The Childish And The Beast

The Childish And The Beast
#28 Kebun Binatang



Melayang-layang pikiran Nanda. Dua puluh empat jam berlalu, dan dia masih tidak bisa melepaskannya dari sistem ingatannya.


Hari ini memang masih Minggu. Akan tetapi, apa yang akan dia lakukan untuk hari kerjanya besok? Pria ini pasti harus tetap diam akan kenyataannya. Sudah, kah? Apa dia masih harus melakukan sesuatu akan fakta dia tidur di rumah bos-nya?


Iya, itu bukan hal yang salah. Dia hanya berteduh dan kebetulan dia terjebak di sana.


Namun, Nanda linglung.


Dalam pikirannya yang kebingungan. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa.


Hati kecilnya masih tidak bisa menerima. Komandan teratas itu memilih mengusir Nanda jauh darinya setelah membagi pendapatnya. Orang kaya dan uangnya. Derajat yang mereka junjung. Nanda tidak menyukainya sama sekali.


Berteriak lagi hati kecilnya berkata kalau Adira tidak mungkin seperti itu. Wah, Nanda pun terkejut dengan hatinya yang ternyata masih berlampu hijau akan sosok itu.


[“Tepuk tangannya untuk Milo!!”]


Panggilan dari panggung itu memecah pikiran Nanda. Ia ingat kalau ia sedang menikmati pertunjukan bakat dari mamalia laut, si lumba-lumba yang orang bilang imut. Renungan Nanda sungguh membawanya sampai ke akhir acara.


“Habis ini mau ke mana?” ummi sudah berdiri.


Nanda berpikir bersamaan ia yang ikut berdiri, “Ummi gak capek?”


“Tidak!”


Sang ummi yang selalu semangat ini tidak merasakan kelelahan sama sekali. Ia bersemangat. Mungkin karena inilah tempat kencannya bersama almarhum suaminya dulu.


“Mau lihat ke rumah kupu-kupu?”


Nanda tersenyum, “Oh, tempat ummi nembak abi?”


Ummi ini tampak malu-malu tidak sanggup menjawab.


“Ok, ke kanan kan?” Nanda mendampingi ibunya ini ke tempat yang ingin dituju.


“Terima kasih ya. Ummi sampai diajak ke sini.”


Nanda tertawa kecil, “Ini loh hadiah juga dari teman band-nya Ramli.”


“Kan harusnya Ramli ngajak pacar.”


“Ummi cantik kok. Banyak yang nyira ummi pacarku.”


“Enak aja!” ummi ini mencoba mencubit pinggang putranya.


“Hahahaha!” Nanda ini berhasil menghindar.


Berhasil mereka mengikuti alur ramai orang-orang yang searah. Sebuah rumah kaca besar yang bisa dilihat dari kejauhan. Dekat dan semakin dekat sampai mereka berhasil masuk. Taman yang berliuk-liuk dan serangga bersayap sepasang yang indah.


Sesaat mata Nanda yang hitam manis itu menangkap seseorang di  kirinya. Berpapasan ia dengan sosok yang kurang dari lima belas menit ia pikirkan.


“Eh?!” terkejut Nanda memandang Adira yang sadar pula akan kehadirannya.


“Siang,” dengan datarnya Adira menyapa.


Berkebalikan dengan Nanda yang kembali canggung, “Ee, mmm....”


“Eh, bu Jasmine,” ummi ini menemukan hal lain.


Reaksi sang bunda terlihat positif, “Aduh, bu Tina, masih kelihatan muda aja.”


Dan Nanda semakin bingung, “Ummi kenal?”


“Ini anakmu ya?” sang bunda lebih mendekat, “Tante pernah pesan banyak masakannya bu Tina. Enak banget. Paling enak!”


“Bu Jasmine, bisa aja....”


“Nasi pecel bulan lalu itu ya?” Adira turut berlabun-labun.


Bunda bernama Jasmine itu tersenyum ke putri sulungnya, “Iya, yang itu. Enak kan?”


“Iya.”


Terdiam kedua anak ini melihat ibu-ibu mereka yang senang merumpi. Adira benar mendengar cerita tentang penjual nasi yang dikatakan sebagai hidden gem oleh sang bunda. Ia hanya tidak mengira ternyata bundanya ini 'satu frekuensi' dengan ummi dari Nanda.


Membuat Nanda semakin bingung dengan apa yang harus ia lakukan.


“Aamu aaaii shong!”


“Huh?” terkejut Nanda di sana. Matanya terdiam di seseorang yang duduk di kursi rodanya, “Apa?”


“Kenapa Nata?” Adira dengan lembut mendekati mulut adiknya.


“Aa... rii... shong!”


“Ari song?”


Nanda terkejut, “Oh~ Kamu ikutin sosmed-nya kakak? Thank you~”


Adira terdiam. Ia tidak menyangka pemandangan saling kenal ini terjadi pada adiknya.


Bukan sebuah halangan. Wanita ini memiliki kekayaan yang bisa dibilang luar biasa walau perusahaannya masih sangat muda. Termasuk urusan Nata. Sudah sangat banyak perawat dan asisten yang dikerahkan untuk merawat dan menemani Nata.


