The Childish And The Beast

The Childish And The Beast
#35 Teori dan Fakta



Pundi-pundi uang tidak dipetik dari pohon, begitu kata orang. Namun Nanda mendapatkannya hanya dengan memetik dari pohon.


“Makasih den. Nih, buat bantuin obat Ummi.”


Nanda tersenyum manis setelah turun dari pohon mangga tetangga. Membawa turun beberapa mangga yang matang, “Makasih, mbah~ Mbah ih, makin cantik~!”


Basa-basi dan keramahan keduanya yang saling balas senyum. Sore cerah yang mulai dingin. Mungkin saatnya untuk mengakhiri hari.


Ia hanya tidak menyangka bila ada tamu.


“Ramli~ Ada temanmu nih,” ummi menemukan plastik dengan mangga yang digenggam anaknya, “Sini biar ummi bawa.”


Nanda tertawa kecil sambil duduk di bawah lantai menemani si bos, “Kenapa?” senyum-senyum sendiri, “Kangen?”


Wanita ini memandang sang pria. Ia rasa Nanda memang orang yang mudah tersenyum walau keadaannya terbalik. Padahal baru tadi siang dia disuruh pulang.


“Saya mau minta maaf.”


Nanda memiringkan kepalanya, “Kenapa?”


“Saya yang memegang tempat anda bekerja. Tapi saya juga yang tidak bisa mengatur perusahaan saya sendiri. Anda yang kena imbasnya.”


Terangkat satu alis Nanda. Adira mengerti ia harus bicara lebih jelas.


“Ini tentang pak Danwar.”


Ekspresi itu hilang. Satu kata pun tidak keluar dari mulut Nanda yang lebih memilih menggunakan telinganya.


“Beliau itu senior yang sudah saya terima dari awal Pancarona. Beliau yang percaya kalau saya dan Pancarona bisa berdiri unggul. Pengetahuannya menjadi pendukung besar.”


“Terus?”


“Saya tahu beliau suka semena-mena. Sikapnya tidak bisa diterima, tapi....”


Adira semakin hari semakin dililit dilema. Ia sadar, ia terlalu angkuh. Hanya dengan beberapa pencapaian ia rasa ia bisa berdiri bahkan dengan satu kaki saja. Namun ini masih permulaan. Dalam artian, semakin banyak guncangan yang akan menimpa pijakan itu.


Kompetitif, ego manusia, materi, segala macam itu tidak luput dalam upaya penghancuran Pancarona. Banyak yang akan melemparkan lingkaran target berupa perusahaan yang baru matang ini.


Tahu seperti itu, apa Adira mengambil resiko mengurangi tenaga kerja yang positif? Walau itu Danwar?


“Terus, bu Dira mau belain dia?!”


Adira juga tahu, ini tidak bisa dibiarkan. Pilihannya, seluruh karyawannya atau si Danwar sendiri.


Ha ha, apa tidak serakah kalau Adira memilih menetapkan keduanya?


“Aku tidak akan tarik ucapanku. Kalau Dira mau pecat aku, silahkan. Tapi dia harus dipecat juga!”


Wanita ini menarik nafas, “Tidak sesimpel itu.”


“Dir, kamu tahu dia orangnya gimana ke yang lain. Itu malah bikin kamu susah.”


“Dengar. Lebih dari setengah desain yang terjual dari Pancarona adalah hasil evaluasi Danwar. Kalau saya pecat begitu saja, itu berarti setengah penghasilan Pancarona harus saya hapus.”


“Apa bedanya kalau dia juga korupsi dana Panca?”


Adira terdiam, “Korupsi?”


“Dia ambil gaji orang, proyek dipotong, baru-baru juga ada Taruna diambil juga! Mau didiamin terus?!”


“Tunggu!” mata Adira terbuka lebar, “Kamu dengar itu dari mana?”


Nanda menahan emosinya, “Anak-anak sudah pada ngomongin itu. Dira tidak tahu⏤”


“Tidak, tidak tahu. Mereka hanya melaporkan pemotongan gaji secara sepihak dari Danwar.”


Kalau masalahnya sebesar itu, Danwar tidak begitu berharga untuk dipertahankan. Penggelapan di dana Taruna? Bagaimana bisa itu semua terjadi di belakang Adira?


Tidak. Sebelumnya ada David dan ada juga sabotase yang terjadi dengan mudah dalam Pancarona.


Wanita ini sungguh selalai itu, kah?


Ini, tidak seperti amarah Adira yang tegas. Kali ini ia murka. Selama ini dia terlalu lembut pada anak-anak bawahan khususnya yang senior.


Dia harus mengambil langkah tegas kali ini. Untuk setiap orang yang mengulurkan jarinya di luar garis batas.


Keluar ponsel miliknya dan mengetik pesan untuk sekretarisnya. 


Pengacara⏤yang merupakan bagian keluarga dari Daffa⏤harus bisa menjatuhkan tidak hanya Danwar. Namun juga yang bersangkutan. Topik pembicaraan mereka masih sangat panjang. Sama seperti penyisiran dalam dan luar Pancarona dari awal.


Pancarona harus bersih!


“Saya harap anda lebih bisa transparan akan kabar-kabar seperti ini. Apa saja yang anda dengar, dan dari mana.”


“Seperti kabar anda yang pilih kasih?”


Adira memandang Nanda. Sungguh banyak sekali yang terjadi di belakang tirai panggungnya. Padahal Pancarona adalah perusahaan biro arsitek yang terbilang kecil dan muda.


Benar sekali. Terlalu muda untuk memahami semuanya.


“Iya, termasuk itu. Ada lagi?”


“Tidak mau.”


