
Hanya hari baru dari Pancarona. Kesibukan, dengan keanehan yang selalu ada di setiap selipan waktu.
Begitu pula wanita ini.
“Apa lagi ini?” gumam Adira tag baru saja terkejut akan notifikasi di ponselnya.
Siapa keong pemberani yang mengirimkan pesan seperti buaya darat ini? Dengan nomor yang tidak ia kenal, ia memilih untuk memblok kontak itu.
Pemilik kontak, di sisi lain, tidak menduga hal itu. Tidak bisa melihat kontak, tidak bisa membuka foto profil. Itu tanda kecil yang tidak banyak yang tahu.
Namun Nanda tahu, dia sudah diblokir di hari pertama ia mengontak bosnya.
“Bos,” ia memanggil Omar yang sedang menyantap makan siangnya, “Kalau habis diblokir gimana ya?”
Omar memandang pria itu, “Ya udah. Dead.”
“Kalau yang blokir bos sendiri?”
Aneh pandangan Omar ke pria itu, “Lu chat apa? Sini lihat,” pria ini membaca⏤tidak, tidak akan dilanjutkan, “Lu pantas diblokir!”
“Kan muji doang.”
“Muji hidung lu! Kayak gitu sama bu Adira, mati lu!”
Nanda memanyunkan mulutnya dan menyerngit keras.
Omar membalas dengan melotot, “Lu sudah dibeliin HP, dapat bonus buat beli gitar. Lu masih kurang ajar aja sama bos, ye?!”
Pria ini mengeluh, “Dira aja gak ngamuk kayak lu.”
“Kalian!”
Tatapan Nanda tak lagi ramah. Pasalnya pria yang memotong penghasilan Nanda sedang berjalan dengan angkuh. Mereka tidak tahu, dia sempat menguping pembicaraan mereka.
Nanda memeluk gitarnya, “Napa?”
“Mana sopan santun kamu?! Aku ini bos!”
“Yang bos itu bu Dira.”
Omar mengetuk pundak Nanda, “Maaf, pak. Ada butuh apa ya?”
“Kenapa kamu bawa gitar?”
Pria yang ditunjuk Danwar ini memandang kesal, “Memang tidak boleh? Kan bebas asal tidak dimainkan pas kerja.”
“Itu untuk para Arsitek. Kalian OB tidak punya hak!”
Lagi, lagi dan lagi! Apa dunia ini tidak bisa berhenti memandang satu orang dari strata seseorang?!
Erat Nanda menggenggam gitarnya, “Anda juga tidak punya hak potong gaji orang.”
Omar terkejut. Nanda boleh jadi orang yang pemberani. Akan tetapi orang yang ia pandang kali ini bukan orang yang punya toleransi tinggi seperti Adira. Ini namanya cari mati.
Danwar? Tentu saja tidak menelan langsung perkataan Nanda. Ia ingin sekali memuntahkannya tepat di wajah pria itu.
Rasa iri? Sungguh menggerakkan orang lain.
“Hei!”
Pria gemuk itu berhasil merebut gitar Nanda. Menonjolkan wajah dongkol.
“Ini,” Danwar mengangkat gitar itu, “Kamu bangga sama gini?! Kepala sudah besar, kamu?! Biar ingat! Ini bukan tempat kamu!”
PRANG!
“Hei!!” Nanda berdiri dari duduknya terhentak akan kegilaan Danwar.
Enteng sekali gumpalan bakso ini merusak apa yang menjadi milik Nanda pribadi. Lihatlah, gitar Nanda berakhir menjadi dua setelah ia membantingnya di dinding permanen.
“Balik lagi kerja, kalian!!” Danwar melempar gitar yang tinggal tangkai dengan senarnya saja.
Nanda sungguh meluap!
BRUK!
“Nanda!” Omar berusaha menghentikan pria ini.
Mau bagaimana kalau pria ini siap untuk memukul? Pria ini tidak bisa dilepas tangan dan membuka pintu perkelahian.
Danwar yang terkapar tidak menerima pipinya memar oleh kepalan tangan Nanda. Ia mengamuk dengan kata-kata kasarnya.
“G*bl*k kamu! Kamu dipecat. Kamu dipecat!!”
“Bodo amat!” Nanda masih marah, “Lepasin!”
“Nanda tunggu dulu! Heh!” Omar masih menahan Nanda.
Cekcok semakin ricuh. Banyak orang yang berpartisipasi untuk menghentikan kedua pria pemarah ini. Tidak sampai lima menit, telinga Adira menangkap kabar itu.
Waktu yang sangat tidak tepat, dia sedang ada di sekitar dapur. Sungguh waktu yang sangat tidak tepat, Adira sedang ada di puncak kemarahannya.
“Hentikan sekarang juga!!”
Memang lebih reda. Namun amarah keduanya masih tidak terbendung.
Adira berdiri di tengahnya, “Apa-apaan ini?! Apa ini namanya bekerja dengan dewasa?!”
“Bu, saya hanya menertibkan anak nakal!” Danwar bisa berdiri dengan wibawa seperti yang biasa ditunjukkannya di depan Adira.
“Saya tidak mengizinkan ada yang bicara!” tekanan itu sangat menahan semua orang di sini bersuara.
“Udah, Nan!”
“Sabar.”
“Tenang dulu.”
