The Childish And The Beast

The Childish And The Beast
#24 Kemungkinan



Nanda kira ia punya anak tangga bernama mantan yang perlu ia lewati. Semua itu untuk mendekati wanita idamannya, Adira. Akan tetapi, masih terlalu dini untuk mengenal medan. Masih banyak sekali yang ia tidak tahu.


Contohnya pria yang menjadi orang tuanya. Yang tidak tahu menahu sudah ada di ruangan bos ini.


“Ini kan sudah makan siang.”


“Saya bisa makan nanti,” Adira tampak sangat lelah.


Bagaimana tidak? Menanggapi sang ayah yang masih bersikeras dengan bekal kesekian kalinya ia berikan. Dan sekarang? Ia bahkan sudah bisa masuk ke ruangannya.


Adira sempat berpikir untuk mengecek CCTV agar tahu apa saja yang pria ini lakukan selagi berjalan kemari. Namun itu perlu menunggu, banyak orang di sini meminta pendapat. Termasuk Nanda. Bukan saatnya si pria ini untuk muncul.


“Untuk saat ini saya sibuk. Apa anda tidak bisa melihatnya?” sinis Adira tahan sebesar yang ia bisa.


“Belum jam istirahat?” si ayah ini tidak tahu malu bertanya ke salah satu pegawai Adira.


Dengan canggung salah satunya menjawab, “Belum pak, sekitar jam satu nanti.”


“Jam makan siang itu jam dua belas. Kenapa ditunda begitu?”


Adira tidak habis pikir dengan pemikiran beliau, “Jam kerja di sini bisa bebas. Termasuk saya, saya juga bisa makan kapan saja. Tapi saya harus pastikan selalu ada kalau orang-orang saya membutuhkan saya.”


Seperti itulah Adira. Memang sebutan the beast selalu jadi candaan pekerjanya sendiri, bahkan teman-teman sekolahnya pula. Namun masalah pekerjaan, tidak ada yang lebih profesional dari bos ini.


“Kalau anda paham, tolong keluar dulu,” Adira menangkap Nanda yang perlahan mendekat dengan kopi, “Ananda tolong ajak beliau keluar dulu.”


“Huh?!” ia bahkan belum sampai ke meja si bos besar ini.


“Ayah ngerti,” si ayah tampak mengambil satu-satunya cangkir kopi yang Nanda bawa di nampan plastik sederhana, “Ayah tunggu di luar,” ia meletakkan dekat dengan Adira.


“Ananda, tolong bawa beliau ke ruang violet,” bos ini memegangi kepalanya.


“Iya...,” Nanda bingung mau bicara apa, “Ayo, pak. Nanti Dira mengamuk.”


“Ananda!” Daffa yang di sana tidak melepas kesempatan untuk memberikan hentakan.


Namun Nanda sudah berhasil membuka pintu ruangan, “Permisi!”


Ruangan yang hening tetapi canggung. Tidak terhenti meski sudah waktunya untuk melanjutkan apa yang perlu didiskusikan. Namun para karyawan ini tidak bisa lagi fokus.


Adira tetaplah atasan yang tidak menarik. Bersamaan dengan aturan dan ekspektasi tinggi, Adira menjadi bos nomor satu atas profesionalitas dan menjengkelkannya. Bukan hal jarang untuk orang-orang ini berusaha mencari kejelekan Adira.


Pastinya Adira tahu dan sadar pekerjanya sedang menahan ekspresinya, “Kita lanjutkan.”


Selagi ketenangan yang canggung kembali terjaga di ruangan, Nanda berhasil mencapai ruang Violet yang berupa ruang tunggu di lantai tiga. Tentu dengan ditemani berbagai celotehnya dengan sang ayah yang diam.


“Mau saya siapkan minum juga, pak?”


“Gak perlu,” pria dewasa ini sudah duduk di salah satu sofa.


Nanda tidak bisa melakukan apapun⏤diam. Ia merasa tidak nyaman selagi pria ini bahkan acuh tak acuh segala ucapannya.


“Kalau gitu, saya tinggal, pak. Disitu ada coffee maker, air panas sama teh juga ada. Bisa dipakai⏤”


“Ada hubungan apa kamu sama anakku?”


Bingung melanda pria ini, “Saya OB-nya.”


“Bukan itu. Kamu gak mungkin dibolehin panggil anakku Dira.”


Nanda menyadari sesuatu. Ia memang memanggil bosnya terus menerus dengan nama itu.


Akan tetapi, “Memang tidak boleh?”


Si ayah melotot ke arah pria ini, “Jangan sok dekat dengan anakku. Orang rendah kayak kamu gak pantas disanding sama bos kayak anakku.”


Hilang sepenuhnya senyum di mulut pria berparas rupawan ini. Kilatan yang mengatakan dengan gamblang, ia tidak menyukai ayah ini. Baik penampilannya, pembawaan, maupun tanggapannya.


...◇ ◈ ◇ ◈ ◇ ◈ ◇ ◈ ◇ ...


“Urusannya sudah selesai?” si ayah tersenyum.


Daffa masih bertahan di sana. Melihat jelas pria, tak tampak seperti ayah ini, berjalan masuk dengan percaya diri. Sementara bosnya tampak tidak menyukainya.


