disusul tawa.


Mulut Nanda tidak mengeluarkan tawa sama sekali, “That’s not very nice.”


“Itu berarti lu gak asyik.”


“Kami respect dia kok, cuman, kadang-kadang bikin jengkel. Paham lah gimana.”


Nanda tidak ingin menanggapinya. Hari ini sudah cukup memanaskan batinnya.


Dia hanya menyokong teman-temannya akan minuman booster ini. Ingin pulang secepatnya.


Oh.


“Kok lebih satu?” Nanda menjumpai dua gelas yang tidak disentuh.


“Punya Aqni, dia lanjut di rumah katanya. Buat lu, itu.”


Nanda memasang muka malas, “Ye, tahu gini gak beli tadi.”


Sikut seseorang menyerang tangan Nanda, “Kasih bos sana.”


Mata pria ini terbuka lebar, “Dira masih di sini?”


“Ye, apaan tuh manggilnya? Udah pacaran?” mereka menertawakan Nanda.


“Berisik,” Nanda meraup kedua kopi itu, “Di mana lu lihat Dira?”


“Kantornya dia lah, mana lagi?”


Pria ini tidak mengindahkan ejek-ejek temanya. Ia tahu kebanyakan pendapat yang bersirkulasi adalah derajat ia dan si bos terlalu jauh. Namun, lelah mendengarkan, ia memilih mengikuti apa yang dipercayainya.


Sampai akhirnya ia di ruangan bos satu ini.


“Misi~”


Adira di dalamnya masih ada di depan peralatannya. Meski matanya melirik ke arah pintu yang setengah terbuka. Ia menemukan wajah ini yang tidak bisa hilang walau diusir berkali-kali.


Kembali tangannya kembali ke penggaris dan pensilnya, “Saya sibuk.”


“Ada kopi~” Nanda tidak mendengarkan usiran lembut Adira dan sembari memperkecil jarak mereka. Kedua kopi itu diangkat di samping wajahnya sendiri, “Mau yang mana?”


Terhenti tangan Adira melihat ke arah yang Nanda tunjukkan. Ia berpikir sejenak dan berkata, “Dari siapa?”


“Kelebihan satu,” Nanda mengangkat lebih tinggi yang di tangan kanannya, “Avocado? Mochachino?”


Wanita ini tetap tahu kalau kebaikan tidak boleh ditolak. Pada akhirnya yang ada di tangan kiri jadi incaran Adira.


Ia memilih kembali duduk dan meneguk beberapa kali kopi yang masih hangat itu.


“Lebih baik anda pulang sekarang,” diletakkan kembali kopi itu.


Tidak ada niat apapun, wanita ini hanya memikirkan kalau pekerja office boy tidak disertai kontrak kerja malam kecuali kalau memang perlu. Selama ini, meski Nanda sering didapati sampai larut di sini, ia tidak mendapatkan tambahan gaji.


Namun Nanda, yang sudah tiada suasana hati bagus, menyangka itu tolakan kasar.


“Cuma mau bantuin, gak boleh?” Nanda ikut meminum kopi yang memang ia pesan sendiri.


“Saya tahu. Pulanglah, biarkan yang punya task buat kerja.”


“Gara-gara aku cuma OB, seharusnya gak ada di sini sekarang. Gitu?”


Adira mencermati bila Nanda memahaminya, “Iya.”


Namun Nanda lagi-lagi menangkap hal lain, “Kenapa orang pada ngeliatin pakai derajat-derajat? Bos gak cocok sama OB lah.”


Tersadar akan adanya yang salah, Adira kembali berhenti, “Maksud anda?”


“Apa Dira juga mikir sama kayak ayahnya Dira?”


Terdengar hal yang tidak disenangi Adira, “Apa yang dia bilang pada anda?”


“Dia nyuruh buat jauh-jauh, soalnya gak cocok OB sama bos.”


Siapa lagi yang akan dirugikan? Namun ia harus pastikan... terhenti pemikiran Adira.


Gendangan keras layaknya suara drum, dibuat sadar dengan orang ini. Nanda, ia sampai mendapatkan dua ancaman yang sama dari dua orang berbeda. Dan keduanya seakan terganggu dengan sikap Nanda yang dekat dengannya.


Ya, semua orang yang baru mengendus, akan terkejut dengan keberanian Nanda bersama moncongnya. Namun sampai Viren yang manja dengan sekretarisnya pun, bertemu langsung dengan pria ini. Ayah itu juga, mendatangi Nanda hanya untuk itu.


Haluan mana yang dituju mereka? Itu jelas keanehan.