Pria ini tidak berhenti, “Oh, terus biarin dia loncat-loncat gak karuan? Gak sudi!”
“Ananda!” Adira berteriak.
“Dira, kamu bilang aku tidak perlu takut kalau aku benar. Apa yang benar kalau bukan hajar dia?!”
“Ananda!!”
BRAK!
Terdiam pria ini. Sungguh waktu yang tidak tepat. Daffa sungguh ikut akan amarah. Kejutan. Pukulan keras dari Daffa. Seakan memarahi, tapi percayalah, itu cara untuk Daffa membuat semua diam.
“Ada yang berani bicara?! Bicara sekarang!!”
Keributan seketika redup.
...◇ ◈ ◇ ◈ ◇ ◈ ◇ ◈ ◇...
“Bu, saya tidak mau tahu. Dia harus dipecat sekarang juga!” Danwar memegangi pipinya yang baru diobati.
Nanda tertawa mengejek, “Pecat nih, tanganku. Biar bengkak juga tuh mulut!”
“Sudah!” Daffa yang berdiri di antara mereka tidak bisa tenang sedetik pun.
Bukan masalah kekerasan atau apa. Nanda, ia melihat wajah tidak nyaman wanita yang ia sukai ini. Sesak itu menekannya untuk diam.
“Saya tidak bisa asal memecat saja. Anda harus ada alasan untuk melemparkan permintaan itu,” Adira tetap tegak di kursi kerjanya.
Danwar tidak habis pikir, “Dia sudah mukul muka saya, bu!”
“Siapa yang rusak gitar orang kalau gak mau dibalas⏤”
“Kamu, kamu harusnya kerja! Bukan main-ma⏤”
“Wah, dasar tua!”
“Kerja! Tugas kamu OB ker⏤”
“Lagi istirahat, kodok!”
Daffa menahan kedua pundak mereka, “Diam!”
Adira menahan kepalanya, dibuat pusing akan keadaan. Bagaimana bisa dia bersikap adil kalau keduanya tidak menahan emosinya sekejap mata saja.
“Bu, bagaimana anda tidak memecat orang yang tidak kompeten seperti ini? Saya mohon bu, pecat dia!”
“Cukup!” Adira tidak mau mendengar lagi.
Nanda menghela nafas, “Ok. Mau pecat saya? Ok!! Pecat sini!” tangan Nanda berdiam di ujung meja Adira, “Tapi saya minta alasan, kenapa dia juga tidak dipecat?!”
“Apa⏤”
“Gaji saya dipotong sama dia. Gitar saya dirusak. Semua karyawan anda DIEKSPLOITASI sama orang ini! Terus kenapa saya saja yang dipecat? Gara-gara saya OB?!”
“Kamu. Dia kamu⏤”
“Tidak! Kamu yang diam!” Nanda melotot ke pria itu, “Sudah cukup kamu seenaknya potong gaji saya dan teman-teman saya. Ingat! Anda bakal dapat batunya⏤”
“Baiklah! Baiklah!” Adira menghentikan mereka, “Kalian berdua saya minta pulang untuk hari ini. Saya akan kirimkan SP untuk kalian berdua. Sekali lagi keributan, saya akan langsung ke penyelesaian terakhir.”
Keduanya memang pemarah. Namun keduanya sama-sama tidak ingin kehilangan pekerjaannya.
Mereka akhirnya bisa pergi dengan tanpa perselisihan yang lebih.
Adira, huuuh, tidak bisa lurus kewarasannya karena situasi ini. Daffa kembali mendekat dengan pundak yang bisa merendah.
“Bu, ini sudah tidak bisa ditahan lagi.”
“Saya tahu,” Adira memutar kursinya ke samping meja, “Tolong hubungi kak Fares untuk masalah ini. Kita harus cari titik lemah Danwar sampai dia tidak bisa mengelak lagi.”
“Dimengerti,” Daffa berjalan pergi.
Lelah Adira tidak terhingga. Hari ini sudah banyak sekali pekerjaan. Ditambah lagi ia harus menstabilkan proyek Taruna yang tidak murah. Sekarang dia harus menangani penggelapan yang tambah liar karena karyawannya sendiri.
Ia harus melakukan apa atas semua kegilaan ini?
Bagaimana kalau dia mencari-cari suatu kesenangan di ponselnya? Hiburan sekecil apapun bisa menahan kegilaan semua orang.
Jendela ponselnya terhenti di satu tempat. Wah, ia tidak menyangka ia akan menemukan video dari orang yang baru saja menghadap di mejanya. Nanda sungguh menggunakan barang yang ia dapatkan dengan baik.
Video cover sejak sekian lama. Memang tidak lebih dari satu menit, tapi banyak yang menunggu.
Adira... sudah lama tidak mendengar suara merdu itu.
Terdiam, teringat apa yang terjadi tidak lama lalu.
“Huuuh...,” rasa bersalah itu ternyata lebih menampar Adira dari yang ia kira.
Padahal dia berhasil berterima kasih dan memperbaiki kerugian Nanda dengan hadiah kecil kemarin. Sudah bertambah manis jalur hobinya. Namun, waktu yang sangat tidak tepat, dia harus ditimpa akan hal lain.
Adira hanya berharap semuanya selesai dengan tanpa kerugian.
Yah, waktunya kembali ke pekerjaan.