Diam Adira mendengarnya. Yang membuat Nanda jadi pasif seperti ini, apa?


Adira menjauhkan ponselnya, “Saya bisa bantu anda ambil hak anda lagi.”


“Aku tidak mau ngomongin lagi,” Nanda menjawab lagi, “Semuanya selalu ngomong yang gak bagus tentang Dira.”


Wajah kesal seperti anak kecil yang direbut makanan manisnya, keimutan itu bukan yang mempengaruhi Adira. Bingung akan seberapa pedulinya pria ini akan dia. Membuatnya bisu.


Ada hal yang lebih penting. Tanpa sepengetahuan Nanda, Adira menyalakan perekam suara dari ponselnya.


Ia tahu, ia perlu berbagai material yang bisa membawa Pancarona selamat dari kerusakan dalam. Yaitu mengusir kutu-kutu dengan jalur yang tidak bisa dibantah.


Dira melanjutkannya lagi, “Apa ada sesuatu hal lain? Terutama tentang Danwar?”


Nanda tidak bersemangat, tapi dia sungguh berpikir untuk membantu, “Ada kabar kalau Danwar itu kerja ke orang lain.”


“Siapa?”


“Tidak ada yang tahu. Masalahnya banyak yang bilang kalau dia itu kayak... mau jatuhkan Pancarona. Gitu lah. Ada yang bilang juga dia mau kendalikan Panca sendiri.”


“Anda pernah dengar hal yang bisa jadi bukti?”


“Ti... dak...,” Nanda menyadari kalau pembicaraannya dengan teman-temannya di Panca hanya gosip semata.


Dira juga memahaminya, “Berarti hanya teori ya?”


“Dira gak percaya?”


“Kalau saya mengajukan pernyataan anda untuk menyalahkan Danwar dalam pengadilan, anda yang bisa dituntut dalam pencemaran nama baik.”


Nanda memutar matanya, “Itu artinya Dira tidak mau aku disalahkan?”


“Harus adil.”


Pria ini tersenyum, “Aku tahu Dira yang di depanku, sama yang diomongin orang, itu beda jauh,” gumam kencang itu lagi-lagi tidak dijawab Adira, “Tapi aku gak masalah disalahkan, kalau buat bantu kamu.”


Adira sadar satu hal. Kenapa keberadaan pria ini terasa berbeda. Itu mungkin karena pria ini berniat melakukan banyak hal untuk Dira, melebihi seluruh keluarganya.


Terasa sungguh aneh.


“Itu tidak boleh terjadi,” Adira berhasil melanjutkan percakapan, “Apa ada yang lain?”


“Well, aku bukan yang sering menggosip sih. Mungkin aku bisa gali lebih banyak kalau kamu mau.”


Adira mematikan perekam suaranya, “Tidak masalah. Ini sudah cukup. Anda tidak perlu melakukan apa yang anda tidak mau.”


“Aku mau, asal....”


Mulailah gelagat-gelagat Nanda yang mengganggunya. Nanda memang suka menggoda bosnya dengan cara apapun dan di setiap waktu yang tersedia. Kali ini ia mengeluarkan ponselnya, mengeluarkan chat yang dia kirim ke Dira.


“Apa itu?” Adira memperhatikan tulisannya.


Wajah sedih keluar lagi dari Nanda, “Unblock aku dong~”


Dengan satu kalimat gombal itu saja, Dira tahu apa yang dimaksud.


Jujur, ia tidak ingat sudah memberikan nomornya pada Nanda. Karena itu ia merasa butuh memblokir nomor yang mengganggu. Saat tahu itu nomor Nanda dan mengetahui kalimat yang ia kirimkan....


“Ini aku~” Nanda berusaha mengingatkan.


“Saya tahu.”


“Loh? Sengaja diblokir dong?”


Mari kita anggap kebohongan itu benar. Adira hanya bersyukur ia tidak mendapatkan gombalan seperti itu lagi di ponselnya.


“Sudah?”


Nanda tertawa manis. Kehabisan kata untuk membalasnya. Wanita ini memang sulit untuk diterka.


“Kalau begitu saja pamit,” Adira merapikan bawaannya, “Tolong bantuannya lagi ke depannya.”


Tawa itu tidak terbendung. Wanita ini memang sulit ditaklukan. Namun itulah yang membuatnya menarik.


“Gak makan malam di sini~?”


“Deadline.”


“Huuu~” wajah sedih itu terselip senyum.


“Saya pamit,” banyak yang harus ia pikirkan mulai dari malam ini. Ia memilih berdiri.


Ummi datang dengan potongan mangga, “Loh, udah mau pulang?”


“Maaf, tante. Saya masih ada kerjaan.”


Percakapan mereka tidak banyak terjalin. Sapa dan pamit yang singkat wanita ini lantunkan. Akhirnya ia keluar rumah.


“Dira.”


Adira terhenti setelah sepatunya terpasang.


Pandangan Nanda tegas sembari senyumnya sirna. Seakan ingin bicara serius, “Coba, buka hati sedikit. Jadi kamu tahu yang mana yang teman, yang mana yang bukan.”


Terdiam wanita ini mencerna apa yang diucapnya.


Namun Nanda mengembalikan senyumannya, “Mau kuantar?”


“Tidak. Supir saya di depan,” Adira beranjak pergi, “Sore, tante.”


Langkah pasti yang sudah tahu jalan itu tidak berhenti. Tidak seperti pikirannya yang terhambat.


Ia lagi, pria ini lagi. Kalimat itu sungguh tidak terduga keluar dari mulutnya. Dugaan yang tidak sampai, bahwa semua itu fakta.


Adira membuka ponselnya. Melepas blok di kontak Nanda.