Adira sekilas berpikir, Nanda bisa saja akan kena imbas yang lebih parah. Ia tidak ada hubungannya sama sekali akan semua ini.


“Saya rasa itu yang terbaik,” Adira merogoh ponselnya.


“Baik mananya?”


Ia mengetik e-mail dengan ponsel itu, “Saya minta maaf atas tingkah Virendra dan ayah saya. Anda pasti terganggu.”


“Itu....”


“Saya sudah sampaikan. Seharusnya gaji anda akan lebih banyak bulan depan.”


Nanda memandang tak jelas akan yang dimaksud, “Kenapa jadi ke gaji?”


“Itu imbalan tambahan, jadi anda bisa lebih tenang jauh-jauh dari saya kan?”


Hening menghantam Nanda. Spekulasi Nanda yang langsung menyimpulkan, alkisah, wanita ini sama saja. Berpikir kedudukan adalah segalanya.


Adira melesat berbicara, “Pastikan orang lihat kita tidak punya hubungan apapun. Khususnya di luar Pancarona. Dan jangan panggil saya Dira lagi⏤”


“Terserah!”


Bungkam Adira memandang Nanda yang benar sedang naik darah. Wajah murka itu tidak pernah ia lihat sebelumnya.


“Good night!” namun tidak lama, pria ini pergi dan membanting pintu.


Membuat Adira tak sempat berkomentar.


‘Apa penyampaian tadi ada yang salah? Apa dia tidak mau hanya uang saja? Butuh properti?’


Itu yang dipikirkan Adira.


Pebisnis ini memilih untuk memprioritaskan yang terpenting. Virendra? Bukan. Menghentikan gerak sang mantan ayah terlebih dahulu.


...◇ ◈ ◇ ◈ ◇ ◈ ◇ ◈ ◇...


Adira tidak pernah mengambil keputusan dengan perasaan. Yang ia ambil selama ini hanya berdasarkan teori dan kemanusiaan.


Yang didapat? Tidak hanya tegas, wanita ini juga tidak bersosialisasi dengan baik di luar bisnisnya.


Itu juga bukan karena alasan. 


Sehebat mungkin Adira sekarang, masa kecilnya hanya sebagai kutu buku yang suka menjadi bahan ejekan.


Ditambah dengan perceraian bapak dan bunda-nya. Tipu muslihat Virendra. Bahkan kekerasan yang diterimanya dari ayah angkatnya. Membuatnya semakin pendiam dan tidak percaya dengan orang.


Jalan yang diambil, ketat memastikan semua tidak menghancurkan dirinya lebih dari yang sudah-sudah.


“Anda sudah siap pesan, bu?” waiters itu ketiga kalinya bertanya hal yang sama.


Letih Adira memandang pekerja ini. Akan tetapi ia tidak mungkin lebih lama di sini tanpa memesan. Jam tangannya sudah menunjukkan waktunya habis. Dan pria yang pernah menjadi ayah angkatnya itu tidak kunjung datang.


“Onion ring dan...,” ia memesan beberapa hal yang sudah ada di dalam pikirannya, “Takeaway. Beritahu saya bila selesai.”


Dirasanya harus pergi tidak lama lagi. Mau pria itu datang ataupun tidak.


“Maaf, Dira,” dan lewat dari lima belas menit kemudian ia pun menampakkan batang hidupnya, “Apa Dira menunggu ayah sudah lama?”


Si Dira ini sudah ada di ujung tebing kesabarannya. Lengah waktu yang disediakan wanita sibuk ini sudah dibuang tidak ada ampun. Dan sekarang, ia tidak punya banyak waktu untuk menyampaikan unek-uneknya.


“Anda masih saja merendahkan saya ya?” Adira membiarkan pria ini duduk di depannya.


Ayah ini tampak sedih, “Maaf, Dira.”


“Bu, pesanannya bisa langsung dibayar di counter,” akhirnya waiter ini mendatanginya.


Tegak Adira berdiri tanpa aba-aba, “Waktu saya habis. Ada rapat yang harus saya siapkan.”


Mata si ayah terbuka lebar, “Loh, Dira marah ya? Maaf. Jangan pergi dulu ya?” dia mencoba meraih tangan sang putri. Namun⏤


“Ya, saya marah. Tapi bukan hal itu yang penting sekarang. Saya harus pergi,” ia menarik tangannya dengan cepat, “Di janji selanjutnya, saya harap anda lebih menghargai saya.”


Wanita ini pergi begitu saja membawa kekesalan itu.


Menahan hatinya yang tersayat karena sebesar itulah ia tidak dianggap. Dia harap pria ini tidak bermuka terlalu tebal untuk menunjukkan diri di Pancarona dan mengganggunya lagi.