“Sekarang, waktunya makan,” pria ini berhenti di depan meja anaknya sembari membawa tas bekal.


“Saya tidak lapar. Jangan bawakan lagi,” tangan Adira masih sibuk dengan kertas yang bolak-balik dari Daffa ke dirinya.


“Kamu selalu gitu kalau ayah kasih makanan. Padahal kata ibumu, kamu selalu makan banyak.”


Sulit sekali. Kehadiran pria ini sungguh mengganggu tapi tidak bisa diabaikan. Pasalnya ia sudah ada di sini dan bisa mengacau lebih dalam. Adira harus memastikan ia keluar secepat mungkin.


Tidak dengan apa yang dipikirkan sang ayah, “Bisa kamu pergi?” ia memberikan tatapan tajam ke arah sekretaris Adira.


Usiran itu tidak disambut dengan negatif oleh Adira. Ini memang sudah saatnya waktu istirahat.


“Anda istirahat saja duluan, Daffa. Sisanya sampaikan saja sore nanti,” Adira siap menyimpan semua progres yang ada di perangkatnya.


Daffa tidak memikirkannya banyak, “Istirahatlah dengan baik, bu. Saya permisi.”


Ia pun pergi meninggalkan mantan anak dan ayah ini di satu ruangan. Namun Adira tidak menantikannya sama sekali.


Si ayah memilih untuk duduk di sofa tengah ruangan untuk membuka kemasan bekal yang ia bawa, “Ayo sini. Makan. Kemarin juga habis kan, sekarang pasti makin doyan.”


“Saya tidak berniat untuk makan,” Adira tidak beranjak dari kursi bos itu, “Katakan saja apa yang ingin anda lakukan dengan masuk sembarangan ke perusahaan saya?”


“Ngantar kamu makanan. Apa lagi?”


“Anda tahu benar saya tidak pernah percaya dengan anda.”


Baik dari awal bertemu, sampai sekarang. Kepercayaan itu tidak pernah muncul sama sekali di diri Adira terhadap ayah keduanya ini.


“Kamu sebenci itu sama ayah?”


Rasanya Adira ingin tertawa, “Kamu yang jadi salah satu alasan kenapa bapak dan bunda pisah. Waktu sudah bersama, anda menganggap saya sampah yang bisa menghabiskan uang bunda. Dan waktu uang bunda habis, anda ngapain?”


Begitulah kenyataannya.


Keduanya, bunda dan bapak kandung Adira, memang punya masalah kepercayaan. Dua orang yang waktu itu masih suami istri, sudah punya simpanan sejak lama. Nata termasuk yang tidak sah.


Cerai dan menikah lagi, bunda melakukannya tanpa ragu.


Lucu, Adira pikir orang dewasa tidak pernah sungguh dewasa. Ditambah lagi pria di depannya menampakkan wujudnya saat uang bunda mulai habis.


Pukulan yang Adira dapat, sampai sang adik berumur sepuluh tahun. Butuh waktu tiga tahun sampai keduanya sungguh pisah.


Sekarang apa? Dia kembali saat tahu Adira sudah bisa membeli banyak rumah dengan uangnya?


Padahal bunda sungguh mencintai orang ini.


Tidak dengan Adira, “Anda, ke sini karena apa? Uang judi anda habis?”


“E, emang ayah tidak boleh ketemu putrinya ayah?”


“Anda bahkan bukan ayah saya sungguhan.”


“Apa Dira tidak bisa ubah pikiran? Ayah lakukan apapun.”


“Apa yang anda bisa lakukan? Menyiksa dan berteriak, menyuruh saya mencari pekerjaan matang untuk anda?”


Pria ini berjalan lagi mendekati sang putri, “Ayah tidak tahu apa yang ayah pikirin waktu itu. Ayah minta maaf.”


“Saya bukan anak anda lagi, ingat. Anda dan bunda sudah tidak punya hubungan lebih dari kenalan.”


“Kalau itu, sebenarnya....”


Ayah ini tampak tidak nyaman. Matanya yang berputar-putar, disadari Adira sebagai hal yang tidak baik.


Pundak Adira tegang, “Sampai mana anda mendiskusikan keinginan anda ini pada bunda?”


“Kami berdua sudah setuju⏤”


“Keluar,” Adira tidak mau mendengarnya sama sekali.


“Dira, sayang, kami berdua butuh restu kamu. Ayah janji, kali ini berbeda. Ayah bikin kalian bahagia kali ini.”


Adira berdiri tegang, “Anda tidak akan jadi ayah saya. Dulu atau akan datang. Keluar!!” ia tidak mau membuang waktu, langsung menekan tombol di telepon mejanya, “Security, tolong antarkan orang di ruangan saya keluar.”


“Dira!”


“Urusan kita selesai!!”


Terlepas dari apapun masalahnya, penjaga Pancarona hanya mendengarkan wanita ini. Sang ayah juga memilih pasrah mengikuti arahan ramah dan sopan dari penjaga itu. Meninggalkan bekal yang bahkan belum terbuka tutupnya.


Kemarahan itu membuat bahkan wadah itu langsung masuk ke tempat sampah.