Ia rasa bermain sosial media juga termasuk menghabiskan waktunya.


“Gimana kalau makan siang? Bu Tina mau ikut?” bunda kembali bicara.


Tina satu ini menggeleng, “Tahu aja makanan di sini mahal.”


“Aa, jangan dipikirin. Biar kami bayar.”


“Ya tuhan, bu. Gak usah!”


Nata sepertinya bersemangat, “Maa aan sama kaa, kak!”


Adira menyadari ucapan adiknya, “Nata mau makan sama kakaknya?” ia menunjuk Nanda.


Bunda ini menyenggol pundak Nanda, “Ya, udah begini, tolong deh ya bu. Ya bu?”


“Saya hutang dong....”


“Bayar pakai pecel saja nanti kapan-kapan~!”


Kesenangan mereka membawa anak-anaknya keluar dari fasilitas kupu-kupu. Nata yang sudah terlanjur senang mulai berbicara dengan Nanda, dibantu dengan asisten yang mendorong kursi rodanya.


Adira yang berjalan di belakang menangkap kegembiraan itu. Nanda yang selalu ramah dan Nata yang tampaknya mengagumi Nanda.


Padahal tidak lama lalu, Nata tidak punya kesenangan di wajahnya. Sang ayah menepati janji untuk tidak mengusik keluarganya. Bahkan dengan tidak muncul di saat keluarga ini berlibur di kebun binatang.


Dira harus berterima kasih lagi dengan Nanda.


“Aaak Diiaa!”


Berjalan Adira lebih dekat, “Iya, kakak di sini.”


Mereka akhirnya menghabiskan waktu untuk makan siang mereka.


Kesenangan tentu tergambar bahkan untuk Nanda yang sempat kebingungan tadi. Ia tampak mudah membuat adik Adira sebagai temannya. Dan Nata pun tampak semakin semangat walau dirinya semakin sulit bergerak.


Waktu sungguh berlalu. Para menjelajah kebun binatang ini memilih untuk berjalan-jalan lagi. Nata kali ini memilih untuk melihat lebih dekat teman-teman alam itu.


“Ananda,” panggilan Dira, membuat satu-satunya pria dalam rombongan ini tersentak.


Ia memandang bosnya ini, “... ya?”


“Terima kasih.”


Nanda semakin terkejut. Entah apa yang dimaksud dengan itu. Kalimat itu sungguh tidak terduga. Pasalnya Nanda tidak mengingat melakukan apapun untuknya.


“Apanya?”


Dira memilih bersandar pada pohon di belakangnya. Tempat mereka menunggu Nata dan para ibu mengunjungi kandang jerapah. Matanya yang terang itu memandang matahari yang tersembunyi oleh banyaknya dedaunan hijau.


“Adik saya sedih terus belakangan ini. Hari ini juga seharusnya ayahnya datang ikut ke sini, tapi malah ada halangan,” Adira melipat kedua tangannya, “Tapi sekarang dia semangat lagi.”


“Memang saya ngapain?”


“Anda memperlakukan adik saya dengan baik. Dia pasti kagum sekali dengan anda sampai senang begitu. Saya tidak tahu lagi kalau tidak berterima kasih.”


Nanda masih menatap wanita ini walau mereka sama-sama berdiri membelakangi pohon, “Kenapa? Saya kan cuma OB.”


Adira dicengangkan kembali. Jawaban apa yang baru saja keluar dari mulutnya itu?


Tatapan Nanda diarahkan berlawanan dengan posisi Adira, “Saya lebih rendah dari anda kan? Buat apa merendahkan diri sendiri cuma buat terima kasih?”


“Saya tidak tahu apa yang anda maksud. Tidak ada manusia yang bisa menentukan seberapa rendah atau tinggi seseorang.”


Tertarik lagi mata Nanda menatap Dira.


“Mau owner atau OB, keduanya tidak bisa jalan kalau tidak ada salah satunya.”


Mata Nanda mengkilap di tengah kejutan yang ia dengar. Hatinya seakan dimekarkan kembali. Ladang itu kembali bermekaran, bukan begitu?


Tawa manisnya menanggapi kalau seberapa bodohnya dia selama ini. Bisa-bisanya dia dibawa amarah hanya karena direndahkan dua orang. Padahal batinnya kuat menetapkan Adira bukan yang tinggi hati.


“Kenapa lagi?” Dira mulai terganggu dengan tawa Nanda.


“Sorry,” Nanda berhenti tertawa, “Aku sempat bingung, apa gak papa suka sama Dira?”


Adira memutar bola matanya, “Tidak ada yang boleh suka dengan saya.”


Nanda tertawa renyah, “Tapi kok. Aku usaha, mau gimana aja, supaya gak suka kamu. Aku tetap gak bisa gak suka Dira.”


Wanita ini memang tahu kalau Nanda tertarik dengannya, tapi ia tidak tahu sebesar itu rasa sukanya itu. Tergambarkan jelas dari wajah cerah dan mata yang berbinar Nanda sesaat menatapnya.


Akan tetapi, Dira tidak ingin banyak memikirkannya. Nanda tidak merugikannya atas apapun sejauh ini.